Jakarta | Survei Matriks Politik Indonesia menempatkan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebagai pejabat kabinet paling populer di jajaran Kabinet Merah Putih. Tingkat popularitasnya tercatat sebesar 88,88 persen, menjadikannya nama yang paling banyak dikenal atau mendapat perhatian publik dalam pengukuran tersebut. Hasil ini menempatkan Teddy di posisi teratas, sekaligus menunjukkan besarnya eksposur yang ia peroleh sejak menjalankan tugas sebagai sekretaris kabinet. Temuan survei itu menjadi salah satu gambaran mengenai cara publik mengenali figur-figur yang bekerja di lingkar pemerintahan.
Direktur Komunikasi Matriks Politik Indonesia, Supriyadi, menilai tingginya popularitas Teddy berkaitan dengan kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai aktivitas kenegaraan. Teddy kerap terlihat mendampingi Presiden dan muncul di hadapan publik dalam sejumlah kesempatan. Kehadiran yang berulang tersebut membuat sosoknya lebih mudah dikenali masyarakat. Selain faktor kedekatan itu, posisi Sekretaris Kabinet juga menempatkannya pada peran strategis dalam mengoordinasikan kerja para menteri dan pejabat tinggi negara. Peran tersebut membuat Teddy berada di proses pemerintahan dan komunikasi kepada publik.
Teddy juga kerap menjelaskan kebijakan pemerintah melalui konferensi pers yang digelar bersama menteri atau pejabat terkait. Menurut Supriyadi, kehadirannya dalam momen-momen tersebut tidak hanya memperlihatkan wajah Presiden, tetapi juga mencerminkan dukungan terhadap arah kebijakan pemerintah. Penjelasan kebijakan secara langsung dapat membantu masyarakat memahami keputusan dan langkah yang diambil pemerintah, sementara keterlibatan Teddy memperkuat posisinya sebagai salah satu figur yang tampil dalam komunikasi resmi. Meski demikian, popularitas merupakan ukuran keterkenalan dalam survei dan tidak dengan sendirinya menggambarkan penilaian atas seluruh aspek kinerja.
Di luar capaian popularitas, Teddy juga masuk dalam lima besar pejabat dengan penilaian terbaik dalam survei Matriks Politik Indonesia. Dua capaian tersebut menunjukkan bahwa namanya menonjol, baik dari sisi popularitas maupun penilaian publik terhadap pejabat kabinet. Supriyadi menilai Teddy berpeluang menjadi “kuda hitam” di masa depan. Pernyataan itu menggambarkan potensi yang dapat berkembang seiring dengan peran dan kiprahnya di pemerintahan, bukan kepastian mengenai langkah politik tertentu. Perkembangan popularitas dan penilaian terhadap Teddy selanjutnya akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk kinerja, komunikasi kebijakan, serta dinamika politik nasional.
Setelah Teddy Indra Wijaya menempati posisi teratas dalam survei popularitas, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia berada di urutan kedua dengan angka 85,3 persen. Hasil tersebut menempatkannya di figur kabinet yang paling dikenal publik. Popularitas Bahlil tidak terlepas dari sorotan terhadap kebijakan di sektor energi, bidang yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat dan aktivitas ekonomi. Berbagai keputusan maupun agenda pemerintah terkait energi kerap menjadi perhatian, sehingga sosok menteri yang bertanggung jawab atas sektor tersebut juga sering muncul dalam pemberitaan dan pembahasan publik.
Selain kebijakannya, gaya komunikasi Bahlil yang lugas dan cair turut membentuk citranya. Ia kerap menyampaikan pandangan secara langsung, dengan cara bertutur yang mudah dikenali. Pengamat politik Supriyadi juga mengaitkan posisinya dengan kepemimpinan Bahlil di Partai Golkar. Sebagai ketua umum partai besar yang menjadi bagian dari koalisi pemerintah, ia merupakan anggota koalisi yang diperhitungkan Prabowo. Peran politik tersebut, ditambah penugasan strategis yang diembannya, membuat Bahlil kerap tampil di panggung kebijakan. Frekuensi kemunculannya dalam urusan pemerintahan dan politik dapat memperluas pengenalan publik terhadap dirinya, meskipun popularitas tidak dengan sendirinya menunjukkan tingkat dukungan elektoral.
