Syahrini Atur Latihan Konser Setelah Anaknya Tidur demi Tetap Mengutamakan Keluarga

oleh -512 Dilihat
oleh
Syahrini Atur Latihan Konser Setelah Anaknya Tidur demi Tetap Mengutamakan Keluarga

Jakarta | Syahrini merindukan kesempatan untuk kembali tampil di panggung hiburan Indonesia setelah menjalani perubahan besar dalam kehidupan pribadinya. Kerinduan itu tidak berarti ia menempatkan pekerjaan di atas keluarga. Sebaliknya, ia berupaya menemukan cara agar kecintaannya pada dunia musik dapat berjalan seiring dengan tanggung jawabnya sebagai ibu dan istri. Bagi Syahrini, kembali bernyanyi merupakan bagian penting dari perjalanan karier, sementara keluarga tetap menjadi pusat perhatian dalam kesehariannya.

Persiapan untuk tampil di Pestapora beberapa bulan sebelumnya membutuhkan usaha ekstra. Syahrini perlu menyiapkan diri sebagai penyanyi, sekaligus menyesuaikan jadwal latihan dengan kebutuhan keluarga. Salah satu cara yang ditempuh adalah berlatih setelah anaknya tidur, sehingga waktu bersama keluarga pada siang hari tetap dapat dijaga. Pengaturan seperti ini menunjukkan bahwa proses kembali ke panggung memerlukan kedisiplinan dan perencanaan, bukan sekadar kesiapan untuk tampil. Ia harus membagi tenaga dan perhatian dengan cermat.

Menjalani beberapa peran sekaligus tentu menghadirkan tantangan, terlebih ketika persiapan pertunjukan menuntut konsistensi. Namun, Syahrini tidak memandang keluarga dan pekerjaan sebagai dua hal yang harus saling mengalahkan. Dengan memilih waktu latihan yang lebih sesuai, ia dapat melanjutkan persiapan tanpa mengabaikan kebutuhan anak maupun kebersamaan dengan suami. Upaya tersebut juga menggambarkan bahwa dukungan terhadap karier seorang ibu dapat tumbuh bersama komitmen keluarganya. Kembali ke panggung menjadi kesempatan untuk menyapa penonton dan menghidupkan lagi aktivitas yang dirindukannya. Pada saat yang sama, ia tetap mengatur prioritas agar perannya di rumah mendapat perhatian. Pendekatan ini memperlihatkan upaya menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesional secara realistis: bukan dengan mengurangi kepedulian pada salah satunya, melainkan dengan menyusun waktu dan tenaga sebaik mungkin. Bagi Syahrini, tampil di Pestapora menjadi langkah kembali ke panggung yang bermakna, tanpa mengubah keluarga sebagai prioritas utama.

Syahrini menyampaikan bahwa keterlibatan langsung dalam pengasuhan putrinya menjadi hal penting, terutama ketika anak tersebut masih berusia dua tahun. Ia ingin berada di dekat sang anak sepanjang hari, mulai dari saat putrinya bangun hingga waktu tidur. Keinginan itu menunjukkan bahwa perhatian terhadap keluarga tetap menjadi prioritas di tengah persiapan dan aktivitasnya sebagai penyanyi. Bagi Syahrini, kebersamaan sehari-hari bukan sekadar mengisi waktu, melainkan kesempatan untuk hadir dan terlibat dalam rutinitas anak secara langsung.

Dalam keterangannya di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, pada 27 Oktober 2026, Syahrini mengungkapkan keinginannya tersebut. Ia mengatakan, “Saya ingin mendampingi anak saya dari bangun sampai tidur. Saya ingin bermain bersama dan menyuapinya sendiri. Saya tidak ingin melewatkan momen kebersamaan ini saat usianya masih dua tahun.” Pernyataan itu menggambarkan perhatian pada berbagai kegiatan sederhana yang menjadi bagian dari keseharian ibu dan anak. Bermain bersama dan menyuapi putrinya sendiri merupakan bentuk keterlibatan yang ingin ia jalani, bukan hanya menyerahkan seluruh rutinitas pengasuhan kepada orang lain.

Usia dua tahun dipandang Syahrini sebagai masa yang berharga, sehingga ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menemani pertumbuhan putrinya. Keinginannya untuk hadir sejak anak terbangun hingga tertidur memperlihatkan pentingnya waktu bersama bagi dirinya. Dalam konteks kesibukan menyiapkan konser, pilihan untuk tetap mendampingi anak juga menegaskan bagaimana ia berupaya menjaga keseimbangan pekerjaan dan keluarga. Ia ingin menjalankan tanggung jawab profesional tanpa mengabaikan pengalaman sehari-hari bersama putrinya. Pengakuan tersebut menempatkan perhatian pada keluarga sebagai bagian dari pertimbangannya dalam mengatur kegiatan, sekaligus menunjukkan bahwa momen kebersamaan pada usia dini memiliki arti khusus baginya. Dengan menyampaikan hal itu secara terbuka, Syahrini menekankan bahwa ia ingin ikut hadir dalam rutinitas pengasuhan putrinya, termasuk saat bermain dan makan, selagi kesempatan tersebut masih ada.

