Kebocoran Data Pelanggan Fore Kopi Berdampak pada Hingga 5,7 Juta Akun

oleh -644 Dilihat
oleh
Kebocoran Data Pelanggan Fore Kopi Berdampak pada Hingga 5,7 Juta Akun

Jakarta | PT Fore Kopi Indonesia Tbk. mengonfirmasi adanya akses tanpa izin pada salah satu platform yang digunakan untuk mengelola data pelanggan. Berdasarkan investigasi awal perusahaan, insiden tersebut berdampak pada data hingga sekitar 5,7 juta akun. Informasi itu disampaikan perusahaan pada Rabu, 28 Oktober 2026. Konfirmasi ini menegaskan bahwa persoalan yang diketahui berkaitan dengan akses ke platform pengelolaan data, bukan keterangan mengenai keseluruhan sistem perusahaan. Angka 5,7 juta merupakan perkiraan jumlah akun yang dapat terdampak berdasarkan pemeriksaan awal, sehingga tidak serta-merta berarti seluruh akun tersebut telah mengalami penyalahgunaan. Hingga informasi yang disampaikan, perusahaan menyatakan bahwa proses investigasi masih menjadi dasar untuk memahami cakupan peristiwa lebih lanjut.

Dalam penjelasan yang tersedia, Fore menyebut adanya akses yang tidak memiliki izin, tetapi tidak menguraikan kapan akses pertama kali terjadi. Penyebab atau cara pihak tidak berwenang memperoleh akses juga belum disebutkan. Karena itu, waktu kejadian maupun celah yang mungkin dimanfaatkan tidak dapat dipastikan dari informasi tersebut. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan apakah akses berlangsung dalam periode tertentu, berasal dari serangan dengan metode khusus, atau berkaitan dengan tindakan pihak tertentu. Keterangan mengenai jumlah akun terdampak pun perlu dipahami sesuai batas informasi awal, bukan sebagai rincian final tentang data yang diakses atau digunakan. Pemisahan hal yang telah dikonfirmasi dan hal yang belum dijelaskan penting agar pemberitaan tidak menambahkan dugaan yang belum didukung pernyataan perusahaan.

Peristiwa ini menempatkan keamanan platform pengelola data pelanggan sebagai perhatian utama, terutama karena skala akun yang disebutkan mencapai jutaan. Namun, pengumuman awal tersebut belum memuat rincian mengenai jenis informasi pelanggan yang mungkin terdampak, apakah data telah disalin atau disebarluaskan, maupun langkah teknis yang telah diambil untuk menangani akses tanpa izin. Rincian itu tidak dapat diasumsikan tanpa keterangan resmi. Untuk saat ini, fakta yang dapat dicatat adalah konfirmasi Fore mengenai akses tidak sah pada salah satu platform pengelolaan data dan estimasi awal hingga sekitar 5,7 juta akun terdampak. Perkembangan berikutnya bergantung pada hasil pemeriksaan perusahaan serta informasi tambahan yang disampaikan setelah investigasi berjalan.

Jenis informasi yang mungkin terdampak dalam insiden kebocoran data pelanggan Fore Kopi tidak selalu sama untuk setiap orang. Perusahaan menyebutkan bahwa data yang berpotensi terakses dapat mencakup nama, alamat email, nomor telepon, tanggal lahir, jenis kelamin, serta alamat yang tercatat pada aplikasi Fore. Karena cakupan informasi dapat berbeda antar akun, daftar tersebut tidak berarti seluruh data itu pasti bocor atau terekspos untuk setiap pelanggan.

Informasi lain yang disebut berpotensi terdampak meliputi hashed PIN dan riwayat pembelian melalui aplikasi. Hashed PIN merupakan representasi PIN yang telah diproses menggunakan metode hashing, bukan PIN dalam bentuk teks biasa. Meski begitu, keberadaan informasi akun dan aktivitas transaksi tetap perlu dipahami sebagai bagian dari data yang mungkin terlibat. Pelanggan sebaiknya mengikuti pemberitahuan resmi perusahaan dan mempertimbangkan langkah kehati-hatian, terutama jika menggunakan PIN yang sama pada layanan lain.

Fore juga menjelaskan batasan mengenai jenis informasi yang dikumpulkan maupun terdampak. Menurut perusahaan, aplikasi Fore tidak meminta ataupun menyimpan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan foto Kartu Tanda Penduduk (KTP). Dengan demikian, kedua jenis data identitas tersebut bukan bagian dari informasi yang disimpan melalui aplikasi, berdasarkan keterangan perusahaan.

Selain itu, informasi pembayaran dinyatakan berada pada platform yang terpisah dari sistem aplikasi Fore. Detail kartu kredit dan kartu debit termasuk dalam informasi pembayaran yang disimpan melalui platform tersebut, dan perusahaan menyatakan bahwa data pembayaran itu tidak terdampak dalam insiden ini. Pemisahan sistem ini menjadi batas penting dalam memahami cakupan kejadian, tetapi tidak mengubah perlunya pelanggan mencermati komunikasi resmi serta menjaga keamanan akun. Secara keseluruhan, rincian yang mungkin terakses harus dibaca sebagai kategori data yang berpotensi terdampak, bukan sebagai kepastian bahwa setiap pelanggan kehilangan seluruh informasi yang disebutkan.

Setelah aktivitas tidak wajar teridentifikasi, Fore menyatakan segera mengambil langkah awal untuk membatasi dampak terhadap sistemnya. Perusahaan mengatakan akses tanpa izin telah dihentikan dan sistem terkait diamankan dalam waktu 24 jam sejak aktivitas tersebut diketahui. Respons cepat ini ditujukan untuk mencegah pihak yang tidak berwenang melanjutkan akses, sekaligus memberi ruang bagi tim teknis untuk menilai kondisi platform dan menentukan tindakan perbaikan yang diperlukan. Fore belum menyatakan bahwa seluruh proses penanganan telah selesai. Karena itu, langkah pengamanan awal tersebut menjadi bagian dari upaya yang masih berjalan, bukan penanda bahwa semua risiko telah dipastikan teratasi.

Setelah pembatasan akses dilakukan, perusahaan menyebut telah menjalankan pengujian keamanan untuk menemukan kerentanan yang mungkin dimanfaatkan. Kerentanan yang ditemukan ditangani, sementara platform diperbarui ke versi terbaru dan pengamanan tambahan diterapkan. Rangkaian tindakan ini dimaksudkan untuk memperkuat perlindungan sistem serta mengurangi kemungkinan terjadinya akses tidak sah serupa. Pembaruan dan pengujian juga menjadi bagian dari pemeriksaan teknis atas lingkungan digital yang digunakan. Namun, penjelasan mengenai langkah tersebut belum dengan sendirinya merinci cakupan setiap perubahan atau hasil uji secara lengkap. Penilaian yang lebih utuh bergantung pada pemeriksaan lanjutan dan temuan investigasi yang masih berlangsung.

Untuk memperoleh penilaian independen, Fore menunjuk konsultan keamanan siber profesional guna melakukan investigasi forensik. Pemeriksaan mencakup aplikasi, platform terkait, serta sistem teknologi informasi lain yang dinilai relevan. Investigasi masih berlangsung, sehingga penyebab, ruang lingkup, dan detail teknis kejadian belum sepenuhnya dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia. Perusahaan juga melaporkan kejadian tersebut kepada Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia dan menyatakan akan berkoordinasi dengan otoritas terkait. Koordinasi ini menjadi bagian dari penanganan insiden, sementara konsultan melanjutkan penelusuran bukti digital. Hasil pemeriksaan diharapkan membantu memperjelas bagaimana akses terjadi, sistem mana yang terdampak, serta langkah perlindungan yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan.

Pelanggan yang menerima pemberitahuan dari Fore diminta segera mengambil langkah pengamanan pada akun mereka. Perusahaan meminta pelanggan mengganti PIN akun Fore sesegera mungkin. Jika belum pernah membuat PIN, pelanggan perlu membuatnya melalui akun masing-masing. Langkah ini disarankan sebagai tindakan pencegahan, meskipun pelanggan belum melihat aktivitas yang mencurigakan pada akun.

Pelanggan juga dianjurkan mengganti PIN pada akun lain apabila menggunakan kombinasi yang sama. Menggunakan PIN berbeda untuk setiap layanan dapat membantu membatasi dampak jika salah satu kredensial diketahui pihak lain. Fore menyatakan telah menerapkan autentikasi dua faktor ketika pelanggan masuk ke akun melalui perangkat baru. Lapisan verifikasi tambahan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat perlindungan akses akun.

Menurut perusahaan, hingga saat ini belum ditemukan indikasi bahwa informasi yang diakses dalam insiden tersebut telah disalahgunakan. Namun, pelanggan tetap perlu berhati-hati terhadap telepon, SMS, email, maupun pesan WhatsApp yang mengatasnamakan Fore. Jangan memberikan PIN atau kode OTP kepada siapa pun, termasuk kepada pihak yang mengaku sebagai petugas perusahaan. Fore tidak meminta pelanggan membagikan informasi rahasia tersebut melalui kanal komunikasi seperti itu. Apabila menerima pesan yang meragukan, hindari membuka tautan atau memberikan data pribadi sebelum memastikan kebenarannya melalui saluran resmi.

Fore menyampaikan permintaan maaf kepada pelanggan atas kekhawatiran dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh insiden ini. CEO Fore, Vico Lomar, menyatakan bahwa fokus perusahaan adalah mendukung pelanggan yang terdampak, menuntaskan investigasi, serta memperkuat sistem dan tata kelola keamanan.

Baca juga: Investasi Rp50 Juta Iming-iming Untung Rp5 Juta dan Umrah, MCI Tuban Diadukan ke Polisi