KH Syukron Ma’mun Wafat, Jejak Dakwah dan Pesantren Daarul Rahman

oleh -673 Dilihat
oleh
KH Syukron Ma’mun Wafat, Jejak Dakwah dan Pesantren Daarul Rahman

Jakarta | KH Syukron Ma’mun, ulama Indonesia yang mendirikan sekaligus mengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, meninggal dunia pada Minggu. Ia wafat setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Gangguan jantung yang dialaminya sejak pekan sebelumnya menjadi latar kondisi kesehatannya sebelum dirawat. Kabar tersebut menandai berpulangnya seorang tokoh agama yang selama ini dikenal melalui kiprah dakwah dan keterlibatannya dalam pendidikan pesantren. Informasi mengenai wafatnya KH Syukron Ma’mun menjadi perhatian karena perannya tidak hanya berkaitan dengan pendirian Daarul Rahman, tetapi juga dengan tanggung jawabnya sebagai pengasuh lembaga tersebut.

Dalam kabar yang tersedia, rangkaian peristiwa menjelang wafatnya disampaikan secara ringkas: gangguan jantung mulai dialami sejak pekan sebelumnya, kemudian ia menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah di Jakarta Selatan, dan akhirnya meninggal dunia pada Minggu. Tidak ada rincian lain mengenai kondisi medis ataupun waktu perawatan yang disebutkan dalam informasi ini. Karena itu, berita mengenai kepergiannya dapat disampaikan dengan berpegang pada keterangan tersebut, tanpa menambahkan dugaan tentang penyebab maupun keadaan yang tidak diketahui. Penyebutan tempat perawatan dan riwayat gangguan jantung memberi konteks atas kabar wafat, sementara keterangan tentang hari meninggalnya menjadi inti informasi yang disampaikan.

Kepergian KH Syukron Ma’mun sekaligus mengingatkan masyarakat pada jejaknya sebagai ulama dan pendiri Pondok Pesantren Daarul Rahman. Sebagai pengasuh, ia memiliki hubungan langsung dengan kehidupan pesantren yang didirikannya. Namun, kabar wafat ini tidak memuat uraian lebih lanjut mengenai kegiatan dakwah, perjalanan hidup, atau kelanjutan kepemimpinan lembaga tersebut. Oleh sebab itu, bagian yang dapat dipastikan adalah identitasnya sebagai ulama Indonesia, pendiri dan pengasuh Daarul Rahman, serta informasi bahwa ia meninggal setelah menjalani perawatan di Jakarta Selatan. Berita ini menjadi penanda penting bagi keluarga besar pesantren dan para pihak yang mengenal kiprahnya, sekaligus membuka ruang untuk mengenang kontribusinya melalui informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Setelah disalatkan, jenazah KH Syukron Ma’mun dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lokasi pemakaman itu berada di lingkungan pesantren yang menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah dan pendidikan yang melekat pada namanya. Dengan demikian, tempat peristirahatan terakhir beliau berdekatan dengan lembaga yang dikenal masyarakat melalui kiprahnya di bidang keagamaan dan pembinaan santri.

Pemakaman di lingkungan pesantren juga memberi konteks bagi banyak orang yang mengenal Syukron Ma’mun sebagai seorang ulama dan pengasuh pesantren. Namun, informasi mengenai pemakaman ini dapat disampaikan secara sederhana: setelah disalatkan, jenazahnya dimakamkan di kompleks Daarul Rahman di Jagakarsa. Keterangan tersebut menegaskan lokasi pemakaman tanpa perlu menambahkan uraian mengenai waktu maupun rincian prosesi yang tidak disebutkan.

Syukron Ma’mun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Keterangan tentang tempat dan tanggal kelahirannya melengkapi informasi mengenai pemakaman, sekaligus menunjukkan akar daerah dalam riwayat hidupnya. Sampang menjadi tempat kelahirannya, sementara kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jakarta Selatan menjadi lokasi pemakamannya. Kedua informasi ini merupakan bagian ringkas dari riwayat beliau yang dapat dicatat secara faktual.

Dalam mengenang sosoknya, masyarakat dapat menempatkan informasi tersebut berdampingan dengan perhatian terhadap jejak dakwah dan pesantren yang menjadi pokok pemberitaan. Uraian mengenai tempat pemakaman tidak perlu diperluas dengan dugaan atau detail yang belum terkonfirmasi. Yang dapat dipastikan dari keterangan ini ialah bahwa seusai disalatkan, jenazah Syukron Ma’mun dimakamkan di kompleks Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan beliau lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Informasi singkat tersebut membantu pembaca memahami keterkaitan asal kelahiran dan tempat pemakaman beliau, tanpa mengaburkan fakta utama.

