Tekanan Pasar Menyeret Saham-Saham Grup Prajogo, CUAN Turun 12,99%

oleh -83 Dilihat
oleh
Tekanan Pasar Menyeret Saham-Saham Grup Prajogo, CUAN Turun 12,99%

Jakarta | Seluruh saham emiten yang terkait dengan kelompok usaha Prajogo Pangestu melemah pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Pergerakan serentak ke arah negatif tersebut membuat tidak ada satu pun saham dalam kelompok itu yang mampu bertahan di zona hijau hingga waktu pengamatan. Tekanan pasar terlihat menyebar pada seluruh emiten yang masuk dalam kelompok usaha tersebut, sehingga perdagangan hari itu diwarnai koreksi secara menyeluruh.

Berdasarkan data Stockbit yang dipantau pada pukul 14.30 WIB, seluruh saham terkait masih tercatat mengalami penurunan. Tidak terdapat saham yang menunjukkan penguatan pada waktu tersebut. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan jual berlangsung secara bersamaan, bukan hanya menimpa satu emiten tertentu. Dengan demikian, sentimen negatif pada perdagangan Senin tersebut memengaruhi keseluruhan saham dalam kelompok usaha Prajogo Pangestu.

Koreksi terdalam tercatat mendekati 13%. Penurunan tersebut menjadi gambaran paling signifikan dari pelemahan saham-saham grup Prajogo pada pengamatan pukul 14.30 WIB. Salah satu saham yang mengalami tekanan paling besar adalah CUAN, yang turun 12,99%. Angka itu menempatkan CUAN sebagai saham dengan koreksi terdalam di emiten terkait pada waktu pengamatan tersebut. Meski tingkat penurunannya berbeda, seluruh saham dalam kelompok itu sama-sama berada di zona merah. Data tersebut menunjukkan bahwa sampai pukul 14.30 WIB, belum ada saham yang berhasil berbalik ke zona hijau. Pergerakan seluruhnya masih mencerminkan pelemahan pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, dengan CUAN mencatat penurunan paling tajam, yakni hampir 13%.

Tekanan pasar terlihat paling kuat pada saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Dalam perdagangan tersebut, CUAN menjadi saham dengan penurunan terdalam di emiten grup Prajogo yang diamati. Harganya merosot 12,99%, atau turun 100 poin, hingga berakhir di level Rp670 per saham. Pelemahan ini menunjukkan besarnya tekanan jual yang dihadapi saham tersebut dibandingkan emiten lain dalam kelompok yang sama.

Di posisi berikutnya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatat penurunan sebesar 12,59%. Saham BREN kehilangan 340 poin dan ditutup pada harga Rp2.360 per saham. Selisih penurunannya dengan CUAN relatif tipis, sehingga BREN juga termasuk saham yang mengalami koreksi paling tajam pada sesi perdagangan tersebut.

PT Petrosea Tbk (PTRO) menyusul dengan pelemahan 12%. Harga sahamnya turun 570 poin ke Rp4.180 per saham. Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengalami penurunan 9,25%, setara dengan 155 poin, dan berakhir di level Rp1.520. Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada saham-saham dengan penurunan dua digit, tetapi juga merambat ke emiten lain dalam kelompok usaha terkait.

Penurunan berikutnya dicatatkan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), yang melemah 7,21% atau 40 poin ke Rp515 per saham. Adapun PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi saham dengan koreksi paling tipis di emiten-emiten tersebut. BRPT turun 4,98%, atau 70 poin, sehingga ditutup pada harga Rp1.335 per saham. Meski penurunannya lebih terbatas, seluruh saham dalam daftar tersebut tetap bergerak melemah, mencerminkan tekanan pasar yang berlangsung secara luas terhadap saham-saham grup Prajogo.

Penurunan saham-saham yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu berlangsung di tengah tekanan kuat pada pasar saham domestik. Pada penutupan sesi I perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 117,98 poin atau 1,94% ke level 5.975. Dalam perdagangan intraday, indeks bahkan sempat menyentuh titik terendah di 5.971, yang mencerminkan pelemahan sekitar 2%. Kondisi tersebut menunjukkan dominasi aksi jual investor di tengah sentimen pasar yang kurang kondusif.

Pergerakan IHSG pada awal perdagangan sempat terlihat positif. Indeks dibuka di level 6.109,32 dan kemudian mencapai posisi tertinggi sementara di 6.128,72. Namun, penguatan itu tidak bertahan lama. Tekanan jual meningkat hingga membawa IHSG masuk ke zona merah menjelang pukul 10.00 WIB. Pelemahan kemudian berlanjut sepanjang sesi pertama, seiring investor merespons risiko pasar dan melakukan pengurangan posisi pada berbagai kelompok saham.

Tekanan terjadi secara merata karena seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat melemah. Sektor energi, infrastruktur, dan barang baku menjadi kelompok dengan penurunan terdalam. Pergerakan ini turut menekan sejumlah emiten yang berkaitan dengan grup Prajogo, yakni BREN dan CDIA di sektor infrastruktur, CUAN dan PTRO di sektor energi, serta TPIA dan BRPT pada sektor barang baku. BREN dan TPIA juga masuk dalam daftar saham yang menjadi penekan utama IHSG, bersama PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Kombinasi pelemahan lintas sektor dan tekanan pada saham berkapitalisasi besar memperbesar dampak koreksi terhadap indeks.

Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih pada sesi I perdagangan, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian terhadap aset domestik. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, asing membukukan jual bersih Rp166,22 miliar di seluruh pasar. Nilai transaksi asing mencapai Rp3,33 triliun, terdiri atas pembelian sebesar Rp1,58 triliun dan penjualan Rp1,75 triliun. Tekanan tersebut turut memperberat pergerakan saham-saham unggulan, termasuk emiten dalam grup Prajogo Pangestu.

Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati menilai isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Salah satu risiko yang dicermati adalah kemungkinan penurunan klasifikasi Indonesia menjadi pasar frontier. MSCI sebelumnya menetapkan kebijakan pembekuan kenaikan foreign inclusion factor (FIF), number of shares (NOS), penambahan saham baru, serta kenaikan status saham dalam indeks. Kebijakan ini akan dievaluasi menjelang peninjauan indeks pada November 2026, dengan pengumuman diperkirakan disampaikan pada akhir Oktober.

Dari eksternal, pasar juga mengantisipasi perkembangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan bantuan kepada Arab Saudi untuk menyerang kelompok Houthi di Yaman. Pertimbangan tersebut muncul setelah serangan mematikan di Bandara Riyadh dan berpotensi menyeret Amerika Serikat ke front baru dalam perang Iran. Perkembangan ini dapat meningkatkan volatilitas pasar, terutama melalui pergerakan harga komoditas dan perubahan preferensi investor terhadap aset berisiko.

Pada Rabu, 14 Oktober 2026, pelaku pasar menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat dan China, serta neraca perdagangan China. Perhatian juga tertuju pada pertemuan IMF dan Bank Dunia yang berlangsung pada 12–18 Oktober 2026, serta pidato sejumlah pejabat Federal Reserve pada 14–16 Oktober.

BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek IHSG jangka pendek cenderung negatif akibat tekanan jual dan ketidakpastian geopolitik. Inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan berisiko memperkuat dolar AS, menekan rupiah, dan mendorong arus keluar dana asing dari saham domestik.

Baca juga: Kondisi finansial yang sempat mengalami tekanan juga diyakini berangsur membaik