Dari Tanah Liat hingga Pembakaran, Industri Bata Merah Bertahan di Serang

oleh -71 Dilihat
oleh
Dari Tanah Liat hingga Pembakaran, Industri Bata Merah Bertahan di Serang

Serang | Pada Minggu, 25 Oktober 2026, sejumlah pekerja tampak mengolah tanah liat menjadi bata merah di Kampung Setu, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten. Prosesnya berlangsung melalui beberapa tahap, mulai dari menyiapkan bahan baku, mencetak adonan, mengeringkan bata, hingga membakarnya. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pembuatan bata merah masih dijalankan sebagai usaha yang memberi aktivitas produktif bagi sebagian warga setempat.

Di tengah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan waktu, bata merah yang telah siap dijual ditawarkan dengan harga sekitar Rp260 per buah. Nilai tersebut menjadi bagian dari perputaran ekonomi bagi warga yang terlibat dalam produksi dan penjualan. Usaha ini juga menunjukkan bagaimana keterampilan mengolah bahan yang tersedia dapat dipertahankan sebagai sumber penghasilan. Setiap tahap produksi memiliki peran, sementara hasil akhirnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan di lingkungan sekitar maupun wilayah lain.

Keberlangsungan usaha bata merah berlangsung ketika pilihan material bangunan semakin beragam. Bata ringan, yang sering disebut hebel, makin banyak digunakan dalam berbagai proyek karena karakter dan cara pemasangannya dianggap sesuai dengan kebutuhan pembangunan tertentu. Namun, perubahan pilihan tersebut tidak serta-merta menghapus permintaan terhadap bata merah. Material ini tetap menjadi salah satu unsur penting dalam pembangunan dan masih dipilih sesuai rancangan, kebutuhan, serta pertimbangan pemilik bangunan.

Bagi para pembuat di Kampung Setu, bertahannya bata merah berarti kegiatan produksi masih memiliki tempat di tengah perubahan industri konstruksi. Permintaan yang terus ada membantu menjaga usaha tetap berjalan, meskipun pelaku usaha perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar dan persaingan bahan bangunan. Dengan harga jual yang terjangkau dan penggunaan yang masih dikenal masyarakat, bata merah mempertahankan perannya dalam pembangunan sekaligus mendukung kegiatan ekonomi warga Serang. Aktivitas sederhana mengolah tanah liat itu pun menjadi gambaran usaha lokal yang terus bekerja di pilihan material lama dan baru.

Desa Setu dikenal sebagai salah satu sentra industri bata merah di wilayah Serang. Kegiatan pembuatan bata di kawasan ini telah berlangsung selama belasan tahun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Dari waktu ke waktu, usaha tersebut tetap berjalan dengan mengandalkan keterampilan para pembuat bata serta ketersediaan bahan baku di sekitar desa. Keberadaan industri ini terlihat dari banyaknya lio yang tersebar di kawasan produksi. Lio merupakan bangunan tradisional yang digunakan untuk mengolah dan membuat bata, sekaligus menjadi tempat menata tanah liat sebelum diproses lebih lanjut. Bentuk dan fungsi lio mencerminkan cara kerja yang telah dikenal para perajin secara turun-temurun.

Di sekitar lio, tumpukan bata merah dalam jumlah besar menjadi pemandangan yang mudah dijumpai. Bata-bata tersebut disusun setelah melalui tahapan pembentukan dan pengeringan, lalu menunggu proses berikutnya sesuai alur produksi. Deretan hasil produksi ini menunjukkan bahwa kegiatan pembuatan bata berlangsung secara aktif di Desa Setu. Setiap lio memiliki ruang untuk mendukung pekerjaan, mulai dari penempatan tanah liat hingga penanganan bata yang telah dicetak. Pola produksi yang bertumpu pada bangunan sederhana dan ruang terbuka membuat kegiatan industri tampak menyatu dengan lingkungan desa. Pada saat yang sama, banyaknya lio menegaskan peran Setu sebagai salah satu kawasan penghasil bata merah yang bertahan selama bertahun-tahun.

Bahan baku utama yang digunakan adalah tanah liat, yang diperoleh dari sekitar Desa Bulakan. Kedekatan sumber tanah liat membantu menopang keberlangsungan produksi di Setu, karena perajin dapat memanfaatkan bahan dari kawasan sekitar untuk membuat bata. Tanah tersebut kemudian ditempatkan dan diolah di lio sebelum dibentuk menjadi bahan bangunan. Hubungan sentra produksi dan sumber bahan bakunya memperlihatkan bagaimana industri lokal bergantung pada potensi wilayah sekitar. Selama tanah liat tersedia dan keterampilan produksi terus digunakan, kegiatan pembuatan bata merah dapat berlangsung dari satu periode ke periode berikutnya. Perpaduan lio, tumpukan bata, dan bahan baku setempat membentuk ciri khas sentra bata merah Desa Setu.

