Jakarta | Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah pejabat bidang ekonomi di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 2 November 2026. Pertemuan tersebut menjadi forum bagi para menteri dan pimpinan lembaga terkait untuk menyampaikan perkembangan kondisi ekonomi nasional kepada Presiden. Laporan yang dibahas mencakup sejumlah indikator yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai arah aktivitas perekonomian Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut sejumlah indikator menunjukkan perekonomian nasional bergerak ke arah positif. Pernyataan itu mencerminkan penilaian pemerintah terhadap perkembangan ekonomi yang dipantau dalam rapat. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah penguatan indeks manajer pembelian atau PMI manufaktur. Perkembangan pada sektor manufaktur tersebut menjadi bagian dari gambaran yang lebih luas mengenai kondisi ekonomi, meskipun penilaian menyeluruh tetap perlu mempertimbangkan berbagai indikator lain dan dinamika yang berlangsung.
Selain Airlangga, rapat tersebut dihadiri Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung. Turut hadir CEO Danantara Rosan Roeslani serta Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri. Kehadiran pejabat dari bidang keuangan, energi, investasi, dan perusahaan energi nasional menunjukkan bahwa pembahasan melibatkan beberapa sektor yang berkaitan dengan perekonomian. Masing-masing peserta berada dalam lingkup tanggung jawab yang berbeda, sehingga laporan mereka dapat membantu Presiden memperoleh informasi lintas bidang dalam satu forum.
Rapat terbatas itu menempatkan perkembangan indikator ekonomi sebagai bahan evaluasi pemerintah. Keterangan Airlangga mengenai arah positif menjadi salah satu poin utama dari laporan yang disampaikan kepada Presiden. Sementara itu, penguatan PMI manufaktur memberi konteks tambahan tentang aktivitas industri yang tengah dicermati. Informasi yang dibahas dalam pertemuan tersebut penting untuk memahami cara pemerintah memantau keadaan ekonomi dan menghimpun masukan dari para pejabat terkait. Dengan demikian, laporan lintas sektor di Istana menjadi bagian dari koordinasi pemerintah dalam mengikuti perkembangan nasional, tanpa mengabaikan perlunya melihat indikator secara berkala dan menyeluruh.
Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat berada di angka 54, meningkat dari 52,4 pada bulan sebelumnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur tetap berada dalam fase ekspansi dan tingkatnya menguat dibandingkan periode sebelumnya. Angka PMI tersebut menjadi salah satu indikator yang menggambarkan arah kegiatan sektor manufaktur, dengan posisi di atas ambang ekspansi. Kenaikan dari 52,4 ke 54 memperlihatkan capaian yang lebih tinggi, sekaligus menegaskan bahwa ekspansi sektor ini berlangsung dengan tingkat yang kuat.
Menurut Airlangga, capaian PMI sebesar 54 mencerminkan penguatan ekspansi sektor manufaktur Indonesia. Ia juga menyebut angka tersebut sebagai level ekspansi tertinggi sejak Maret 2024. Dengan demikian, hasil terbaru ini tidak hanya menunjukkan bahwa manufaktur masih berekspansi, tetapi juga menempatkan tingkat ekspansinya pada posisi tertinggi dalam periode yang disebutkan. Pernyataan tersebut menekankan makna capaian indeks, tanpa mengaitkannya dengan faktor penyebab tertentu.
Perbandingan dengan bulan sebelumnya memberi konteks terhadap perkembangan indikator ini. Pada periode sebelumnya, PMI berada di 52,4, sedangkan pada pengukuran terbaru nilainya mencapai 54. Selisih tersebut mencerminkan peningkatan sebesar 1,6 poin. Dalam pembacaan PMI, nilai yang berada di atas 50 menunjukkan ekspansi, sehingga kedua angka itu sama-sama menggambarkan pertumbuhan aktivitas manufaktur. Namun, nilai terbaru menunjukkan tingkat ekspansi yang lebih tinggi daripada bulan sebelumnya. Karena itu, angka 54 menjadi penanda penguatan yang jelas dalam data PMI yang disampaikan.
Capaian tersebut dapat dipahami sebagai sinyal positif bagi gambaran sektor manufaktur Indonesia pada periode pengukuran terbaru. Meski demikian, informasi utamanya terletak pada posisi indeks, kenaikannya dibandingkan bulan sebelumnya, serta keterangan bahwa level ekspansi ini merupakan yang tertinggi sejak Maret 2024. Airlangga menilai hasil tersebut mencerminkan tingkat ekspansi yang tinggi. Dengan mempertahankan fokus pada indikator dan pernyataan tersebut, PMI memberi gambaran terukur mengenai kondisi ekspansi manufaktur tanpa menyimpulkan lebih jauh mengenai faktor yang mendasarinya.
