Pendapatan Waskita Karya Naik 53,73 Persen, Restrukturisasi Berlanjut

oleh -194 Dilihat
oleh
Waskita Karya Catat Pendapatan Rp8,13 Triliun, tetapi Rugi Bersih Masih Rp2,87 Triliun hingga September 2026

Jakarta | Waskita Karya membukukan pendapatan usaha sebesar Rp8,13 triliun selama Januari hingga September 2026. Nilai tersebut meningkat 53,73 persen dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar Rp5,29 triliun. Kenaikan ini menunjukkan adanya perbaikan aktivitas operasional perusahaan di tengah proses restrukturisasi yang masih berlangsung. Pertumbuhan pendapatan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat perkembangan kegiatan usaha, khususnya pada lini konstruksi yang berkontribusi besar terhadap capaian tersebut.

Pendorong utama kenaikan pendapatan berasal dari jasa konstruksi. Pada sembilan bulan pertama 2026, pendapatan dari segmen ini mencapai Rp6,45 triliun, bertambah 71,5 persen dari Rp3,76 triliun pada Januari–September 2025. Perubahan tersebut memperlihatkan peningkatan kontribusi pekerjaan konstruksi terhadap total pendapatan perusahaan. Dengan capaian Rp6,45 triliun, jasa konstruksi menyumbang bagian terbesar dari pendapatan usaha yang dilaporkan, sekaligus menjadi sumber pertumbuhan paling menonjol dalam perbandingan tahunan.

Peningkatan itu sejalan dengan penyerapan realisasi proyek yang berlangsung selama periode pelaporan. Di pekerjaan yang menopang kegiatan tersebut, proyek pemerintah mencatat nilai sebesar Rp3,9 triliun. Realisasi proyek menjadi faktor penting karena pelaksanaan pekerjaan dapat tercermin dalam pengakuan pendapatan jasa konstruksi. Nilai proyek pemerintah tersebut juga memberikan gambaran mengenai kontribusi kegiatan konstruksi yang berjalan terhadap kinerja pendapatan perusahaan pada tahun ini.

Secara keseluruhan, pertumbuhan pendapatan usaha dan jasa konstruksi menggambarkan penguatan aktivitas operasional Waskita Karya dibandingkan periode yang sama pada 2025. Namun, angka pendapatan ini perlu dibaca sebagai capaian operasional, bukan sebagai gambaran menyeluruh atas kondisi keuangan atau hasil akhir restrukturisasi. Perkembangan selanjutnya tetap bergantung pada pelaksanaan proyek, realisasi pekerjaan, dan kemampuan perusahaan menjaga kesinambungan kegiatan usaha. Untuk periode Januari–September 2026, kenaikan dari Rp5,29 triliun menjadi Rp8,13 triliun menandai perbaikan pendapatan, dengan jasa konstruksi dan penyerapan proyek sebagai unsur utama yang mendorong pertumbuhan tersebut.

Waskita Karya menjalankan restrukturisasi keuangan dan operasional sejak 2023 sebagai bagian dari upaya memperbaiki kinerja serta menjaga keberlanjutan usaha. Pada 2024, perusahaan menandatangani master restructuring agreement (MRA) bersama 21 bank. Kesepakatan tersebut menjadi landasan penataan kewajiban kepada kreditur, dan implementasinya masih terus berlangsung. Dengan demikian, kenaikan pendapatan yang dilaporkan perusahaan terjadi ketika proses restrukturisasi belum selesai dan berbagai langkah pembenahan masih dijalankan.

Corporate Secretary Waskita Karya, Steven Subiantoro, menyampaikan bahwa capaian pendapatan mencerminkan perbaikan operasional perusahaan di tengah restrukturisasi. Menurut perusahaan, restrukturisasi juga meningkatkan kemampuan Waskita untuk memenuhi kewajiban keuangannya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa penataan keuangan tidak hanya berfokus pada penyusunan ulang kewajiban, tetapi juga berkaitan dengan upaya memperkuat kemampuan operasional dan pembayaran perusahaan. Perkembangan pembayaran kewajiban menjadi salah satu indikator yang dapat diperhatikan dalam melihat pelaksanaan langkah tersebut.

Pembayaran pinjaman bank jangka panjang tercatat naik 78,18 persen, dari Rp393,65 miliar menjadi Rp701,39 miliar. Angka itu secara khusus merujuk pada pembayaran pokok pinjaman bank jangka panjang, sehingga tidak sama dengan total pembayaran beban keuangan. Untuk pos beban keuangan, nilainya berubah dari Rp1,02 triliun menjadi Rp1,06 triliun. Kedua angka tersebut mengacu pada kategori pembayaran yang berbeda dan perlu dibaca secara terpisah: pembayaran pinjaman bank jangka panjang menunjukkan pelunasan kewajiban pinjaman, sedangkan pembayaran beban keuangan mencakup biaya terkait pendanaan. Karena itu, kenaikan pembayaran pinjaman tidak dapat disamakan dengan perubahan beban keuangan. Pembedaan ini penting agar gambaran mengenai kemampuan memenuhi kewajiban dan dampak restrukturisasi tetap akurat, sekaligus memberikan konteks yang jelas terhadap perkembangan kinerja Waskita selama proses penataan berlangsung.

Manajemen Waskita Karya menyatakan terus menjalankan restrukturisasi untuk memperbaiki struktur keuangan dan mengurangi tekanan biaya. Steven menjelaskan bahwa beban keuangan perusahaan telah turun menjadi Rp2,79 triliun. Menurut keterangan perusahaan, pengurangan beban tersebut didukung langkah penataan kewajiban dan pengelolaan keuangan yang berkelanjutan. Manajemen menyebut upaya ini belum berhenti, karena pembayaran utang dan kewajiban perusahaan akan terus diupayakan agar beban keuangan dapat ditekan lebih lanjut.

Perusahaan juga melaporkan penurunan utang sebesar 20,8 persen sejak akhir 2023. Dalam periode tersebut, jumlah utang yang sebelumnya berada di kisaran Rp84 triliun turun menjadi Rp66,5 triliun. Angka ini, sebagaimana disampaikan perusahaan, mencerminkan perkembangan restrukturisasi serta langkah pembayaran dan penataan kewajiban yang ditempuh manajemen. Waskita menyatakan pengelolaan utang tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga kondisi keuangan. Dengan melanjutkan pembayaran sesuai kemampuan dan rencana restrukturisasi, perusahaan berharap dapat mengurangi beban yang timbul dari kewajiban finansial, sekaligus memperkuat ruang gerak untuk menjalankan kegiatan usaha. Keterangan mengenai besaran utang dan perubahan beban tersebut merujuk pada informasi yang disampaikan perusahaan.

Dalam aspek perpajakan, perusahaan menyampaikan bahwa kewajiban pajak yang berstatus past due telah diselesaikan sepenuhnya setelah restrukturisasi berlaku efektif. Waskita menyatakan bahwa sejak 2024 tidak lagi memiliki utang pajak past due. Penyelesaian itu menjadi bagian dari penataan kewajiban perusahaan, menurut keterangan manajemen, dan menandai bahwa tunggakan pajak yang sebelumnya tercatat telah dibereskan. Perusahaan mengaitkan langkah tersebut dengan pelaksanaan restrukturisasi yang efektif, tanpa menyatakan bahwa seluruh kewajiban pajak di luar kategori past due telah hilang. Karena itu, informasi yang disampaikan secara khusus merujuk pada pajak yang telah jatuh tempo dan berstatus tertunggak. Manajemen menegaskan akan terus berupaya memenuhi pembayaran utang serta kewajiban lainnya, sehingga beban keuangan dapat berkurang secara bertahap. Perkembangan ini memberi gambaran mengenai langkah Waskita dalam menekan biaya pendanaan dan merapikan kewajiban, berdasarkan data dan penjelasan yang diberikan perusahaan.

Pada September 2026, Waskita Karya memperoleh persetujuan atas restrukturisasi Obligasi III Tahap IV Tahun 2024. Persetujuan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk melanjutkan penataan kewajiban dan memperkuat dasar pemulihan usaha. Menurut sumber, perkembangan ini juga memperbesar peluang dibukanya suspensi saham Waskita. Namun, hal itu belum berarti suspensi telah dicabut atau perdagangan saham perusahaan dipastikan kembali berlangsung. Proses dan keputusan terkait status saham tetap bergantung pada tahapan serta ketentuan yang berlaku.

Di sisi operasional, rencana pemulihan diarahkan pada fokus yang lebih kuat terhadap bisnis inti Waskita sebagai kontraktor murni. Perusahaan berupaya memilih pekerjaan yang sejalan dengan kapasitas dan kebutuhan arus kas, termasuk mengutamakan proyek dengan skema pembayaran bulanan. Pola tersebut diharapkan membantu menjaga kesinambungan penerimaan selama pelaksanaan proyek dan memberi perusahaan ruang untuk mengelola modal kerja secara lebih terukur. Pendekatan ini menjadi bagian dari penataan kegiatan usaha, bukan pernyataan bahwa seluruh tantangan operasional telah terselesaikan.

Waskita juga berencana menghindari proyek turnkey, yakni proyek yang pembayaran besarnya cenderung diterima setelah penyelesaian pekerjaan. Pilihan tersebut ditujukan untuk menekan kebutuhan pendanaan awal dan menjaga stabilitas modal kerja, terutama ketika perusahaan masih menjalankan restrukturisasi. Keputusan atas proyek tetap perlu mempertimbangkan karakteristik pekerjaan, jadwal pembayaran, dan kemampuan perusahaan. Steven menyampaikan bahwa koordinasi dengan para pemangku kepentingan dan pemegang saham, termasuk Danantara, terus dilakukan. Perusahaan terbuka terhadap arahan dan perspektif yang dapat mendukung proses pemulihan sekaligus pertumbuhan ke depan. Dengan demikian, restrukturisasi obligasi, disiplin memilih proyek, serta komunikasi dengan pemegang saham menjadi bagian dari arah yang ditempuh Waskita. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada pelaksanaan rencana dan keputusan terkait, tanpa memastikan hasil strategi maupun pencabutan suspensi.