Syahrini menyiasati latihan konser dengan menempatkan kebutuhan keluarga sebagai pertimbangan utama. Ia menunggu hingga anaknya tidur sebelum berangkat untuk berlatih pada malam hari. Dengan cara itu, waktu latihan dimulai setelah buah hatinya terlelap, bukan ketika anaknya masih terjaga. Urutan tersebut menggambarkan bagaimana ia mengatur kegiatan persiapan konser tanpa mengabaikan waktu bersama keluarga. Latihan yang berlangsung larut malam menuntutnya menjalani rangkaian kegiatan dalam jam-jam ketika banyak orang biasanya sudah beristirahat. Namun, jadwal itu menjadi pilihan yang ia jalani agar latihan tetap terlaksana setelah anaknya tidur. Pola tersebut kemudian dijalani berulang selama berminggu-minggu.

Rangkaian latihan dimulai pukul 21.00 dengan latihan menari selama dua jam. Setelah sesi itu selesai, Syahrini melanjutkan kegiatan bersama grup musik pada pukul 23.00. Latihan bersama grup tersebut berlangsung hingga pukul 01.00. Jadi, dalam satu malam, ia terlebih dahulu berlatih menari, lalu meneruskan latihan dengan para personel musik. Jeda di dua sesi menandai perpindahan dari latihan tari ke latihan bersama grup, sementara keseluruhan rangkaian berlangsung sampai lewat tengah malam. Jadwal ini tidak hanya dilakukan satu atau dua kali, melainkan menjadi pola selama berminggu-minggu. Syahrini pun harus berulang kali memulai latihan setelah anaknya terlelap dan menuntaskan sesi terakhir pada dini hari.

Rutinitas tersebut menguras fisik. Latihan menari selama dua jam menjadi bagian awal dari rangkaian yang masih berlanjut dengan latihan bersama grup musik hingga pukul 01.00. Setelah dijalani selama berminggu-minggu, pola malam itu menunjukkan besarnya tuntutan persiapan yang harus ia hadapi. Syahrini tetap menempuh urutan yang sama: menunggu anaknya tidur, berangkat berlatih pada malam hari, menari mulai pukul 21.00, kemudian berlatih bersama grup musik dari pukul 23.00 sampai 01.00. Cerita tentang jadwal ini memperlihatkan cara ia membagi waktu latihan dan keluarga, sekaligus menggambarkan beban fisik dari rangkaian persiapan konser yang berlangsung larut malam secara konsisten.

Di tengah persiapan konser yang padat, Syahrini tetap berupaya memastikan kebutuhan keluarga tertangani. Sejak pagi, ia menyiapkan keperluan suaminya, Reino Barack, sekaligus mengurus berbagai kebutuhan rumah tangga. Rutinitas tersebut berjalan beriringan dengan perannya sebagai ibu dan agenda latihan, sehingga ia perlu menyusun kegiatan dengan cermat. Baginya, persiapan di rumah bukan hal yang dapat diabaikan hanya karena jadwal berkesenian sedang meningkat. Ia berusaha menjaga agar urusan keluarga tetap mendapat perhatian, sementara pekerjaan menuju konser juga terus berlangsung.

Pengaturan waktu menjadi kunci untuk membagi perhatian di tanggung jawab yang berbeda. Syahrini menyesuaikan jadwal latihan dengan waktu istirahat anaknya, termasuk berlatih setelah sang anak tidur. Dengan cara itu, ia dapat menjalankan persiapan panggung tanpa mengesampingkan waktu pengasuhan. Sementara itu, urusan rumah dan kebutuhan Reino juga disiapkan sejak awal hari agar tidak menumpuk ketika agenda latihan dimulai. Pembagian kegiatan yang terencana membantunya melihat apa saja yang perlu diselesaikan dan kapan waktu yang paling sesuai untuk mengerjakannya. Ia pun berusaha menjaga ritme keluarga tetap berjalan di tengah kesibukan.

Syahrini mengakui jadwal tersebut menuntut pengorbanan waktu istirahat. Ia rela mengurangi waktu tidur, pulang menjelang dini hari setelah latihan, lalu kembali bangun pada pagi hari untuk melanjutkan kegiatan. Meski melelahkan, ia menikmati proses yang dijalani. Kesempatan untuk tetap berkarya melalui persiapan konser terasa berarti, terlebih ketika tanggung jawab rumah tangga dan keluarga tetap dapat dikelola dengan baik. Ia tidak menggambarkan kesibukan itu sebagai sesuatu yang mudah, tetapi pengaturan waktu yang rapi membuat berbagai peran dapat dijalankan secara berdampingan. Bagi Syahrini, latihan dan perhatian kepada keluarga sama-sama menjadi bagian dari keseharian yang harus dijaga.

Baca juga: Bamsoet Terima Lamaran Putra Melly Goeslaw, Beda Partai Tak Menghalangi Dua Keluarga Bersatu | Keluarga Hendro Kacung Dicari, Jejak dari Tasikmadu Tuban Jadi Harapan untuk Bertemu Kembali | Kewaspadaan dan Komunikasi Terpadu Jadi Kunci Latihan Force on Force SGS MARFOR Lampung 2026