Dari Semangat Bandung hingga Agenda 2063: Strategi Indonesia Memperluas Kemitraan dengan Afrika

oleh -61 Dilihat
oleh
Dari Semangat Bandung hingga Agenda 2063: Strategi Indonesia Memperluas Kemitraan dengan Afrika

Bandung | Indonesia kembali menegaskan bahwa semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 tetap menjadi landasan penting dalam membangun hubungan dengan negara-negara Afrika. Nilai solidaritas yang dahulu diarahkan untuk memperjuangkan kemerdekaan dan menentang kolonialisme kini diterjemahkan ke dalam kerja sama yang lebih konkret. Kemitraan tersebut mencakup upaya memperkuat kedaulatan ekonomi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong terciptanya kemakmuran bersama di tengah perubahan global.

Pesan itu disampaikan Wakil Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Duta Besar Umar Hadi, dalam Sidang Pleno ke-18 Majelis Umum PBB ke-81 di New York pada Senin, 12 Oktober 2026. Sidang tersebut membahas kemajuan pembangunan berkelanjutan di Afrika sekaligus dukungan internasional bagi proses peralihan dari New Partnership for Africa’s Development (NEPAD) menuju Agenda 2063 Uni Afrika.

Dalam pernyataannya, Umar Hadi mengangkat kembali pesan Presiden Soekarno yang disampaikan pada KAA 1955. Saat itu, Soekarno menegaskan hak bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk menentukan masa depannya sendiri, tanpa tekanan maupun dominasi kekuatan asing. Prinsip tersebut dinilai tetap relevan ketika negara-negara Afrika berupaya mempercepat pembangunan, memperkuat institusi, dan meningkatkan kemampuan untuk mengelola sumber daya strategis secara mandiri.

Bagi Indonesia, hubungan dengan Afrika tidak semata-mata berakar pada sejarah, tetapi juga diarahkan pada agenda pembangunan yang saling menguntungkan. Dukungan terhadap Agenda 2063 mencerminkan komitmen untuk memperluas kolaborasi di bidang perdagangan, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan pengembangan kapasitas. Melalui pendekatan itu, semangat Bandung memperoleh bentuk baru: bukan hanya solidaritas politik, melainkan kemitraan yang membantu negara-negara berkembang membangun kemandirian ekonomi dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Indonesia menilai perkembangan Afrika dalam konteks perubahan besar yang berlangsung di negara-negara Asia dan Afrika selama lebih dari tujuh dekade. Sejak semangat Konferensi Asia-Afrika, kedua kawasan tidak hanya mengalami transformasi politik, tetapi juga mencatat kemajuan ekonomi, sosial, dan kelembagaan. Perubahan tersebut membuat negara-negara Asia dan Afrika semakin berpengaruh dalam menentukan arah pembangunan global, termasuk dalam pembahasan mengenai perdagangan, pembiayaan, ketahanan pangan, energi, serta reformasi tata kelola internasional.

Perkembangan ekonomi Afrika menjadi salah satu alasan bagi Indonesia untuk memandang benua itu sebagai mitra strategis. Pertumbuhan ekonomi Afrika diperkirakan mencapai 4,4 persen pada 2025. Bahkan, sebanyak 22 negara diproyeksikan mencatat pertumbuhan di atas 5 persen. Angka ini menunjukkan adanya ketahanan ekonomi dan kapasitas adaptasi di tengah ketidakpastian global, tekanan inflasi, konflik, serta perubahan kondisi perdagangan internasional. Pertumbuhan tersebut juga mencerminkan peluang bagi peningkatan investasi, industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, dan perluasan kerja sama antarnegara berkembang.

Potensi itu sejalan dengan Agenda 2063, yaitu visi Uni Afrika untuk membangun benua yang makmur, terintegrasi, damai, dan memiliki peran lebih kuat dalam tata ekonomi dunia. Peningkatan konektivitas regional, pengembangan industri pengolahan, serta penguatan perdagangan intra-Afrika dapat membantu negara-negara di benua tersebut memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari kegiatan ekonominya. Bagi Indonesia, proses ini membuka ruang kemitraan dalam bidang infrastruktur, transformasi digital, kesehatan, pendidikan, pertanian, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Meski demikian, kemajuan Afrika masih menghadapi hambatan struktural. Tingginya biaya pinjaman membatasi kemampuan banyak negara untuk membiayai pembangunan dan merespons krisis. Akses terhadap pembiayaan pembangunan juga belum merata, sementara beban utang mempersempit ruang fiskal pemerintah. Selain itu, kekayaan sumber daya alam belum sepenuhnya menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat karena keterbatasan pengolahan domestik, lemahnya rantai nilai, dan ketergantungan pada ekspor komoditas mentah. Karena itu, pencapaian Agenda 2063 memerlukan kerja sama yang mendukung pembiayaan berkelanjutan, transfer teknologi, peningkatan kapasitas, serta industrialisasi yang inklusif.

