Prabowo Teratas dalam Tiga Simulasi Elektabilitas Pilpres versi PPI

oleh -23 Dilihat
oleh
Prabowo Teratas dalam Tiga Simulasi Elektabilitas Pilpres versi PPI

Jakarta | Presiden Prabowo Subianto menempati posisi teratas dalam elektabilitas pada tiga simulasi pemilihan presiden yang dilakukan Parameter Politik Indonesia (PPI). Temuan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, saat peluncuran survei nasional bertema evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta pada Minggu. Hasil ini menunjukkan bahwa nama Prabowo memperoleh dukungan tertinggi dalam seluruh skenario yang diuji, meskipun bentuk pilihan kandidat pada setiap simulasi berbeda.

PPI menguji tiga skenario, yakni simulasi terbuka, simulasi dengan 17 kandidat, dan simulasi dengan lima kandidat. Dalam setiap skenario, responden mendapatkan pertanyaan yang sama: siapa yang akan mereka pilih apabila pemilihan presiden digelar pada saat itu. Dengan pendekatan tersebut, survei memetakan pilihan publik baik ketika responden dapat menyebut nama secara terbuka maupun ketika mereka dihadapkan pada daftar kandidat dengan jumlah tertentu.

Simulasi terbuka memberi ruang bagi responden untuk menyebut tokoh pilihan tanpa terlebih dahulu dibatasi daftar nama kandidat. Sementara itu, dua simulasi lainnya menyajikan pilihan yang lebih terstruktur, masing-masing melibatkan 17 nama dan lima nama. Perbedaan jumlah kandidat itu memungkinkan PPI melihat bagaimana posisi elektabilitas Prabowo bertahan ketika pilihan yang tersedia berubah. Dalam ketiga format tersebut, menurut pemaparan Adi, Prabowo tetap berada di urutan teratas.

Peluncuran survei berlangsung dalam konteks evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Karena itu, hasil simulasi elektabilitas menjadi salah satu gambaran mengenai preferensi responden pada saat survei dilakukan, sekaligus bagian dari pembacaan PPI terhadap dinamika politik nasional. Namun, temuan tersebut merujuk pada jawaban responden atas pertanyaan hipotetis tentang pilihan presiden jika pemungutan suara berlangsung saat itu. Hasil simulasi tidak dengan sendirinya memastikan hasil pemilihan mendatang, sebab pilihan pemilih dapat berubah seiring perkembangan situasi dan proses politik.

Dalam simulasi terbuka yang memuat 20 nama tokoh, kepala daerah, menteri, dan presiden, Prabowo Subianto memperoleh elektabilitas tertinggi. Hasil survei yang dipaparkan PPI mencatat dukungan sebesar 31,6 persen dari 1.200 responden. Angka tersebut menempatkan Prabowo di posisi pertama, dengan jarak cukup lebar dibandingkan nama-nama yang berada di urutan berikutnya. Karena pertanyaan dalam simulasi ini bersifat terbuka, responden menyebutkan pilihan mereka tanpa terbatas pada daftar kandidat tertentu yang dibacakan.

Di posisi kedua, Dedi Mulyadi mencatat elektabilitas 11,4 persen. Anies Baswedan menyusul dengan 10,1 persen, sedangkan Gibran Rakabuming Raka memperoleh 6,9 persen. Ganjar Pranowo berada di urutan kelima dengan 4,4 persen. Perolehan para tokoh tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat dukungan yang cukup jelas pada kelompok lima besar, terutama Prabowo dan para nama di bawahnya. Namun, hasil ini menggambarkan pilihan responden dalam simulasi yang dilaporkan, bukan kepastian mengenai hasil pemilihan mendatang.

Nama lain yang masuk 10 besar adalah Agus Harimurti Yudhoyono dengan 2,3 persen, disusul Mahfud MD sebesar 1,7 persen. Sherly Tjoanda memperoleh 1,1 persen, sementara Purbaya Yudhi Sadewa dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masing-masing mencatat 0,8 persen. Dengan demikian, daftar sepuluh besar mencakup tokoh dari beragam latar belakang, mulai dari pejabat pemerintahan hingga kepala daerah dan figur politik. Persentase tersebut merupakan angka yang tersedia untuk simulasi terbuka ini. Karena data lengkap untuk seluruh nama dalam 20 pilihan tidak dicantumkan pada informasi yang tersedia, perbandingan di sini dibatasi pada sepuluh tokoh dengan angka yang disebutkan.

Dalam simulasi dengan 17 kandidat, Prabowo Subianto meraih elektabilitas 34 persen dan menempati posisi teratas. Skenario ini mencakup ketua umum partai politik serta sejumlah tokoh yang berpotensi diusung partai nonparlemen dan partai baru. Di posisi kedua, Anies Baswedan memperoleh 19,4 persen. Selisih keduanya mencapai 14,6 poin persentase, sementara kandidat lain berada di bawah perolehan Anies.

Agus Harimurti Yudhoyono menempati urutan ketiga dengan 11,1 persen, disusul Gibran Rakabuming Raka yang memperoleh 10,9 persen. Muhaimin Iskandar mendapat 3 persen. Selanjutnya, Yusril Ihza Mahendra memperoleh 1,7 persen, Pramono Anung 1,6 persen, dan Puan Maharani 1,4 persen. Kaesang Pangarep mencatat 1,3 persen, sedangkan Surya Paloh meraih 1,1 persen dalam simulasi tersebut.

Nama-nama berikutnya memperoleh angka di bawah satu persen. Zulkifli Hasan tercatat dengan 0,8 persen, Bahlil Lahadalia 0,6 persen, dan Muhammad Mardiono 0,5 persen. Al Muzzammil Yusuf meraih 0,4 persen, sementara Anis Matta memperoleh 0,3 persen. Angela Tanoesoedibjo berada di urutan terakhir dalam daftar dengan 0,2 persen. Hasil ini menggambarkan sebaran pilihan responden ketika jumlah kandidat yang disimulasikan diperluas menjadi 17 nama.

PPI juga menguji skenario yang lebih terbatas, yakni lima kandidat yang dalam survei disebut sebagai nama-nama yang diyakini maju pada Pilpres 2029. Dalam simulasi ini, Prabowo kembali berada di posisi pertama dengan 40,5 persen. Anies menempati urutan kedua dengan 17,7 persen, diikuti Agus Harimurti Yudhoyono yang memperoleh 14 persen. Gibran mendapat 12,2 persen, sedangkan Pramono Anung mencatat 3,9 persen. Dibandingkan skenario 17 kandidat, persentase Prabowo dalam simulasi lima nama lebih tinggi, sementara urutan lima kandidat tetap menunjukkan Prabowo di depan Anies, Agus Harimurti Yudhoyono, Gibran, dan Pramono. Angka tersebut merupakan hasil dari skenario yang dipaparkan dalam survei, bukan kepastian mengenai pencalonan ataupun hasil pemilihan mendatang.

Untuk memahami cakupan survei elektabilitas yang dilakukan PPI, penting melihat metode pengumpulan data yang digunakan. PPI melaksanakan survei melalui wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden. Pengumpulan data tersebut berlangsung pada 26 September hingga 6 Oktober 2026. Angka responden dan periode pelaksanaan menjadi landasan yang perlu diperhatikan saat membaca hasil survei. Informasi metodologis ini menerangkan jumlah orang yang diwawancarai serta waktu pelaksanaan, tanpa memberikan keterangan mengenai faktor yang mungkin memengaruhi pilihan politik responden. Dengan demikian, pembaca dapat menempatkan hasil survei dalam konteks metode dan cakupan yang memang dijelaskan oleh penyelenggara.

Responden tersebar di 38 provinsi, 116 kabupaten/kota, 120 kecamatan, serta 120 desa atau kelurahan. Syarat usia yang dicantumkan adalah minimal 17 tahun atau sudah menikah. Sebaran tersebut memberikan gambaran wilayah yang tercakup dalam pengumpulan data, mulai dari tingkat provinsi hingga desa atau kelurahan. Keterangan itu juga menjelaskan kriteria dasar responden yang diwawancarai. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci jumlah responden pada setiap daerah maupun cara pemilihan responden di masing-masing lokasi. Karena itu, cakupan wilayah sebaiknya dipahami sesuai rincian yang disebutkan, tanpa menambahkan asumsi mengenai distribusi sampel atau karakteristik responden lain yang tidak dijelaskan.

PPI menyampaikan bahwa survei memiliki tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin of error sebesar 2,83 persen. Kedua angka tersebut merupakan keterangan statistik yang menyertai hasil survei dan membantu pembaca memahami ukuran ketidakpastian yang dicantumkan. Margin of error bukan penjelasan mengenai penyebab dukungan kepada kandidat tertentu, sementara tingkat kepercayaan juga tidak menunjukkan alasan responden menentukan pilihan. Informasi yang dapat dipastikan dari metodologi yang disampaikan mencakup jumlah dan kriteria responden, periode wawancara, wilayah cakupan, tingkat kepercayaan, serta margin of error. Uraian ini membatasi pembahasan pada rincian tersebut, tanpa menarik kesimpulan tambahan tentang hasil elektabilitas maupun faktor yang mendasarinya.