Target KUR Kalsel Rp5 Triliun: Capaian, Sebaran Debitur, dan Dukungan bagi UMKM

oleh -103 Dilihat
oleh
Target KUR Kalsel Rp5 Triliun: Capaian, Sebaran Debitur, dan Dukungan bagi UMKM

Kota Banjarmasin | Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Republik Indonesia Helvi Moraza berharap penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kalimantan Selatan dapat mencapai Rp5 triliun hingga akhir 2026. Harapan tersebut disampaikan dalam Gelar Kumitra Jambore 2026, yang berlangsung di halaman Mahligai Pancasila, Kota Banjarmasin, pada Minggu. Dalam kesempatan itu, Helvi menyebut angka Rp5 triliun sebagai target penyaluran KUR di provinsi tersebut sampai penghujung tahun. Pernyataan ini menjadi pokok perhatian dalam kegiatan yang digelar di Banjarmasin, sekaligus menyampaikan sasaran pemerintah untuk penyaluran pembiayaan usaha rakyat di Kalimantan Selatan.

Capaian penyaluran yang tersedia menunjukkan bahwa hingga Oktober 2026, KUR di Kalimantan Selatan telah tersalurkan sebesar Rp3,8 triliun. Angka tersebut merupakan realisasi sampai dengan bulan Oktober, sedangkan Rp5 triliun merupakan harapan untuk capaian hingga akhir tahun. Dengan demikian, data yang disampaikan memuat dua penanda waktu yang berbeda: realisasi kumulatif sampai Oktober dan target penyaluran pada akhir 2026. Penyebutan keduanya memberikan gambaran mengenai posisi penyaluran yang telah tercatat serta sasaran yang diharapkan pemerintah. Tidak ada angka capaian setelah Oktober yang dicantumkan dalam informasi tersebut.

Harapan mencapai Rp5 triliun disampaikan langsung oleh Helvi Moraza saat Gelar Kumitra Jambore 2026. Acara tersebut berlangsung pada Minggu di halaman Mahligai Pancasila, Kota Banjarmasin. Dalam konteks berita ini, capaian Rp3,8 triliun hingga Oktober menjadi angka realisasi yang dapat dijadikan rujukan, sementara target Rp5 triliun menunjukkan besaran yang diharapkan sampai akhir 2026. Kedua angka itu perlu dibaca sesuai keterangannya, tanpa menyamakan capaian Oktober dengan hasil akhir tahun. Pemerintah berharap penyaluran KUR di Kalimantan Selatan mencapai sasaran tersebut, sebagaimana disampaikan dalam kegiatan itu. Angka dan waktu tersebut menjadi inti informasi mengenai target KUR di provinsi ini.

Data penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) menunjukkan cakupan penyaluran di Kalimantan Selatan dan Kota Banjarmasin secara terpisah. Pada tingkat provinsi, Kalsel tercatat memiliki 61.251 debitur penerima KUR hingga keterangan tersebut disampaikan. Angka ini menggambarkan jumlah pelaku usaha yang telah memperoleh pembiayaan melalui program tersebut di berbagai wilayah provinsi, bukan khusus di ibu kota provinsi.

Sementara itu, di Kota Banjarmasin terdapat 7.063 debitur penerima KUR. Total penyaluran kepada debitur di kota ini telah melampaui Rp600 miliar. Dengan demikian, jumlah debitur maupun nilai penyaluran Banjarmasin merupakan bagian dari gambaran yang lebih luas di tingkat Kalimantan Selatan, tetapi keduanya adalah angka dengan cakupan wilayah berbeda. Data kota tidak dapat disamakan dengan data provinsi, begitu pula sasaran penyaluran untuk Banjarmasin tidak otomatis menjadi target bagi seluruh Kalsel.

Helvi berharap penyaluran KUR di Banjarmasin dapat meningkat hingga mencapai Rp1 triliun. Harapan tersebut disampaikan kepada Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR. Sasaran Rp1 triliun itu merujuk pada penyaluran di tingkat kota, sebagai dorongan agar lebih banyak pelaku usaha setempat dapat mengakses pembiayaan. Angka itu bukan target KUR untuk provinsi Kalimantan Selatan.

Pemisahan angka dan sasaran tersebut penting agar perkembangan program dibaca dengan tepat. Jumlah 61.251 debitur memberikan konteks provinsi, sedangkan 7.063 debitur dan penyaluran lebih dari Rp600 miliar menjelaskan kondisi Banjarmasin. Harapan mencapai Rp1 triliun juga perlu dipahami dalam batas wilayah kota. Dengan demikian, pembaca dapat melihat skala penerima KUR di tingkat Kalsel sekaligus menilai capaian dan aspirasi penyaluran di Banjarmasin tanpa mencampuradukkan keduanya. Kejelasan cakupan ini membantu menempatkan informasi penyaluran secara proporsional, terutama ketika membandingkan jumlah penerima, nilai pembiayaan yang telah disalurkan, dan sasaran yang diharapkan pada masing-masing wilayah. Bagi pelaku UMKM, keterangan tersebut memberi gambaran tentang jangkauan pembiayaan sekaligus arah harapan bagi akses KUR di kota.Helvi mengapresiasi perkembangan UMKM di Kalimantan Selatan, yang dinilainya menunjukkan aktivitas usaha masyarakat terus bergerak. Berdasarkan data yang ia sampaikan, jumlah UMKM di provinsi tersebut telah melampaui 518 ribu pada akhir 2025. Angka itu bertambah sekitar 8.000 dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu gambaran penting mengenai luasnya basis usaha kecil dan menengah di daerah. Data ini juga menegaskan bahwa UMKM tetap menjadi bagian penting dari kegiatan ekonomi Kalimantan Selatan. Apresiasi Helvi diarahkan pada perkembangan tersebut, sekaligus memperlihatkan perhatian terhadap pelaku usaha yang terus bertambah.

