Mita The Virgin Masih Berduka, Kenangan Bersama Mama Kembali Terasa Saat Umrah

oleh -43 Dilihat
oleh
Mita The Virgin Masih Berduka, Kenangan Bersama Mama Kembali Terasa Saat Umrah

Jakarta | Mita The Virgin mengaku masih merasakan kehilangan yang mendalam setelah sang mama meninggal dunia. Meski waktu terus berjalan, kepergian tersebut belum sepenuhnya dapat ia terima. Rasa rindu dan duka yang selama ini ia simpan kembali terasa kuat ketika Mita menjalani ibadah umrah.

Perjalanan ke Tanah Suci menjadi momen yang membuat kenangan bersama mamanya muncul kembali. Dalam suasana spiritual yang penuh perenungan, Mita semakin menyadari betapa besar peran sang mama dalam kehidupannya. Kenangan itu hadir tanpa diduga dan membuat perasaannya kembali bergejolak.

Mita menyebut dirinya telah menjalani hidup tanpa sang mama selama hampir satu setengah tahun. Namun, rentang waktu tersebut belum membuat rasa kehilangan menjadi lebih ringan. Bagi Mita, sosok mama tetap memiliki tempat yang sangat penting, sehingga berbagai hal yang berkaitan dengannya masih mudah memengaruhi kondisi emosinya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai sang mama masih dapat membuatnya menangis. Hal itu tidak hanya terjadi ketika sedang berada dalam suasana pribadi, tetapi juga saat Mita hadir dalam acara televisi. Ketika kisah tentang mamanya kembali disinggung, air matanya masih sulit dibendung.

Pernyataan tersebut disampaikan Mita saat ditemui di kawasan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, belum lama ini. Dalam kesempatan itu, ia secara terbuka menceritakan bagaimana duka atas kepergian mamanya masih menyertainya hingga sekarang. Pengalaman umrah membuat perasaan tersebut semakin terasa, sekaligus memperlihatkan bahwa proses menerima kehilangan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Bagi Mita, kehilangan orang tua bukanlah pengalaman yang otomatis menjadi ringan hanya karena waktu terus berjalan. Ia memandang bahwa seseorang masih dapat merasakan kehadiran kenangan dan rasa kehilangan, bahkan ketika orang tua tersebut telah pergi sejak puluhan tahun lalu. Jarak waktu yang panjang tidak serta-merta menghapus ikatan emosional, terutama apabila kenangan tentang sosok yang telah tiada masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan itu turut menjelaskan kesedihan yang masih dirasakan Mita setelah kepergian sang mama. Hampir dua tahun berlalu sejak ia harus menjalani kehidupan tanpa sosok yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun, bagi Mita, rentang waktu tersebut belum dapat dipandang sebagai masa yang panjang. Ia sendiri belum genap dua tahun menjalani hari-hari tanpa sang mama, sehingga kenangan dan perasaan kehilangan masih menjadi bagian dari pengalaman yang sedang ia jalani.

Pernyataan Mita menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam merasakan kehilangan. Bagi sebagian orang, peristiwa yang telah berlalu bertahun-tahun tetap dapat kembali terasa melalui tempat, percakapan, kebiasaan, atau momen tertentu. Kenangan tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang jauh, melainkan dapat muncul kembali ketika seseorang berada dalam suasana yang mengingatkan pada orang tua yang telah meninggal.

Karena itu, kesedihan Mita tidak semata-mata berkaitan dengan hitungan bulan atau tahun sejak sang mama berpulang. Perasaan tersebut juga berkaitan dengan kedekatan hubungan dan perubahan besar yang terjadi dalam kehidupannya. Ketika mengenang sang mama, Mita sedang menyampaikan bahwa kehilangan itu masih menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Pengalaman tersebut menjelaskan mengapa waktu hampir dua tahun belum membuat kenangan bersama mamanya terasa jauh atau menghilangkan duka yang ia rasakan.

Sebelum kehilangan mamanya, Mita The Virgin memiliki kebiasaan sederhana setiap kali hendak manggung. Ia biasanya lebih dulu memberi kabar kepada sang mama mengenai aktivitas yang akan dijalani. Setelah itu, Mita meminta doa agar penampilannya berjalan lancar. Rutinitas tersebut menjadi bagian penting dalam persiapannya sebelum tampil di hadapan penonton.

Bagi Mita, kabar dan doa dari mamanya bukan sekadar komunikasi biasa. Ada rasa tenang yang muncul setelah ia menyampaikan rencana tampil dan mendengar doa dari sosok yang paling dekat dengannya. Kebiasaan itu terus ia lakukan setiap kali memiliki jadwal manggung, sehingga kehadiran mamanya terasa dalam berbagai aktivitas panggung yang dijalani.

Selain memberi kabar sebelum manggung, Mita juga terbiasa meminta mamanya menonton ketika ia akan tampil dalam siaran langsung atau acara televisi. Ia ingin sang mama mengetahui penampilannya dan menyaksikan momen tersebut. Kehadiran mama sebagai penonton sekaligus pemberi doa membuat setiap penampilan memiliki makna emosional tersendiri bagi Mita.

Namun, kebiasaan itu berubah setelah mamanya meninggal dunia. Mita tidak lagi memiliki sosok yang biasa ia kabari setiap kali hendak manggung, menjalani siaran langsung, atau tampil di acara televisi. Tidak ada lagi tempat untuk menyampaikan rencana penampilan dan meminta doa seperti sebelumnya.

Perubahan rutinitas tersebut membuat kehilangan terasa semakin nyata. Mita mengungkapkan kesepian karena sosok yang selama ini menjadi tempatnya berbagi kabar kini telah tiada. Rasa sepi itu muncul bukan hanya karena kehilangan seorang ibu, tetapi juga karena terhentinya kebiasaan kecil yang dahulu selalu menyertai setiap penampilannya. Ketika hendak tampil, Mita kini harus menghadapi momen tersebut tanpa rutinitas yang sebelumnya memberinya ketenangan.

Di tengah rasa kehilangan yang masih kuat, Mita The Virgin berusaha menjalani hari-harinya secara perlahan. Kepergian sang mama membuatnya merasakan kesepian, terlebih ketika kenangan lama kembali muncul saat menjalankan ibadah umrah. Namun, Mita menyadari bahwa dirinya tidak benar-benar seorang diri. Ia masih memiliki Dara, teman-teman lain, serta adiknya yang dapat menjadi tempat berbagi cerita dan memberikan dukungan dalam berbagai keadaan.

Kehadiran orang-orang terdekat tersebut menjadi pengingat bagi Mita untuk tetap melanjutkan hidup. Meski rasa sedih belum sepenuhnya hilang, ia berupaya menerima setiap proses yang harus dilalui. Dukungan dari keluarga dan sahabat membantunya melewati masa-masa sulit, termasuk ketika perasaan rindu kepada mamanya kembali hadir. Mita memilih untuk tetap menjalani aktivitasnya sambil membawa kenangan sang mama dalam kehidupan sehari-hari.

Ingatan kepada mamanya juga memengaruhi cara Mita bersikap. Ketika hendak melakukan sesuatu yang dianggapnya nakal, ia teringat bahwa mamanya pasti akan merasa sedih melihat perilaku tersebut. Kenangan itu membuat Mita lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan menjaga tindakan. Bagi Mita, rasa rindu tidak hanya menjadi kesedihan, tetapi juga dorongan untuk menghormati nilai-nilai yang pernah diajarkan oleh mamanya.

Dengan dukungan Dara, teman-teman, dan adiknya, Mita berusaha menata kembali kehidupannya meski sesekali masih merasa sepi. Ia ingin terus belajar menerima keadaan, menjaga diri, serta berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Keinginan tersebut menjadi langkah Mita untuk melanjutkan hidup tanpa melupakan kasih sayang dan kenangan yang telah diberikan mamanya.

Baca juga: WANNA ONE Kembali Bersama, “WANNA ONE GO in LA” Cetak Lonjakan Penonton | Puspsi TNI Bersama Kodim 1612/Manggarai dan Yonif TP 834/WM Berikan Trauma Healing kepada Penyintas Gempa | Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga