Munafri Arifuddin Resmi Berlabuh ke Demokrat Setelah Tinggalkan Golkar

oleh -422 Dilihat
oleh
Munafri Arifuddin Resmi Berlabuh ke Demokrat Setelah Tinggalkan Golkar

KOTA MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Munafri Arifuddin, yang lebih dikenal dengan sapaan Appi, resmi bergabung dengan Partai Demokrat setelah meninggalkan Partai Golkar. Perpindahan tersebut menjadi perkembangan politik yang mendapat perhatian di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar. Munafri saat ini masih menjalankan tugasnya sebagai Wali Kota Makassar, sehingga perubahan afiliasi politiknya turut menjadi sorotan publik dan pemberitaan daerah.

Bergabungnya Munafri dengan Partai Demokrat menandai perubahan penting dalam perjalanan politik tokoh yang memimpin pemerintahan Kota Makassar tersebut. Sebelumnya, ia berada di Partai Golkar, sebelum kemudian menyatakan diri berlabuh ke Partai Demokrat. Peristiwa ini menempatkan nama Munafri dalam pembahasan politik Sulawesi Selatan, mengingat kedudukannya sebagai kepala daerah di salah satu kota utama di provinsi tersebut.

Kabar ini juga menarik perhatian karena terjadi ketika Munafri masih menjabat sebagai Wali Kota Makassar. Dengan demikian, kepindahan dari Golkar ke Demokrat tidak hanya berkaitan dengan dinamika antarpartai, tetapi juga berlangsung dalam konteks kepemimpinan pemerintahan daerah. Untuk saat ini, inti peristiwa yang menjadi perhatian adalah status Munafri Arifuddin alias Appi sebagai tokoh politik yang telah meninggalkan Partai Golkar dan resmi bergabung dengan Partai Demokrat. Perkembangan tersebut memperkaya dinamika politik lokal di Sulawesi Selatan, terutama yang berkaitan dengan Kota Makassar dan figur kepala daerahnya.

Setelah resmi diterima sebagai kader Partai Demokrat di Sulawesi Selatan, Munafri Arifuddin menyampaikan rasa syukur atas penerimaan tersebut. Ia mengungkapkan terima kasih kepada Partai Demokrat, khususnya jajaran pengurus dan kader di Sulawesi Selatan, yang telah menyambut kehadirannya. Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk penghargaan terhadap proses penerimaan dirinya di lingkungan partai.

Munafri menilai bergabungnya dirinya dengan Partai Demokrat menjadi awal dari tahapan baru. Karena itu, ia menyampaikan perlunya mengenal lebih dekat rekan-rekan sesama kader Demokrat. Menurutnya, proses berkenalan tersebut penting agar komunikasi dan hubungan antarkader dapat terjalin dengan baik. Ia ingin membangun kedekatan secara bertahap dengan para pengurus serta anggota partai di Sulawesi Selatan.

Dalam penyampaiannya, Munafri kembali menekankan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan Partai Demokrat. Ia menghargai sambutan yang diterimanya setelah dinyatakan sebagai kader partai. Ucapan tersebut juga menjadi penegasan bahwa dirinya siap mengikuti proses sebagai bagian dari keluarga besar Demokrat, termasuk mengenal struktur dan rekan-rekan yang berada di dalamnya.

Munafri menyampaikan bahwa dirinya perlu terlebih dahulu berkenalan dengan banyak pihak di Partai Demokrat. Langkah itu dipandang sebagai bagian dari proses awal setelah penerimaan dirinya sebagai kader. Dengan demikian, fokus pernyataannya berada pada rasa syukur, apresiasi terhadap Partai Demokrat di Sulawesi Selatan, serta kebutuhan untuk membangun hubungan dengan rekan-rekan baru di partai tersebut.

Penerimaan Munafri sebagai kader Demokrat menandai kehadirannya dalam lingkungan politik baru setelah meninggalkan Golkar. Namun, dalam pernyataan tersebut, ia tidak menyampaikan alasan lain di balik kepindahannya. Ia hanya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih, sekaligus menegaskan pentingnya menjalin perkenalan dengan rekan-rekan di Partai Demokrat Sulawesi Selatan.

Munafri Arifuddin memandang kerja sama internal sebagai salah satu fondasi penting dalam menjalankan kehidupan dan tanggung jawab kepartaian. Setelah resmi bergabung dengan Partai Demokrat, ia menilai upaya membesarkan partai tidak mungkin dilakukan oleh satu orang saja. Setiap kader memiliki peran, pengalaman, serta kemampuan yang dapat saling melengkapi apabila diarahkan melalui kolaborasi yang baik.

Menurut Munafri, kekuatan partai tidak hanya ditentukan oleh figur tertentu, tetapi juga oleh kesediaan seluruh kader untuk bekerja bersama. Komunikasi, keterbukaan, dan rasa saling menghargai diperlukan agar perbedaan pandangan dapat dikelola secara konstruktif. Dengan kerja kolektif, berbagai tanggung jawab internal dapat dijalankan secara lebih terarah, sekaligus menciptakan suasana yang mendukung bagi setiap anggota untuk memberikan kontribusi.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas penerimaan Partai Demokrat terhadap dirinya. Sikap terbuka tersebut dinilai menjadi modal penting untuk membangun hubungan kerja yang baik dengan jajaran partai dan para kader. Bagi Munafri, bergabung dengan sebuah partai bukan semata-mata mengenai perpindahan posisi, melainkan juga tentang kesediaan untuk menjadi bagian dari proses bersama dan mengambil tanggung jawab yang menyertainya.

Munafri menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan secara bersama-sama untuk memperkuat serta membesarkan Partai Demokrat. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga kekompakan dan membangun kolaborasi antarkader. Setiap langkah, menurutnya, akan lebih berarti apabila lahir dari kerja bersama, bukan dari usaha perseorangan. Semangat tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi hubungan internal yang solid, sehingga seluruh kader mampu bergerak dalam suasana saling mendukung dan memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan partai.

Sebelum bergabung dengan Partai Demokrat, Munafri Arifuddin lebih dahulu dikenal sebagai kader Partai Golkar. Kiprahnya di partai tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan politiknya di Makassar. Nama Munafri semakin sering muncul dalam dinamika politik daerah karena ia tidak hanya aktif dalam kegiatan kepartaian, tetapi juga memiliki perhatian besar terhadap pemerintahan dan pembangunan Kota Makassar. Latar belakangnya di Golkar membuat perpindahan ke Demokrat menjadi perhatian publik, terutama karena dilakukan ketika ia telah memegang posisi penting di tingkat daerah.

Perpindahan tersebut juga mendapat sorotan karena Munafri sedang menjabat sebagai Wali Kota Makassar. Sebagai kepala daerah, setiap langkah politiknya dipandang berkaitan dengan perkembangan pemerintahan serta hubungan antarpartai di wilayah tersebut. Namun, konteks bergabungnya Munafri dengan Demokrat perlu ditempatkan dalam rekam perjalanan politiknya secara utuh, termasuk keterlibatannya dalam kontestasi Pilkada Makassar 2024. Pada pemilihan tersebut, ia tampil sebagai salah satu pasangan calon yang bersaing untuk memimpin Kota Makassar.

Dalam Pilkada Makassar 2024, Munafri maju berpasangan dengan Aliyah Mustika Ilham. Pasangan tersebut kemudian terpilih dan mengantarkan Munafri menduduki jabatan Wali Kota Makassar. Aliyah Mustika Ilham menjalankan peran sebagai wakil wali kota dalam pemerintahan hasil pemilihan tersebut. Dengan demikian, posisi Munafri di pemerintahan daerah terbentuk melalui proses elektoral yang melibatkan dukungan pasangan dan partai politik. Rekam jejaknya sebagai kader Golkar, pencalonannya dalam Pilkada Makassar 2024, serta perpindahannya ke Demokrat menjadi rangkaian peristiwa yang menyertai perjalanan politiknya sebagai Wali Kota Makassar.