Indonesia Dorong Penguatan Industri Kelapa dalam World Coconut Day 2026

oleh -282 Dilihat
oleh
Indonesia Dorong Penguatan Industri Kelapa dalam World Coconut Day 2026

MANADO, SULAWESI UTARA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memberikan sambutan dalam pembukaan World Coconut Day 2026 yang berlangsung di Courtyard by Marriott Manado, Sulawesi Utara, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kehadiran forum ini menegaskan pentingnya kelapa sebagai komoditas strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, penyediaan energi, serta keberlanjutan mata pencaharian masyarakat di berbagai negara.

World Coconut Day 2026 mengusung tema “Coconut in Times of Uncertainty: Securing Food, Energy, and Livelihoods” atau kelapa di tengah ketidakpastian untuk menjamin pangan, energi, dan penghidupan. Tema tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi dunia, mulai dari perubahan iklim, dinamika ekonomi, gangguan rantai pasok, hingga kebutuhan untuk membangun sistem pangan dan energi yang lebih tangguh. Dalam konteks itu, kelapa memiliki peran penting karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, bahan baku industri, sumber energi terbarukan, serta sumber pendapatan bagi jutaan petani.

Dalam sambutannya, Zulkifli Hasan menyambut para delegasi dari negara-negara anggota International Coconut Community (ICC) yang hadir dalam pertemuan tersebut. Ia menekankan bahwa forum internasional ini bukan sekadar momentum peringatan, melainkan ruang untuk memperkuat kolaborasi antarnegara dalam mengembangkan industri kelapa. Kerja sama diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, memperluas nilai tambah, memperkuat perdagangan, dan memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh petani serta pelaku usaha di sepanjang rantai pasok.

Melalui pertukaran pengalaman dan penyusunan langkah bersama, World Coconut Day 2026 diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata bagi pengembangan industri kelapa dunia. Indonesia juga mendorong agar potensi kelapa tidak berhenti pada penjualan komoditas mentah, tetapi dikembangkan melalui inovasi, pengolahan, dan pemanfaatan teknologi. Dengan pendekatan tersebut, industri kelapa diharapkan semakin mampu menghadapi ketidakpastian sekaligus mendukung ketahanan pangan, transisi energi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Zulkifli Hasan menilai kelapa sebagai komoditas yang sangat strategis bagi penguatan industri perkebunan Indonesia. Penilaian tersebut tidak hanya didasarkan pada peran kelapa sebagai hasil pertanian yang telah lama dikenal masyarakat, tetapi juga pada peluang pengembangan nilai tambah di berbagai tahapan pengolahan. Menurutnya, kelapa memiliki potensi ekonomi yang besar karena dapat dikembangkan menjadi beragam produk, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada penjualan hasil panen dalam bentuk bahan mentah.

Ia menyampaikan bahwa nilai ekonomi kelapa saat ini bahkan lebih tinggi dibandingkan sejumlah komoditas perkebunan lainnya. Perubahan penilaian terhadap kelapa tersebut menunjukkan bahwa komoditas ini semakin dipandang sebagai bagian penting dari industri bernilai tambah. Dengan pengelolaan yang lebih baik, kelapa dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas, baik bagi pelaku usaha maupun masyarakat yang terlibat dalam rantai perkebunan dan pengolahan.

Zulkifli juga mengungkapkan adanya pandangan serupa dari sejumlah penghasil sawit. Para pelaku dari daerah penghasil sawit tersebut menilai bahwa kelapa kini menawarkan keuntungan yang lebih besar. Bahkan, nilai kelapa disebut jauh lebih tinggi dibandingkan hasil perkebunan lain yang selama ini menjadi andalan. Pandangan ini memperlihatkan adanya perubahan perspektif di kalangan pelaku perkebunan mengenai posisi kelapa dalam perekonomian.

Penilaian tersebut sekaligus menegaskan perlunya melihat kelapa bukan sekadar komoditas tradisional, melainkan sebagai sumber pertumbuhan industri. Nilai strategisnya terletak pada peluang untuk memperkuat kegiatan pengolahan, memperluas manfaat ekonomi, dan meningkatkan daya saing produk berbasis kelapa. Karena itu, pengembangan industri kelapa perlu diarahkan pada penciptaan nilai tambah yang lebih besar, sehingga potensi ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh berbagai pihak.

Perkebunan kelapa dan pengembangan industri hilirnya mendapat perhatian khusus dari Presiden. Perhatian tersebut menunjukkan bahwa kelapa dipandang bukan hanya sebagai komoditas perkebunan, melainkan juga sebagai sektor yang memiliki peran penting dalam penguatan industri nasional. Pengelolaan dari hulu hingga hilir menjadi bagian yang dibicarakan karena pengembangan kelapa perlu melihat keterkaitan perkebunan, produksi, serta pengolahan hasilnya.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa topik hilirisasi kelapa telah berulang kali dibahas dalam rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden. Pembahasan berulang itu mencerminkan adanya perhatian pemerintah terhadap arah pengembangan komoditas kelapa dan penguatan nilai tambahnya. Meski demikian, keterangan tersebut tidak merinci bentuk program, sasaran, jadwal pelaksanaan, maupun kebijakan teknis yang akan ditempuh.

Dalam pengelolaan tugas, terdapat perubahan dari skema yang sebelumnya dikenal berada pada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di bawah kementerian yang membidangi urusan ekonomi. Tugas tersebut kemudian diarahkan untuk berada di bawah Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Status perubahan itu masih menunggu proses harmonisasi, sehingga pengaturan kewenangan dan pelaksanaannya belum dapat dipaparkan sebagai ketentuan yang telah final.

Zulkifli Hasan juga menyebut bahwa kelapa akan menjadi salah satu komoditas utama yang dikembangkan. Pernyataan ini menegaskan posisi kelapa dalam perhatian pemerintah, khususnya dalam kaitannya dengan perkebunan dan hilirisasi. Pengembangan tersebut tetap perlu dipahami sesuai informasi yang telah disampaikan, tanpa menarik kesimpulan mengenai target, tahapan, waktu pelaksanaan, atau instrumen kebijakan yang belum diumumkan. Dengan demikian, agenda kelapa masih berada dalam proses penguatan koordinasi dan harmonisasi antarkementerian.

Zulkifli Hasan menyampaikan apresiasi kepada International Coconut Community (ICC) atas penyelenggaraan perayaan World Coconut Day 2026. Penghargaan tersebut mencerminkan perhatian Indonesia terhadap forum internasional yang secara khusus mengangkat komoditas kelapa dan perannya bagi kehidupan masyarakat. Bagi Indonesia, kelapa bukan hanya tanaman perkebunan, melainkan bagian dari sumber penghidupan petani, bahan baku industri, serta komoditas yang memiliki nilai ekonomi dan sosial di berbagai daerah.

Apresiasi kepada ICC juga sejalan dengan penegasan Zulkifli Hasan bahwa sektor pertanian dan pangan telah dikukuhkan sebagai prioritas utama pembangunan nasional Indonesia. Penetapan tersebut menempatkan penguatan produksi, peningkatan nilai tambah, dan pengembangan industri berbasis sumber daya domestik sebagai bagian penting dalam agenda pembangunan. Dalam konteks itu, kelapa menjadi salah satu komoditas yang relevan untuk mendapat perhatian melalui kebijakan yang mendorong produktivitas, pengolahan, dan pemanfaatan hasil secara lebih optimal.

World Coconut Day 2026 pada akhirnya menjadi forum yang mempertemukan perhatian pemerintah Indonesia terhadap kelapa dengan agenda hilirisasi dan kerja sama antarnegara anggota ICC. Penyelenggaraan kegiatan ini menunjukkan pentingnya ruang dialog untuk membahas posisi kelapa dalam sektor pertanian dan pangan, sekaligus memperkuat komunikasi pemerintah, pelaku industri, serta negara-negara penghasil kelapa. Melalui forum tersebut, komitmen terhadap pengembangan industri kelapa ditempatkan dalam kerangka pembangunan nasional yang menegaskan pertanian dan pangan sebagai prioritas, dengan tetap menghargai peran ICC dalam mempertemukan kepentingan negara-negara anggotanya.