Indonesia menawarkan tiga prioritas utama untuk menjawab tantangan pembangunan Afrika sekaligus membangun kerja sama yang lebih konkret. Prioritas pertama adalah memperkuat kedaulatan ekonomi melalui penciptaan nilai tambah dari sumber daya nasional. Negara-negara Afrika memiliki kekayaan mineral, energi, hasil pertanian, dan sumber daya kelautan yang besar, tetapi sebagian komoditas masih diekspor dalam bentuk mentah. Pengalaman Indonesia dalam mengembangkan hilirisasi dapat menjadi rujukan, terutama dalam mendorong pengolahan di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri, dan meningkatkan penerimaan negara. Pertukaran pengetahuan mengenai kebijakan industri, teknologi pengolahan, serta tata kelola sumber daya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara.

Prioritas kedua menempatkan investasi pada sumber daya manusia sebagai dasar pembangunan berkelanjutan. Pembangunan infrastruktur dan industri memerlukan tenaga kerja yang terampil, inovatif, dan mampu mengelola perubahan teknologi. Karena itu, Indonesia dapat memperluas kerja sama pendidikan, pelatihan vokasi, riset, dan pengembangan kapasitas kelembagaan dengan negara-negara Afrika. Kolaborasi di bidang pertanian juga penting, mencakup pelatihan produktivitas, pengelolaan air, mekanisasi, pengolahan hasil, serta penguatan akses petani terhadap pasar. Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa manfaat pembangunan tidak berhenti pada investasi, tetapi juga meningkatkan kemampuan masyarakat setempat.

Prioritas ketiga adalah menerjemahkan semangat Bandung ke dalam kemitraan nyata di bidang perdagangan, investasi, dan peningkatan kapasitas. Hubungan ekonomi Indonesia-Afrika menunjukkan penguatan dalam beberapa tahun terakhir. Forum Indonesia-Afrika pertama pada 2018 menghasilkan kesepakatan bisnis hampir 600 juta dolar AS. Setahun kemudian, Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue mencatat nilai kerja sama lebih dari 800 juta dolar AS, terutama dalam proyek infrastruktur dan pembangunan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa solidaritas historis dapat menjadi landasan bagi hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.

Momentum itu berlanjut melalui Forum Indonesia-Afrika kedua pada 2024. Forum tersebut menghasilkan 32 kesepakatan kerja sama dengan nilai lebih dari 3,5 miliar dolar AS di berbagai sektor strategis. Capaian ini perlu ditindaklanjuti melalui mekanisme pemantauan, pembiayaan yang jelas, serta penyederhanaan akses pasar. Dengan demikian, kemitraan Indonesia-Afrika dapat berkembang dari forum diplomatik menjadi kerja sama yang menghasilkan manfaat terukur bagi masyarakat dan mendukung pencapaian Agenda 2063 Afrika.

Hubungan Indonesia dengan Afrika tidak berhenti pada perdagangan dan investasi. Dalam satu dekade terakhir, sekitar 500 peserta dari berbagai negara Afrika telah memperoleh manfaat melalui lebih dari 60 proyek kerja sama Selatan-Selatan dan triangular Indonesia. Program-program tersebut mencakup bidang kesehatan, teknologi pertanian, serta peternakan, dengan penekanan pada pertukaran pengetahuan dan penguatan kapasitas lokal. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kemitraan pembangunan dapat menghasilkan manfaat langsung sekaligus membangun fondasi hubungan jangka panjang.

Pusat pelatihan pertanian Indonesia di Tanzania dan Gambia menjadi contoh penting dari kerja sama berbasis pengalaman. Melalui pusat tersebut, para peserta dapat mempelajari praktik budidaya, pengelolaan lahan, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan usaha pertanian yang disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Berbagi pengalaman tidak dilakukan secara satu arah, karena Indonesia juga dapat mempelajari inovasi dan pengetahuan lokal dari mitra Afrika. Dengan demikian, kerja sama ini mendorong pembentukan solusi yang lebih relevan, berkelanjutan, dan mudah diterapkan.

Umar Hadi menegaskan bahwa Indonesia berdiri bersama Afrika sebagai mitra, dengan hubungan yang dibangun atas dasar solidaritas dan sikap saling menghormati. Prinsip tersebut penting untuk memastikan bahwa agenda kerja sama tidak didasarkan pada hubungan donor dan penerima semata, melainkan pada kesetaraan kepentingan serta manfaat bersama. Kerangka ini juga membuka peluang untuk memperluas kerja sama dari tingkat bilateral menuju kemitraan antarkawasan yang lebih terstruktur.

Integrasi ekonomi ASEAN dan pembentukan African Continental Free Trade Area AfCFTA dapat menciptakan ruang yang lebih besar bagi.

Baca juga: Panglima TNI: Olahraga Bentuk Karakter dan Semangat Pantang Menyerah | Prediksi Skor Persib Bandung vs PSM Makassar: Laga Spesial Marc Klok, Ada Cerita di Baliknya! | Persib Bandung Lolos Fase Grup ACL Two 2026/2027, Umuh Muchtar Bicara Target Besar di Asia