Neraca perdagangan Indonesia tetap mencatat surplus pada September 2026, meskipun kinerja ekspor dan impor terbentuk dari dinamika sektor yang berbeda. Surplus pada bulan tersebut mencapai US$3,36 miliar. Capaian ini terutama ditopang oleh perdagangan nonmigas yang membukukan surplus US$5,67 miliar. Sebaliknya, perdagangan migas masih mencatat defisit US$2,31 miliar. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kontribusi positif sektor nonmigas mampu menutup tekanan dari transaksi migas dan menjaga neraca perdagangan secara keseluruhan tetap berada di zona surplus.
Kinerja bulanan itu sejalan dengan catatan kumulatif sepanjang Januari hingga September 2026. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, surplus neraca perdagangan mencapai US$10,61 miliar. Angka agregat tersebut berasal dari surplus nonmigas sebesar US$34,21 miliar, sementara sektor migas mencatat defisit US$23,6 miliar. Dengan demikian, surplus nonmigas menjadi penyangga utama bagi neraca perdagangan nasional. Besarnya kontribusi itu juga memperlihatkan bahwa hasil perdagangan Indonesia sangat dipengaruhi oleh kemampuan sektor nonmigas menghasilkan penerimaan ekspor yang lebih besar dibandingkan nilai impornya.
Dari sisi ekspor, nilai pengiriman barang Indonesia selama Januari–September 2026 tercatat sebesar US$221,23 miliar. Nilai tersebut tumbuh 5,58% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai perdagangan nonmigas pada periode yang sama mencapai US$212,27 miliar. Data ini memberi gambaran bahwa aktivitas perdagangan nonmigas memiliki porsi besar dalam keseluruhan kinerja ekspor, sekaligus berkaitan erat dengan surplus yang tercatat selama tahun berjalan.
Angka-angka tersebut perlu dibaca bersama-sama, bukan hanya melalui surplus satu bulan. Defisit migas yang berulang dapat mengurangi nilai surplus agregat, sedangkan kinerja nonmigas yang kuat dapat menahannya. Karena itu, perkembangan ekspor, impor, dan keseimbangan transaksi pada kedua kelompok komoditas tetap penting untuk dipantau pada bulan-bulan berikutnya. Pertumbuhan ekspor kumulatif memberi indikasi yang positif, tetapi keberlanjutan surplus akan bergantung pada bagaimana penerimaan nonmigas dibandingkan dengan kebutuhan impor, termasuk impor migas. Data September dan Januari–September 2026 menunjukkan bahwa fondasi surplus perdagangan saat ini terutama bertumpu pada sektor nonmigas.
Inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23% secara tahunan. Secara bulanan, kenaikan harga mencapai 0,22%, sedangkan inflasi year to date berada di level 2,4%. Angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai pergerakan harga dalam rentang waktu yang berbeda: dibandingkan Oktober tahun sebelumnya, dibandingkan bulan sebelumnya, dan sejak awal tahun hingga Oktober. Karena itu, ketiganya perlu dibaca bersama untuk memahami tekanan harga yang berlangsung.
Sejumlah sumber tekanan yang tercantum dalam perkembangan inflasi bulan tersebut berasal dari kelompok volatile food, makanan dan minuman, cabai rawit, ikan segar, serta transportasi. Komoditas pangan seperti cabai rawit dan ikan segar dapat berkontribusi pada perubahan harga kelompok pangan, sementara biaya transportasi juga termasuk dalam faktor yang dicatat. Penyebutan sumber-sumber ini membantu menjelaskan bahwa inflasi tidak hanya berkaitan dengan satu kelompok barang atau jasa. Namun, informasi tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan besarnya kontribusi masing-masing sumber terhadap angka inflasi keseluruhan.
Airlangga juga menyampaikan rincian inflasi berdasarkan komponennya. Inflasi inti tercatat sebesar 2,56%, administered price atau harga yang diatur pemerintah sebesar 3,24%, dan volatile food sebesar 5,81%. Perbedaan angka antarkomponen menunjukkan bahwa tekanan harga memiliki karakter yang beragam.
Baca juga: Rakornas Bidang Politik dan Keamanan KADIN Indonesia, Bamsoet Tegaskan Ekonomi Kuat, Dunia Usaha Aman, Pertahanan Mandiri Jadi Kunci Kedaulatan Nasional | Pesan Ketua Dewan Ekonomi Nasional : Berikan Keteladanan dan Loyalitas | Menerima Kunjungan Persahatan Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Ekonomi Indonesia dan Maroko
