Kemenkes Memperkuat Penanganan ISPA di Tengah Dampak Karhutla

oleh -61 Dilihat
oleh
Kemenkes Memperkuat Penanganan ISPA di Tengah Dampak Karhutla

Jakarta | Kementerian Kesehatan mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif hingga 12 Oktober 2026. Data tersebut berasal dari tujuh provinsi yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pencatatan ini menjadi bagian penting dalam pemantauan kondisi kesehatan masyarakat selama dampak karhutla masih menjadi perhatian. Informasi mengenai jumlah kasus diperlukan untuk melihat perkembangan ISPA secara menyeluruh serta memastikan penanganan dapat diperkuat sesuai kebutuhan di lapangan.

Dari keseluruhan kasus yang tercatat, sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen terjadi pada anak usia 0–5 tahun. Kelompok usia tersebut menjadi bagian yang turut diperhatikan dalam pemantauan karena tercakup dalam data kasus ISPA di wilayah terdampak. Penyajian data berdasarkan kelompok usia membantu memberikan gambaran mengenai sebaran kasus dan menjadi dasar bagi penguatan respons kesehatan yang terarah, tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat secara umum.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa data kasus tersebut terus dipantau. Pemantauan dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan kenaikan kasus sekaligus memperkuat respons kesehatan. Dengan pembaruan informasi secara berkelanjutan, perkembangan ISPA di tujuh provinsi dapat diikuti secara lebih cermat. Langkah ini juga mendukung koordinasi penanganan berdasarkan kondisi terbaru, terutama dalam menghadapi kebutuhan kesehatan masyarakat yang berada di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah memperkuat pemantauan dan penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat. Upaya ini mencakup penguatan surveilans penyakit, terutama untuk memantau kecenderungan gangguan pernapasan akut atau ISPA di wilayah terdampak. Data hasil pemantauan digunakan untuk mendukung penilaian situasi, mempercepat koordinasi, serta memastikan respons kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan yang berkembang.

Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan melalui koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan fasilitas kesehatan. Layanan diarahkan agar masyarakat tetap memperoleh pemeriksaan, penanganan, serta informasi kesehatan yang diperlukan selama kualitas udara terdampak asap. Kesiapan fasilitas kesehatan juga menjadi perhatian, termasuk kemampuan tenaga medis atau tenaga kesehatan dalam merespons peningkatan kebutuhan pelayanan yang berkaitan dengan dampak karhutla.

Hingga 12 Oktober 2026, sebanyak 2.106 tenaga medis atau tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk mendukung kesiapan layanan di wilayah terdampak. Mobilisasi tersebut menjadi bagian dari langkah penguatan kapasitas pelayanan agar fasilitas kesehatan dapat mempertahankan operasional dan memberikan respons secara terkoordinasi. Pemantauan situasi terus dilakukan bersama pemerintah daerah untuk mendukung penyesuaian kebutuhan tenaga dan pelayanan.

Selain penguatan sumber daya manusia dan layanan, penyaluran logistik turut diperkuat. Dukungan lebih dari 2,8 juta masker telah disalurkan melalui berbagai jalur distribusi pemerintah pusat dan daerah. Ketersediaan logistik tersebut mendukung upaya perlindungan masyarakat serta kesiapan pelayanan kesehatan dalam menghadapi paparan asap. Keseluruhan langkah, mulai dari surveilans penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas, hingga distribusi logistik, diarahkan untuk menjaga kesinambungan dan kesiapan layanan di wilayah yang terdampak karhutla.

Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama ketika kabut asap bertahan dalam waktu lama. Asap tersebut mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, serta berbagai zat berbahaya lainnya. Paparan berulang dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, dan memperburuk gejala asma atau penyakit paru yang sudah ada.

