EJIF 2026 Catat Komitmen Investasi Rp2,4 Triliun untuk Jawa Timur

oleh -895 Dilihat
oleh
EJIF 2026 Catat Komitmen Investasi Rp2,4 Triliun untuk Jawa Timur

SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, East Java Investment Forum (EJIF) 2026 menghasilkan 12 komitmen bisnis dengan total nilai investasi mencapai Rp2,4 triliun. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu penanda penting bagi penguatan iklim investasi di Jawa Timur, sekaligus menunjukkan adanya kepercayaan pelaku usaha terhadap potensi ekonomi daerah. Bank Indonesia mencatat komitmen itu sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Nilai investasi yang dihimpun melalui forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi berlanjut ke tahap realisasi proyek. Implementasi investasi dapat memperluas kapasitas produksi, meningkatkan aktivitas perdagangan, serta memperkuat keterhubungan antarsektor ekonomi di Jawa Timur. Sejumlah peluang juga terbuka bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam rantai pasok, baik sebagai pemasok bahan baku, penyedia jasa, maupun mitra pendukung kegiatan industri.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim menegaskan bahwa momentum investasi perlu dijaga melalui sinergi dan kolaborasi berbagai pihak. Menurutnya, investasi tidak hanya berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan. Karena itu, pemerintah, perbankan, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya perlu memastikan tersedianya dukungan kebijakan, infrastruktur, serta layanan perizinan yang efektif.

Kolaborasi tersebut menjadi penting agar komitmen investasi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Ketika proyek berjalan secara konsisten, kebutuhan tenaga kerja baru berpotensi meningkat, mulai dari posisi operasional hingga pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus. Pertumbuhan kesempatan kerja dapat memperkuat pendapatan rumah tangga dan mendorong perbaikan kesejahteraan. Dengan pengawalan yang berkelanjutan, 12 komitmen bisnis senilai Rp2,4 triliun diharapkan menjadi pijakan untuk menghadirkan investasi berkualitas di Jawa Timur.

Pandangan Ibrahim menegaskan bahwa kondisi investasi yang positif tidak cukup dijaga melalui pemberian insentif atau promosi investasi semata. Keberlanjutan membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat dan kebijakan yang konsisten. Kesinambungan fiskal menjadi salah satu unsur penting karena memberikan ruang bagi pemerintah untuk membiayai pembangunan, memperbaiki layanan publik, serta menyediakan infrastruktur tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap perekonomian. Pengelolaan anggaran yang sehat juga meningkatkan kepercayaan pelaku usaha terhadap arah kebijakan dalam jangka panjang.

Selain itu, stabilitas sistem keuangan diperlukan agar kegiatan pembiayaan, investasi, dan ekspansi usaha dapat berjalan secara terukur. Perbankan dan lembaga keuangan yang sehat mampu menyalurkan dana kepada sektor produktif, sementara pengawasan yang baik membantu menjaga kepercayaan masyarakat. Sistem pembayaran yang aman, cepat, dan efisien turut menjadi penopang penting, terutama bagi aktivitas perdagangan dan industri yang semakin terhubung dengan ekosistem digital. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Kerja sama tersebut mencakup penyederhanaan perizinan, penguatan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penyelesaian berbagai hambatan yang dihadapi investor di daerah. Sinergi lintas pemerintahan dinilai penting agar kebijakan tidak berhenti pada tingkat provinsi, tetapi dapat dirasakan secara langsung di kawasan industri maupun sentra ekonomi.

Emil juga menilai sektor manufaktur dan pertanian sebagai modal dasar Jawa Timur sekaligus daya tarik bagi investor. Manufaktur memiliki peluang besar melalui penguatan rantai pasok dan peningkatan nilai tambah, sedangkan pertanian menyediakan basis bahan baku, lapangan kerja, dan potensi hilirisasi. Dengan dukungan kebijakan yang berkesinambungan, kedua sektor tersebut dapat memperluas kesempatan usaha serta memperkuat posisi Jawa Timur sebagai tujuan investasi yang kompetitif.

