Bajaj Jakarta Bertahan di Tengah Sepinya Penumpang dan Ketatnya Persaingan

oleh -995 Dilihat
oleh
Bajaj Jakarta Bertahan di Tengah Sepinya Penumpang dan Ketatnya Persaingan

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Bajaj di Jakarta menghadapi situasi yang semakin sulit. Moda transportasi roda tiga yang dahulu mudah ditemukan di berbagai ruas kota kini terlihat jauh lebih jarang. Krisis penumpang menjadi salah satu tanda utama perubahan tersebut, seiring berkurangnya masyarakat yang mengandalkan bajaj untuk bepergian dalam aktivitas sehari-hari. Data menunjukkan, jumlah bajaj menyusut dari 14.612 unit pada 1999 menjadi sekitar 6.025 unit saat ini. Penurunan itu menggambarkan tekanan panjang yang dihadapi moda legendaris tersebut.

Perubahan pilihan transportasi menjadi salah satu penyebabnya. Warga Jakarta kini memiliki lebih banyak alternatif perjalanan, mulai dari angkutan umum modern hingga layanan berbasis aplikasi. Moda-moda tersebut menawarkan kemudahan pemesanan, kenyamanan perjalanan, serta harga yang relatif terjangkau. Penumpang dapat menentukan titik jemput dan tujuan melalui telepon seluler, sehingga kebutuhan untuk mencari bajaj secara langsung di pinggir jalan semakin berkurang. Persaingan yang ketat membuat keberadaan bajaj tidak lagi menonjol seperti pada masa sebelumnya.

Meski jumlahnya terus berkurang, bajaj masih bertahan di sejumlah sudut Jakarta. Kendaraan ini masih dapat dijumpai di kawasan Asemka, Salemba, dan Tambora, serta di sekitar permukiman yang memiliki gang-gang sempit. Kehadirannya juga tetap terlihat di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan berukuran lebih besar. Dalam kondisi tertentu, ukuran bajaj yang tidak terlalu besar menjadi keunggulan fisik karena memungkinkannya masuk ke jalan atau gang sempit.

Pada masa ketika pilihan transportasi belum sebanyak sekarang, bajaj dikenal sebagai “raja kampung”. Sebutan itu mencerminkan kedekatannya dengan lingkungan permukiman dan perannya dalam menghubungkan warga dengan jalan utama. Kini, posisinya tidak lagi dominan. Bajaj tetap menjadi bagian dari pemandangan kota, tetapi kemunculannya lebih terbatas dan bergantung pada kawasan tertentu yang masih membutuhkan kendaraan lincah untuk melintasi ruang-ruang sempit.

Bagi pengemudi bajaj di Jakarta, mencari penumpang tidak selalu berarti terus berkeliling. Banyak sopir memilih menunggu di titik mangkal yang telah dikenal penumpang, sambil mengandalkan pelanggan tetap untuk menjaga pemasukan. Namun, waktu tunggu sering kali lebih panjang daripada perjalanan yang mereka dapatkan. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana pekerjaan ini menuntut kesabaran sekaligus kemampuan membangun hubungan dengan pelanggan.

Muslih, salah seorang pengemudi, ditemui di sekitar Pasar Jembatan Lima, Jakarta, pada pukul 11.00 WIB. Saat itu, ia mengaku belum memperoleh penumpang pertama pada hari tersebut. Menurutnya, peminat bajaj semakin sedikit dibandingkan masa sebelumnya. Penumpang seorang diri lebih cenderung memilih ojek online karena dinilai praktis dan mudah dipesan melalui telepon seluler. Sementara itu, dua atau tiga penumpang biasanya memilih taksi atau mobil online yang menawarkan ruang lebih luas serta tarif yang dapat diketahui melalui aplikasi.

Pemandangan serupa terlihat di sejumlah lokasi lain. Di depan RS St Carolus, beberapa sopir menghabiskan waktu dengan berdiskusi sambil menunggu calon penumpang. Mereka dapat berada di sana selama berjam-jam tanpa kepastian kapan kendaraan akan terisi. Di Jalan Gajah Mada, seorang sopir bahkan terlihat tertidur ketika menunggu giliran dalam antrean. Kebiasaan beristirahat di sela waktu tunggu menjadi bagian dari keseharian, terutama ketika arus penumpang sedang sepi.

Ketidakpastian juga berkaitan dengan sistem penetapan tarif. Besaran ongkos masih ditentukan melalui kesepakatan pengemudi dan penumpang, sehingga nominalnya dapat ditawar. Pengemudi perlu mempertimbangkan jarak, waktu, serta biaya operasional, tetapi tetap menghadapi kemungkinan penumpang meminta harga lebih rendah. Dengan demikian, mereka berhadapan dengan persaingan dari layanan transportasi berbasis aplikasi sekaligus pendapatan harian yang tidak menentu. Pelanggan tetap menjadi salah satu penopang penting, meskipun jumlahnya belum cukup untuk menjamin pemasukan setiap hari.