Julukan Singa Mimbar melekat pada KH Syukron Ma’mun karena cara beliau menyampaikan dakwah dikenal berapi-api. Sebutan itu menggambarkan penampilan dan pembawaan ketika berbicara di hadapan jemaah: tegas, penuh semangat, dan mampu menyampaikan pesan agama dengan tekanan yang kuat. Mimbar menjadi ruang penting bagi kiprah dakwahnya, tempat ia menguraikan ajaran serta mengajak pendengar memperhatikan nilai-nilai yang disampaikan. Julukan tersebut bukan sekadar penanda gaya bicara, melainkan gambaran tentang kesungguhan yang tampak dalam penyampaian dakwahnya.

Di balik gaya yang lantang dan bersemangat itu, keterangan mengenai dirinya juga menyoroti keteguhan dalam memegang prinsip Ahlussunnah wal Jamaah. Prinsip tersebut menjadi landasan yang disebut dalam gambaran kiprah keagamaannya. Dengan demikian, karakter dakwah KH Syukron Ma’mun dapat dipahami melalui dua sisi yang saling berkaitan: cara penyampaian yang kuat dan pendirian yang teguh terhadap paham keagamaan yang diyakininya. Penyebutan ini menjelaskan alasan julukan Singa Mimbar digunakan, tanpa perlu mengaitkannya dengan klaim yang tidak tersedia dalam keterangan sumber.

Gaya berapi-api di mimbar tidak berarti bahwa setiap uraian tentang dakwahnya harus ditafsirkan melampaui informasi yang ada. Julukan itu lebih tepat dibaca sebagai penggambaran atas ketegasan dan semangat dalam berdakwah, sementara prinsip Ahlussunnah wal Jamaah menunjukkan pegangan yang ia pertahankan. Keduanya memberi konteks bagi pembaca untuk mengenali sosoknya dalam perjalanan dakwah. Dengan memahami julukan tersebut secara proporsional, kiprah KH Syukron Ma’mun dapat dikenang melalui ciri penyampaian dan keteguhan prinsip yang memang disebutkan, tanpa menambahkan kutipan, penilaian, atau klaim mengenai jangkauan pengaruh yang tidak didukung sumber.

Pondok Pesantren Daarul Rahman merupakan salah satu jejak penting dakwah KH Syukron Ma’mun. Pesantren ini dirintis dan didirikan oleh beliau bersama tiga rekannya, yakni KH Antung Ghozali BA, KH Masyhuri Baedlowi, dan KH Abdul Kadir Rahman. Kehadiran para pendiri tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk membangun lembaga pendidikan Islam yang memberi ruang bagi santri untuk mempelajari ilmu agama sekaligus menjalani pendidikan secara terarah.

Daarul Rahman berdiri di atas tanah wakaf seluas kurang lebih 7.800 meter persegi di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Tanah wakaf itu menjadi landasan bagi berkembangnya kegiatan pendidikan dan kehidupan pesantren. Sebagai lembaga swasta penuh, Daarul Rahman tidak terikat dengan organisasi maupun partai politik tertentu. Status tersebut menegaskan bahwa pesantren menjalankan kegiatan dan tata kelolanya sebagai lembaga pendidikan yang berdiri sendiri, dengan perhatian utama pada pembinaan santri dan penyelenggaraan pendidikan.

Dalam sistem pendidikan nasional, Kementerian Agama telah mengakui Daarul Rahman sebagai pesantren mu’adalah. Pengakuan ini berkaitan dengan penyetaraan hasil pendidikan pesantren terhadap jenjang pendidikan formal. Ijazah yang diterbitkan bagi santri pada tingkat tsanawiyah dan aliyah disetarakan, sehingga pendidikan yang ditempuh di pesantren memperoleh pengakuan sesuai ketentuan yang berlaku. Status mu’adalah juga menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat memiliki jalur pengakuan resmi tanpa harus kehilangan karakter pembelajaran keislamannya.

Perintisan Daarul Rahman memperlihatkan peran KH Syukron Ma’mun bukan hanya sebagai pendakwah, tetapi juga sebagai tokoh yang terlibat dalam membangun lembaga pendidikan. Bersama ketiga rekannya, ia ikut meletakkan dasar bagi pesantren yang tumbuh di atas tanah wakaf dan memiliki kedudukan tersendiri sebagai lembaga swasta. Perpaduan pendidikan agama, kemandirian kelembagaan, dan pengakuan mu’adalah membentuk bagian penting dari identitas Daarul Rahman. Jejak tersebut terus menghubungkan kiprah dakwah KH Syukron Ma’mun dengan pendidikan bagi generasi santri di Jakarta Selatan.