East Java Investment Festival (EJIF) 2026 yang diselenggarakan pada 1–2 Oktober 2026 menjadi salah satu forum strategis untuk memperkenalkan peluang investasi di Jawa Timur. Dalam penyelenggaraan tersebut, sebanyak 28 proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) ditawarkan kepada calon investor. Seluruh proyek itu memiliki total potensi investasi mencapai Rp73,7 triliun.

Proyek-proyek yang masuk dalam daftar IPRO mencakup sejumlah sektor prioritas, yakni manufaktur, pariwisata, infrastruktur, dan agroindustri. Keragaman bidang tersebut menunjukkan luasnya peluang pengembangan usaha di Jawa Timur, baik melalui pembangunan fasilitas baru, perluasan kapasitas produksi, maupun penguatan rantai pasok. Setiap proyek disiapkan agar dapat dipertimbangkan oleh investor sesuai dengan kebutuhan modal, keahlian, dan strategi bisnis masing-masing.

EJIF 2026 juga berfungsi sebagai ruang pertemuan bagi berbagai pemangku kepentingan dalam proses investasi. Pelaku usaha dan calon investor dapat berdialog secara langsung dengan pemilik proyek untuk memahami prospek, kebutuhan pengembangan, serta peluang kerja sama. Pada saat yang sama, pemerintah daerah berperan menjelaskan potensi wilayah, arah kebijakan, dan dukungan yang tersedia bagi kegiatan penanaman modal.

Kehadiran lembaga keuangan turut memperkuat fungsi forum tersebut. Lembaga pembiayaan dapat menjadi mitra dalam membahas skema pendanaan dan kelayakan proyek, sementara pemilik proyek memperoleh kesempatan untuk memperluas akses terhadap sumber modal. Interaksi lintas pihak ini diharapkan mempercepat proses penjajakan hingga terbentuknya kesepakatan investasi.

Forum ini melibatkan investor dari Inggris, Belanda, Australia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, dan Malaysia. Keterlibatan negara-negara tersebut memperlihatkan jangkauan promosi investasi Jawa Timur yang bersifat internasional. Melalui pertemuan dan penawaran proyek yang terarah, EJIF 2026 membuka peluang bagi terbentuknya kemitraan baru untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Selain menawarkan berbagai proyek melalui Investment Project Ready to Offer (IPRO), East Java Investment and Trade Forum (EJIF) 2026 menghadirkan sejumlah peluang investasi lain yang dapat menjadi perhatian calon investor. Peluang tersebut mencakup tujuh kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus yang memiliki posisi strategis dalam pengembangan kegiatan usaha di Jawa Timur. Keberadaan kawasan-kawasan ini menjadi bagian dari materi penawaran yang diperkenalkan selama rangkaian forum.

Forum ini juga memaparkan 80 aset potensial milik pemerintah daerah. Aset-aset tersebut ditampilkan sebagai alternatif peluang investasi yang dapat dikaji sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, serta rencana pengembangan usaha para investor. Dengan demikian, materi yang disampaikan dalam EJIF 2026 tidak hanya berfokus pada proyek IPRO, tetapi juga mencakup potensi aset daerah dan kawasan yang tersedia untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi.

Peluang lainnya berasal dari sejumlah proyek potensial di sektor perbankan. Penawaran dari sektor ini melengkapi berbagai pilihan yang diperkenalkan dalam forum, bersama dengan proyek-proyek pemerintah daerah dan kawasan industri maupun kawasan ekonomi khusus. Seluruhnya menjadi bagian dari agenda promosi investasi yang dihimpun dalam EJIF 2026 untuk mempertemukan potensi proyek dengan pihak yang memiliki minat dan kapasitas investasi.

Rangkaian kegiatan EJIF 2026 turut diisi diskusi panel bersama Danantara Indonesia, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, serta Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur. Pembahasan panel diarahkan pada prospek investasi dan bentuk dukungan pemerintah terhadap dunia usaha. Melalui penawaran proyek, pemaparan aset, serta dialog strategis tersebut, keseluruhan agenda forum disusun untuk memperkuat investasi di Jawa Timur.