PEP Rantau Mengebor Lima Sumur Baru Sambil Memulihkan Produksi Migas Pascabanjir

oleh -81 Dilihat
oleh
PEP Rantau Mengebor Lima Sumur Baru Sambil Memulihkan Produksi Migas Pascabanjir

Kabupaten Aceh Tamiang | Pertamina EP Rantau Field tetap melanjutkan kegiatan pengeboran di tengah proses pemulihan infrastruktur yang terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Perusahaan melakukan tajak pada lima sumur baru sebagai bagian dari upaya menemukan cadangan minyak dan gas bumi, sekaligus mempertahankan keberlanjutan produksi di wilayah operasi tersebut.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabanjir berjalan beriringan dengan agenda peningkatan produksi. Sejumlah sarana pendukung memang masih memerlukan penanganan setelah terdampak bencana, tetapi aktivitas pengeboran tetap dipandang penting untuk menjaga ketersediaan pasokan energi. Lima sumur yang ditajak diharapkan dapat memberikan tambahan potensi produksi bagi kebutuhan nasional dalam jangka menengah dan panjang.

Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, menyampaikan bahwa pengeboran tersebut tetap dilaksanakan meskipun perusahaan belum sepenuhnya menyelesaikan pemulihan pascabanjir. Menurutnya, pekerjaan pemulihan dan pengeboran dapat dilakukan secara beriringan dengan memperhatikan keselamatan, kesiapan fasilitas, serta kelancaran operasi.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Pertamina EP Rantau Field untuk menjaga keandalan produksi migas sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya di Aceh Tamiang. Dengan pengeboran sumur baru, perusahaan tidak hanya berupaya menemukan cadangan tambahan, tetapi juga memperkuat kesinambungan operasi pada saat kebutuhan energi nasional terus meningkat.

Kegiatan pengeboran PEP Rantau mencakup lima sumur yang tersebar di dua kampung, yaitu Kampung Tanjung Seumantoh dan Kampung Paya Meta. Rincian setiap sumur meliputi nama, lokasi, peralatan pengeboran yang digunakan, serta kedalaman akhir untuk dua sumur di Kampung Tanjung Seumantoh. Pembagian lokasi tersebut menjadi bagian penting dalam menggambarkan pelaksanaan kegiatan pengeboran pada masing-masing area.

Dua sumur yang berada di Kampung Tanjung Seumantoh adalah RNT DZ-51 dan RNT DZ-52. Pengeboran kedua sumur ini menggunakan rig APS-752 dengan kapasitas 550 horsepower. Sumur RNT DZ-51 memiliki kedalaman akhir 1.145 meter, sedangkan RNT DZ-52 mencapai kedalaman akhir 1.037 meter. Dengan demikian, kedua sumur tersebut memiliki perbedaan kedalaman akhir, meskipun menggunakan peralatan pengeboran yang sama dan berada dalam lokasi kampung yang sama.

Tiga sumur lainnya berlokasi di Kampung Paya Meta, yakni RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33. Kegiatan pengeboran pada ketiga sumur tersebut didukung oleh rig TMMJ-12. Rig ini memiliki kapasitas 550 horsepower, sebagaimana rig APS-752 yang digunakan di Kampung Tanjung Seumantoh. Penggunaan TMMJ-12 mencakup seluruh tiga sumur yang berada di Kampung Paya Meta, sehingga masing-masing sumur dalam kelompok lokasi tersebut didukung oleh jenis rig dan kapasitas yang sama.

Secara keseluruhan, lima sumur dalam kegiatan ini terdiri atas dua sumur di Kampung Tanjung Seumantoh dan tiga sumur di Kampung Paya Meta. APS-752 digunakan untuk RNT DZ-51 serta RNT DZ-52, sementara TMMJ-12 digunakan untuk RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33. Rincian tersebut memperlihatkan pembagian lokasi dan peralatan secara jelas tanpa mengubah identitas setiap sumur.

Banjir besar yang melanda wilayah kerja Pertamina EP Rantau pada akhir November 2025 mengganggu hampir seluruh rangkaian operasi produksi. Ketinggian air dilaporkan mencapai 4 hingga 4,5 meter, sehingga fasilitas operasi, perkantoran, dan permukiman pekerja ikut terdampak. Kondisi tersebut membatasi akses menuju lokasi, merusak sejumlah sarana pendukung, serta menyulitkan mobilisasi personel dan peralatan untuk melakukan pemeriksaan awal.

Dampak paling serius terjadi pada stasiun kompresor gas atau High Pressure Gas Compressor Station (HPCS). Kerusakan pada fasilitas ini menghentikan aliran listrik yang dibutuhkan untuk mengoperasikan peralatan produksi. Akibatnya, kegiatan pengolahan dan pengaliran minyak tidak dapat berjalan normal, bahkan produksi sempat berhenti total. Gangguan tersebut juga meningkatkan kebutuhan terhadap pengamanan fasilitas, pemeriksaan instalasi, dan pemulihan sistem kelistrikan sebelum operasi dapat diaktifkan kembali.

Untuk mempercepat pemulihan, tim teknis melakukan modifikasi pada stasiun pengumpul SP-5 dan SP-1. Kedua fasilitas itu disiapkan agar dapat berfungsi sebagai sumber pengganti pasokan gas bagi pembangkit listrik. Rekayasa tersebut memungkinkan kebutuhan energi operasional dipenuhi melalui jalur alternatif ketika HPCS belum dapat digunakan sepenuhnya. Pelaksanaan modifikasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi peralatan, keselamatan kerja, tekanan jaringan, serta kestabilan pasokan gas ke unit pembangkit.

Pemulihan tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa tahap sesuai kesiapan fasilitas dan hasil verifikasi lapangan. Setiap sistem diperiksa, diuji, dan dioperasikan secara bertahap untuk memastikan keandalannya sebelum beban produksi ditingkatkan. Proses ini diperkuat oleh dukungan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina lainnya. Mereka membantu pekerjaan inspeksi, perbaikan, pengoperasian fasilitas, serta koordinasi keselamatan. Di tengah pemulihan tersebut, PEP Rantau juga melanjutkan penataan fasilitas terdampak agar kegiatan produksi dan pengeboran dapat kembali berlangsung dengan standar operasional yang berlaku.

Perkembangan terbaru menunjukkan produksi minyak Pertamina EP Rantau telah kembali stabil pada level 1.700 barel per hari. Angka tersebut dicapai setelah produksi sebelumnya sempat berada pada 2.000 barel per hari pada Mei dan Agustus 2026. Stabilnya produksi mencerminkan berlanjutnya penanganan dan penataan kembali fasilitas setelah terdampak banjir, sekaligus mendukung kesinambungan kegiatan operasi di wilayah kerja Rantau.

Percepatan pemulihan fasilitas produksi tersebut mendapat penghargaan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, atau SKK Migas. Penghargaan itu menjadi bagian dari apresiasi atas langkah pemulihan yang dilakukan untuk mengembalikan operasional fasilitas dan menjaga kegiatan produksi tetap berjalan sesuai ketentuan. Proses pemulihan dilaksanakan melalui koordinasi antarpihak serta penyesuaian kegiatan lapangan berdasarkan kondisi fasilitas dan aspek operasional yang diperlukan.

Di samping pemulihan fasilitas, seluruh rangkaian operasional pengeboran dan kegiatan pendukungnya dipastikan memenuhi standar keselamatan kerja. Penerapan standar tersebut mencakup pengendalian risiko, kepatuhan terhadap prosedur kerja, serta pemantauan kondisi lapangan selama kegiatan berlangsung. Pelaksanaan operasi juga berpedoman pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik, termasuk penerapan aspek environmental, social, and governance (ESG). Aspek lingkungan diperhatikan melalui pengelolaan dampak kegiatan, sedangkan aspek sosial dan tata kelola diterapkan melalui kepatuhan, tanggung jawab, serta koordinasi dengan pemangku kepentingan. Dengan demikian, pembaruan produksi dan pemulihan fasilitas ditempatkan dalam kerangka operasional yang memperhatikan keselamatan, kepatuhan, dan tata kelola perusahaan.