Eko Suwondo Resmi Nahkodai Matra Surabaya, Bawa Misi Penguatan Budaya Lokal

oleh -83 Dilihat
oleh
Eko Suwondo Resmi Nahkodai Matra Surabaya, Bawa Misi Penguatan Budaya Lokal

Kota Pahlawan Gedung Nasional Indonesia | Eko Suwondo resmi dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah Masyarakat Tradisi Nusantara (Matra) Kota Surabaya untuk masa bakti 2026–2031. Prosesi pengukuhan berlangsung di Gedung Nasional Indonesia, Jalan Bubutan, Surabaya, pada Sabtu, 10 Oktober. Momentum tersebut menandai dimulainya kepengurusan baru Matra Surabaya sekaligus menegaskan komitmen organisasi dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan kebudayaan lokal.

Pengukuhan ini menjadi bagian penting dalam perjalanan Matra Surabaya untuk merawat nilai-nilai luhur yang tumbuh di tengah masyarakat. Di tengah perkembangan kota yang semakin modern, keberadaan organisasi kebudayaan dinilai memiliki peran strategis dalam memastikan tradisi tetap dikenal, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Kepemimpinan Eko Suwondo selama lima tahun ke depan diharapkan dapat memperkuat kerja-kerja sosial dan kebudayaan melalui program yang selaras dengan karakter masyarakat Surabaya.

Rangkaian acara pengukuhan turut ditandai dengan pengibaran bendera pataka. Prosesi tersebut menjadi simbol penyerahan amanah sekaligus penanda dimulainya tanggung jawab kepengurusan Matra Surabaya periode 2026–2031. Bendera pataka juga merepresentasikan semangat kebersamaan para pengurus dalam menjalankan mandat organisasi dan memperkuat kepedulian terhadap warisan budaya.

Dengan dikukuhkannya Eko Suwondo, Matra Surabaya memasuki babak baru yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian tradisi, tetapi juga pada penguatan budaya lokal sebagai bagian dari identitas kota. Kepengurusan baru tersebut membawa harapan agar nilai-nilai kebudayaan dapat terus hadir dalam kehidupan publik, beradaptasi dengan perubahan zaman, serta tetap menjadi pijakan bagi masyarakat dalam membangun Surabaya yang maju tanpa kehilangan akar tradisinya.

Pengukuhan Eko Suwondo sebagai pimpinan DPD Matra Kota Surabaya disahkan melalui mekanisme organisasi yang ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan Nomor 21/SK-DPD/DPW Matra Jatim/X/2026. Surat keputusan tersebut dibacakan oleh Sekretaris DPW Matra Jawa Timur dalam rangkaian prosesi pengukuhan. Pembacaan dokumen itu menjadi bagian formal yang menegaskan pemberian mandat kepemimpinan kepada Eko Suwondo untuk memimpin DPD Matra Kota Surabaya.

Surat keputusan yang diterbitkan oleh DPW Matra Jawa Timur tersebut mengesahkan mandat Eko Suwondo pada tingkat kepengurusan Matra di Kota Surabaya. Dengan pengesahan itu, kepemimpinan DPD Matra Kota Surabaya memiliki dasar organisatoris sebagaimana tercantum dalam keputusan bernomor 21/SK-DPD/DPW Matra Jatim/X/2026. Penyampaian keputusan secara terbuka juga menempatkan prosesi pengukuhan sebagai tahapan resmi dalam struktur organisasi Matra di wilayah Jawa Timur.

Prosesi tersebut turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah setempat. Kodim 0830 Surabaya mengutus Kapten Inf. Setiawan Prihartono, sementara Komandan Pasmar diwakili Kol. Mar. Surya Afandi Noviyanto. Kehadiran unsur-unsur tersebut menunjukkan dukungan lintas sektor terhadap agenda organisasi yang berkaitan dengan upaya menjaga ketahanan budaya bangsa. Dukungan itu hadir bersamaan dengan pengesahan mandat kepemimpinan Eko Suwondo, tanpa mengubah kedudukan keputusan yang telah ditetapkan oleh DPW Matra Jawa Timur.

Eko Suwondo menempatkan kebudayaan sebagai jangkar moral bagi masyarakat urban yang terus bergerak dan menghadapi perubahan sosial. Dalam pandangannya, kebudayaan tidak cukup dipahami sebagai warisan masa lalu atau pertunjukan yang hadir pada panggung-panggung kesenian. Tradisi memiliki fungsi yang lebih mendasar, yakni membantu masyarakat mengenali nilai, batas kepantasan, serta tanggung jawab dalam kehidupan bersama. Karena itu, penguatan budaya lokal perlu diarahkan agar tetap dekat dengan pengalaman sehari-hari warga Surabaya.