Selain mencermati pertumbuhan jumlah usaha, Helvi juga menyampaikan dukungan pemerintah pusat bagi UMKM. Menurut keterangannya, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan kementerian dan lembaga untuk menyukseskan UMKM. Arahan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan usaha kecil dan menengah menjadi perhatian pemerintah pusat. Helvi mengaitkan dukungan itu dengan kebutuhan pelaku usaha untuk mendapatkan akses pembiayaan yang lebih terjangkau. Dalam konteks tersebut, ia menyebut perubahan tingkat bunga pinjaman UMKM sebagai hal yang penting bagi para pelaku usaha. Keterangan ini disampaikan sebagai bagian dari gambaran dukungan terhadap keberlanjutan UMKM, tanpa merinci langkah kebijakan lainnya.

Helvi menyebut bunga pinjaman UMKM sebelumnya berada pada kisaran 24–25 persen, sedangkan kini disebut turun menjadi 8 persen. Perubahan angka tersebut menggambarkan perbedaan beban bunga yang ia sampaikan kepada publik. Bagi UMKM, biaya pinjaman merupakan salah satu aspek yang dapat diperhitungkan ketika merencanakan kebutuhan usaha dan pembiayaan. Namun, keterangannya mengenai bunga tersebut tetap perlu dipahami sesuai atribusi kepada Helvi, tanpa menarik kesimpulan mengenai rincian program atau syarat pinjaman yang tidak disebutkan. Secara keseluruhan, data pertumbuhan UMKM di Kalimantan Selatan dan penjelasan tentang dukungan pemerintah pusat memberi konteks mengenai upaya mendorong sektor ini. Pertambahan jumlah pelaku usaha serta penurunan bunga yang ia sampaikan menjadi dua poin utama dalam keterangannya.

Kumitra Jambore 2026 dirancang sebagai ruang pertemuan bagi puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Kalimantan Selatan. Helvi menyampaikan bahwa kegiatan ini mengusung tema “Bertemu, Bermitra, Bertumbuh”, yang menggambarkan tiga tujuan utama penyelenggaraannya. Para peserta diharapkan dapat berjumpa dengan pihak yang relevan bagi usaha mereka, menjajaki peluang kemitraan, serta memperoleh dorongan untuk mengembangkan kegiatan usaha. Dengan mempertemukan pelaku UMKM dalam satu kegiatan, jambore ini menempatkan interaksi dan pembelajaran sebagai bagian dari dukungan bagi usaha lokal. Kegiatan tersebut bukan hanya dimaksudkan sebagai agenda berkumpul, melainkan juga sebagai kesempatan untuk mengenal layanan dan jaringan yang dapat mendukung kebutuhan usaha.

Helvi berharap peserta dapat memperoleh akses terhadap layanan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing usaha. Selain itu, mereka diharapkan bertemu mitra pembudayaan, yakni pihak yang dapat mendampingi proses penguatan kapasitas dan praktik usaha. Harapan lainnya ialah terbukanya akses pasar yang lebih luas, sehingga pelaku UMKM memiliki kesempatan mengenalkan produk dan menjangkau calon pembeli. Berbagai peluang tersebut penting karena kebutuhan setiap usaha tidak selalu sama; sebagian mungkin membutuhkan pendampingan, sementara yang lain perlu jaringan kemitraan atau saluran pemasaran. Melalui pertemuan dan komunikasi, peserta dapat mengenali potensi kerja sama serta informasi yang tersedia. Namun, hal itu merupakan sasaran dan harapan kegiatan, bukan keterangan bahwa manfaat tersebut telah terwujud.

Dukungan yang diharapkan dari Kumitra Jambore berkaitan dengan peran UMKM dalam kehidupan keluarga. Helvi berharap usaha peserta dapat menopang kehidupan keluarga sekaligus terus berkembang. Harapan ini menempatkan penguatan usaha bukan semata-mata pada peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan sumber penghidupan.

Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | Wujudkan Dukungan Pembangunan di Desa, Babinsa Hadiri Musrenbangdes | Tujuh Jenazah Tiba Melalui Jalur Udara, Lanud Sjamsudin Noor Teguhkan Dukungan SAR KM Virgo