Produksi bata merah di Serang dimulai dari penyiapan tanah liat sebagai bahan utama. Tanah yang telah dikumpulkan dimasukkan ke mesin molen untuk digiling dan diaduk. Pada tahap ini, mesin membantu meratakan campuran sekaligus membuat tekstur tanah lebih lunak dan mudah diolah. Adonan yang masih terlalu keras atau menggumpal akan menyulitkan proses pencetakan, sehingga penggilingan menjadi bagian penting sebelum bata dibentuk. Pekerjaan dilakukan secara berurutan agar bahan yang keluar dari mesin siap digunakan tanpa jeda panjang. Ketika adonan mencapai tingkat kelunakan yang sesuai, proses dapat berlanjut ke tahap berikutnya.

Setelah tanah liat lunak, bahan tersebut diarahkan ke bagian pencetak pada mesin yang sama. Adonan dimasukkan dan dibentuk hingga menghasilkan bata dengan ukuran serta bentuk yang seragam. Penggunaan mesin molen untuk mengolah sekaligus mencetak membantu menjaga alur kerja tetap sederhana, sementara pekerja mengawasi bahan dan hasil cetakan. Bata yang baru keluar masih basah dan belum cukup kuat untuk ditumpuk atau langsung digunakan. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan dengan hati-hati agar bentuknya tidak berubah, sudutnya tidak rusak, dan permukaannya tetap utuh saat dipindahkan.

Berikutnya, bata mentah diangkut menuju lahan terbuka untuk dijemur. Di lokasi produksi, pembagian tugas membuat setiap tahap dapat berjalan berdampingan: seorang pekerja menyiapkan adonan, seorang lainnya menangani pencetakan, sedangkan kuli angkut memindahkan bata dari mesin ke area penjemuran. Tiga rekan tersebut menjalankan pekerjaan masing-masing sesuai kebutuhan proses. Kuli angkut perlu bergerak bolak-balik mengikuti keluarnya cetakan, lalu menata bata dengan jarak yang cukup agar terkena udara dan sinar matahari. Penjemuran menjadi tahapan awal pengeringan sebelum bata memasuki proses berikutnya. Alur dari penggilingan, pencetakan, hingga pemindahan ini menunjukkan bagaimana tenaga pekerja dan mesin saling melengkapi dalam produksi harian.

Setelah bata selesai dikeringkan, tahap berikutnya adalah pembakaran. Bata-bata kering disusun dan dimasukkan ke dalam ruang pembakaran yang memiliki dua hingga empat tingkat, bergantung pada bentuk serta kapasitas tempat pembakaran. Penyusunan dilakukan dengan cermat agar panas dapat menjangkau bata secara merata. Sirkulasi panas yang baik berperan penting dalam menentukan kekuatan dan warna hasil akhir. Pada susunan bertingkat ini, bagian paling bawah dimanfaatkan sebagai tempat kayu bakar, sementara tingkat kedua digunakan untuk menempatkan bata yang akan dibakar.

Pembakaran berlangsung sekitar tiga sampai empat hari. Selama waktu tersebut, para pekerja menjaga api dan memantaunya selama 24 jam. Pengawasan terus-menerus diperlukan karena panas harus dipertahankan dalam kondisi yang sesuai. Jika api padam, proses pembakaran dapat terganggu dan mutu bata berisiko tidak seragam. Sebaliknya, api yang terlalu besar dapat membuat bata gosong atau rusak. Karena itu, pekerja mengatur kayu bakar dan memperhatikan keadaan tungku secara berkala, termasuk pada malam hari, agar pembakaran berjalan stabil hingga seluruh bata matang.

Usai pembakaran, bata tidak langsung dikeluarkan untuk digunakan atau dipasarkan. Bata dibiarkan berada di dalam ruang pembakaran selama kurang lebih dua hari agar mendingin secara bertahap dan suhunya menjadi stabil. Masa tunggu ini membantu menghindari perubahan suhu mendadak yang dapat memicu keretakan atau kerusakan pada bata. Setelah cukup dingin, bata dapat dikeluarkan dan diperiksa sebelum disusun untuk disimpan maupun dikirim kepada pembeli. Dengan demikian, tahapan produksi tidak berhenti saat api dipadamkan; pendinginan juga menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas produk.

Kapasitas produksi harian turut dipengaruhi ketersediaan bahan baku, terutama tanah liat.

Baca juga: Hadiri Munas Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Bamsoet Apresiasi Terpilihnya Kembali Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko sebagai Ketua Umum | Menerima Ketum PERIKLINDO Jenderal Moeldoko Bamsoet Dorong Indonesia Jadi Basis Industri Kendaraan Listrik Dunia