Jakarta | Kolaborasi Sejauh Mata Memandang dengan film Laut Bercerita mempertemukan dunia mode dengan kisah yang dikenal melalui karya sastra dan layar lebar. Film produksi Pal 8 Pictures tersebut diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori, yang membawa narasi tentang pengalaman manusia, ingatan, dan peristiwa sosial. Melalui koleksi spesial ini, jenama tersebut berupaya menerjemahkan unsur cerita ke dalam busana dan aksesori yang dapat digunakan sehari-hari. Koleksi itu sekaligus menghadirkan cara lain untuk berinteraksi dengan kisah Laut Bercerita, di luar membaca novelnya atau menyaksikan filmnya.
Rangkaian produk yang dihadirkan mencakup kaus, tote bag berbahan kanvas, serta bandana. Pilihan barang tersebut memberi ruang bagi elemen dari film untuk hadir dalam bentuk yang beragam, mulai dari pakaian hingga aksesori praktis. Unsur naratif dan visual yang berkaitan dengan Laut Bercerita menjadi landasan koleksi, sehingga produk tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan, tetapi juga membawa rujukan pada kisah yang menginspirasinya. Kaus dapat dikenakan sebagai bagian dari gaya sehari-hari, sementara tote bag dan bandana menawarkan pilihan aksesori yang mudah digunakan dalam beragam kesempatan. Dengan demikian, koleksi ini memperluas kehadiran cerita ke dalam kehidupan sehari-hari.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bagaimana sebuah karya film dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan koleksi fashion, dengan tetap menghubungkan produk pada narasi asalnya. Bagi penonton dan pembaca, koleksi spesial ini dapat menjadi bentuk apresiasi terhadap cerita sekaligus cara untuk mengenakan atau menggunakan elemen yang terinspirasi darinya. Kerja sama ini juga berada dalam rangkaian kolaborasi Sejauh Mata Memandang dengan pelaku kreatif lain; pada tahun sebelumnya, jenama tersebut pernah bekerja sama dengan Tulus. Karena itu, koleksi Laut Bercerita bukan kolaborasi pertama Sejauh Mata Memandang, melainkan salah satu upaya untuk mempertemukan kreativitas mode dengan karya budaya populer Indonesia.
Dua desain kaus menjadi pilihan utama dalam koleksi yang terinspirasi dari Laut Bercerita. Kaus Laut Bercerita D1 menampilkan tulisan judul film sebagai elemen visual utama. Detail sulam benang merah memberi aksen pada desain tersebut, sekaligus menghadirkan sentuhan yang terlihat jelas tanpa membuat tampilan kaus terasa berlebihan. Pilihan ini cocok bagi pembaca atau penonton yang ingin membawa judul kisah tersebut ke dalam gaya sehari-hari melalui pakaian yang sederhana.
Sementara itu, kaus Laut Bercerita D2 menampilkan kutipan puisi dari novel, “matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali.” Kalimat tersebut menjadi pusat perhatian pada desain dan membawa nuansa sastra yang kuat. Kehadiran kutipan ini membedakan D2 dari kaus D1 yang mengandalkan judul film dan aksen sulaman. Keduanya menawarkan pendekatan visual berbeda, sehingga pembeli dapat memilih desain yang paling sesuai dengan ketertarikan mereka terhadap cerita maupun unsur estetikanya.
Kedua kaus dibuat dari 100 persen katun dan tersedia dalam pilihan warna putih serta hitam. Bahan katun memberikan pilihan yang mudah dipadukan untuk penggunaan sehari-hari, sedangkan pilihan warna netral membuat detail desain tetap menonjol. Harga masing-masing kaus adalah Rp310 ribu. Dengan harga yang sama, calon pembeli dapat mempertimbangkan perbedaan desain dan memilih aksen sulam pada D1 atau kutipan puisi pada D2.
Koleksi ini juga mencakup tote bag berbahan kanvas yang tersedia dalam warna putih dan navy. Dengan harga Rp410 ribu, tas tersebut menjadi pilihan aksesori untuk membawa kebutuhan harian sekaligus melengkapi kaus dari koleksi yang sama. Perbedaan warna memberikan alternatif tampilan yang lebih terang maupun lebih gelap.
Produk lainnya adalah bandana berukuran 70 × 70 cm yang menggunakan bahan Tencel Lyocell. Motifnya dicetak secara digital dengan pewarna bersertifikat Standard 100 by OEKO-TEX. Bandana tersedia dalam warna putih dan hitam, dengan harga Rp410 ribu. Ragam produk, material, warna, serta harga tersebut memberi gambaran praktis bagi pengunjung yang ingin membandingkan pilihan sebelum membeli koleksi busana Sejauh Mata Memandang ini.
Salah satu unsur penting dalam koleksi Kisah Laut Bercerita dari Sejauh Mata Memandang adalah adanya komitmen untuk menyalurkan sebagian hasil penjualannya kepada Ikatan Kemanusiaan untuk Korban Penghilangan Paksa Indonesia (IKOHI). Dengan demikian, koleksi ini tidak hanya menghadirkan sebuah kisah melalui busana, tetapi juga menghubungkannya dengan dukungan bagi keluarga korban penghilangan paksa. Informasi tersebut memberi konteks kemanusiaan pada koleksi, tanpa mengubahnya menjadi klaim mengenai dampak atau hasil tertentu yang belum dijelaskan.
IKOHI merupakan organisasi yang mendampingi keluarga korban penghilangan paksa. Peran pendampingan ini menjadi keterangan utama yang dapat disampaikan mengenai organisasi tersebut dalam kaitannya dengan koleksi. Keluarga yang terdampak menjadi bagian dari perhatian melalui penyaluran sebagian hasil penjualan, sementara IKOHI disebut sebagai penerima dukungan tersebut. Keterangan ini membantu pembaca memahami hubungan koleksi dan isu yang diangkat, sekaligus menjaga penjelasan tetap berlandaskan informasi yang tersedia.
Belum ada rincian mengenai besaran bagian penjualan yang akan disalurkan ataupun mekanisme penyalurannya. Karena itu, jumlah donasi, waktu pemberian, dan tata cara pelaksanaan tidak dapat dipastikan dari keterangan yang ada. Begitu pula, tidak perlu menambahkan tujuan penggunaan dana atau bentuk bantuan lain di luar informasi tentang pendampingan keluarga korban oleh IKOHI. Yang dapat ditegaskan adalah bahwa sebagian hasil penjualan koleksi Kisah Laut Bercerita akan disalurkan kepada organisasi tersebut, yang mendampingi keluarga korban penghilangan paksa di Indonesia. Penjelasan terbatas ini menyampaikan komitmen yang diumumkan secara jelas, tanpa membuat asumsi tentang cakupan dukungan maupun hasil yang akan dicapai. Bagi pembaca, informasi ini menunjukkan adanya kaitan penjualan koleksi dan dukungan kepada keluarga korban melalui organisasi yang disebutkan.
Berlatar di Yogyakarta pada akhir 1990-an, Laut Bercerita mengikuti perjalanan Biru Laut, mahasiswa yang diperankan Reza Rahadian. Bersama rekan-rekannya, Laut memperjuangkan kebebasan berekspresi di tengah situasi sosial dan politik yang penuh tekanan. Aktivisme itu membawa mereka berhadapan dengan risiko yang kian besar. Ketika Laut dan sejumlah kawannya menghilang, kisah bergerak ke sisi keluarga serta sahabat yang ditinggalkan. Mereka berusaha mencari kabar dan memahami nasib orang-orang terkasih, sambil menghadapi ketidakpastian yang menyelimuti kehidupan sehari-hari. Dengan mengangkat kehilangan, keberanian, dan ikatan keluarga, film ini membawa pengalaman personal para tokohnya ke dalam konteks sejarah yang lebih luas.
Film Laut Bercerita menjalani pemutaran perdana dunia dalam kategori Main Competition di Busan International Film Festival pada 11 Oktober 2026. Setelah pemutaran tersebut, film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Jadwal itu membuka kesempatan bagi penonton dalam negeri untuk menyaksikan adaptasi layar lebar dari cerita yang telah dikenal melalui karya sastra. Penggarapannya melibatkan sutradara Yosep Anggi Noen dan Leila, yang bekerja membawa kisah tersebut ke medium film. Dian Sastrowardoyo juga kembali terlibat dalam proyek ini dengan memerankan Kasih Kinanti, yang dikenal sebagai Kinan. Kehadiran para penggarap dan pemain tersebut menjadi bagian penting dari proses membentuk interpretasi film atas tokoh serta dunia cerita yang sudah memiliki pembaca.
Mengadaptasi novel menjadi film menghadirkan tantangan tersendiri. Narasi sastra dapat menyampaikan pikiran, ingatan, dan perubahan perasaan melalui uraian panjang, sedangkan film perlu menerjemahkan unsur-unsur itu ke dalam gambar, suara, gestur, ruang, dan ritme adegan. Pilihan visual harus membantu penonton memahami perjalanan karakter tanpa menghilangkan lapisan makna yang dibangun dalam cerita asalnya.
