Wamentan: Warga Indonesia Timur Berharap Program MBG Berlanjut

oleh -1473 Dilihat
oleh
Wamentan: Warga Indonesia Timur Berharap Program MBG Berlanjut

Jakarta | Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa mengatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat sambutan dan diminati masyarakat di Indonesia Timur. Menurut dia, warga di daerahnya berharap program tersebut tidak dihentikan karena dinilai membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Pernyataan itu menggambarkan harapan yang ia dengar dari warga, bukan pengumuman mengenai kebijakan baru ataupun keputusan resmi pemerintah untuk memastikan program berlanjut.

Saleh menyampaikan hal tersebut ketika menjadi pembicara dalam Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-III di The Tribrata, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Dalam forum itu, ia menyoroti bagaimana MBG dipandang oleh masyarakat di kawasan timur Indonesia. Ia menyebut program tersebut diminati, sementara permintaan agar pelaksanaannya tidak dihentikan menunjukkan bahwa sebagian warga menilai manfaatnya penting bagi kehidupan sehari-hari.

Alasan yang disampaikan Saleh berpusat pada pemenuhan gizi. Akses terhadap makanan bergizi merupakan salah satu kebutuhan dasar, dan program penyediaan makanan dapat membantu masyarakat memperoleh asupan yang dibutuhkan. Karena itu, warga yang menginginkan MBG tetap berjalan melihatnya sebagai bentuk dukungan terhadap kebutuhan gizi, khususnya bagi kelompok yang menjadi penerima manfaat. Namun, keterangan tersebut merupakan pandangan yang ia sampaikan dalam acara, bukan penetapan arah program.

Respons masyarakat di Indonesia Timur itu menjadi bagian dari pembicaraan mengenai pelaksanaan MBG dan manfaat yang dirasakan warga. Harapan agar program tidak dihentikan dapat menunjukkan pentingnya memperhatikan pengalaman masyarakat di berbagai daerah saat mengevaluasi layanan publik. Pada saat yang sama, pernyataan seorang pejabat mengenai aspirasi warga perlu dibedakan dari keputusan formal pemerintah. Saleh menyampaikan adanya minat dan harapan tersebut, tetapi tidak mengumumkan keputusan baru tentang keberlanjutan MBG. Dengan demikian, inti keterangannya adalah bahwa program dinilai membantu memenuhi kebutuhan gizi dan mendapat sambutan di wilayah timur, sementara warga yang ia sebut berharap pelaksanaannya terus berlangsung.

Saleh menempatkan kesenjangan gizi dan stunting sebagai persoalan yang tidak hanya tercermin dalam angka nasional, tetapi juga tampak nyata dalam kehidupan masyarakat di berbagai daerah. Ia mengutip data Kementerian Dalam Negeri yang menunjukkan bahwa sekitar 7–16 persen masyarakat masih rentan mengalami kelaparan. Sementara itu, angka stunting berada di kisaran 21,5 persen. Kedua angka tersebut menggambarkan bahwa akses terhadap pangan dan pemenuhan gizi masih menjadi tantangan bagi sebagian warga, terutama kelompok yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan layanan dan sumber daya.

Menurut Saleh, dampak persoalan itu lebih mudah terlihat ketika menyaksikan langsung kondisi anak-anak di daerah. Anak yang mengalami stunting atau kekurangan gizi menghadapi risiko terhadap pertumbuhan dan perkembangannya, sehingga masalah tersebut tidak dapat dipandang semata-mata sebagai statistik. Ia menyinggung situasi di sejumlah wilayah, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua, sebagai konteks yang memperlihatkan betapa pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi secara berkelanjutan. Pengalaman melihat kondisi masyarakat setempat membuat kesenjangan tersebut terasa lebih konkret.

Latar belakang inilah yang membantu menjelaskan mengapa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat sambutan positif di Indonesia Timur. Bagi warga di wilayah yang masih berhadapan dengan kerentanan pangan dan masalah gizi, program penyediaan makanan bagi anak dapat dipandang sebagai dukungan langsung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harapan agar MBG berlanjut juga berkaitan dengan perlunya menjaga kesinambungan upaya perbaikan gizi, bukan hanya menjalankan kegiatan dalam waktu singkat. Dengan pelaksanaan yang konsisten dan menjangkau daerah yang membutuhkan, program tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari respons terhadap persoalan yang disampaikan Saleh.

Saleh mengenang masa ketika ia masih bersekolah di sekolah dasar di Ternate. Saat itu, keluarganya terdiri atas tujuh orang. Pengalaman tersebut ia ceritakan sebagai gambaran keadaan keluarganya sendiri, terutama saat memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ia mengingat sarapan di rumah sebagai sesuatu yang harus dibagi untuk seluruh anggota keluarga. Telur yang dimasak ibunya tidak disediakan untuk satu orang saja, melainkan dibagi menjadi tujuh bagian. Setiap anggota keluarga memperoleh bagian dari telur tersebut. Kenangan sederhana itu menunjukkan bagaimana satu hidangan disesuaikan agar dapat dinikmati bersama oleh keluarga mereka.

Selain telur yang dibagi untuk sarapan, Saleh juga menceritakan bahwa keluarganya kadang makan nasi tanpa ikan. Dalam keadaan seperti itu, nasi dicampur dengan mentega. Ia menyampaikan kisah tersebut sebagai pengalaman pribadi dari masa kecilnya, ketika masih menjadi murid sekolah dasar di Ternate. Cerita itu berpusat pada makanan yang tersedia di rumah dan cara keluarganya menyantapnya. Saleh tidak menggambarkannya sebagai pengalaman semua keluarga, melainkan sebagai kenangan tentang kondisi keluarganya sendiri. Dengan demikian, kisah tentang telur, nasi, ikan, dan mentega tetap menjadi bagian dari ingatan pribadinya mengenai masa sekolah.

Saleh mengakui bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pernah menghadapi sejumlah persoalan, terutama berkaitan dengan tata kelola. Pengakuan itu tidak mengurangi pandangannya bahwa program tersebut tetap penting. Menurutnya, pemenuhan gizi mulai meningkat, sehingga keberlanjutan MBG perlu diperhatikan. Ia mengaitkan pentingnya perhatian terhadap gizi dengan pengalaman masa kecil yang ia ceritakan, tanpa menyamakan kisah keluarganya dengan keadaan semua warga. Cerita Saleh memberi konteks personal pada pandangannya tentang program itu: ia mengingat bagaimana makanan di rumah dibagi dan disajikan, sementara ia kini menilai upaya pemenuhan gizi sebagai hal yang penting. Bagi Saleh, persoalan tata kelola perlu diakui, namun program tetap memiliki arti.

Saleh turut mengingatkan bahwa kedaulatan pangan perlu menjadi perhatian utama di tengah ancaman krisis pangan global. Menurutnya, persoalan pangan bukan sekadar tantangan bagi suatu negara, melainkan isu yang dapat berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat dunia. Ia menyebut lebih dari 725 juta penduduk dunia terancam kelaparan. Angka tersebut, ujarnya, menunjukkan pentingnya memastikan ketersediaan pangan dan memperkuat kemampuan negara untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya secara berkelanjutan.

Saleh juga mencontohkan perubahan perhatian sejumlah tokoh teknologi terhadap sektor pertanian. Bill Gates dan Jeff Bezos, yang dikenal melalui kiprahnya di bidang teknologi, mulai berinvestasi di sektor pertanian dengan mengembangkan lahan dalam skala besar. Contoh itu disampaikan untuk menggambarkan bahwa pangan tetap menjadi kebutuhan mendasar, termasuk bagi mereka yang berasal dari industri digital. Perhatian terhadap pertanian, menurut Saleh, menunjukkan bahwa ketersediaan pangan tidak dapat dilepaskan dari keberlangsungan hidup manusia.

Ia membedakan pangan dari produk digital yang dapat berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Pangan, kata Saleh, tetap mendasar karena manusia membutuhkannya untuk bertahan hidup. Karena itu, penguatan kedaulatan pangan perlu berjalan seiring dengan upaya pemerintah menjaga pasokan dan mengembangkan sektor pertanian. Dalam pandangannya, ketergantungan terhadap pihak lain dalam memenuhi kebutuhan pangan dapat menjadi tantangan ketika terjadi gangguan pasokan atau krisis di tingkat global.

Saleh menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian berkomitmen mendukung empat fokus yang ia sebutkan, yakni swasembada pangan, pengembangan makanan bergizi, ketahanan energi, dan hilirisasi. Ia menyatakan bahwa swasembada beras telah tercapai, sedangkan program makanan bergizi masih berproses. Kedua hal tersebut merupakan bagian dari fokus yang didukung kementerian, bersama penguatan ketahanan energi dan hilirisasi. Saleh mengaitkan dukungan itu dengan upaya menjalankan agenda yang telah disebutkan, tanpa mengesampingkan kebutuhan untuk terus mengembangkan sektor pertanian dan pangan.

Baca juga: BRI Pare Perkuat UMKM KUB Putra Harinjing Bangkit melalui Program BRI Peduli | Beri Kuliah Program Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Setuju Parliamentary Threshold 5 Persen, Dorong Terjadi Penyederhanaan Sistem Kepartaian dan Pemisahan Pilpres dan Pileg | Uji Hasil Penelitian Disertasi Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Tegaskan Kepastian Hukum Harus Jadi Fondasi Utama Pelaksanaan Program Strategis Nasional