Video Dugaan Pesta Narkoba di Rutan Depok Dipastikan Direkam di Dalam Sel

oleh -875 Dilihat
oleh
Video Dugaan Pesta Narkoba di Rutan Depok Dipastikan Direkam di Dalam Sel

KOTA DEPOK, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Kabar mengenai dugaan pesta narkoba di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Kota Depok, Jawa Barat, memiliki dasar terkait lokasi perekaman video yang beredar. Pihak rutan membenarkan bahwa gambar dalam video tersebut memperlihatkan bagian dari area internal rutan. Namun, konfirmasi mengenai tempat pengambilan gambar belum dapat dimaknai sebagai bukti bahwa pesta narkoba benar-benar terjadi.

Kepala Rutan Kelas I Kota Depok, Ario Galih Maduseno, menyebut sejumlah bagian yang terlihat dalam rekaman memiliki kemiripan dengan kamar rutan. Berdasarkan pengamatan awal terhadap tampilan ruangan, ia menyatakan video itu terindikasi memang direkam di Rutan Depok. Pernyataan tersebut disampaikan kepada wartawan pada Minggu malam, 4 Oktober.

Informasi mengenai asal video menjadi perhatian karena rekaman itu memuat dugaan aktivitas terlarang di lingkungan tahanan. Pihak berwenang perlu memisahkan kepastian lokasi perekaman dan pembuktian atas isi atau aktivitas dalam video. Sampai pemeriksaan selesai, peristiwa tersebut masih berstatus dugaan, sehingga belum dapat dinyatakan sebagai pesta narkoba yang terbukti.

Rutan Depok diperkirakan akan memberikan keterangan lanjutan setelah proses klarifikasi terhadap petugas maupun warga binaan yang berkaitan dengan rekaman selesai. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat mengungkap keaslian video, waktu perekaman, serta kemungkinan adanya pelanggaran tata tertib atau hukum. Sementara itu, masyarakat diimbau menunggu hasil penyelidikan resmi dan tidak menarik kesimpulan hanya berdasarkan potongan gambar yang beredar.

Pihak Rutan Depok telah mengambil langkah awal dengan melakukan pemeriksaan terhadap kamar yang diduga menjadi lokasi perekaman video tersebut. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi kamar dan mengetahui siapa saja warga binaan yang berada di dalamnya. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya rutan untuk menelusuri fakta di balik video yang beredar, tanpa terlebih dahulu menarik kesimpulan mengenai peristiwa maupun pihak-pihak yang terlibat.

Berdasarkan pemeriksaan awal, terdapat kurang lebih 22 warga binaan di dalam kamar yang diduga berkaitan dengan video tersebut. Jumlah itu menjadi salah satu dasar bagi pihak rutan untuk melanjutkan proses pendalaman secara lebih terarah. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap kondisi kamar, tetapi juga diarahkan untuk memahami informasi dari warga binaan yang berada di lokasi tersebut.

Dari keseluruhan warga binaan yang berada di kamar, pihak rutan kemudian mendalami sekitar tiga hingga empat orang. Pendalaman tersebut ditujukan untuk mengetahui kemungkinan keterlibatan mereka dalam peristiwa yang tampak dalam video, sekaligus menelusuri peran masing-masing secara lebih jelas. Proses ini tetap menempatkan setiap informasi sebagai bahan pemeriksaan yang perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Pihak rutan menegaskan bahwa proses pendalaman belum selesai. Pemeriksaan masih berlangsung untuk memastikan fakta di balik video, termasuk menjelaskan siapa saja yang mungkin terlibat dan bagaimana peran masing-masing warga binaan. Selain itu, penelusuran juga dapat mencakup kemungkinan adanya pihak lain yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Dengan demikian, hasil pemeriksaan belum dapat disimpulkan secara final sebelum seluruh informasi yang diperlukan diperoleh dan diverifikasi.

Langkah pemeriksaan terhadap kamar serta pendalaman terhadap sejumlah warga binaan menunjukkan bahwa penanganan dilakukan melalui proses penelusuran bertahap. Pihak rutan masih berupaya menyusun informasi secara utuh berdasarkan temuan yang ada, sehingga keterangan mengenai keterlibatan setiap orang tidak diberikan secara terburu-buru. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada hasil pendalaman yang masih berjalan.

