Depok | Volume air Setu Cilodong di Depok, Jawa Barat, dilaporkan warga setempat terus menurun selama beberapa bulan terakhir. Perubahan tersebut semakin terlihat ketika musim kemarau berlangsung dan curah hujan tidak cukup untuk mengembalikan ketinggian air. Setu yang biasanya menampung hamparan air lebih luas kini tampak berbeda, dengan bagian tepi yang semakin melebar dan permukaan air yang menyusut.
Pada Jumat, 23 Oktober 2026, kondisi setu terlihat dangkal. Air yang tersisa tidak lagi membentuk hamparan utuh seperti sebelumnya. Di beberapa bagian, batas air dan daratan bergeser cukup jauh, sementara tepian yang biasanya tertutup air kini terlihat terbuka. Pemandangan itu memperlihatkan secara langsung dampak berkurangnya volume air selama periode kering.
Surutnya air juga menyingkap kondisi di sejumlah tepian. Tanah berlumpur tampak terbuka, bercampur dengan sampah yang sebelumnya berada di bawah atau dekat permukaan air. Tumpukan dan serpihan sampah terlihat di area yang kini dapat dijangkau karena permukaan setu turun. Lumpur yang mengering di bagian atas dan masih basah di beberapa titik menunjukkan perubahan kondisi tepi setu seiring penyusutan air.
Selain mengubah tampilan kawasan, keadaan tersebut menimbulkan aroma tak sedap di sekitar tepian tertentu. Bau itu tercium di area berlumpur yang bercampur sampah, terutama ketika bagian-bagian yang sebelumnya terendam mulai terbuka. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi warga yang beraktivitas atau melintas di sekitar setu. Mereka menyaksikan perubahan itu berlangsung dari waktu ke waktu, seiring air yang terus surut selama beberapa bulan.
Setu Cilodong dengan demikian memperlihatkan dampak musim kemarau melalui permukaan air yang mengecil, tepian yang lebih luas, serta lumpur dan sampah yang tersingkap. Situasi pada hari itu menggambarkan kondisi nyata kawasan ketika volume air berada pada tingkat rendah. Perubahan tersebut juga membuat kondisi di sekitar setu lebih mudah terlihat, termasuk bagian yang sebelumnya tertutup air. Bagi warga, penurunan volume air menjadi penanda bahwa musim kering telah memengaruhi wajah setu dan lingkungan di sekitarnya.
Ketika permukaan Setu Cilodong menyusut pada musim kemarau, bagian-bagian yang biasanya tertutup air mulai terlihat. Di sejumlah sisi, perubahan itu memperlihatkan sampah yang tertinggal di tepian serta endapan lumpur pada area yang lebih rendah. Pemandangan tersebut tampak sebagai bagian dari kondisi setu saat air berkurang, bukan hanya pada satu titik. Sampah terlihat berserakan atau berkumpul di beberapa bagian, sementara lumpur tampak menutupi permukaan yang sebelumnya berada di bawah air. Perbedaan tepian yang terbuka dan bagian setu yang masih berair membuat tumpukan tersebut lebih mudah diamati dari lokasi.
Tumpukan sampah dan endapan yang paling jelas terlihat berada di sisi selatan setu. Di bagian itu, lumpur tampak terkumpul dalam jumlah cukup banyak. Sebagian endapan membentuk permukaan yang menonjol dan menyerupai daratan, sehingga batas tepian, lumpur, dan air terlihat berubah. Bentuk tersebut muncul seiring berkurangnya permukaan air dan terbukanya area yang sebelumnya tergenang. Sampah juga tampak di beberapa sisi lain, meskipun kumpulannya tidak terlihat sejelas di bagian selatan. Kondisi ini membuat perubahan pada tepian setu menjadi mudah dikenali saat diamati langsung, terutama pada area yang kini tidak lagi tertutup air.
Pengamatan di lokasi juga memperlihatkan seorang warga sedang mencari ikan ketika kondisi setu menyusut. Aktivitas itu berlangsung di tengah tepian yang terbuka dan bagian perairan yang tersisa. Kehadiran warga tersebut memberi gambaran tentang keadaan setu saat air surut, tanpa mengubah apa yang tampak pada permukaannya: sampah di beberapa bagian, endapan lumpur, serta area berlumpur yang menyerupai daratan. Saat permukaan air lebih rendah, unsur-unsur tersebut dapat terlihat berdampingan dalam satu bentang. Pemandangan di Setu Cilodong pada musim kemarau pun menunjukkan bagaimana penyusutan air menyingkap bagian tepian dan endapan yang sebelumnya berada di bawah permukaan setu.
