Survei DEN-BPS: Penerima MBG Masih Didominasi Siswa Perkotaan dan Keluarga Mampu

oleh -93 Dilihat
oleh
Survei DEN-BPS: Penerima MBG Masih Didominasi Siswa Perkotaan dan Keluarga Mampu

Jakarta | Survei Dewan Ekonomi Nasional (DEN) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sebaran penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga September 2026 belum merata. Penerima program masih lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan wilayah perdesaan. Temuan ini menggambarkan bahwa jangkauan MBG belum tersebar secara seimbang menurut lokasi tempat tinggal siswa. Data tersebut juga memperlihatkan perbedaan penerimaan berdasarkan kondisi ekonomi keluarga: siswa dari keluarga mampu tercatat lebih banyak menerima MBG daripada siswa dari keluarga miskin. Dengan demikian, kelompok yang menjadi sasaran penting program belum menjadi kelompok penerima terbanyak dalam hasil survei tersebut. Paparan ini menyoroti dua sisi distribusi, yakni kesenjangan kota dan desa serta perbedaan akses menurut kemampuan ekonomi.

Jajaran DEN menyampaikan temuan survei itu kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Anggota DEN M. Firman Hidayat menerangkan bahwa hasil per September 2026 memperlihatkan penerima MBG lebih banyak berada di perkotaan daripada di perdesaan. Ia juga menyampaikan bahwa siswa dari keluarga mampu lebih banyak menerima program dibandingkan siswa dari keluarga miskin. Keterangan tersebut merangkum hasil yang dipaparkan kepada Presiden, tanpa menyiratkan bahwa seluruh penerima berasal dari kelompok perkotaan atau keluarga mampu. Survei itu menunjukkan kecenderungan komposisi penerima, bukan ketiadaan penerima di desa maupun di kalangan keluarga miskin.

Temuan distribusi ini penting sebagai bahan untuk menilai pelaksanaan MBG dan menjangkau sasaran program secara lebih merata. Perbedaan yang terlihat dalam survei dapat menjadi perhatian dalam pemantauan akses, terutama bagi siswa di perdesaan dan keluarga miskin. Namun, data yang disampaikan dalam paparan tersebut tidak mencantumkan angka persentase maupun rincian penyebab perbedaan penerimaan. Karena itu, kesimpulan perlu dibatasi pada pola yang disebutkan DEN dan BPS: konsentrasi penerima lebih tinggi di perkotaan dan jumlah penerima dari keluarga mampu melampaui penerima dari keluarga miskin. Pemeriksaan lanjutan atas cakupan serta hambatan akses di berbagai wilayah dapat membantu menjelaskan pola tersebut, sekaligus menjadi dasar evaluasi kebijakan agar manfaat MBG menjangkau siswa sesuai kebutuhan tanpa mengabaikan perbedaan kondisi lokal.

Firman menekankan bahwa penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu ditata dengan mempertimbangkan siapa yang paling membutuhkan dukungan gizi. Menurutnya, perhatian lebih besar semestinya diberikan kepada masyarakat miskin, siswa di wilayah pedesaan, serta penerima manfaat yang tinggal di daerah terpencil dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Penekanan ini berkaitan dengan tujuan program untuk membantu pemenuhan asupan gizi, terutama bagi kelompok yang menghadapi keterbatasan akses maupun sumber daya rumah tangga.

Dorongan tersebut relevan dengan temuan survei DEN-BPS yang menunjukkan bahwa penerima MBG saat ini masih didominasi siswa perkotaan dan keluarga mampu. Gambaran itu menjadi dasar untuk meninjau kembali jangkauan program, bukan untuk menyimpulkan bahwa kelompok perkotaan tidak layak menerima manfaat. Namun, bila distribusi lebih banyak menjangkau kelompok yang relatif memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pangan, sementara warga miskin dan siswa di lokasi sulit dijangkau belum terlayani secara memadai, maka sasaran dukungan gizi berisiko belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat kebutuhan.

Kelompok berpendapatan rendah dapat menghadapi kesulitan lebih besar dalam menyediakan makanan bergizi secara konsisten. Sementara itu, siswa di pedesaan, daerah terpencil, dan kawasan 3T mungkin menghadapi hambatan berupa keterbatasan fasilitas, jarak, serta akses terhadap bahan pangan dan layanan. Karena itu, prioritas yang lebih berimbang perlu mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi dan tantangan geografis, selain jumlah calon penerima atau kemudahan pelaksanaan. Penentuan prioritas semacam ini dapat membantu memastikan manfaat program menjangkau anak-anak yang paling memerlukan tambahan asupan gizi.

