MUI Serukan Penghentian Undangan kepada Penceramah Usai Video Kontroversial Viral

oleh -81 Dilihat
oleh
MUI Serukan Penghentian Undangan kepada Penceramah Usai Video Kontroversial Viral

Jakarta | Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan umat Islam agar tidak lagi mengundang Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf untuk mengisi ceramah. Seruan tersebut disampaikan setelah potongan video ceramah yang dinilai merendahkan perempuan beredar luas di media sosial dan menuai perhatian publik. MUI menilai materi dalam rekaman itu perlu menjadi perhatian, terutama karena disampaikan oleh seorang penceramah di hadapan masyarakat. Peristiwa ini kembali mendorong pembahasan mengenai tanggung jawab pemuka agama dalam menjaga tutur kata dan menyampaikan dakwah secara bijaksana.

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menilai materi dalam video tersebut tidak mencerminkan etika maupun keteladanan yang semestinya ditunjukkan oleh seorang pemuka agama. Menurutnya, penyampaian ceramah seharusnya menjaga kehormatan setiap orang, termasuk perempuan, serta membawa pesan yang mendidik. Materi yang dianggap merendahkan perempuan, kata Cholil, berpotensi menimbulkan dampak lebih luas daripada kontroversi sesaat di media sosial. Ia mengingatkan bahwa perilaku dan ucapan penceramah dapat memengaruhi pandangan masyarakat terhadap ajaran yang disampaikan.

Cholil juga menilai materi semacam itu berpotensi merusak citra dakwah Islam dan moral masyarakat. Karena itu, ia meminta masyarakat untuk tidak mengundang maupun mengikuti majelis yang dipimpin penceramah tersebut. Pernyataan itu disampaikan melalui akun X pribadinya, sebagaimana dikutip dalam keterangan sumber pada Selasa, 20 Oktober 2026. Seruan tersebut menjadi respons MUI terhadap beredarnya cuplikan video, sekaligus menggarisbawahi pentingnya menjaga adab dalam berdakwah. Sikap ini ditujukan agar kegiatan keagamaan tetap menyampaikan nilai-nilai Islam dengan cara yang santun, bertanggung jawab, serta menghormati martabat manusia.

Menanggapi isi ceramah yang menjadi polemik, Cholil Nafis menegaskan bahwa kedudukan sosial maupun latar belakang seorang penceramah tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan materi yang disampaikan. Menurutnya, siapa pun yang berdiri di hadapan jamaah tetap berkewajiban menjaga kesantunan dan mempertimbangkan dampak perkataannya. Pengaruh, popularitas, pengalaman, ataupun identitas pribadi tidak menghapus tanggung jawab tersebut. Dalam penyampaian ajaran agama, tutur kata perlu dijaga agar tidak merendahkan orang lain atau melampaui batas kepatutan.

Cholil menilai materi yang terdengar dalam rekaman kontroversial itu tidak layak disampaikan oleh seorang penceramah. Penilaian tersebut merujuk pada isi ucapan yang dipersoalkan, bukan pada status atau identitas orang yang menyampaikannya. Ia juga memperingatkan bahwa ceramah semacam itu dapat merusak agama sekaligus manusia. Pernyataan ini menekankan besarnya tanggung jawab pendakwah: pesan keagamaan semestinya disampaikan dengan cara yang menjaga martabat, bukan memicu kerusakan atau melukai pihak lain. Karena itu, kesantunan bukan sekadar pilihan gaya, melainkan bagian penting dari tanggung jawab berbicara di ruang publik.

Penegasan itu perlu dipahami sebagai respons Cholil terhadap materi ceramah yang beredar dan menjadi perbincangan. Pernyataannya tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh konteks acara, rangkaian pembicaraan sebelum atau sesudah bagian yang terekam, maupun keadaan saat rekaman dibuat. Dengan demikian, penilaian atas ucapan yang dipermasalahkan tidak sepatutnya diperluas menjadi kesimpulan menyeluruh mengenai keseluruhan acara tanpa informasi tambahan. Pokok yang disampaikan Cholil adalah bahwa latar belakang penceramah tidak membenarkan materi yang dinilainya tidak santun dan tidak layak diucapkan. Sikap kritis terhadap isi ceramah dapat disampaikan sambil tetap membedakan respons atas potongan atau materi tertentu dan pemahaman lengkap atas peristiwa yang melingkupinya.

Dalam potongan rekaman ceramah yang beredar di media sosial, sosok yang diidentifikasi warganet sebagai Habib Alwi terlebih dahulu membicarakan tarif untuk tampil. Ia menyebut bahwa bayaran paling rendah yang dimintanya adalah Rp75 juta. Pernyataan tersebut menjadi bagian awal rekaman yang kemudian ramai dibagikan dan diperbincangkan. Identitas sosok dalam video itu merujuk pada pengenalan oleh warganet; karena itu, keterangan mengenai siapa yang berbicara perlu disampaikan dengan atribusi tersebut, bukan sebagai identifikasi yang telah dipastikan secara independen.

