Jakarta | Sebuah survei besar yang melibatkan puluhan pakar kesehatan dunia memetakan berbagai ancaman yang berpotensi menentukan keberlangsungan manusia sepanjang abad ini. Penelitian tersebut mengidentifikasi 17 risiko utama, mulai dari persoalan kesehatan hingga ancaman global yang dapat memengaruhi masyarakat di banyak negara secara bersamaan. Hasil kajian ini diterbitkan dalam jurnal kedokteran bergengsi, The Lancet, sehingga menjadi rujukan penting dalam pembahasan mengenai masa depan umat manusia.
Di 17 ancaman yang dipetakan, terdapat dua risiko ekstrem yang dinilai memiliki kemungkinan untuk memusnahkan umat manusia secara keseluruhan. Penilaian itu tidak berarti kedua peristiwa tersebut diperkirakan segera terjadi atau pasti akan berlangsung. Para peneliti menekankan bahwa peluangnya relatif kecil. Namun, skala dampaknya akan sangat besar apabila salah satunya benar-benar terjadi, karena konsekuensinya dapat melampaui batas negara, sistem kesehatan, dan kemampuan penanganan krisis yang ada.
Kombinasi kemungkinan yang rendah dan dampak yang luar biasa besar membuat kedua risiko tersebut dipandang perlu mendapat perhatian utama. Dalam kajian risiko, ancaman semacam ini sering kali tidak dapat diabaikan hanya karena probabilitasnya kecil. Persiapan, pencegahan, dan penguatan kerja sama internasional tetap diperlukan untuk mengurangi kerentanan manusia terhadap skenario terburuk. Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Christopher JL Murray dari Universitas Washington. Keterlibatan pakar dari berbagai bidang memberikan gambaran lebih luas mengenai ancaman yang mungkin membentuk perjalanan abad ini, sekaligus menegaskan pentingnya kebijakan jangka panjang yang berlandaskan bukti ilmiah.
Kecerdasan buatan yang lepas dari kendali manusia dipandang sebagai salah satu dari dua risiko ekstrem yang secara teoritis dapat mengakhiri peradaban manusia pada abad ini. Penilaian tersebut tidak semata-mata berangkat dari kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi, melainkan dari kemungkinan bahwa kemampuan kecerdasan buatan dapat digunakan untuk menghasilkan ancaman yang berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengendalikannya.
Skenario yang disebut dalam sumber berkaitan dengan munculnya senjata biologi yang dibuat atau didukung oleh kecerdasan buatan. Dalam gambaran ini, AI berperan dalam memungkinkan terciptanya senjata biologis, sehingga ancaman tidak lagi terbatas pada kemampuan manusia secara langsung. Senjata tersebut kemudian dapat menyebar dengan cepat dan menimbulkan dampak yang sangat luas. Kecepatan penyebaran menjadi unsur penting karena dapat mempersempit waktu yang tersedia bagi manusia untuk mengenali bahaya, mengambil keputusan, dan melakukan pengendalian.
Ancaman itu dinilai sangat serius karena senjata biologi yang didukung AI berpotensi melampaui kapasitas penanganan manusia. Ketika kecerdasan buatan tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali manusia, proses yang menghasilkan atau mendukung senjata tersebut dapat berkembang tanpa pengawasan yang memadai. Akibatnya, risiko tidak hanya terletak pada keberadaan senjata biologis, tetapi juga pada kemampuan ancaman itu untuk muncul dan menyebar secara cepat.
Namun, skenario ini tetap dipahami sebagai kemungkinan teoretis, bukan kepastian bahwa peristiwa tersebut akan terjadi. Penyebutannya sebagai salah satu dari dua risiko yang dapat mengakhiri peradaban manusia menunjukkan besarnya konsekuensi yang mungkin timbul apabila kecerdasan buatan kehilangan kendali dan berhubungan dengan senjata biologi. Karena itu, ancaman tersebut ditempatkan dalam kategori risiko ekstrem yang memerlukan perhatian serius terhadap kendali manusia.
Risiko kedua yang dinilai serius terhadap kelangsungan manusia pada abad ini adalah konflik nuklir. Kekhawatiran utama penelitian bukan semata-mata penggunaan senjata nuklir secara terbatas, melainkan pecahnya perang nuklir dalam skala luas. Peristiwa semacam itu dapat mengganggu berbagai sistem yang menopang kehidupan modern dan menimbulkan dampak jauh melampaui wilayah tempat ledakan terjadi.
Salah satu konsekuensi paling penting adalah munculnya krisis pangan di seluruh dunia. Konflik nuklir berskala luas dapat mengganggu produksi, distribusi, serta akses terhadap bahan pangan. Gangguan tersebut kemudian berpotensi memperburuk ketahanan pangan secara global. Dengan demikian, hubungan sebab-akibat yang menjadi perhatian penelitian adalah perang nuklir yang memicu gangguan luas, lalu berkembang menjadi krisis pangan yang mengancam kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Penilaian ini menempatkan konflik nuklir sebagai risiko yang perlu diperhatikan bukan hanya karena dampak langsungnya, tetapi juga karena rangkaian dampak berantai yang dapat muncul setelahnya. Ketika sistem pangan terganggu, konsekuensinya dapat menjangkau masyarakat secara luas dan mempersulit pemulihan. Fokus penelitian terletak pada kemungkinan terjadinya skenario tersebut, tanpa perlu memperluas pembahasan pada perkiraan jumlah korban, negara yang terlibat, atau rincian geopolitik.
Secara teori, asteroid besar dan letusan gunung berapi super juga dapat memusnahkan manusia. Namun, kedua ancaman alam tersebut tidak ditempatkan sebagai prioritas utama karena peluang terjadinya pada abad ini dinilai terlalu kecil. Konflik nuklir, dengan demikian, dipandang melalui pertimbangan risiko yang berbeda: bukan hanya besarnya dampak, tetapi juga kemungkinan terjadinya dalam periode yang sedang dikaji.
Di luar dua ancaman yang dinilai paling ekstrem, penelitian tersebut juga mengidentifikasi 15 risiko besar lainnya bagi kelangsungan manusia. Masing-masing risiko itu berpotensi menghilangkan lebih dari satu miliar tahun kehidupan sehat manusia hingga 2100. Ukuran ini menunjukkan bahwa dampaknya tidak hanya dinilai dari jumlah kematian langsung, tetapi juga dari berkurangnya tahun kehidupan yang dapat dijalani dalam kondisi sehat. Secara keseluruhan, potensi dampak setiap risiko tersebut diperkirakan setara dengan sekitar dua kali dampak pandemi Covid-19.
Besarnya angka tersebut menempatkan risiko-risiko itu dalam kategori ancaman jangka panjang yang perlu diperhatikan secara serius. Dampaknya dapat memengaruhi kesehatan, kesejahteraan, stabilitas sosial, serta kemampuan generasi mendatang untuk menjalani kehidupan yang aman dan produktif. Namun, informasi yang tersedia tidak memuat rincian mengenai urutan ke-15 risiko tersebut. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan risiko mana yang berada pada peringkat tertentu atau menganggap satu ancaman pasti lebih mendesak daripada yang lain.
Hal yang sama berlaku untuk tiga langkah mendesak yang disebutkan pada bagian akhir penelitian. Tanpa uraian sumber yang lengkap, langkah-langkah itu tidak dapat dijelaskan atau dilengkapi secara bertanggung jawab. Keterbatasan ini penting diakui agar pembahasan tidak berubah menjadi spekulasi dan agar perhatian tetap tertuju pada temuan yang benar-benar didukung oleh penelitian.
Pesan utama Profesor Murray bukan semata-mata untuk menimbulkan ketakutan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa manusia masih memiliki kesempatan mencegah ancaman tersebut, asalkan risiko-risikonya dikenali dan ditangani secara serius. Pernyataan itu juga bermakna bahwa keputusan para pemimpin pada masa kini akan memengaruhi nasib generasi mendatang. Pilihan kebijakan, tingkat kesiapsiagaan, dan kesediaan bertindak hari ini pada akhirnya dapat menentukan apakah berbagai ancaman tersebut membesar atau berhasil dikurangi sebelum dampaknya menjadi jauh lebih sulit dikendalikan.