Tekanan ekonomi menjadi bagian dari keseharian pengemudi bajaj di Jakarta. Minta, 60 tahun, misalnya, harus membayar setoran sewa sebesar Rp60 ribu setiap hari. Setelah kewajiban itu dipenuhi, ia masih harus mencari penghasilan untuk membeli bahan bakar minyak dan makan. Dalam kondisi penumpang yang tidak selalu ramai, memperoleh Rp100 ribu sehari saja tidak mudah. Jumlah tersebut pun belum dapat dianggap sebagai pendapatan bersih karena sebagian langsung terserap untuk biaya operasional.

Bajaj juga tidak hanya mengangkut penumpang. Kendaraan ini kerap dimanfaatkan untuk membawa barang, mulai dari muatan rumah tangga hingga perlengkapan acara. Minta pernah membawa ondel-ondel sampai ke luar Jakarta. Layanan angkutan barang semacam itu memberi peluang tambahan, tetapi persaingannya semakin ketat. Jasa pengiriman berbasis aplikasi menawarkan pemesanan yang praktis, pelacakan perjalanan, serta pilihan kendaraan yang beragam. Di kawasan permukiman, kehadiran JakLingko turut mengubah peta persaingan transportasi karena warga memiliki alternatif perjalanan yang lebih terintegrasi.

Beban pengemudi tidak berhenti pada setoran dan biaya harian. Kerusakan kendaraan dapat mengurangi pemasukan sekaligus menuntut pengeluaran besar. Di Jalan Makmur, Duri Pulo, Gambir, terdapat bengkel yang dijuluki “rumah sakit bajaj”. Selama puluhan tahun, bengkel itu menangani berbagai persoalan, dari kerusakan CDI, klep, dan sistem kelistrikan hingga bodi yang keropos. Perbaikannya mencerminkan perjalanan bajaj Jakarta, sejak model oranye yang lebih lama hingga bajaj biru berbahan bakar gas.

Sekali turun mesin, pemilik kendaraan setidaknya perlu menyiapkan biaya mulai dari Rp1,5 juta. Bagi pengemudi dengan pemasukan tipis, nominal tersebut bukan pengeluaran kecil. Mereka harus mempertimbangkan apakah kendaraan tetap digunakan sambil menanggung kerusakan, atau diperbaiki agar dapat kembali beroperasi. Situasi ini menunjukkan bahwa mempertahankan bajaj di tengah sepinya penumpang membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengemudi, yaitu ketahanan menghadapi biaya operasional, perawatan, dan perubahan layanan transportasi.

Bajaj belum sepenuhnya hilang dari Jakarta, meskipun pasar dan jumlah penumpangnya terus menyusut. Di tengah lalu lintas yang semakin dipenuhi kendaraan pribadi, bus, dan layanan transportasi berbasis aplikasi, kendaraan roda tiga itu masih terlihat menjalankan rutinitasnya. Sebagian membawa penumpang dalam perjalanan singkat, sementara lainnya mengangkut barang atau membantu kebutuhan warga yang tidak selalu dapat dilayani kendaraan berukuran lebih besar.

Di Jalan Kramat Raya dan Salemba Raya, bajaj bahkan masih digunakan untuk membawa ondel-ondel. Pemandangan tersebut memperlihatkan bagaimana kendaraan lama tetap memiliki fungsi dalam aktivitas harian dan kegiatan masyarakat. Di kawasan Asemka, bajaj juga tampak berada di kendaraan yang memadati jalan. Kehadirannya mungkin tidak lagi dominan, tetapi belum terputus dari denyut mobilitas Jakarta yang berlangsung sejak pagi hingga sore.

Muslih merupakan salah satu pengemudi yang tetap mengandalkan bajaj untuk menyambung hidup. Pada masa sebelumnya, pendapatan dari mengemudi kendaraan itu digunakan untuk menyekolahkan tiga anaknya. Kini, ia berharap dapat menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit agar bisa menabung dan membuka warung di kampung halaman. Harapan tersebut membuatnya tetap bertahan, meski penumpang tidak seramai dahulu dan pemasukan setiap hari sulit dipastikan.

Di tengah sepinya penumpang, Muslih memilih terus mengemudi sambil menunggu rezeki di jalanan Jakarta. Di sekitar deretan bajaj, warga tetap beraktivitas, berjalan kaki, berbelanja, dan menunggu kendaraan yang akan membawa mereka ke tujuan. Pada saat yang sama, pengendara ojek online listrik terlihat melintas di kawasan Duri Pulo. Kehadiran dua jenis kendaraan itu dalam ruang kota yang sama menggambarkan perubahan pilihan transportasi, sementara bajaj masih menjalankan perannya bagi penumpang dan barang yang membutuhkan jasanya.