Setelah membahas tarif, sosok tersebut meminta agar santriwati perempuan dihadirkan. Dalam rekaman, ia menjelaskan permintaan itu dengan mengatakan bahwa dirinya ingin memilih calon istri keempat. Ia juga menyebut sudah merasa jenuh dengan santri laki-laki. Urutan pernyataan itu membuat bagian video tersebut mendapat perhatian luas, terutama karena pembicaraan mengenai santriwati dikaitkan dengan keinginan pribadi untuk mencari pasangan. Potongan yang beredar memperlihatkan ucapan tersebut sebagai bagian dari ceramah, tetapi tidak dengan sendirinya memberi gambaran lengkap mengenai konteks acara atau keseluruhan materi yang disampaikan.

Rekaman itu kemudian memuat candaan mengenai jemaah perempuan yang berusia di atas 60 tahun. Sosok tersebut membandingkan mereka dengan perempuan muda, dengan nada yang terdengar meremehkan kelompok usia yang lebih tua. Sejumlah jemaah terdengar tertawa ketika candaan itu disampaikan. Meski respons tersebut terekam, suara tawa tidak menghapus dampak komentar maupun kritik yang muncul setelah video menyebar. Pernyataan tentang santriwati dan candaan mengenai jemaah lanjut usia dinilai oleh banyak pihak merendahkan perempuan serta tidak pantas disampaikan dari mimbar. Kontroversi pun berkembang dari isi ucapan, cara perempuan digambarkan, dan rekaman respons audiens. Dalam melaporkan polemik ini, penting membedakan bagian ucapan yang terdengar dalam video, reaksi yang terekam, dan penilaian publik terhadapnya. Pembedaan itu membantu pembaca memahami rangkaian kejadian tanpa menganggap potongan singkat tersebut mewakili seluruh ceramah atau memastikan konteks yang belum tersedia.

Cuplikan video yang beredar luas di media sosial memicu pertanyaan warganet mengenai kepantasan materi tersebut disampaikan dalam sebuah forum keagamaan. Perhatian publik terutama tertuju pada bagian ceramah yang menyinggung santriwati dan jemaah perempuan lanjut usia. Bagi sejumlah pengguna media sosial, pilihan bahan dan cara penyampaiannya perlu dipertimbangkan secara cermat, terlebih ketika disampaikan di hadapan jemaah yang datang untuk mengikuti kegiatan keagamaan.

Perdebatan tidak hanya berpusat pada isi ucapan, tetapi juga pada suasana yang tampak dalam rekaman. Salah satu akun mempertanyakan sikap sebagian jemaah yang terlihat tertawa saat materi itu disampaikan. Pertanyaan tersebut menggambarkan kegelisahan mengenai bagaimana candaan dalam ceramah dapat diterima oleh audiens, khususnya apabila sasaran atau konteksnya berkaitan dengan kelompok perempuan. Respons itu juga mendorong diskusi tentang batas humor dalam ruang keagamaan.

Akun lain menyayangkan ceramah yang dinilainya merendahkan perempuan. Menurut pandangan tersebut, penggunaan materi yang berpotensi menjadikan perempuan sebagai bahan olok-olok tidak semestinya dianggap wajar hanya karena disampaikan dalam bentuk candaan. Namun, komentar warganet merupakan tanggapan terhadap potongan video yang beredar dan tidak dengan sendirinya memastikan maksud pembicara ataupun keseluruhan rangkaian acara. Penilaian atas isi ceramah juga perlu membedakan kritik terhadap materi yang tampak dan kesimpulan mengenai kejadian secara utuh.

Perbedaan tanggapan ini menunjukkan bahwa cuplikan tersebut telah berkembang menjadi perbincangan publik tentang etika komunikasi penceramah, sensitivitas terhadap jemaah, dan tanggung jawab menyebarkan rekaman. Potongan video dapat memberi gambaran mengenai bagian tertentu, tetapi mungkin tidak memuat pengantar, susunan acara, maupun penjelasan setelahnya. Karena itu, konteks yang belum tersedia penting diperiksa sebelum membuat kesimpulan yang lebih luas atau mengaitkannya dengan pihak tertentu.

Identitas penceramah dalam video disebut oleh warganet sebagai Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf. Meski demikian, penyebutan tersebut belum menggantikan konfirmasi langsung, dan konteks lengkap rekaman masih perlu diverifikasi melalui sumber yang dapat memastikan waktu, tempat, serta keseluruhan isi acara. Sampai informasi itu diperoleh, tanggapan terhadap video sebaiknya disampaikan secara proporsional dengan membedakan fakta yang terlihat, klaim yang beredar, dan hal-hal yang belum terkonfirmasi.