Prabowo Minta BRIN Paparkan Kemajuan Riset Prioritas Pemerintah

oleh -51 Dilihat
oleh

Jakarta | Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, ke Istana Kepresidenan di Jakarta pada Selasa, 27 Oktober 2026. Arif tiba sekitar pukul 14.03 WIB untuk menghadiri rapat terbatas bersama Presiden. Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas perkembangan sejumlah kegiatan riset yang telah ditetapkan sebagai prioritas pemerintah. Pemanggilan ini menjadi kesempatan bagi BRIN untuk menyampaikan informasi terkini mengenai pelaksanaan penugasan riset dari Presiden.

Sebelum mengikuti rapat, Arif menyampaikan bahwa dirinya akan menggunakan pertemuan itu untuk melaporkan kemajuan tugas-tugas riset yang diberikan Presiden. Laporan tersebut mencakup perkembangan pekerjaan yang tengah dijalankan BRIN sesuai arahan pemerintah. Dengan demikian, pembahasan di Istana berfokus pada pemantauan pelaksanaan riset prioritas, termasuk sejauh mana penugasan tersebut telah berjalan. Informasi yang disampaikan kepada Presiden diharapkan memberikan gambaran mengenai progres dan tahapan kerja yang sudah dilakukan, serta hal-hal yang masih memerlukan perhatian dalam pelaksanaan berikutnya.

Rapat terbatas itu mempertemukan Presiden dengan pimpinan lembaga yang bertanggung jawab mengoordinasikan riset dan inovasi nasional. Pembahasan mengenai kemajuan riset prioritas dapat menjadi ruang untuk menyelaraskan pekerjaan BRIN dengan kebutuhan dan arah kebijakan pemerintah. Dalam pertemuan tersebut, Presiden akan menerima paparan langsung dari Kepala BRIN mengenai penugasan yang telah diberikan. Arif dijadwalkan menjelaskan perkembangan yang dapat dilaporkan pada saat rapat berlangsung, sementara rincian lebih lanjut mengenai topik riset maupun hasil yang dibahas menunggu keterangan resmi setelah pertemuan.

Kehadiran Kepala BRIN di Istana menandai agenda pelaporan langsung kepada Presiden terkait pelaksanaan mandat riset. Melalui rapat terbatas ini, perkembangan pekerjaan dapat dibicarakan pada tingkat pemerintah, sekaligus menjadi bahan untuk menilai langkah lanjutan yang diperlukan. Fokus pertemuan, sebagaimana disampaikan sebelum rapat, adalah kemajuan sejumlah riset prioritas dan penugasan Presiden kepada BRIN. Belum ada rincian tambahan mengenai keluaran riset tertentu yang disampaikan dalam keterangan awal tersebut. Karena itu, paparan Arif dalam rapat menjadi bagian penting untuk memperbarui informasi mengenai agenda penelitian pemerintah dan pelaksanaannya oleh lembaga.

Laporan yang hendak disampaikan Arif kepada Presiden Prabowo mencakup beberapa tahap perkembangan riset prioritas pemerintah. Paparan tersebut tidak hanya berisi penelitian yang sudah menghasilkan penerapan di lapangan, tetapi juga pekerjaan riset yang masih berjalan dan memerlukan percepatan. Dengan cakupan itu, laporan diharapkan menggambarkan posisi setiap pekerjaan berdasarkan tahapnya, tanpa menyamakan riset yang telah diterapkan dengan riset yang masih membutuhkan proses lanjutan. Informasi mengenai kebutuhan infrastruktur penelitian juga menjadi bagian dari paparan, sehingga perhatian dapat diberikan pada dukungan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan riset. Selain itu, pekerjaan yang tinggal memasuki tahap hilirisasi turut masuk dalam cakupan laporan.

Untuk riset yang sudah diterapkan, Arif akan menyampaikan bahwa penelitian tersebut telah digunakan di lapangan. Keterangan ini menunjukkan status penerapan, tanpa berarti laporan harus menambahkan klaim mengenai hasil, jumlah penerapan, lokasi, atau dampak yang tidak disebutkan. Pada sisi lain, riset yang masih berlangsung perlu dipaparkan sebagai pekerjaan yang belum selesai. Sebagian di antaranya membutuhkan percepatan, sehingga laporan juga memberi ruang untuk menjelaskan kebutuhan agar prosesnya dapat bergerak lebih cepat. Pembedaan riset yang sudah diterapkan dan riset yang masih berjalan penting agar kemajuan dapat dibaca sesuai keadaan masing-masing. Paparan tersebut berfokus pada cakupan dan status pekerjaan, bukan pada rincian capaian di luar keterangan yang tersedia.

Aspek lain yang akan disampaikan adalah kebutuhan infrastruktur penelitian. Kebutuhan ini menjadi bagian dari gambaran mengenai dukungan yang diperlukan dalam pelaksanaan riset, tanpa merinci jenis fasilitas atau besaran kebutuhan yang tidak disebutkan. Laporan juga akan memuat pekerjaan yang tinggal memasuki tahap hilirisasi. Dengan demikian, paparan mencakup rentang pekerjaan dari riset yang telah diterapkan di lapangan, riset yang masih berlangsung dan perlu dipercepat, hingga pekerjaan yang berada menjelang hilirisasi. Penyampaian seluruh unsur tersebut memberi gambaran mengenai beragam tahapan riset prioritas pemerintah. Arif akan memaparkan perkembangan sesuai cakupan yang diminta, termasuk kebutuhan infrastruktur, tanpa menambahkan rincian atau capaian lain di luar keterangan tersebut.

BRIN mendapat penugasan untuk mengembangkan riset pada sejumlah bidang yang dinilai penting bagi kebutuhan masyarakat dan prioritas pemerintah. Bidang tersebut mencakup pengelolaan air, kesehatan, kebencanaan, pengolahan sampah, serta teknologi satelit. Pengembangan riset di berbagai sektor ini diarahkan agar tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat menghasilkan teknologi yang siap digunakan dan memberi manfaat nyata.

Kemajuan setiap program berbeda-beda. Sebagian riset telah rampung, sementara sejumlah lainnya masih berada dalam tahap pengembangan. Tantangan berikutnya adalah mendorong hasil penelitian menuju produksi, memastikan teknologi dapat diterapkan, serta membuka akses pemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat. Karena itu, kesinambungan penelitian, pengembangan, dan proses produksi menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan agenda riset tersebut.

Salah satu contoh hasil riset yang telah selesai adalah teknologi genteng. Setelah penelitian rampung, teknologi ini kini memasuki tahap produksi melalui kerja sama dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Tahap tersebut menandai peralihan dari keluaran penelitian menuju produk yang berpotensi diproduksi dan dimanfaatkan secara lebih luas. Kolaborasi ini juga menunjukkan pentingnya dukungan mitra dalam mengembangkan hasil riset hingga mencapai kesiapan produksi.

Selain kerja sama untuk teknologi genteng, BRIN juga menjajaki kemitraan dengan berbagai pihak guna mempercepat pengembangan riset lainnya. Penjajakan mencakup teknologi pengolahan air dan sampah, serta pengembangan obat-obatan herbal. Kemitraan diharapkan dapat mendukung tahapan pengembangan yang masih diperlukan, termasuk penerapan teknologi dan kemungkinan produksi. Pada bidang pengolahan air dan sampah, percepatan inovasi berpotensi membantu menjawab kebutuhan pengelolaan sumber daya dan lingkungan. Sementara itu, riset obat herbal dapat dikembangkan agar hasilnya semakin siap dimanfaatkan. Dengan pendekatan tersebut, portofolio riset prioritas tidak hanya berfokus pada pencapaian ilmiah, tetapi juga pada jalur pemanfaatan dan kolaborasi untuk membawa teknologi dari laboratorium menuju masyarakat.

Arif menjelaskan bahwa peran BRIN dalam agenda riset prioritas pemerintah terutama berada pada tahap penelitian dan pengembangan teknologi. Lembaga tersebut bertugas menghasilkan pengetahuan, menguji pendekatan, serta mengembangkan teknologi yang dapat menjadi dasar bagi pemanfaatan lebih lanjut. Mandat ini berbeda dari kegiatan manufaktur atau produksi barang dalam jumlah besar. Karena itu, capaian penelitian tidak serta-merta berarti BRIN akan mengambil alih seluruh tahapan setelah teknologi dikembangkan.

Pembedaan riset dan produksi massal penting untuk memahami proses pemanfaatan hasil penelitian. Setelah teknologi atau temuan riset tersedia, diperlukan tahapan lanjutan agar hasilnya dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas. Arif menekankan perlunya BRIN memastikan proses hilirisasi dapat dipercepat, sehingga hasil penelitian memiliki peluang untuk dikembangkan dan dimanfaatkan. Hilirisasi menjadi penghubung kegiatan riset dengan kemungkinan penggunaan teknologi di luar lingkungan penelitian, tetapi proses tersebut tetap membutuhkan keterlibatan pihak yang sesuai.

Produksi massal, menurut penjelasan Arif, dilakukan oleh pihak terkait, bukan menjadi tugas BRIN sebagai lembaga riset. Pihak-pihak tersebut dapat mengambil peran dalam pengembangan produksi setelah teknologi dan kebutuhan penerapannya dipertimbangkan. Pembagian tanggung jawab ini juga menunjukkan bahwa pemanfaatan inovasi memerlukan koordinasi antarpihak, termasuk dalam menentukan kesiapan, kapasitas, dan jalur penerapan. Dengan demikian, percepatan hilirisasi bukan berarti semua hasil penelitian telah siap diproduksi atau sudah digunakan secara luas. BRIN berfokus pada penguatan riset dan pengembangan teknologi, sekaligus mendorong agar proses menuju pemanfaatan dapat berlangsung lebih cepat.

Baca juga: Raihan Emas dan Pengakuan Presiden Prabowo | Kualitas Udara di Jambi Sangat Tidak Sehat, Pemerintah Ambil Tindakan | Tindakan Pemerintah Diperlukan Untuk Lindungi Petambak Udang Nasional