Dugaan pesta narkoba di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Depok tidak hanya diarahkan kepada warga binaan yang terlihat atau disebut dalam video. Kepala Rutan Depok, Ario, membenarkan adanya indikasi bahwa petugas rutan juga diduga memiliki keterkaitan dengan peristiwa tersebut. Keterangan itu memperluas ruang pemeriksaan, karena penanganan perkara tidak berhenti pada upaya mengidentifikasi warga binaan yang berada di dalam sel ketika rekaman dibuat.

Ario menyampaikan bahwa dua petugas rutan saat ini sedang menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mendalami sejauh mana kemungkinan keterlibatan mereka, termasuk apakah terdapat kelalaian pengawasan, akses tertentu, atau tindakan lain yang berkaitan dengan pembuatan dan beredarnya video. Namun, informasi mengenai pemeriksaan tidak serta-merta membuktikan bahwa kedua petugas telah melakukan pelanggaran atau terlibat langsung dalam dugaan pesta narkoba.

Proses penanganan masih berjalan, sehingga identitas kedua petugas, bentuk dugaan keterlibatan, serta status hukum mereka belum dapat disimpulkan berdasarkan informasi yang tersedia. Pemeriksaan merupakan tahap untuk menguji keterangan, mencocokkan bukti, dan menentukan ada atau tidaknya pelanggaran sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, penyebutan adanya pemeriksaan perlu dibedakan dari pernyataan bahwa seseorang telah terbukti bersalah.

Pihak rutan dan aparat terkait masih perlu menunggu hasil pemeriksaan sebelum mengambil kesimpulan atau menjatuhkan tindakan lebih lanjut. Jika nantinya ditemukan bukti yang cukup, proses dapat diteruskan melalui mekanisme disiplin kepegawaian maupun jalur hukum, bergantung pada bentuk pelanggaran yang terbukti. Sampai tahap tersebut selesai, pemberitaan mengenai dua petugas itu sebaiknya tetap menggunakan istilah dugaan keterlibatan dan menghindari pengungkapan identitas yang belum dikonfirmasi secara resmi.

Kepala Rutan Depok menyampaikan bahwa dirinya baru sekitar satu bulan menjalankan tugas sebagai pimpinan di lingkungan tersebut. Dalam masa awal kepemimpinannya, ia mengaku telah menerima amanah untuk memperkuat pengawasan, baik terhadap personel maupun warga binaan. Pernyataan itu disampaikan ketika pihak rutan merespons video yang diduga merekam aktivitas pesta narkoba di dalam sel dan kini tengah didalami oleh aparat serta pihak terkait.

Menurut keterangan tersebut, penguatan pengawasan dilakukan melalui peningkatan kesiapsiagaan seluruh personel. Setiap petugas diharapkan menjalankan fungsi pengawasan sesuai tanggung jawabnya, termasuk memantau kondisi blok hunian dan aktivitas warga binaan. Pihak rutan juga menyebut pelaksanaan razia sebagai salah satu langkah pengawasan, dengan waktu pelaksanaan yang dapat dilakukan secara insidental maupun rutin.

Razia insidental memungkinkan pemeriksaan dilakukan tanpa pola waktu yang mudah diperkirakan, sedangkan razia rutin menjadi bagian dari mekanisme pengawasan yang dijadwalkan secara berkala. Kedua pendekatan itu disebut sebagai upaya menjaga ketertiban dan mencegah masuknya barang terlarang ke dalam rutan. Namun, penjelasan mengenai penguatan pengawasan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung dengan waktu perekaman video atau dugaan pesta narkoba yang sedang diperiksa.

Pihak Rutan Depok masih perlu menunggu hasil pendalaman untuk memastikan kronologi, lokasi, serta pihak-pihak yang terlibat dalam video tersebut. Keterangan Kepala Rutan mengenai masa awal jabatannya dan langkah pengawasan internal menjadi bagian dari konteks respons institusi, bukan penetapan bahwa persoalan telah terselesaikan. Proses pemeriksaan tetap diperlukan untuk menguji informasi yang beredar, sekaligus menentukan tindak lanjut berdasarkan fakta dan ketentuan yang berlaku.