Posisi ketiga ditempati Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, atau AHY, dengan popularitas sebesar 79,5 persen. Namanya dikenal luas, lain karena ia memimpin Partai Demokrat sebagai ketua umum dan memiliki rekam jejak politik yang menempatkannya dalam percakapan mengenai kepemimpinan nasional. Kombinasi jabatan di pemerintahan dan peran di partai membuat AHY mendapat perhatian dalam pemberitaan politik. Ia juga kerap disebut dalam bursa calon presiden untuk pemilihan presiden mendatang. Namun, penyebutan tersebut belum berarti bahwa peluangnya telah setara dengan tokoh-tokoh lain. Menurut gambaran yang disampaikan Supriyadi, AHY masih harus bersaing dengan sejumlah figur yang popularitas maupun elektabilitasnya jauh lebih tinggi. Karena itu, angka popularitas dalam survei menunjukkan tingkat keterkenalan, sementara persaingan politik ke depan tetap bergantung pada dukungan pemilih dan perkembangan dinamika nasional.
Survei Matriks Politik menempatkan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di posisi pertama dalam penilaian pejabat dengan kinerja terbaik, dengan angka 75,1 persen. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyusul dengan 70,4 persen, sementara Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memperoleh 68,8 persen. Capaian ketiganya mencerminkan penilaian publik terhadap peran dan kinerja masing-masing di Kabinet Merah Putih.
Pengamat politik Supriyadi menilai posisi Amran berkaitan dengan sejumlah hasil di sektor pertanian. Menurutnya, Amran mewujudkan target Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada beras dalam satu tahun pemerintahan. Ia juga menyederhanakan distribusi pupuk bersubsidi dan mempertahankan harga pembelian pemerintah untuk gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan tersebut dinilai memberi kepastian bagi petani sekaligus mendukung agenda peningkatan produksi pangan.
Supriyadi turut menyoroti nilai tukar petani yang mencapai 131,11 pada September 2026, disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Angka itu menjadi salah satu indikator yang mengiringi penilaian atas kondisi kesejahteraan petani. Selain capaian kebijakan, Amran dinilai memiliki tingkat pengenalan publik yang luas. Kombinasi kinerja dan visibilitas tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa ia memperoleh penilaian tertinggi dalam survei.
Untuk Nasaruddin Umar, Supriyadi menekankan gaya kepemimpinan keagamaan yang menyejukkan. Penilaian itu beriringan dengan indeks kerukunan umat beragama 2025 sebesar 77,89. Menurut Supriyadi, kerukunan memiliki kaitan penting dengan stabilitas sosial serta terciptanya iklim usaha yang kondusif. Karena itu, peran Menteri Agama dipandang tidak hanya menyangkut kehidupan keagamaan, tetapi juga mendukung lingkungan yang lebih stabil bagi masyarakat dan kegiatan ekonomi.
Sementara itu, Prasetyo Hadi dinilai berperan dalam proses pengambilan keputusan strategis di istana. Supriyadi menggambarkan komunikasinya sebagai fokus dan tegas, termasuk ketika menyampaikan penjelasan di tengah kegaduhan. Ia dinilai mampu menerangkan persoalan dengan tenang tanpa memancing polemik baru. Gaya komunikasi tersebut dianggap relevan bagi pejabat yang berada dekat dengan pusat pengambilan keputusan, karena publik membutuhkan informasi yang jelas ketika isu politik berkembang cepat. Ketiga penilaian ini menggambarkan aspek kinerja yang berbeda, mulai dari kebijakan pertanian dan kerukunan hingga koordinasi serta komunikasi pemerintahan.
Survei Matriks Politik Indonesia yang menjadi dasar pemetaan popularitas anggota Kabinet Merah Putih dilaksanakan pada 10–15 Oktober 2026. Rentang waktu tersebut menunjukkan periode pengumpulan data yang disampaikan untuk survei ini. Hasilnya perlu dibaca bersama keterangan mengenai waktu pelaksanaan dan cakupan responden, agar informasi tentang temuan survei memiliki konteks yang jelas. Dalam pemberitaan hasil, rincian metodologis ini membantu pembaca memahami siapa yang tercakup dalam pengukuran dan seberapa luas wilayah yang diwakili. Keterangan yang tersedia menyebutkan bahwa responden dipilih menggunakan metode acak bertingkat, atau multistage random sampling. Informasi itu menjadi bagian penting dari deskripsi pelaksanaan survei, selain jumlah responden dan wilayah cakupan.
Jumlah responden yang dilibatkan adalah 1.200 orang. Mereka dipilih secara acak bertingkat dan disebut mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Secara umum, metode multistage random sampling mengatur pemilihan sampel melalui beberapa tahap, bukan dengan mengambil seluruh responden sekaligus dari satu daftar tunggal.
Baca juga: Kodim 1714/Puncak Jaya Gandeng Masyarakat Binaan Membangun Jembatan Merah Putih di Kampung Kulok Enggame | Catatan Politik Bamsoet; Penyesuaian Transfer Daerah Idealnya Tidak Menimbukan Ekses Bagi Daerah | HUT ke-48 FKPPI, Bamsoet Tegaskan Arahan Ketua Umum, Bahwa FKPPI Organisasi Perjuangan, Bukan Kendaraan Politik Cari Kekuasaan
