Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa ekosistem kreatif memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Jakarta. Pernyataan tersebut menempatkan kegiatan kreatif sebagai bagian penting dalam pembahasan mengenai arah pembangunan ibu kota. Di tengah upaya Jakarta menatap masa depan, keberadaan ekosistem ini menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian. Pramono menyoroti bahwa potensi kreatif Jakarta perlu didukung melalui penyelenggaraan acara yang menarik serta pembiayaan kreatif, tanpa mengesampingkan peran ekosistem tersebut bagi perekonomian kota.
Pernyataan itu disampaikan dalam acara Kearney 100 Years of Impact yang mengangkat tema “Jakarta Towards 500: Shaping the Next Global City Together”. Acara tersebut berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, Pramono berbicara mengenai kontribusi ekosistem kreatif sekaligus mendorong penyelenggaraan acara yang lebih menarik di Jakarta. Konteks acara tersebut mempertemukan pembahasan tentang masa depan kota dengan perhatian pada kekuatan ekonomi yang telah dimiliki Jakarta, termasuk kegiatan kreatif yang berkembang di dalam ekosistemnya.
Dorongan untuk menghadirkan acara yang lebih menarik menunjukkan perhatian pada kualitas penyelenggaraan kegiatan di ibu kota. Acara yang dirancang agar menarik dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem kreatif Jakarta. Dalam pandangan yang disampaikan Pramono, penyelenggaraan acara dan kontribusi ekonomi kreatif saling terkait sebagai unsur yang patut diperhatikan. Ia mendorong agar Jakarta terus menghadirkan kegiatan yang mampu menarik perhatian, seraya menegaskan arti penting ekosistem kreatif bagi perekonomian kota.
Selain mendorong acara yang lebih menarik, Pramono juga menekankan perlunya menyiapkan pembiayaan kreatif. Pernyataan ini menempatkan pembiayaan sebagai salah satu aspek yang perlu diperhatikan ketika Jakarta mengembangkan kegiatan kreatif. Ia tidak memaparkan rincian skema atau kebijakan pembiayaan dalam konteks pernyataan tersebut. Pesan yang disampaikan berfokus pada dua hal: membuat acara di Jakarta semakin menarik dan menyiapkan pembiayaan kreatif. Keduanya menjadi bagian dari perhatian terhadap ekosistem yang, menurut Pramono, memberi kontribusi besar bagi perekonomian ibu kota.
Pramono menyebut sejumlah angka yang menggambarkan besarnya aktivitas ekonomi di sekitar konser dan acara berskala besar di Jakarta. Konser Kanye West pada pekan sebelumnya, menurut keterangannya, mencapai kontribusi ekonomi sebesar Rp450 miliar. Sementara itu, konser The Weeknd disebut memberikan kontribusi Rp250 miliar. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pertunjukan musik dapat menarik pengunjung serta mendorong belanja di berbagai sektor, mulai dari akomodasi dan transportasi hingga makanan, minuman, dan jasa pendukung acara.
Pramono juga menyampaikan kontribusi Jakarta Running Festival sebesar Rp175 miliar. Untuk acara lain dengan skala dan karakter berbeda, ia menyebut Jakarta Fair mencapai Rp8,2 triliun, sedangkan Jakarta Great Sale mencapai Rp26,8 triliun. Nilai-nilai tersebut merupakan angka yang dikemukakan dalam sumber, bukan hasil perbandingan yang dapat langsung disetarakan. Rincian mengenai cakupan, periode penghitungan, atau metode yang digunakan untuk memperoleh setiap angka tidak tersedia, sehingga perbedaan nilai sebaiknya dipahami sebatas keterangan yang disampaikan, bukan ukuran dengan dasar pengukuran yang dipastikan sama.
Selain nilai kontribusi, Pramono menyoroti dampak kunjungan terhadap aktivitas kota. Konser Kanye West, menurutnya, dihadiri sekitar 30 ribu orang asing dan membuat hotel-hotel penuh. Kehadiran pengunjung dari luar negeri berpotensi mengalirkan belanja ke sektor perhotelan dan usaha lain yang melayani wisatawan, meskipun sumber tidak merinci nilai belanja ataupun lama tinggal mereka. Ia juga menggambarkan suasana kawasan Blok M yang terasa seperti Seminyak. Pernyataan tersebut menekankan perubahan keramaian dan atmosfer kawasan saat acara berlangsung, bukan perbandingan formal kedua lokasi. Secara keseluruhan, angka dan contoh yang disampaikan memperlihatkan beragam jenis kegiatan yang disebut turut menggerakkan ekonomi Jakarta, dari konser internasional sampai festival, pameran, dan program belanja. Namun, tanpa keterangan metodologi lebih lanjut, angka-angka itu perlu disajikan sebagai klaim kontribusi masing-masing acara, dengan skala serta dasar perhitungan yang belum dapat dipastikan seragam.
Dalam agenda yang disampaikan Pramono, sejumlah konser dan acara musik direncanakan berlangsung dalam waktu berdekatan. Guns N’ Roses disebut akan tampil pada bulan berikutnya, disusul acara hip-hop pada periode yang sama. Sementara itu, Westlife direncanakan menggelar konser pada Januari. Rangkaian tersebut masih berupa agenda yang akan datang, sehingga dampak ekonominya belum dapat diperlakukan sebagai hasil yang sudah tercatat. Namun, jadwal itu memperlihatkan upaya menghadirkan beragam acara untuk menarik penonton dan menggerakkan kegiatan ekonomi kreatif di Jakarta.
Pramono juga memperkirakan kedatangan BTS pada akhir tahun, dengan rangkaian acara selama tiga hari, dapat memberikan kontribusi yang lebih besar. Perkiraan itu mengacu pada skala acara dan potensi jumlah pengunjung, tetapi sumber informasi tidak mencantumkan angka khusus mengenai nilai kontribusi ekonomi yang mungkin dihasilkan. Karena itu, besaran dampaknya belum dapat dipastikan. Penyelenggaraan tersebut tetap perlu dipahami sebagai rencana atau proyeksi, bukan acara yang telah terlaksana. Kehadiran penampil internasional dapat membuka peluang bagi berbagai pelaku, mulai dari penyelenggara dan pekerja acara hingga usaha di sekitar lokasi, meskipun manfaat akhirnya bergantung pada pelaksanaan dan jumlah pengunjung.
Menurut Pramono, acara-acara semacam ini akan diperbanyak sebagai “epicentrum event”. Pernyataan tersebut menggambarkan rencana untuk menjadikan kegiatan hiburan sebagai pusat aktivitas yang dapat menarik perhatian publik serta mendorong perputaran ekonomi. Jika agenda berjalan sesuai rencana, konser dan festival berpotensi memberi ruang bagi sektor kreatif, jasa, perdagangan, transportasi, dan usaha lokal untuk terlibat. Akan tetapi, pengaruhnya baru dapat dinilai setelah acara berlangsung dan data terkait tersedia. Untuk saat ini, jadwal Guns N’ Roses, acara hip-hop, Westlife, serta perkiraan konser BTS menjadi gambaran arah kebijakan yang disampaikan, bukan bukti bahwa dampak tertentu telah terealisasi. Penilaian yang lebih terukur memerlukan informasi lanjutan tentang penyelenggaraan, pengeluaran pengunjung, dan manfaat yang diterima para pelaku usaha. Dengan demikian, agenda tersebut menunjukkan potensi, sementara hasil ekonominya masih menunggu realisasi dan pengukuran.
Pramono meminta jajaran pemerintah kota untuk mengembangkan serta mengelola acara kreatif secara profesional, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasi. Menurutnya, konser, festival, dan kegiatan publik lainnya bukan sekadar hiburan, tetapi juga berpeluang menggerakkan ekonomi kreatif Jakarta. Karena itu, setiap acara perlu disiapkan dengan tata kelola yang baik, koordinasi lintas instansi, serta perhatian terhadap kebutuhan warga dan pelaku usaha. Ia meyakini kontribusi acara kreatif terhadap pendapatan daerah pada tahun depan dapat melampaui capaian tahun ini. Optimisme tersebut, katanya, perlu ditopang program yang terukur dan dukungan berbagai insentif agar kegiatan berlangsung menarik, tertib, dan memberi manfaat ekonomi lebih luas.
Salah satu dukungan yang disebutkan adalah subsidi bagi hotel-hotel di Jakarta agar mereka dapat menawarkan harga diskon kepada masyarakat. Langkah ini diharapkan membuat kunjungan ke ibu kota lebih menarik, terutama ketika konser atau festival berlangsung, sekaligus mendorong minat warga untuk menghadiri acara. Kebijakan harga yang lebih terjangkau juga berpotensi membantu meningkatkan aktivitas sektor perhotelan dan usaha terkait. Namun, pelaksanaannya tetap perlu dikelola secara profesional, dengan informasi yang jelas mengenai bentuk insentif dan pihak yang dapat memanfaatkannya. Pemerintah kota, penyelenggara, hotel, serta mitra lain perlu bekerja bersama supaya dukungan tersebut selaras dengan kebutuhan acara dan dapat dirasakan oleh masyarakat.
Pramono juga menyinggung upaya menjaga kelancaran acara luar ruang, termasuk kegiatan lari. Ia menyatakan bahwa operasi modifikasi cuaca dilakukan berulang kali demi mendukung kondisi cuaca yang baik saat acara berlangsung.
Baca juga: Panglima TNI Tinjau Festival Band Piala Panglima TNI Tahun 2026 | Nada Kreativitas Generasi Muda Menggema di Festival Band HUT ke-81 TNI | Menerima Kunjungan Persahatan Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Ekonomi Indonesia dan Maroko
