Jakarta | Pemerintah berencana menghitung ulang alokasi bahan bakar minyak (BBM) Pertalite atau RON 90 hingga akhir tahun ini. Langkah tersebut menyusul peningkatan konsumsi yang berpotensi memengaruhi kecukupan kuota yang telah ditetapkan. Peninjauan dilakukan untuk melihat kembali kebutuhan penyaluran berdasarkan perkembangan penggunaan di masyarakat, bukan semata-mata berpegang pada perkiraan sebelumnya. Dengan penghitungan baru, pemerintah ingin memperoleh gambaran lebih aktual mengenai volume Pertalite yang dibutuhkan sampai penghujung tahun. Rencana ini menjadi perhatian karena Pertalite merupakan BBM yang banyak digunakan masyarakat dan penyalurannya terkait dengan alokasi yang dikelola pemerintah. Namun, prosesnya masih berjalan pada tahap penghitungan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut salah satu faktor yang mendorong kenaikan konsumsi adalah pergeseran sebagian pengguna dari BBM nonsubsidi Pertamax series, yang memiliki angka oktan RON 92, ke Pertalite. Perubahan pilihan tersebut dapat menambah permintaan terhadap BBM RON 90, terutama apabila berlangsung dalam jumlah besar atau secara berkelanjutan. Perbedaan harga jenis BBM juga dapat menjadi pertimbangan konsumen dalam menentukan pilihan, meski pemerintah belum merinci seberapa besar dampak pergeseran itu terhadap konsumsi nasional. Keterangan tersebut menjadi salah satu masukan dalam menilai kebutuhan pasokan, bersama data penyaluran dan perkembangan permintaan di berbagai wilayah.
Rencana menghitung ulang kuota tidak berarti pemerintah telah menetapkan penambahan atau perubahan jumlah alokasi Pertalite. Sampai proses evaluasi selesai, angka akhir kuota masih belum diputuskan. Penghitungan diperlukan untuk membandingkan alokasi yang tersedia dengan realisasi konsumsi serta memperkirakan kebutuhan hingga akhir tahun. Hasilnya dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan langkah selanjutnya terkait kecukupan pasokan dan penyaluran. Karena itu, penyebutan penyesuaian kuota saat ini perlu dipahami sebagai kemungkinan yang masih dikaji, bukan keputusan resmi mengenai besaran baru. Pemerintah masih menghimpun dan menelaah informasi sebelum menetapkan apakah alokasi perlu diubah. Kepastian mengenai jumlah akhir akan bergantung pada hasil penghitungan tersebut dan keputusan lanjutan pemerintah.
Penghitungan teknis atau exercise untuk menentukan kemungkinan penambahan kuota Pertalite ditargetkan berlangsung hingga akhir bulan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan hal tersebut saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Jumat, 23 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa pemerintah masih menghitung kebutuhan dan alokasi secara cermat sebelum menetapkan penyesuaian kuota. Karena prosesnya belum selesai, besaran tambahan yang mungkin diberikan belum dapat dipastikan. Penghitungan tersebut menjadi bagian dari evaluasi atas perkembangan konsumsi bahan bakar minyak, termasuk Pertalite, yang menjadi salah satu jenis BBM yang banyak digunakan masyarakat.
Bahlil menerangkan, salah satu hal yang menjadi pertimbangan adalah konsumsi Pertalite yang meningkat dibandingkan 2026. Pemerintah juga melihat adanya peralihan penggunaan dari BBM beroktan 92 atau RON 92 ke Pertalite dengan RON 90. Perubahan pilihan konsumen ini dapat memengaruhi kebutuhan terhadap Pertalite dan, pada akhirnya, perhitungan alokasi yang diperlukan. Kedua perkembangan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menelaah kembali kuota, bukan sekadar menetapkan tambahan tanpa melihat kondisi konsumsi. Dengan demikian, exercise yang sedang berjalan mencakup penilaian atas perubahan permintaan serta pergeseran penggunaan antarkategori bahan bakar.
Target penyelesaian hingga akhir bulan memberi waktu bagi pemerintah untuk merampungkan perhitungan teknis sebelum menentukan langkah berikutnya. Peninjauan ini penting agar keputusan mengenai alokasi Pertalite mempertimbangkan data konsumsi dan perubahan pola pembelian. Keterangan Bahlil menegaskan bahwa pemerintah masih berada pada tahap penghitungan, sehingga rencana penambahan kuota belum dapat diperlakukan sebagai keputusan final. Setelah proses tersebut selesai, hasilnya akan menjadi bahan bagi penyesuaian alokasi sesuai kebutuhan yang teridentifikasi. Pemerintah perlu memastikan bahwa besaran kuota yang ditetapkan selaras dengan kenaikan konsumsi dan peralihan dari RON 92 ke RON 90 yang disebut sebagai faktor pendorong evaluasi. Sampai akhir bulan, penghitungan teknis itu tetap menjadi fokus untuk menentukan kebutuhan kuota secara lebih terukur dan menjadi dasar bagi kebijakan alokasi berikutnya.
Hingga saat ini, pemerintah belum menetapkan angka pasti mengenai penambahan kuota Pertalite. Proses penghitungan masih berlangsung, sehingga besaran yang nantinya diputuskan belum dapat disampaikan sebagai angka resmi. Informasi yang tersedia baru menunjukkan bahwa kebutuhan kuota sedang dihitung ulang, bukan bahwa pemerintah telah menyepakati jumlah tambahan tertentu. Karena itu, pembahasan mengenai kuota perlu merujuk pada batas informasi tersebut dan tidak menganggap angka yang belum diumumkan sebagai keputusan final. Penetapan besaran masih menunggu hasil penghitungan yang dilakukan pemerintah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia juga belum memastikan apakah penambahan kuota akan mencapai 10 persen. Pernyataan tersebut berarti angka 10 persen belum dapat dipastikan sebagai target maupun hasil yang akan ditetapkan. Belum ada kepastian bahwa kenaikan akan berada pada tingkat tersebut, dan belum ada dasar untuk menyebut persentase lain. Selama proses penghitungan belum selesai, besaran penambahan masih terbuka dan pemerintah belum memberikan angka final kepada publik. Pernyataan ini menjadi batas yang perlu dijaga ketika membahas perkembangan kuota Pertalite.
Dengan demikian, informasi yang dapat dipastikan saat ini terbatas pada berlangsungnya proses penghitungan ulang dan belum adanya angka resmi penambahan. Belum dipastikannya kemungkinan kenaikan hingga 10 persen juga perlu dipahami secara apa adanya, tanpa ditafsirkan sebagai konfirmasi bahwa kenaikan tersebut akan terjadi. Pembaca sebaiknya membedakan proses yang masih berjalan dan keputusan yang telah ditetapkan. Sampai pemerintah mengumumkan hasil penghitungan, jumlah tambahan kuota belum diketahui. Tidak ada angka yang dapat dijadikan patokan pasti untuk menggambarkan besaran penambahan tersebut. Perkembangan selanjutnya bergantung pada hasil proses itu serta pengumuman resmi pemerintah. Untuk saat ini, menyebut angka tertentu sebagai keputusan pemerintah akan melampaui informasi yang telah tersedia.
Rencana penambahan alokasi Pertalite hingga akhir tahun tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan bakar, tetapi juga membawa konsekuensi terhadap anggaran subsidi. Ketika konsumsi meningkat dan kebutuhan pasokan bertambah, pemerintah perlu memperhitungkan kemungkinan beban subsidi ikut membesar. Karena itu, perhitungan ulang kuota menjadi bagian dari upaya untuk memahami kebutuhan penyaluran sekaligus memperkirakan dampak fiskalnya. Langkah antisipasi ini penting agar keputusan mengenai tambahan alokasi mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kesiapan anggaran secara bersamaan. Pemerintah turut mencermati potensi tersebut sebelum menentukan tindak lanjut atas kebutuhan Pertalite sampai penghujung tahun, tanpa mengabaikan perubahan konsumsi yang terjadi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa kesiapan anggaran subsidi telah dipikirkan dan diperhitungkan. Pernyataan itu menunjukkan bahwa aspek pembiayaan menjadi pertimbangan dalam pembahasan kemungkinan tambahan kuota. Dengan demikian, penyesuaian alokasi tidak dipandang semata sebagai persoalan jumlah bahan bakar yang harus tersedia, melainkan juga sebagai kebijakan yang perlu diselaraskan dengan perhitungan anggaran. Keterangan tersebut memberi gambaran bahwa pemerintah telah memasukkan potensi kebutuhan subsidi dalam pertimbangan, seiring meningkatnya konsumsi Pertalite dan kebutuhan pasokan hingga akhir tahun. Namun, informasi yang disampaikan tidak memuat rincian nilai anggaran atau penjelasan mengenai cara pembiayaannya.
Antisipasi terhadap kemungkinan membengkaknya anggaran subsidi menjadi relevan karena tambahan alokasi dapat meningkatkan kebutuhan dukungan pemerintah. Meski demikian, keterangan Bahlil menegaskan bahwa kesiapan anggaran telah masuk dalam perhitungan, tanpa merinci besaran dana yang tersedia atau perubahan yang mungkin diperlukan. Oleh sebab itu, publik dapat memahami bahwa dampak anggaran tidak luput dari perhatian, tetapi belum memperoleh angka maupun mekanisme pembiayaan dari pernyataan tersebut.
Baca juga: TNI Bersama Pemerintah Perkuat Penanggulangan Karhutla | Minat Produk USD Meningkat, Proteksi di Era Global Makin Dibutuhkan | Ketika tubuh terasa lebih nyaman, kepercayaan diri pun dapat meningkat
