Kabut Asap Karhutla Memburuk, Sejumlah Wilayah Sumatra dan Kalimantan Berstatus Berbahaya

oleh -83 Dilihat
oleh
Kabut Asap Kebakaran Mengganggu Kualitas Udara di Sumatra dan Kalimantan

Palembang | Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan memburuk ketika kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung. Kabut asap dilaporkan menyelimuti beberapa daerah, sehingga kondisi udara menjadi perhatian bagi masyarakat yang beraktivitas maupun tinggal di kawasan terdampak. Situasi ini menunjukkan bahwa paparan polutan di udara dapat meningkat seiring meluasnya kabut asap yang menutupi lingkungan permukiman.

Pengamatan pada Rabu, 14 Oktober 2026, mengacu pada data indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Amerika Serikat yang dibagikan IQAir. Data tersebut memperlihatkan adanya wilayah dengan kualitas udara yang berada pada tingkat tidak sehat hingga berbahaya. Kategori itu menggambarkan kondisi yang perlu diperhatikan, khususnya oleh warga yang berada di area dengan konsentrasi asap lebih tinggi.

Paparan kabut asap berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika seseorang menghirup udara tercemar dalam durasi panjang. Dampak yang tercantum dalam informasi kualitas udara dapat berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan munculnya keluhan pada sistem pernapasan serta gangguan lain yang dipengaruhi oleh buruknya kondisi udara. Warga yang terpapar dalam waktu lama menjadi kelompok yang perlu mencermati perubahan kualitas udara di sekitarnya.

Perkembangan ini menempatkan kondisi udara sebagai persoalan penting di tengah berlangsungnya karhutla di sejumlah wilayah. Pembahasan pada bagian ini berfokus pada data kualitas udara dan risiko paparan yang tercantum dalam sumber tersebut. Informasi ini tidak menarik kesimpulan tambahan mengenai penyebab kebakaran hutan dan lahan maupun langkah penanganannya. Penilaian kondisi setiap wilayah tetap merujuk pada data AQI yang dibagikan IQAir pada waktu pengamatan.

Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatra menunjukkan tingkat pencemaran yang mengkhawatirkan, dengan Palembang, Sumatra Selatan, berada pada posisi paling parah. Kota ini mencatat Air Quality Index (AQI) 877 dan masuk kategori berbahaya. Konsentrasi PM2.5 di Palembang mencapai 514,7 mikrogram per meter kubik, jauh di atas tingkat yang aman bagi kesehatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kabut asap karhutla telah menurunkan kualitas udara secara serius dan meningkatkan risiko bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan berpotensi mencapai aliran darah. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat dikaitkan dengan iritasi pada mata dan tenggorokan, gangguan pernapasan, serta memburuknya kondisi orang yang telah memiliki penyakit tertentu. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan atau jantung, dapat menghadapi risiko lebih besar ketika menghirup udara tercemar dalam waktu lama.

Setelah Palembang, Pekanbaru, Riau, mencatat AQI 401 dan juga berada dalam kategori berbahaya. Tingkat berikutnya terlihat di Padang, Sumatra Barat, dengan AQI 227, serta Medan, Sumatra Utara, dengan AQI 205. Kedua wilayah tersebut sama-sama masuk kategori sangat tidak sehat, yang menandakan perlunya kewaspadaan tinggi terhadap paparan asap. Sementara itu, Jambi mencatat AQI 198 dan Lampung berada pada AQI 158; keduanya termasuk kategori tidak sehat. Urutan ini memperlihatkan bahwa polusi udara tersebar di beberapa provinsi, meskipun tingkat keparahannya berbeda. Masyarakat di setiap wilayah perlu memantau perkembangan kualitas udara dan membatasi paparan langsung, terutama ketika konsentrasi asap meningkat.

Kondisi udara di sejumlah wilayah Kalimantan turut mengkhawatirkan ketika kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung. Kubu Raya dan Sintang di Kalimantan Barat, serta Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah, dilaporkan berada dalam kategori berbahaya. Ketiga wilayah tersebut mencatat angka indeks kualitas udara yang mencapai 1.144, menunjukkan tingkat pencemaran yang sangat tinggi dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

Di Pontianak, Kalimantan Barat, kualitas udara tercatat pada AQI 223 atau masuk kategori sangat tidak sehat. Paparan udara dengan kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki penyakit paru-paru atau jantung. Masyarakat di wilayah terdampak perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi memburuk.

Banjarmasin, Kalimantan Selatan, juga dilaporkan berada dalam kategori berbahaya. Sementara itu, Balikpapan, Kalimantan Timur, masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Perbedaan kategori ini menunjukkan bahwa dampak asap tidak seragam di seluruh Kalimantan, sehingga informasi dari masing-masing wilayah perlu dibaca berdasarkan indeks dan klasifikasi yang dilaporkan.

Data mengenai indeks kualitas udara tersebut perlu dibedakan dari informasi tentang titik kebakaran. IQAir menunjukkan adanya titik kebakaran dengan tingkat rendah hingga tinggi di sejumlah wilayah, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Data titik kebakaran menggambarkan keberadaan serta tingkat aktivitas api, sedangkan indeks kualitas udara menunjukkan kondisi udara yang dihirup masyarakat. Keduanya berkaitan, tetapi tidak dapat dianggap sebagai ukuran yang sama. Perubahan arah angin, jarak dari sumber asap, dan kondisi cuaca dapat membuat kualitas udara di suatu daerah berbeda dari tingkat kebakaran yang terpantau di sekitarnya.

Risiko kesehatan akibat kabut asap dipengaruhi oleh tingkat polusi, jenis polutan yang terkandung di udara, serta lamanya seseorang terpapar. Karena itu, dampaknya dapat berbeda pada setiap orang dan menjadi lebih perlu diperhatikan ketika kualitas udara memburuk. Anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit jantung termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih dalam kondisi tersebut.

Saat kualitas udara menurun, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan. Pemantauan indeks kualitas udara secara berkala juga diperlukan untuk membantu menentukan langkah perlindungan yang sesuai dengan kondisi terkini. Informasi mengenai indeks tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam membatasi paparan, terutama ketika kabut asap membuat udara luar tercemar.

Paparan dapat dikurangi dengan menutup jendela ketika kualitas udara di luar memburuk. Penyaring udara di dalam ruangan dapat digunakan jika tersedia. Apabila indeks kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat atau berbahaya, pembatasan kegiatan di luar ruangan perlu lebih diperhatikan, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung. Langkah tersebut penting untuk mengurangi kemungkinan memburuknya dampak kesehatan selama paparan kabut asap berlangsung.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas