Jakarta | Sopian, seekor kucing berbulu putih dan abu-abu yang tinggal di Stasiun Gondangdia, Jakarta, menjadi perbincangan di media sosial. Tingkahnya menarik perhatian para pengguna kereta dan orang-orang yang melintas di stasiun tersebut. Di tengah kesibukan penumpang yang datang dan pergi, kehadiran kucing ini membuat sebagian orang berhenti sejenak untuk memperhatikannya. Cerita tentang Sopian kemudian menyebar melalui unggahan dan foto yang dibagikan secara daring.
Nama Sopian bukan nama yang diberikan secara resmi oleh pihak stasiun. Sebutan itu muncul dari pengguna KRL yang biasa turun di Gondangdia dan kerap melihatnya di sana. Karena sering bertemu, mereka mulai mengenali kucing tersebut dan memanggilnya dengan nama yang sama. Nama itu pun melekat, sehingga Sopian kini dikenal sebagai salah satu penghuni yang akrab bagi sejumlah penumpang. Kisahnya menunjukkan bagaimana sosok sederhana di ruang publik dapat menjadi perhatian bersama.
Sopian digambarkan memiliki tubuh yang gempal dan bulu berwarna putih serta abu-abu. Ia juga mengenakan kalung dengan gantungan yang memuat kode QR. Detail tersebut membuat penampilannya mudah dikenali sekaligus mengundang rasa ingin tahu dari orang yang melihatnya. Penumpang dapat memindai kode itu menggunakan ponsel untuk mengetahui informasi yang disediakan tentang Sopian. Kehadiran kode QR pada kalungnya menjadi bagian unik dari cerita kucing yang tinggal di area stasiun ini.
Ketika dipindai, kode QR membuka sebuah laman yang menggambarkan Sopian sebagai pegawai stasiun. Laman tersebut juga memungkinkan pengguna membagikan kabar tentangnya melalui foto. Dengan cara itu, orang yang bertemu Sopian dapat ikut menyebarkan cerita dan dokumentasi mengenai kucing tersebut kepada pengguna lain. Perpaduan kalung berkode QR dan unggahan media sosial membuat kisahnya semakin mudah dikenal. Bagi penumpang, Sopian bukan sekadar kucing yang kebetulan berada di stasiun, melainkan sosok yang memberi warna tersendiri pada perjalanan sehari-hari.Menurut laporan bertanggal Senin, 16/10, Sopian menjalani kesehariannya di area Stasiun Gondangdia dengan kebiasaan yang membuat keberadaannya mudah diperhatikan. Ia sering terlihat tidur di lantai stasiun, sementara pada kesempatan lain ia berkeliling di area tersebut. Tidak setiap saat ia berada di satu tempat; sesekali ia juga naik ke kursi. Perubahan posisi itu menjadi bagian dari tingkah Sopian yang diperhatikan petugas dan pengguna KRL yang berada di stasiun. Kebiasaan tersebut tampak sederhana, tetapi cukup untuk membuat orang memperhatikan kucing itu ketika mereka menjumpainya. Laporan itu menggambarkan Sopian melalui kegiatan sehari-harinya: beristirahat, berpindah tempat, dan sesekali berada di atas kursi.
Tingkah Sopian kerap membuat orang berhenti sejenak dari kegiatan mereka untuk mengelusnya. Petugas stasiun maupun pengguna KRL termasuk di orang-orang yang menyempatkan diri mendekat ketika melihatnya. Ada pula yang memberikan makanan kepada Sopian. Respons tersebut menunjukkan bahwa keberadaannya menjadi perhatian di area stasiun, meskipun ia hanya menjalani kebiasaan seperti tidur, berkeliling, atau naik ke kursi. Interaksi itu berlangsung saat orang menjumpainya, tanpa mengubah gambaran sederhana tentang rutinitasnya. Sopian menjadi kucing yang membuat sebagian orang meluangkan waktu untuk berinteraksi dengannya di tengah aktivitas mereka di Gondangdia. Sebagian berhenti untuk mengelus, sedangkan beberapa lainnya juga memilih memberinya makan.
Menurut Utami, petugas stasiun berusia 24 tahun, sebagian orang bahkan datang ke stasiun dengan tujuan khusus mencari Sopian. Keterangan itu memperlihatkan bahwa perhatian terhadap kucing tersebut tidak terbatas pada orang yang kebetulan melihatnya ketika berada di lokasi. Ada pengunjung yang memang menjadikan pencarian Sopian sebagai alasan untuk datang. Namun, kebiasaan yang dilaporkan tetap berpusat pada hal-hal yang terlihat di stasiun: ia sering tidur di lantai, sesekali berkeliling, dan pada beberapa kesempatan naik ke kursi. Kehadirannya mengundang perhatian, elusan, dan pemberian makanan dari petugas maupun pengguna KRL. Dengan demikian, rutinitas Sopian menjadi bagian dari pengalaman orang-orang yang menjumpainya di Gondangdia.
Menurut Utami, Sopian bukan kucing yang baru muncul di Stasiun Gondangdia. Ia sudah lama berada di lingkungan stasiun dan dikenal oleh orang-orang yang kerap beraktivitas di sana. Kehadirannya menjadi bagian dari keseharian, meskipun tidak selalu tampak di titik yang sama. Penumpang yang melintas mungkin melihatnya sesekali, sementara orang yang lebih sering berada di stasiun dapat mengenali kebiasaannya. Keterangan Utami memberi gambaran bahwa hubungan Sopian dengan tempat itu terbentuk dalam waktu yang panjang, bukan karena ia baru saja datang atau sengaja ditempatkan di sana.
Dalam upaya merawat Sopian, ia pernah dibawa untuk menjalani sterilisasi dengan bantuan komunitas pecinta kucing @letsadoptindonesia. Setelah proses tersebut, Sopian kembali ke stasiun. Menurut Utami, sejak kembali, ia lebih sering berada di lantai atas. Perubahan lokasi yang lebih kerap terlihat itu tidak berarti Sopian meninggalkan stasiun; ia tetap berada di lingkungan yang telah lama dikenalnya. Kisah tersebut menunjukkan adanya bantuan komunitas dalam penanganan kucing, sekaligus menjelaskan bahwa perawatan yang dilakukan tidak lantas memindahkan Sopian secara permanen dari tempat tinggalnya. Ia kembali menjalani kesehariannya di stasiun, dengan kebiasaan dan pilihan tempat yang dapat berubah.
Utami juga menjelaskan kebiasaan Sopian saat buang air. Stasiun tidak menyediakan tempat khusus untuknya, sehingga tidak tepat menganggap ada fasilitas tertentu yang disiapkan bagi Sopian. Namun, dalam beberapa kesempatan, ia masuk sendiri ke toilet. Keterangan ini menggambarkan perilaku yang diamati Utami, bukan layanan atau pengaturan resmi dari pihak stasiun. Kebiasaan tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa Sopian kadang terlihat menuju area toilet, tetapi tidak mengubah fakta bahwa tidak ada tempat khusus yang disediakan untuknya. Dengan demikian, kisah mengenai tempat tinggal, sterilisasi, dan kebiasaan hariannya bersumber dari penuturan Utami tentang kucing yang telah lama dikenal di Gondangdia, serta tetap perlu dipahami sesuai batas keterangan tersebut.
Menurut Utami, salah satu hal yang membuat Sopian dikenal dan menarik perhatian pengunjung adalah gaya tidurnya yang dianggap tidak biasa. Kucing yang berada di kawasan Gondangdia itu kerap terlihat tidur dalam posisi terlentang, dengan kedua kaki mengarah ke belakang. Posisi tersebut tampak berbeda dari kebiasaan tidur kucing yang umumnya dibayangkan orang, sehingga mudah mengundang perhatian ketika terlihat di ruang publik. Keunikan itu menjadi bagian dari daya tarik Sopian, bukan karena perilaku yang dibuat-buat, melainkan karena kebiasaannya yang muncul secara alami.
Gaya tidur Sopian membuat orang yang melintas berhenti sejenak untuk memperhatikannya. Bentuk tubuhnya saat terlentang dan posisi kedua kakinya menimbulkan kesan menggemaskan bagi banyak orang. Dari situ, perhatian terhadap Sopian berkembang dan membuat keberadaannya semakin dikenal. Momen sederhana ketika ia beristirahat dapat menjadi hal yang menarik bagi penumpang maupun pengunjung di sekitar kawasan tersebut. Tidak diperlukan peristiwa khusus untuk menarik perhatian; posisi tidurnya sendiri sudah cukup membuat orang merasa gemas dan ingin melihatnya lebih lama. Kebiasaan ini juga memperlihatkan bagaimana hal kecil dalam keseharian seekor kucing dapat menjadi sumber perhatian bagi orang-orang yang sedang beraktivitas.
Sopian bukan satu-satunya kucing yang pernah menjadi perhatian di ruang publik Jakarta. Parhan, kucing yang populer di kawasan Senayan City dan Plaza Senayan, juga pernah ramai dibicarakan di media sosial. Kehadiran kucing-kucing seperti Sopian dan Parhan menunjukkan bahwa hewan yang ditemui di tengah aktivitas kota dapat mencuri perhatian banyak orang.