Firman mendorong perbaikan prioritas penyaluran agar kelompok-kelompok tersebut mendapat perhatian lebih kuat. Dorongan ini merupakan usulan untuk memperbaiki sasaran, bukan keterangan bahwa perubahan kebijakan telah dilaksanakan. Pelaksanaannya memerlukan pemetaan kebutuhan yang cermat, data penerima yang dapat diperbarui, serta pertimbangan kapasitas distribusi di setiap daerah. Dengan dasar tersebut, evaluasi dapat menilai apakah jangkauan MBG telah mencerminkan kebutuhan masyarakat dan siswa secara lebih merata, sekaligus mengidentifikasi wilayah yang masih memerlukan dukungan tambahan. Arah peninjauan ini menempatkan kebutuhan gizi sebagai pertimbangan utama dalam pengembangan cakupan program.Survei DEN-BPS tidak hanya menggambarkan siapa yang telah menerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga mencatat sejumlah manfaat yang berkaitan dengan kegiatan siswa di sekolah. Salah satu temuan yang disampaikan Firman adalah bahwa siswa penerima MBG lebih jarang absen dibandingkan siswa yang tidak menerima program. Perbedaan ini menunjukkan adanya hubungan penerimaan MBG dan kehadiran siswa, meskipun temuan tersebut perlu dibaca sesuai dengan cakupan survei.

Menurut Firman, kesenjangan tingkat kehadiran penerima dan bukan penerima program terlihat cukup besar pada desil 1, yaitu kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Temuan ini penting karena keluarga pada kelompok tersebut memiliki kondisi ekonomi yang paling terbatas. Dalam konteks survei, MBG hadir sebagai program yang menjangkau siswa dari berbagai latar sosial, sementara hasil mengenai kehadiran memberi gambaran tentang perbedaan pengalaman sekolah di siswa yang memperoleh makanan dan mereka yang tidak memperolehnya.

Survei juga mengaitkan MBG dengan berkurangnya rasa lapar yang dialami siswa selama berada di sekolah. Dengan demikian, manfaat yang tercatat tidak hanya berhubungan dengan apakah siswa hadir, tetapi juga dengan kondisi mereka ketika mengikuti kegiatan belajar. Rasa lapar di lingkungan sekolah merupakan pengalaman yang disoroti dalam temuan tersebut, dan penerima MBG dilaporkan lebih jarang mengalaminya. Hubungan ini disampaikan sebagai hasil survei, tanpa menetapkan ukuran besarnya dampak ataupun menjelaskan faktor penyebab lain.

Temuan tentang kehadiran dan rasa lapar dapat menjadi bahan untuk menilai pelaksanaan program serta melihat kelompok mana yang menunjukkan perbedaan paling nyata. Perhatian khusus pada desil 1 juga membantu menempatkan hasil survei dalam konteks pemerataan manfaat. Namun, data yang disampaikan di sini terbatas pada perbandingan penerima dan bukan penerima serta kaitannya dengan pengalaman siswa di sekolah. Karena itu, hasil tersebut memberi petunjuk mengenai manfaat yang dilaporkan, bukan penjelasan menyeluruh tentang seluruh perubahan yang mungkin terjadi pada siswa maupun keluarga mereka.

Temuan survei DEN-BPS mengenai penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mencatat hubungan kualitas menu yang diberikan dan semangat belajar siswa. Dalam laporan tersebut, siswa penerima MBG menyampaikan bahwa semangat belajar mereka lebih tinggi ketika makanan yang diterima memiliki kualitas baik. Angka yang disebutkan secara khusus menunjukkan bahwa 95 persen siswa penerima MBG mengaku semangat belajarnya lebih tinggi apabila menu yang diberikan berkualitas baik. Pernyataan ini menggambarkan pandangan para siswa yang disurvei tentang pengalaman mereka, dengan mutu makanan menjadi alasan utama yang dikemukakan berkaitan dengan peningkatan semangat tersebut.

Angka 95 persen itu merujuk pada siswa penerima program yang mengaitkan semangat belajar lebih tinggi dengan kondisi menu yang baik. Karena itu, kualitas makanan bukan sekadar unsur pelengkap dalam uraian temuan mengenai pengalaman penerima MBG. Aspek tersebut muncul langsung dalam jawaban siswa ketika menjelaskan kapan mereka merasa lebih bersemangat untuk belajar. Survei menyampaikan kaitan sebagaimana dilaporkan oleh responden, tanpa menyatakan bahwa seluruh siswa mengalami perubahan yang sama atau bahwa kualitas menu merupakan satu-satunya faktor yang memengaruhi semangat belajar. Batasan ini penting agar angka yang disajikan dibaca sesuai dengan keterangan survei.

Temuan tersebut menempatkan mutu menu.