Hans mengatakan Setu Cilodong kini semakin dangkal, terutama ketika musim kemarau tiba. Menurutnya, keadaan tersebut bukan hal baru karena perubahan serupa terjadi berulang setiap tahun saat debit air menyusut. Permukaan setu yang surut membuat dasar dan bagian tepian yang biasanya terendam menjadi terlihat. Di sejumlah lokasi, air yang semakin sedikit memperlihatkan hamparan lumpur dan area yang sebelumnya merupakan bagian dari perairan.
Hans menuturkan, beberapa bagian setu bahkan berubah menyerupai daratan. Lumpur yang tersingkap mengering, sementara sampah terlihat di permukaan kawasan yang kini tidak lagi tertutup air. Kondisi tersebut memperlihatkan dampak penyusutan air sekaligus pendangkalan yang berlangsung di setu. Bagi warga yang mengamati perubahan dari musim ke musim, pemandangan itu menjadi penanda bahwa ruang perairan semakin terbatas ketika kemarau berlangsung. Meski demikian, kondisi yang terlihat saat air surut tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab pendangkalan secara menyeluruh.
Kesaksian serupa disampaikan Hamdi, warga yang saat itu sedang memancing bersama anaknya di sekitar setu. Ia juga menilai Setu Cilodong mengalami pendangkalan. Menurut Hamdi, berkurangnya kedalaman dapat dirasakan dari kondisi perairan yang tampak semakin dangkal, terutama ketika musim kemarau membuat air menyusut. Ia datang untuk memancing bersama anaknya, tetapi sekaligus menyaksikan langsung bagian setu yang airnya tidak lagi memenuhi kawasan seperti sebelumnya. Pengamatan warga tersebut menggambarkan perubahan yang mereka lihat di lokasi, tanpa menggantikan penilaian teknis mengenai kondisi setu.
Mengenai penanganan, Hamdi menyebut normalisasi terakhir yang ia ketahui dilakukan pada 2019. Sepengetahuannya, belum ada kegiatan normalisasi lagi setelah pekerjaan tersebut. Keterangan itu merujuk pada informasi yang diketahui Hamdi, bukan catatan resmi mengenai seluruh kegiatan yang mungkin pernah dilakukan. Bagi warga, rentang waktu sejak normalisasi terakhir yang mereka ingat menjadi perhatian ketika melihat pendangkalan kembali tampak, terutama saat kemarau. Lumpur kering dan sampah yang tersingkap memperjelas perubahan di sejumlah bagian. Kesaksian Hans dan Hamdi menunjukkan bahwa penyusutan air musiman membuat kondisi setu lebih terlihat, sekaligus menguatkan perhatian warga terhadap kedalaman dan penanganan kawasan perairan tersebut.
Hamdi berharap Setu Cilodong kembali mendapat perhatian dari pemerintah, terutama melalui upaya normalisasi. Kondisi setu yang tampak saat kemarau, ketika air surut dan sampah serta lumpur terlihat, menjadi pengingat bahwa kawasan ini perlu dijaga dan dirawat secara berkelanjutan. Menurutnya, perhatian tidak seharusnya hanya muncul ketika kondisi sedang menjadi sorotan. Perawatan yang terencana penting agar fungsi setu tetap dapat dirasakan warga dan kawasan tersebut tidak semakin terbebani oleh penumpukan material maupun perubahan kondisi lingkungan. Harapan itu juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat yang tinggal di sekitar setu.
Setu Cilodong, bagi warga, bukan sekadar hamparan air. Kawasan ini menjadi area wisata gratis yang dapat dikunjungi masyarakat untuk beristirahat dan menikmati ruang terbuka tanpa biaya. Keberadaannya memberi pilihan rekreasi yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal, sehingga warga dapat memanfaatkannya dalam kegiatan sehari-hari. Jika kondisinya terawat, kawasan setu berpotensi tetap nyaman digunakan dan menjadi ruang bersama bagi beragam kalangan. Karena itu, menjaga Setu Cilodong juga berarti mempertahankan manfaat sosial yang selama ini hadir bagi warga, bukan hanya merawat pemandangan alam.
Hamdi juga menekankan pentingnya setu sebagai sumber air dan pengendali banjir. Dua fungsi tersebut membuat keberadaan Setu Cilodong berkaitan langsung dengan kebutuhan lingkungan dan keselamatan kawasan di sekitarnya. Normalisasi kembali diharapkan dapat mendukung pemeliharaan fungsi setu, sekaligus membantu kawasan ini tetap memberi manfaat bagi masyarakat.
Baca juga: Peduli Kemarau Panjang, Kodim Bojonegoro Salurkan 130 Ribu Liter Air Bersih Setiap Hari | Ringankan Beban Warga Terdampak Kemarau, Kodim Bojonegoro Kembali Pasok 64.000 Liter Air Bersih ke 4 Kecamatan | Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga
