Jakarta | Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti tekanan ekonomi yang kian dirasakan masyarakat kelas menengah, terutama kelompok yang berada pada desil empat hingga tujuh. Kadin menyebut pendapatan kelompok ini terus menurun, sementara mereka belum memperoleh bantuan sosial. Keadaan tersebut membuat sebagian keluarga menghadapi ruang gerak keuangan yang semakin terbatas. Ketika penghasilan melemah, kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjaga kestabilan ekonomi rumah tangga ikut tertekan.
Wakil Ketua Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin Indonesia, Aviliani, menyampaikan bahwa kelompok desil empat hingga tujuh itu mencakup sekitar 33 persen dari jumlah penduduk. Besarnya proporsi tersebut, menurutnya, menjadikan kondisi mereka perlu mendapat perhatian pemerintah. Persentase itu menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan hanya terjadi pada sebagian kecil rumah tangga, melainkan menyangkut kelompok masyarakat yang cukup luas. Penurunan pendapatan dapat meningkatkan kerentanan mereka, terlebih bila berlangsung dalam waktu lama dan tidak diimbangi dukungan yang memadai.
Kelompok ini menempati posisi yang berbeda dari penduduk berpenghasilan rendah maupun tinggi. Seperti dijelaskan Aviliani, masyarakat kelas menengah tersebut tidak menerima dukungan seperti kelompok berpenghasilan rendah, tetapi juga tidak menikmati keadaan ekonomi kelompok berpenghasilan tinggi. Akibatnya, mereka berisiko menghadapi tekanan tanpa memiliki bantalan perlindungan yang sama dengan rumah tangga miskin, sementara daya tahan finansialnya juga tidak setara dengan kelompok kaya. Situasi ini menempatkan desil empat hingga tujuh di dua kelompok dengan kondisi yang lebih jelas: bantuan sosial umumnya diarahkan kepada mereka yang berpenghasilan rendah, sedangkan kelompok berpenghasilan tinggi memiliki sumber daya lebih besar untuk menghadapi perubahan ekonomi. Karena itu, perhatian terhadap penurunan pendapatan kelas menengah menjadi penting dalam membaca kerentanan ekonomi masyarakat. Kadin menilai pemerintah perlu mencermati keadaan kelompok yang mencakup sepertiga penduduk ini, agar tekanan yang mereka alami tidak luput dari pertimbangan kebijakan. Perhatian tersebut relevan karena perubahan kondisi pendapatan dapat memengaruhi kemampuan rumah tangga mempertahankan taraf hidup serta memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan.
Aviliani menjelaskan bahwa besarnya konsumsi masyarakat tidak terbagi secara merata di seluruh kelompok ekonomi. Kelompok desil delapan hingga sepuluh, yang mencakup penduduk dengan kondisi ekonomi lebih atas, diperkirakan menyumbang sekitar 53 persen dari total belanja. Artinya, lebih dari separuh aktivitas konsumsi yang tercermin dalam angka tersebut berasal dari kelompok yang berada pada lapisan ekonomi atas, sementara kontribusi kelompok lainnya secara keseluruhan lebih kecil.
Perbedaan kontribusi ini penting untuk memahami mengapa pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen masih dapat terlihat stabil apabila ditinjau dari sisi konsumsi. Ketika kelompok atas memiliki porsi belanja yang besar, pengeluaran mereka dapat menopang angka konsumsi secara agregat. Dengan demikian, indikator konsumsi keseluruhan bisa menunjukkan daya tahan, meskipun pengalaman rumah tangga di berbagai lapisan tidak selalu sama. Angka yang tampak stabil tidak dengan sendirinya berarti setiap kelompok merasakan perubahan ekonomi dalam tingkat yang setara.
Dalam pandangan Aviliani, kondisi tersebut perlu dibaca bersama persoalan pemerataan manfaat pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen dapat menjaga konsumsi tetap tampak kuat, tetapi manfaat pertumbuhannya belum dirasakan secara merata. Karena kontribusi belanja terkonsentrasi pada desil delapan sampai sepuluh, gambaran agregat berisiko menyamarkan perbedaan kemampuan konsumsi antarkelompok. Sebagian masyarakat dapat terus berbelanja dalam porsi besar, sedangkan kelompok lain tidak memiliki kontribusi serupa. Oleh sebab itu, stabilitas yang terlihat dari angka konsumsi perlu dipahami sebagai gambaran umum, bukan ukuran bahwa kondisi ekonomi seluruh penduduk sama-sama membaik.
Penjelasan ini menempatkan komposisi konsumsi sebagai bagian penting dalam membaca pertumbuhan. Porsi sekitar 53 persen menunjukkan bahwa konsumsi kelompok ekonomi atas memiliki bobot besar dalam keseluruhan belanja. Pada saat yang sama, pertumbuhan yang berada di sekitar 5 persen tetap dapat berjalan beriringan dengan pengalaman yang berbeda di masyarakat. Keterangan tersebut disampaikan Aviliani dalam acara Katadata Outlook Ekonomi 2027 di Lounge Katadata Indonesia, Blok M Plaza, Jakarta, Selasa (20/10).
