Jakarta | Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, setelah dolar kehilangan sebagian kekuatannya menyusul keputusan Federal Reserve (The Fed). Data Refinitiv pada pukul 09.18 WIB menunjukkan delapan dari 10 mata uang yang dipantau bergerak naik, satu melemah, dan satu lainnya stagnan. Pergerakan tersebut mencerminkan perubahan sentimen pasar terhadap dolar setelah keputusan bank sentral AS dinilai tidak seketat yang sebelumnya dikhawatirkan. Meski demikian, penguatan berlangsung dengan besaran berbeda-beda di kawasan. Won Korea Selatan mencatat kenaikan paling besar, sedangkan ringgit Malaysia dan rupiah juga berada di mata uang yang menguat pada sesi perdagangan pagi.
Won Korea Selatan menjadi penguat utama dengan kenaikan 0,54% ke KRW1.334,4 per dolar AS. Posisi tersebut menempatkannya di depan mata uang Asia lain yang juga naik pada perdagangan hari itu. Ringgit Malaysia menyusul dengan penguatan 0,27%. Penguatan berbagai mata uang regional terjadi ketika dolar melemah setelah pasar menilai sikap The Fed kurang hawkish. Penilaian tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena arah kebijakan suku bunga AS dapat memengaruhi daya tarik dolar dan pergerakan mata uang lain. Namun, data pada satu waktu perdagangan ini menunjukkan kondisi sesaat; perubahan selanjutnya tetap dapat dipengaruhi perkembangan kebijakan, respons pasar, serta faktor ekonomi domestik dan global.
Rupiah menguat 0,25% ke Rp18.130 per dolar AS. Kenaikan ini membuat rupiah sedikit menjauh dari rekor level terlemah Rp18.175 per dolar AS yang tercatat sehari sebelumnya. Walaupun bergerak lebih baik pada pagi itu, posisi rupiah masih dekat dengan level terendah tersebut, sehingga penguatan belum menghapus tekanan yang tercermin dalam pelemahan sebelumnya. Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang mendapat ruang penguatan ketika dolar kehilangan sebagian momentumnya. Data Refinitiv pukul 09.18 WIB memberikan gambaran bahwa rupiah berada di kelompok mata uang yang menguat, bersama won dan ringgit. Perkembangan berikutnya akan terlihat dari keberlanjutan pelemahan dolar serta respons pasar terhadap keputusan dan sinyal kebijakan The Fed.
Penguatan mata uang di kawasan Asia terlihat pada sejumlah pasar lain, dengan besaran perubahan yang bervariasi. Peso Filipina naik 0,15%, menjadi mata uang dengan kenaikan terbesar di mata uang yang tercatat menguat dalam daftar ini. Yen Jepang juga bergerak positif, bertambah 0,11%. Sementara itu, dolar Singapura naik 0,10%, sedikit lebih rendah daripada kenaikan yen. Angka tersebut menunjukkan bahwa penguatan tersebar pada beberapa mata uang, tetapi tidak berlangsung dengan skala yang sama. Perbedaan persentase yang tercatat tetap relatif terbatas, sehingga data ini lebih tepat dibaca sebagai perubahan harian masing-masing mata uang, bukan sebagai ukuran langsung mengenai kekuatan ekonomi negara terkait.
Di pasar China dan Vietnam, pergerakannya juga berada di zona positif, meski kenaikannya lebih kecil. Yuan China menguat 0,06%, sedangkan dong Vietnam naik 0,05%. Dengan demikian, perubahan dong tercatat paling tipis di mata uang yang menguat dalam kelompok tersebut. Selisih ini menggambarkan variasi angka pada hari perdagangan yang sama, bukan perubahan besar yang dapat disimpulkan tanpa melihat rentang waktu lebih panjang. Untuk membaca dinamika pasar secara menyeluruh, persentase harian dapat dibandingkan dengan pergerakan sebelumnya dan indikator lain, tetapi data yang tersedia di sini hanya menunjukkan arah serta besaran perubahan yang disebutkan.
Pergerakan tidak seragam di seluruh kawasan. Dolar Taiwan menjadi satu-satunya mata uang yang melemah, dengan koreksi 0,27%. Besaran penurunannya lebih besar daripada kenaikan harian masing-masing mata uang lain yang disebutkan, meskipun perbandingan itu tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab pergerakan. Adapun baht Thailand stagnan, sehingga tidak mencatat kenaikan maupun penurunan dalam data tersebut. Gambaran ini memperlihatkan kombinasi penguatan, pelemahan, dan pergerakan datar di pasar Asia. Karena angka-angka merujuk pada perubahan persentase masing-masing mata uang, pembaca sebaiknya mempertahankan konteks tiap instrumen dan menghindari menyamakan arah pergerakan dengan besarnya dampak ekonomi. Data ini merangkum kondisi yang tercatat tanpa menetapkan tren jangka panjang atau menyimpulkan adanya perubahan fundamental di negara-negara tersebut.
Pasar keuangan Asia merespons hasil rapat Federal Reserve dengan menilai bahwa sikap bank sentral Amerika Serikat tidak seketat yang dikhawatirkan sebelumnya. The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00%, sesuai perkiraan pasar, melalui pemungutan suara 10-2. Meski keputusan tersebut tidak mengejutkan, perhatian investor tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dan petunjuknya mengenai arah kebijakan pada pertemuan mendatang. Bagi pasar mata uang, nada komunikasi bank sentral dapat memengaruhi perkiraan tentang imbal hasil aset dolar dan turut mendorong pergerakan mata uang regional.
Investor menelaah apakah Warsh memberikan sinyal kuat bahwa kenaikan suku bunga mungkin dipertimbangkan pada rapat Desember. Pernyataannya dinilai tidak menyampaikan petunjuk tegas mengenai kemungkinan tersebut. Ketidakjelasan ini penting karena sebagian pelaku pasar sebelumnya berharap keputusan untuk menahan suku bunga akan disertai panduan yang lebih jelas tentang rapat berikutnya. Tanpa penegasan bahwa kenaikan menjadi pilihan, pasar memiliki ruang untuk menafsirkan bahwa pejabat The Fed belum berkomitmen pada pengetatan lanjutan. Ekspektasi kebijakan yang lebih lunak dapat mengurangi dukungan bagi dolar AS, sehingga mata uang Asia, termasuk rupiah, berpeluang menguat. Namun, perubahan tersebut tetap bergantung pada penilaian investor terhadap data ekonomi dan perkembangan kebijakan selanjutnya.
Carol Kong, ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, mengatakan sikap The Fed ditafsirkan dovish atau setidaknya tidak cukup hawkish. Penilaian itu menggambarkan respons pasar terhadap keseluruhan pesan rapat, bukan perubahan pada suku bunga yang diputuskan. Ketika komunikasi bank sentral dinilai kurang tegas dalam mengisyaratkan kenaikan, ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tertahan dapat menguat. Kondisi tersebut berpotensi membantu mata uang Asia karena prospek selisih imbal hasil terhadap aset dolar tampak tidak semakin melebar. Penguatan rupiah dan mata uang kawasan dengan demikian mencerminkan pembacaan investor atas panduan kebijakan, sementara langkah The Fed berikutnya masih menjadi perhatian. Pasar akan mencermati pernyataan pejabat dan data ekonomi berikutnya untuk menilai apakah tafsiran dovish itu bertahan.
Meski sikap The Fed dinilai kurang hawkish dan mendorong penguatan sejumlah mata uang Asia, pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter. Penilaian bank sentral terhadap perekonomian Amerika Serikat justru menunjukkan keyakinan yang lebih besar terhadap ketahanan aktivitas ekonomi. The Fed menaikkan penilaiannya atas kondisi ekonomi dan menyebut pertumbuhan berlangsung pada laju yang kuat. Sinyal ini memberi ruang bagi pejabat bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau kembali menaikkannya jika tekanan harga tidak mereda sesuai harapan.
Pernyataan Stephen Warsh turut menjadi perhatian investor dalam menilai arah kebijakan selanjutnya. Ia menyampaikan bahwa inflasi masih dapat dikembalikan ke target 2% tanpa menekan pertumbuhan secara berlebihan maupun mendorong tingkat pengangguran meningkat. Pandangan tersebut mengisyaratkan bahwa pengendalian inflasi dan keberlanjutan ekspansi ekonomi tidak harus saling bertentangan. Namun, keyakinan itu juga menjaga opsi kenaikan suku bunga tetap terbuka, terutama bila data mendatang menunjukkan inflasi bertahan atau aktivitas ekonomi terus menguat.
Perkiraan pasar mencerminkan kehati-hatian tersebut. Menurut CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember masih berada di sekitar 78%.
Baca juga: Operasi Pembersihan Done Balogo, Tim Gabungan Temukan Senjata dan Sejumlah Barang | TNI Kerahkan Sejumlah Alutsista Dukung Operasi SAR KM Virgo Transport 8 | Tiga Menko dan Sejumlah Tokoh Hadiri Peluncuran Buku Terbaru Bamsoet ke-38 dan Buku Perjalanan Panjang Bamsoet Karya Wartawan Senior J.Osdar
