Jakarta | Pengiriman smartphone global pada kuartal III 2026 mengalami penurunan tajam. Berdasarkan laporan International Data Corporation (IDC), jumlah ponsel yang dikirim ke seluruh dunia mencapai 255,3 juta unit, atau turun 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar berlangsung luas dan tercermin pada total pengiriman industri secara global.
Penurunan sebesar 22 persen itu merupakan yang terdalam dalam periode yang dibahas. Dengan demikian, pelemahan pada kuartal tersebut bukan sekadar perubahan kecil dari satu periode ke periode berikutnya, melainkan kontraksi tahunan yang menonjol dalam laporan IDC. Data ini menggambarkan situasi pasar smartphone yang menghadapi kendala signifikan, ketika volume perangkat yang dikirimkan menyusut jauh dibandingkan kuartal III tahun sebelumnya.
IDC mengaitkan kondisi tersebut dengan krisis memori. Pada saat bersamaan, kebutuhan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) melonjak sejak akhir tahun sebelumnya. Perkembangan itu menjadi bagian dari latar yang menyertai tekanan pada pasokan memori, sementara industri smartphone tetap bergantung pada komponen tersebut untuk memproduksi perangkat. Kombinasi krisis memori dan meningkatnya kebutuhan teknologi AI menjadi konteks penting untuk memahami penurunan pengiriman pada kuartal III 2026.
Laporan tersebut menyoroti besarnya perubahan yang terjadi dalam pasar ponsel dunia pada periode ini. Pengiriman 255,3 juta unit dan kontraksi tahunan 22 persen memberikan ukuran kuantitatif mengenai tingkat penurunan, sedangkan kaitannya dengan krisis memori menjelaskan faktor yang disebut dalam laporan. Lonjakan kebutuhan AI sejak akhir tahun sebelumnya turut menjadi bagian dari dinamika yang melatarbelakangi situasi tersebut. Angka IDC memperlihatkan bahwa pasar global berada di bawah tekanan kuat sepanjang kuartal III, dengan penurunan tahunan paling dalam dalam rentang periode yang dibahas.
Nabila Popal, direktur riset senior perangkat global di IDC, menilai tekanan yang dihadapi industri smartphone belum mencapai titik terendah. Menurutnya, kondisi pasar masih dapat memburuk sebelum menunjukkan perbaikan yang berarti. Penilaian ini mencerminkan gabungan tantangan pada sisi pasokan dan permintaan: biaya komponen meningkat, sementara kemampuan vendor untuk mempertahankan harga dan volume penjualan tetap terbatas. Karena itu, kinerja pengiriman dalam waktu dekat berpotensi menghadapi tekanan lebih besar daripada yang telah terlihat sejauh ini.
Salah satu sumber tekanan utama adalah kenaikan biaya memori. Biaya tersebut dilaporkan melonjak hingga 350% dibandingkan tahun sebelumnya dan masih terus meningkat. Perubahan tajam ini menambah beban produksi bagi pembuat perangkat, terutama ketika mereka harus menjaga harga tetap kompetitif di tengah konsumen yang semakin berhati-hati. Vendor dapat memilih menyerap sebagian kenaikan biaya, tetapi langkah itu berisiko mempersempit margin keuntungan. Jika kenaikan diteruskan kepada pembeli melalui harga perangkat yang lebih tinggi, permintaan juga dapat melemah dan menekan volume pengiriman.
IDC memperkirakan hambatan terhadap pertumbuhan pasar smartphone global dapat berlanjut hingga 2027. Periode pemulihan diperkirakan tidak berlangsung cepat, sebab industri perlu menyesuaikan diri dengan struktur biaya komponen yang lebih tinggi sekaligus memulihkan minat pembelian. Dampaknya mungkin berbeda antarmerek dan segmen harga, tetapi tekanan pada margin serta pengiriman dapat meluas selama biaya memori belum stabil. Dalam proyeksi tersebut, pemulihan paling lambat baru terjadi pada 2028. Jangka waktu itu menunjukkan bahwa pelaku industri perlu merencanakan strategi pasokan, harga, dan portofolio produk dengan hati-hati, bukan mengandalkan perubahan pasar dalam waktu singkat. Bagi konsumen, situasi ini dapat berarti pilihan perangkat baru tetap dipengaruhi oleh harga dan ketersediaan, sementara vendor berupaya menyeimbangkan daya saing dengan keberlanjutan bisnisnya.
Persaingan di puncak pasar smartphone global pada kuartal III 2026 berlangsung sangat ketat. Samsung menempati posisi pertama dengan pengiriman 57,8 juta unit, sedangkan Apple berada di urutan kedua dengan 57,3 juta unit. Selisih kedua vendor itu hanya 0,5 juta unit, sehingga volume pengiriman mereka nyaris seimbang. Angka tersebut menunjukkan betapa tipisnya jarak pemimpin pasar dan pesaing terdekatnya pada periode ini.
Meski mempertahankan peringkat teratas, pengiriman Samsung turun 5,8% dibandingkan kuartal III tahun sebelumnya, ketika perusahaan mencatat 61,4 juta unit. Namun, pangsa pasarnya justru meningkat menjadi 22,6%, dari 18,7% setahun sebelumnya. Dengan demikian, penurunan jumlah unit yang dikirim berjalan bersamaan dengan kenaikan porsi Samsung di pasar. Kedua metrik itu menggambarkan sisi yang berbeda: perubahan volume pengiriman dan posisi relatif perusahaan terhadap keseluruhan pasar.
Apple juga mencatat pengiriman yang lebih rendah daripada setahun sebelumnya. Perusahaan mengirimkan 57,3 juta unit pada kuartal III 2026, turun 4% dari 59,7 juta unit pada periode yang sama tahun lalu. Seperti Samsung, Apple mengalami kenaikan pangsa pasar, dari 18,2% menjadi 22,4%. Hasil tersebut menempatkan Apple hanya 0,2 poin persentase di bawah Samsung dalam pangsa pasar, sementara selisih volumenya juga tetap kecil.
Perbandingan ini memperlihatkan bahwa dua vendor teratas memiliki capaian yang berdekatan, baik dari sisi jumlah pengiriman maupun pangsa pasar. Samsung unggul tipis dalam volume dengan 57,8 juta unit, sementara Apple menyusul dengan 57,3 juta unit. Pada saat yang sama, pengiriman tahunan kedua perusahaan sama-sama menurun, sedangkan pangsa pasar masing-masing meningkat. Data kuartal III 2026 tersebut menegaskan ketatnya persaingan Samsung dan Apple, tanpa mengubah fakta bahwa Samsung berada di peringkat pertama dan Apple di posisi kedua.
Di bawah Samsung dan dua vendor yang berada di posisi teratas, Xiaomi menempati peringkat ketiga dalam pengiriman smartphone global pada 2026. Perusahaan itu mengirimkan 30,7 juta unit, tetapi volumenya turun 29,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya dirasakan oleh pemimpin industri; vendor dengan basis konsumen besar pun menghadapi tantangan untuk mempertahankan skala pengiriman ketika permintaan dan kondisi operasional berubah cepat di berbagai wilayah utama dunia.
Oppo berada di posisi keempat dengan pengiriman 25,6 juta unit. Jumlah itu menyusut 34,5% secara tahunan, menjadi kontraksi terdalam di tiga vendor yang mengikuti Xiaomi dalam daftar ini. Penurunan tersebut menegaskan besarnya tantangan untuk menjaga volume penjualan di tengah pasar yang melemah. Persaingan harga, perubahan pilihan konsumen, dan tekanan pada biaya dapat menambah beban perusahaan, sehingga penyesuaian strategi produk maupun distribusi menjadi semakin penting.
Vivo melengkapi lima besar dengan 19,1 juta unit dan berada di peringkat kelima. Pengirimannya turun 31,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan demikian, seluruh lima vendor teratas, termasuk Samsung dan dua perusahaan lain yang menempati posisi pertama serta kedua, sama-sama mengalami penurunan tahunan. Keseragaman arah tersebut memperlihatkan bahwa kontraksi bukan persoalan yang terbatas pada satu merek atau segmen tertentu, melainkan mencerminkan tekanan luas yang memengaruhi industri smartphone global.
Masa disrupsi ini menuntut para produsen perangkat atau OEM untuk merespons perubahan yang lebih mendasar daripada fluktuasi permintaan jangka pendek. Mereka perlu beradaptasi dengan dinamika biaya industri yang berubah dan berpotensi menjadi permanen, mulai dari pengadaan komponen hingga produksi dan distribusi. Penyesuaian dapat mencakup pengelolaan portofolio produk, efisiensi operasional, serta pendekatan pasar yang lebih terarah. Pada saat yang sama, pergeseran struktur industri membuka ruang bagi munculnya pemenang baru. Perusahaan yang mampu mengendalikan biaya, membaca kebutuhan pengguna, dan bergerak lincah dapat memperkuat posisinya ketika persaingan memasuki fase berikutnya.
