Pendapatan Negara Tembus Rp2.341,5 Triliun, Pemerintah Optimistis Target APBN 2026 Tercapai

oleh -282 Dilihat
oleh
Pendapatan Negara Tembus Rp2.341,5 Triliun, Pemerintah Optimistis Target APBN 2026 Tercapai

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa pendapatan negara telah mencapai Rp2.341,5 triliun hingga periode pelaporan terbaru. Nilai tersebut setara dengan 74,2% dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Capaian ini menjadi salah satu indikator penting dalam melihat perkembangan pelaksanaan anggaran negara sepanjang tahun berjalan.

Dibandingkan dengan periode sebelumnya, realisasi pendapatan negara tersebut tumbuh 25,5%. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya penguatan penerimaan negara sekaligus memberikan ruang yang lebih besar bagi pemerintah untuk mengejar target tahunan. Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan target pendapatan negara sebesar Rp3.153,6 triliun. Dengan realisasi yang sudah mencapai lebih dari tiga perempat target, pemerintah menilai sasaran tersebut masih memungkinkan untuk dipenuhi.

Suahasil menyatakan, kondisi pendapatan negara saat ini tergolong sehat dan masih berada di jalur yang sesuai dengan target APBN 2026. Penilaian tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah terhadap pencapaian target hingga akhir tahun. Meski demikian, perkembangan penerimaan tetap akan dipantau secara berkala untuk memastikan kinerja pendapatan berjalan konsisten dan mampu mendukung kebutuhan pembiayaan negara.

Keterangan mengenai perkembangan pendapatan negara itu disampaikan Suahasil dalam konferensi pers APBN yang berlangsung di Jakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026. Pemerintah terus mencermati berbagai komponen penerimaan untuk menjaga momentum pertumbuhan. Realisasi sebesar Rp2.341,5 triliun tidak hanya mencerminkan capaian kuantitatif, tetapi juga memperlihatkan bahwa pengelolaan pendapatan masih mengikuti arah kebijakan fiskal yang telah ditetapkan.

Pajak menjadi komponen terbesar dalam pendapatan negara sebagaimana tercermin dalam rincian yang disampaikan Suahasil. Hingga periode pelaporan tersebut, penerimaan pajak tercatat mencapai Rp1.607,6 triliun. Nilai ini menunjukkan kontribusi yang dominan terhadap keseluruhan pendapatan negara dan menjadi bagian utama dalam pencapaian kinerja penerimaan pemerintah.

Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam APBN 2026, penerimaan pajak tersebut telah mencapai 68,2% dari sasaran sebesar Rp2.357,7 triliun. Persentase itu menggambarkan capaian penerimaan pajak yang telah melewati separuh target tahunan. Dengan posisi tersebut, pajak tetap menjadi sumber utama yang menopang pendapatan negara dalam pelaksanaan APBN 2026.

Dari sisi pertumbuhan, penerimaan pajak meningkat 24,1%. Pertumbuhan ini menandai perubahan arah yang jelas dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada periode sebelumnya, penerimaan pajak masih mengalami kontraksi sebesar 4,4%, sedangkan pada periode pelaporan tahun ini kinerjanya berbalik mencatat pertumbuhan positif.

Perubahan dari kontraksi menjadi pertumbuhan tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan pendapatan negara. Penerimaan pajak tidak hanya mencatat nilai Rp1.607,6 triliun, tetapi juga menunjukkan kenaikan secara tahunan sebesar 24,1%. Capaian 68,2% terhadap target APBN 2026 memperkuat posisi pajak sebagai komponen terbesar dalam struktur penerimaan negara yang disampaikan pemerintah.

Penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai mencapai Rp240,1 triliun. Capaian tersebut setara dengan 71,5% dari target yang ditetapkan dalam APBN, yakni Rp336 triliun. Secara keseluruhan, penerimaan dari kedua komponen ini tumbuh 8,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka pertumbuhan tersebut lebih tinggi daripada pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebesar 7,1%.

Dari sisi kepabeanan, penerimaan menjadi bagian dari total capaian Rp240,1 triliun tersebut. Data yang tersedia menempatkan kepabeanan sebagai salah satu komponen utama penerimaan bersama cukai, tanpa merinci nilai masing-masing komponen secara terpisah. Karena itu, perkembangan kepabeanan dalam periode ini tercermin dalam capaian gabungan penerimaan kepabeanan dan cukai, yaitu 71,5% dari target Rp336 triliun.

Sementara itu, penerimaan cukai juga tercakup dalam total penerimaan gabungan tersebut. Nilai khusus untuk penerimaan cukai tidak dirinci secara terpisah dalam data yang disampaikan. Secara agregat, penerimaan kepabeanan dan cukai menunjukkan pertumbuhan 8,5%, atau meningkat dibandingkan laju pertumbuhan 7,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan demikian, hingga periode pelaporan, realisasi penerimaan dari kepabeanan dan cukai telah mencapai hampir tiga perempat target tahunan. Perbandingan realisasi Rp240,1 triliun dan target Rp336 triliun menunjukkan masih terdapat selisih Rp95,9 triliun yang perlu dicapai untuk memenuhi target tersebut. Informasi ini menggambarkan posisi penerimaan kepabeanan dan cukai secara keseluruhan, sementara rincian kontribusi masing-masing kepabeanan dan cukai belum disampaikan secara terpisah.

Kinerja penerimaan negara turut ditopang oleh realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang melampaui sasaran dalam APBN 2026. Hingga periode pelaporan, PNBP telah mencapai Rp492,3 triliun. Nilai tersebut setara dengan 107,2% dari target yang ditetapkan sebesar Rp459,2 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa kontribusi PNBP semakin kuat dalam menopang pendapatan negara, di tengah pelaksanaan berbagai kebijakan fiskal dan perkembangan aktivitas ekonomi nasional.

Dari sisi pertumbuhan, PNBP tercatat meningkat 41,7%. Performa tersebut berbalik secara signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika pertumbuhan PNBP masih mengalami kontraksi sebesar 19,2%. Perubahan arah pertumbuhan ini mencerminkan perbaikan penerimaan dari sumber-sumber nonpajak, sekaligus memperkuat ruang fiskal pemerintah untuk membiayai program prioritas. Realisasi yang telah melewati target juga menjadi salah satu indikator positif dalam perkembangan pendapatan negara sepanjang 2026.

Sementara itu, penerimaan hibah terealisasi sebesar Rp1,5 triliun, atau mencapai 219,2% dari target APBN sebesar Rp700 miliar. Meskipun secara tahunan penerimaan hibah masih mencatat pertumbuhan negatif 18,8%, angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang mengalami kontraksi jauh lebih dalam sebesar 89,2%. Dengan capaian pajak, kepabeanan dan cukai, PNBP, serta hibah tersebut, Suahasil menyatakan optimisme bahwa target pendapatan negara dalam APBN 2026 dapat tercapai. Keyakinan itu didukung oleh realisasi PNBP dan hibah yang telah melampaui target, serta kecenderungan membaiknya kinerja penerimaan pada sejumlah pos utama.