Menurut Aviliani, masyarakat berpenghasilan rendah yang berada pada desil satu hingga tiga masih memiliki akses terhadap sejumlah perlindungan dari pemerintah. Kelompok ini dapat terbantu melalui program bantuan sosial yang telah disediakan, lain bantuan langsung tunai (BLT) serta jaminan kesehatan melalui BPJS. Keberadaan bantuan tersebut penting untuk menjaga pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga dengan ruang keuangan terbatas. Dukungan itu juga berfungsi sebagai penyangga ketika tekanan harga atau perubahan ekonomi mengurangi kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, Aviliani menyoroti perbedaan keadaan kelompok berpenghasilan terbawah dan masyarakat kelas menengah.
Berbeda dari kelompok desil terbawah yang tercakup dalam sejumlah program perlindungan, kelas menengah dinilai menghadapi tekanan pendapatan tanpa dukungan yang sebanding. Sebagian rumah tangga di kelompok ini mungkin tidak memenuhi kriteria penerima bantuan, tetapi penghasilan mereka tetap tergerus oleh meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan rutin. Akibatnya, kemampuan untuk mempertahankan konsumsi, membayar kewajiban, dan menabung dapat semakin terbatas. Kerentanan tersebut menjadi perhatian karena kelas menengah memiliki peran penting dalam menopang kegiatan ekonomi melalui konsumsi. Jika pendapatannya melemah, dampaknya tidak hanya dirasakan pada tingkat rumah tangga, tetapi juga dapat tercermin pada permintaan barang dan jasa. Situasi ini membuat kebutuhan untuk memahami tekanan yang mereka alami semakin mendesak.
Aviliani mengkhawatirkan bahwa pelemahan daya beli dan tekanan ekonomi yang berlangsung dapat memperbesar keresahan di kalangan masyarakat kelas menengah. Ketika penghasilan tidak lagi cukup mengimbangi pengeluaran, rasa aman ekonomi dapat menurun, sementara akses pada bantuan pemerintah belum tentu tersedia. Ia mengingatkan bahwa kondisi semacam itu berpotensi memicu ketidakpuasan sosial. Dalam pernyataannya, Aviliani juga mengaitkan tekanan tersebut dengan kemungkinan munculnya demonstrasi dan gejolak apabila persoalan pendapatan serta daya beli tidak tertangani. Pandangan itu merupakan peringatan mengenai risiko sosial, bukan kepastian bahwa gejolak akan terjadi. Perbedaan perlindungan kelompok bawah dan kelas menengah, menurut kekhawatiran tersebut, perlu dicermati agar tekanan ekonomi tidak berkembang menjadi keresahan yang lebih luas.
Aviliani berpandangan bahwa menjaga daya beli masyarakat perlu menjadi perhatian pemerintah, terutama ketika biaya hidup meningkat dan tekanan pendapatan membuat sebagian penduduk kelas menengah rentan. Menurutnya, kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak dapat dilepaskan dari perkembangan harga maupun ketersediaan sumber penghasilan. Karena itu, upaya merespons tekanan ekonomi perlu memperhatikan keadaan yang dirasakan masyarakat, bukan hanya melihat pertumbuhan secara umum. Dalam pandangannya, dua hal yang penting bagi pemerintah adalah pengendalian inflasi dan penciptaan lapangan kerja. Kedua perhatian tersebut berkaitan: stabilitas harga membantu mengurangi tekanan pengeluaran, sementara pekerjaan memberi masyarakat peluang untuk memperoleh pendapatan. Penekanan ini merupakan pandangan Aviliani sebagaimana disampaikan dalam bahan sumber, bukan penambahan data atau kesimpulan independen.
Pengendalian inflasi, menurut Aviliani, diperlukan agar kenaikan biaya hidup tidak semakin melemahkan daya beli. Ketika pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari bertambah, pendapatan yang terbatas dapat membuat rumah tangga semakin sulit menjaga kemampuan belanjanya. Namun, menjaga daya beli tidak cukup hanya dengan memperhatikan harga. Aviliani juga menyoroti perlunya penciptaan pekerjaan, dengan perhatian pada mutu dan jenis kesempatan kerja yang tersedia. Pertumbuhan kesempatan kerja, menurut penekanannya, tidak seharusnya hanya berlangsung di sektor informal. Dengan demikian, pembahasan tentang lapangan kerja perlu mencermati apakah peluang yang berkembang memberi masyarakat pilihan pekerjaan yang lebih luas, bukan sekadar menghitung bertambahnya aktivitas mencari nafkah.
Baca juga: Ada kemungkinan Libra hanya sedang mengalami fase emosional yang membuat cara pandangnya terhadap hubungan menjadi berbeda | Kesibukan yang berlangsung tanpa jeda dapat membuat pikiran kehilangan kesempatan untuk beristirahat | Terlalu banyak mengambil tanggung jawab sekaligus justru dapat membuat fokus terpecah dan kualitas pekerjaan menurun