Eko menegaskan bahwa tradisi tidak hanya berfungsi sebagai tontonan seni, tetapi juga menjadi panduan etika dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat membentuk sikap saling menghormati, kepedulian terhadap lingkungan sosial, dan kesadaran untuk menjaga harmoni. Kebudayaan, dengan demikian, bukan sekadar simbol identitas, melainkan sumber pembelajaran moral yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat modern.

Agenda pertama kepengurusan adalah membangun kesadaran kultural di tingkat akar rumput melalui pendekatan yang membumi. Upaya ini menempatkan warga sebagai bagian penting dalam proses penghidupan budaya, bukan hanya sebagai penonton. Pemahaman mengenai tradisi perlu disampaikan melalui bahasa dan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat, sehingga nilai-nilai lokal dapat dikenali, dipahami, dan diterapkan secara wajar dalam keseharian.

Agenda kedua ialah merangkul Pemerintah Kota Surabaya untuk memperluas ruang berekspresi bagi seniman lokal. Ruang tersebut penting agar para pelaku seni dapat menampilkan karya, menyampaikan gagasan, dan berinteraksi lebih luas dengan masyarakat. Kolaborasi dengan pemerintah diharapkan memperkuat kehadiran kebudayaan lokal dalam kehidupan kota sekaligus memberi kesempatan yang lebih besar bagi seniman untuk berkembang.

Agenda ketiga adalah mendorong pendidikan budi pekerti berbasis kearifan lokal di berbagai ruang publik. Pendidikan tersebut tidak terbatas pada lingkungan formal, tetapi dapat tumbuh melalui interaksi masyarakat dan pemanfaatan ruang bersama. Dengan tiga agenda ini, kebudayaan diharapkan hadir sebagai kekuatan yang membentuk karakter, mempererat hubungan sosial, dan menjaga nilai-nilai lokal tetap relevan di tengah dinamika perkotaan.

Eko Suwondo menilai identitas kultural Surabaya perlu dijaga sebagai bagian penting dari jati diri kota. Surabaya bukan hanya ruang urban dengan perkembangan ekonomi dan sosial yang dinamis, melainkan juga kota yang memiliki memori sejarah panjang tentang perjuangan bangsa. Jejak perjuangan tersebut hidup dalam berbagai tempat, tradisi, cerita, serta nilai yang diwariskan antargenerasi. Pada saat yang sama, Surabaya dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Keberagaman itu menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan kota, selama tetap dirawat dalam kerangka kebersamaan dan penghormatan terhadap akar budaya.

Menurut pandangan Eko, identitas tersebut tidak boleh tergerus oleh perubahan zaman maupun perkembangan kota yang berlangsung cepat. Upaya mempertahankannya diperlukan agar peradaban Surabaya tidak tercerabut dari akar budayanya. Pelestarian budaya karena itu tidak cukup ditempatkan sebagai kegiatan seremonial, tetapi perlu hadir dalam cara masyarakat memahami sejarah, merawat ruang publik, mengembangkan kesenian, dan meneruskan nilai-nilai lokal kepada generasi muda. Budaya juga perlu ditempatkan sebagai unsur yang menyertai pembangunan, sehingga kemajuan kota tetap memiliki arah, karakter, dan keterhubungan dengan pengalaman masyarakatnya.

Dalam pandangan Matra Surabaya, gerakan kebudayaan akan berjalan lebih kuat melalui kolaborasi budayawan, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat. Budayawan memiliki pengetahuan serta pengalaman untuk membaca dan mengembangkan warisan budaya, pemerintah berperan menyediakan kebijakan dan dukungan, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama yang menghidupkan kebudayaan dalam keseharian. Kerja bersama diperlukan agar gagasan pelestarian tidak berhenti pada wacana, melainkan berkembang menjadi gerakan yang terbuka dan berkelanjutan.

Dengan kerangka tersebut, kepengurusan Matra Surabaya berkomitmen menerjemahkan visi penguatan budaya lokal ke dalam langkah-langkah taktis dan aksi nyata. Program yang disusun diarahkan untuk melibatkan lebih banyak pihak, memperluas manfaat, serta memberi dampak bagi kehidupan kebudayaan dan masyarakat Surabaya. Komitmen itu menjadi dasar bagi kerja kepengurusan dalam menjaga identitas kota sekaligus memastikan nilai sejarah dan budaya tetap hadir dalam perjalanan Surabaya ke depan.