Kelompok yang paling rentan meliputi bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, serta penderita penyakit paru kronis. Sistem pernapasan anak yang masih berkembang membuat mereka lebih mudah mengalami gangguan akibat kualitas udara buruk. Apabila anak mengalami sesak napas, napas cepat, tampak kesulitan bernapas, atau mengalami kesulitan menyusu dan minum, orang tua perlu segera membawanya ke fasilitas kesehatan. Penanganan lebih cepat dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.

Penggunaan nebulizer tidak boleh dilakukan sembarangan secara mandiri. Alat dan obat tersebut hanya digunakan berdasarkan indikasi, dosis, serta petunjuk tenaga medis. Tidak semua batuk atau sesak membutuhkan nebulizer, sehingga pemeriksaan diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat. Masyarakat juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menutup celah masuk asap, dan menjaga ruangan tetap memiliki udara yang lebih bersih.

Kabut asap berkepanjangan juga dapat memengaruhi kesehatan jiwa. Terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi, pendidikan, maupun pekerjaan dapat menimbulkan stres, kecemasan, dan rasa tidak aman. Orang tua sebaiknya menjaga rutinitas anak di dalam ruangan, menyediakan kegiatan yang sesuai, serta memperhatikan perubahan perilaku, gangguan tidur, dan perubahan pola makan. Dukungan keluarga dapat membantu anak beradaptasi selama situasi berlangsung.

Jika keluhan pernapasan atau gangguan psikologis menetap dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, masyarakat perlu berkonsultasi dengan tenaga medis tanpa menunggu kondisi memburuk. Pemantauan gejala, perlindungan dari paparan asap, dan akses terhadap layanan kesehatan merupakan langkah penting untuk mengurangi dampak karhutla, khususnya bagi kelompok rentan.

Ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah dan menunda kegiatan yang tidak mendesak. Pintu serta jendela sebaiknya ditutup untuk membatasi masuknya asap, sementara warga perlu memantau informasi kualitas udara dan arahan dari pemerintah maupun dinas kesehatan. Langkah ini terutama penting bagi kelompok rentan, seperti bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, serta orang dengan penyakit pernapasan.

Warga yang harus keluar rumah disarankan menggunakan respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat menutupi hidung dan mulut. Jenis perlindungan tersebut membantu menyaring partikel halus yang terdapat dalam asap. Pemakai perlu memastikan tidak ada celah besar di sekitar sisi masker agar perlindungannya lebih optimal. Apabila N95 atau KN95 tidak tersedia, masker medis atau masker kain berlapis dapat digunakan sebagai pilihan alternatif, meskipun kemampuan penyaringannya tidak sama.

Bayi dan balita sebaiknya tidak mengandalkan masker untuk menghadapi paparan asap. Perlindungan bagi kelompok usia tersebut dilakukan dengan mengurangi paparan secara langsung, menjaga mereka tetap berada di ruangan dengan udara lebih bersih, dan membatasi kegiatan di luar rumah. Orang tua atau pengasuh perlu memperhatikan gejala gangguan pernapasan serta segera mengakses layanan kesehatan apabila kondisi anak memburuk.

Kementerian Kesehatan mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan fasilitas yang tersedia sebagai ruang aman dari asap. Ruang tersebut perlu dilengkapi penyaring udara yang sesuai dan memiliki akses terhadap layanan kesehatan, terutama untuk bayi, balita, dan ibu hamil. Beberapa daerah terdampak juga telah menyediakan ruang oksigen sebagai bagian dari dukungan bagi masyarakat yang memerlukan udara dengan kualitas lebih baik.

Pelaksanaan ruang aman perlu disesuaikan dengan tingkat kualitas udara dan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah. Koordinasi dinas kesehatan, BPBD, serta perangkat daerah terkait diperlukan agar lokasi, kapasitas, penyaring udara, dan layanan pendukung dapat berfungsi secara tepat. Akses ke ruang dengan udara lebih bersih menjadi penting bagi warga yang rumahnya sulit terlindung dari asap, sehingga mereka memiliki tempat perlindungan ketika pencemaran meningkat.

Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari