Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan di zona hijau pada level 5.387,91. Indeks acuan pasar saham Indonesia itu menguat 59,54 poin, setara 1,12%, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Capaian tersebut menandai pembalikan arah setelah IHSG memulai sesi perdagangan dengan tekanan jual dan bergerak melemah pada awal hari. Sepanjang sesi, pergerakannya berlangsung dinamis: indeks lebih dahulu turun, kemudian berangsur pulih, sebelum mengakhiri perdagangan dengan kenaikan.
Pada pembukaan, IHSG berada di level 5.247,98. Posisi itu menunjukkan kondisi melemah sejak awal perdagangan. Tekanan kemudian membawa indeks turun lebih dalam, hingga sempat mencatat penurunan sekitar 2%. Dengan demikian, posisi pembukaan dan titik pelemahan intrahari berada jauh di bawah level penutupan akhirnya. Pergerakan tersebut menggambarkan perubahan yang cukup besar selama sesi, dari kondisi awal yang negatif menuju penguatan pada akhir perdagangan.
Setelah menyentuh area terendah, IHSG berbalik naik secara bertahap. Pemulihan berlangsung sepanjang perdagangan hingga indeks mencapai level tertinggi harian 5.422,59. Meski kemudian tidak bertahan di puncak tersebut, indeks tetap menutup sesi di atas level pembukaannya dan berada di zona positif. Selisih level tertinggi harian dan penutupan menunjukkan bahwa IHSG mengalami perubahan posisi sebelum perdagangan berakhir, tanpa menghapus penguatan yang telah terbentuk.
Rangkaian angka itu memperlihatkan kontras awal dan akhir sesi. IHSG dibuka pada 5.247,98, sempat turun sekitar 2%, lalu bergerak naik secara bertahap hingga mencatat puncak 5.422,59. Pada penutupan, indeks berada di 5.387,91, naik 59,54 poin atau 1,12%. Data perdagangan tersebut mencatat pemulihan indeks setelah pembukaan yang melemah, sekaligus menempatkan penutupan hari itu di zona hijau. Perubahan arah terjadi dalam sesi yang sama, dari tekanan pada awal perdagangan hingga kenaikan pada penutupan.
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia tercatat ramai sepanjang hari, dengan volume mencapai 331,29 juta lot. Nilai transaksi yang dibukukan berada di angka Rp15.313,18 miliar, atau sekitar Rp15,31 triliun. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya aktivitas jual beli saham selama perdagangan berlangsung, ketika IHSG berbalik menguat. Volume dan nilai transaksi ini menjadi konteks penting untuk melihat pergerakan pasar secara keseluruhan, tanpa mengesampingkan peran saham-saham yang ikut menopang indeks.
Menurut data Refinitiv, sejumlah saham perusahaan pelat merah turut mendorong penguatan IHSG. Saham BBRI dan BMRI tercatat di nama yang berkontribusi, bersama TLKM, BBNI, serta ANTM. Kelima saham tersebut berasal dari sektor yang berbeda, sehingga keterlibatannya mencerminkan dukungan dari beberapa kelompok emiten BUMN terhadap pergerakan indeks. Kehadiran saham-saham ini menjadi bagian dari dinamika perdagangan harian saat IHSG bergerak naik.
Peran emiten pelat merah tersebut dapat dibaca sebagai salah satu penopang penguatan, bukan sebagai satu-satunya faktor yang membentuk pergerakan IHSG. Data yang tersedia menyebut BBRI, BMRI, TLKM, BBNI, dan ANTM sebagai saham yang turut mendorong indeks, tetapi tidak merinci besaran kontribusi masing-masing. Karena itu, uraian ini tidak menetapkan urutan saham berdasarkan pengaruhnya dan tidak mencantumkan persentase kenaikan maupun harga saham. Dengan volume 331,29 juta lot dan nilai transaksi sekitar Rp15,31 triliun, perdagangan berlangsung dengan aktivitas yang tercatat besar, sementara dukungan saham BUMN menjadi salah satu sorotan dalam penguatan IHSG.
Program pembelian kembali saham atau buyback yang dijalankan sejumlah perusahaan milik negara menjadi salah satu perkembangan yang patut dicermati di tengah pergerakan IHSG. Kebijakan ini menunjukkan langkah perusahaan dalam mengelola modal dan saham beredar, sekaligus dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor. Namun, keberadaan buyback tidak dengan sendirinya menjelaskan perubahan indeks secara keseluruhan. Pergerakan IHSG dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi pasar, aktivitas investor, dan kinerja saham dari banyak sektor.
Bank Mandiri mengalokasikan dana sebesar Rp1,17 triliun untuk program buyback yang berlangsung mulai 30 April 2026 hingga 29 April 2027. Rentang waktu tersebut memberi ruang bagi perseroan untuk melaksanakan pembelian kembali saham sesuai kebijakan dan ketentuan yang berlaku. Nilai alokasi dan masa pelaksanaan ini menggambarkan komitmen yang telah disiapkan, tetapi tidak berarti seluruh dana harus digunakan sekaligus atau bahwa pembelian dilakukan pada satu waktu tertentu.
BNI juga memiliki program pembelian kembali saham dengan nilai Rp627 miliar. Program tersebut berlangsung pada 27 Juli sampai 26 Oktober 2026. Dengan demikian, periode pelaksanaannya lebih singkat dibandingkan program Bank Mandiri yang membentang hingga April 2027. Informasi mengenai besaran dana dan jadwal ini penting sebagai konteks bagi pelaku pasar dalam menilai kebijakan korporasi emiten perbankan BUMN, tanpa menganggapnya sebagai jaminan terhadap arah harga saham ataupun indeks.
Sementara itu, Telkom menyiapkan percepatan buyback dengan nilai maksimal Rp4 triliun. Rencana tersebut telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 8 Juni 2026, sedangkan periode program ditetapkan dari 9 Juni 2026 sampai 8 Juni 2027. Per 19 Oktober 2026, sisa alokasi buyback Telkom masih lebih dari Rp3 triliun. Angka itu menunjukkan sebagian besar pagu masih tersedia pada tanggal tersebut. Ketiga program ini merupakan informasi korporasi yang relevan dalam membaca dinamika saham BUMN, tetapi bukan satu-satunya penyebab IHSG berbalik menguat. Investor tetap perlu mempertimbangkan faktor pasar yang lebih luas.
BPI Danantara Indonesia menyatakan telah mulai masuk ke pasar saham Indonesia ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Langkah tersebut mencerminkan pandangan bahwa pelemahan pasar tidak hanya menjadi risiko, tetapi juga dapat membuka peluang investasi bagi investor dengan orientasi jangka panjang. CIO Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengatakan pembelian saham sudah mulai dilakukan. Menurutnya, investasi akan diteruskan selama harga saham dinilai menarik dan prospek perusahaan yang bersangkutan tetap baik.
Pandu menyampaikan keterangan itu dalam acara coffee morning Danantara Indonesia di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa keputusan investasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar serta karakter masing-masing saham. Tekanan pada IHSG menjadi bagian dari konteks yang dipantau, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk menentukan pembelian. Danantara menilai peluang secara selektif, termasuk dengan melihat apakah harga yang tersedia sejalan dengan prospek dan potensi keuntungan yang dapat diperoleh.
Dalam strategi tersebut, Danantara juga mempertimbangkan penambahan kepemilikan pada sejumlah saham BUMN. Pandu menyebut pertimbangan potensi keuntungan perlu berjalan seiring dengan keseimbangan risiko dan imbal hasil. Dengan demikian, pembelian tidak semata-mata didorong oleh penurunan harga, melainkan oleh penilaian terhadap kualitas dan nilai investasi. Ia menilai fundamental perusahaan, prospek pertumbuhan, serta valuasi saham BUMN masih menarik. Penilaian itu menjadi dasar untuk tetap mencermati peluang, sembari memperhitungkan risiko pasar dan memastikan harga yang dibayar dinilai sepadan dengan prospek ke depan. Danantara menyatakan akan melanjutkan investasi selama kondisi tersebut mendukung, sehingga langkah masuk ke pasar dapat berlangsung secara terukur dan selektif.
Baca juga: Hadiri Peringatan 10 Tahun Hubungan Jiangxi–Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Dari Perdagangan ke Investasi dan Basis Produksi | Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026 | Ada kemungkinan Libra hanya sedang mengalami fase emosional yang membuat cara pandangnya terhadap hubungan menjadi berbeda
