Musisi Soroti Karhutla dalam Penampilan di Synchronize Fest 2026

oleh -21 Dilihat
oleh
Musisi Soroti Karhutla dalam Penampilan di Synchronize Fest 2026

Jakarta | Sejumlah musisi memanfaatkan penampilan mereka di Synchronize Fest 2026 untuk menyuarakan kepedulian terhadap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia. Isu karhutla di Kalimantan, Sumatera, dan Papua hadir sebagai perhatian dalam rangkaian festival, meski tidak setiap musisi disebut membahas seluruh wilayah tersebut. Respons yang disampaikan beragam, mulai dari ajakan untuk berdoa, pesan langsung dari panggung, hingga visual yang menggambarkan kebakaran. Dengan cara masing-masing, para penampil mengajak penonton melihat festival bukan hanya sebagai ruang hiburan, tetapi juga tempat menyampaikan keprihatinan atas persoalan lingkungan yang berdampak luas.

Ajakan berdoa menjadi salah satu bentuk respons yang terasa personal dan sederhana. Dalam suasana pertunjukan, pesan tersebut memberi ruang bagi penonton untuk sejenak mengingat masyarakat yang terdampak serta kondisi alam yang terancam. Sementara itu, pesan dari panggung memungkinkan musisi berbicara langsung kepada audiens mengenai situasi kebakaran hutan dan lahan. Penyampaian semacam ini membawa isu yang mungkin terasa jauh ke tengah pengalaman bersama, tanpa harus mengubah sebuah konser menjadi forum formal. Perhatian yang muncul tetap berangkat dari kesadaran bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada area yang terbakar, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan warga dan keberlanjutan lingkungan.

Selain kata-kata, visual tentang kebakaran turut menjadi medium untuk memperkuat pesan. Gambar yang ditampilkan dapat membantu menghadirkan gambaran nyata mengenai ancaman kebakaran, sekaligus membuat isu lingkungan lebih mudah dikenali oleh penonton. Perbedaan pendekatan itu menunjukkan bahwa kepedulian dapat disampaikan melalui gestur, pernyataan, maupun unsur artistik dalam pertunjukan. Namun, pesan yang hadir di panggung tidak dengan sendirinya menjelaskan skala, penyebab, atau perkembangan setiap kejadian di berbagai daerah. Karena itu, sikap kritis tetap diperlukan saat menerima informasi, termasuk dengan merujuk pada pemberitaan dan keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang terlihat dalam festival ini adalah upaya sejumlah musisi membuka perhatian publik terhadap karhutla, dengan bentuk penyampaian yang beragam dan cakupan wilayah yang tidak selalu sama.

Di tengah sorotan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sejumlah penampil di Synchronize Fest 2026 menyampaikan pesan yang mengarahkan perhatian penonton kepada warga dan wilayah terdampak. Ajakan untuk berdoa menjadi salah satu bentuk respons dari panggung festival, sekaligus menyuarakan harapan agar bencana segera berakhir. Pesan tersebut disampaikan secara terpisah oleh Tria Ramadhani dan Melly Goeslaw, dengan perhatian pada masyarakat yang menghadapi dampak kebakaran.

Vokalis Tria Ramadhani mengajak penonton berdoa bagi warga serta daerah yang terdampak karhutla. Ia menyampaikan harapan agar kebakaran segera berakhir dan wilayah yang terdampak dapat pulih. Ajakan itu menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai perhatian utama, bukan semata-mata menjadikan karhutla sebagai topik pembicaraan. Dalam konteks penampilan musik, pesan tersebut memberi ruang bagi audiens untuk mengingat mereka yang terdampak dan mendoakan keselamatan serta pemulihan lingkungan.

Tria juga mengkritik pihak-pihak yang dengan sengaja membakar hutan. Dalam seruannya, ia berharap mereka ikut “hilang”. Ungkapan itu merujuk pada tuntutan agar pelaku dimintai pertanggungjawaban, bukan harapan agar seseorang mengalami bahaya secara harfiah. Kritik tersebut menegaskan bahwa pembakaran yang disengaja tidak dapat dipandang sebagai persoalan tanpa pihak yang bertanggung jawab. Seruan itu menggabungkan kepedulian terhadap korban dengan kecaman terhadap tindakan yang memperburuk bencana.

Melly Goeslaw turut mengajak para pengunjung festival untuk berdoa bagi daerah-daerah yang dilanda karhutla, khususnya Kalimantan. Pesannya memperluas perhatian audiens pada kawasan yang terdampak dan masyarakat yang tinggal di sana. Ajakan dari Melly disampaikan tersendiri dari seruan Tria, tetapi keduanya sama-sama mengangkat kepedulian terhadap dampak kebakaran. Melalui doa dan pernyataan di hadapan penonton, para penampil membawa isu karhutla ke ruang publik festival serta mendorong audiens untuk tidak melupakan warga dan wilayah yang membutuhkan pemulihan.Di Synchronize Fest 2026, keresahan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disampaikan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga lewat visual yang menyertai penampilan. Iga Massardi menggunakan videotron untuk menampilkan kepungan api dan asap kebakaran. Gambaran tersebut membawa persoalan lingkungan ke tengah suasana festival, sekaligus mengingatkan penonton bahwa karhutla bukan sekadar berita yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Api yang meluas dan asap yang menutup pandangan menjadi simbol dampak krisis lingkungan yang dirasakan banyak orang.

Iga juga mengungkapkan bahwa isu tersebut membuatnya merasa sesak napas. Pernyataan itu menggambarkan beban emosional dan fisik ketika menyaksikan kerusakan lingkungan serta akibatnya bagi masyarakat. Ia berharap para pelaku pembakaran hutan segera diadili. Harapan tersebut menekankan pentingnya pertanggungjawaban hukum, agar kebakaran yang merusak ekosistem dan mengancam kesehatan tidak dibiarkan tanpa konsekuensi. Melalui penampilan dan pernyataannya, Iga mengajak audiens memberi perhatian pada penyebab karhutla, bukan hanya pada kepulan asap yang tampak saat bencana terjadi.

Sorotan serupa muncul di sela-sela penampilan sebuah band asal Bogor di Forest Stage. Band tersebut mengangkat karhutla di Kalimantan melalui pesan visual “dont lose focus on karhutla”. Pesan singkat itu mengingatkan penonton agar perhatian terhadap kebakaran hutan tidak cepat beralih, terutama ketika isu lain memenuhi ruang publik. Identitas band tidak disebutkan, tetapi pesan yang disampaikan jelas menempatkan karhutla sebagai persoalan yang patut terus dibicarakan.

Kabut asap akibat kebakaran membawa dampak sosial dan kesehatan yang meluas. Paparan asap dapat mengganggu pernapasan, sementara jarak pandang yang menurun dan aktivitas yang terganggu ikut memengaruhi kehidupan sehari-hari warga. Dampaknya tidak berhenti pada wilayah yang terbakar atau masyarakat yang tinggal paling dekat dengan sumber api; kualitas udara buruk dapat menjangkau kawasan lain dan membuat kelompok rentan menghadapi risiko lebih besar. Dengan mengangkat isu ini di panggung festival, para musisi memperluas percakapan tentang karhutla kepada audiens yang beragam. Visual api, seruan untuk tetap fokus, dan tuntutan agar pelaku diadili menyatukan perhatian pada dampak, pencegahan, serta tanggung jawab atas kerusakan lingkungan.

Polka Wars menyampaikan perhatian terhadap kondisi lingkungan melalui penampilan mereka di Synchronize Fest 2026. Grup indie asal Jakarta itu tampil pada hari pertama festival, Jumat (16/10/2026), di Forest Stage, Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Pusat. Di hadapan penonton, Dega, pemain bas Polka Wars, mengingatkan bahwa keadaan Indonesia dan hutan sedang tidak baik-baik saja. Pesan tersebut menempatkan persoalan lingkungan sebagai hal yang perlu disadari bersama, bukan sekadar isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Pernyataan Dega menjadi pengingat bahwa kondisi hutan berkaitan dengan keadaan masyarakat dan wilayah yang terdampak. Ia mengajak penonton untuk tidak mengabaikan situasi yang sedang terjadi. Dalam konteks festival musik, pesan itu hadir di sela pertunjukan dan mengarahkan perhatian audiens pada persoalan di luar panggung. Polka Wars tidak hanya tampil membawakan musik, tetapi juga menggunakan momen tersebut untuk menyuarakan kepedulian terhadap keadaan Indonesia dan hutan.

Pada pembukaan festival, Efek Rumah Kaca juga menyinggung kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan. Vokalis Cholil Mahmud menyebut situasi karhutla di wilayah tersebut sangat parah. Ia mengajak penonton mendoakan para korban serta warga yang terdampak, sekaligus meminta mereka terus mengikuti perkembangan dan tetap peduli terhadap keadaan di sana. Di panggung yang sama, Efek Rumah Kaca mengenang aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib melalui lagu “Di Udara” dan membawakan “Mosi Tidak Percaya”.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla