Jakarta | Peter Howitt, peraih Nobel Ekonomi 2025, menilai Indonesia perlu memperkuat manufaktur berskala besar dan mendorong ekspor sebagai pijakan untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). Bagi Howitt, pengembangan kapasitas produksi dan perluasan pasar internasional bukan sekadar agenda perdagangan, melainkan bagian dari strategi untuk meningkatkan produktivitas serta membangun pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Manufaktur berskala besar dapat memberi ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, memperluas penggunaan teknologi, dan menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Ketika proses produksi berkembang, kebutuhan terhadap keterampilan, riset, dan jaringan pemasok juga meningkat. Rangkaian perubahan ini dapat memperkuat kemampuan industri domestik untuk menyerap teknologi yang telah tersedia, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Dengan demikian, industrialisasi tidak hanya menambah kapasitas produksi, tetapi turut mempercepat pengejaran ketertinggalan teknologi.
Ekspor menjadi pasangan penting bagi upaya tersebut. Akses ke pasar luar negeri memungkinkan perusahaan menjangkau permintaan yang lebih luas daripada pasar domestik saja. Persaingan internasional juga mendorong pelaku usaha menjaga mutu, menekan biaya, dan meningkatkan konsistensi produksi. Skala pasar yang lebih besar dapat mendukung investasi jangka panjang, sementara pendapatan ekspor berpotensi memperkuat kemampuan perusahaan untuk mengembangkan produk dan proses baru. Namun, manfaat itu bergantung pada kebijakan yang mendukung daya saing, infrastruktur yang memadai, kepastian usaha, serta tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai.
Howitt menyebut Indonesia memiliki potensi pertumbuhan besar. Potensi tersebut, menurut pandangannya, dapat diwujudkan melalui pilihan investasi dan kebijakan yang mampu menghubungkan teknologi, kapasitas industri, serta akses pasar. Ia juga menekankan peran penting Danantara dalam proses itu. Dengan mengarahkan investasi pada sektor produktif dan mendukung inovasi, lembaga tersebut dapat membantu memperkuat fondasi manufaktur dan ekspor. Langkah yang konsisten berpeluang menopang pertumbuhan jangka panjang sekaligus membuka jalan bagi Indonesia untuk naik ke tingkat pendapatan yang lebih tinggi.
Peter Howitt menggambarkan pembangunan sebagai proses bertahap: negara berkembang dapat terlebih dahulu mengadopsi teknologi yang telah digunakan di negara maju, kemudian membangun kemampuan untuk menciptakan inovasi sendiri. Menggunakan teknologi yang sudah terbukti memungkinkan perusahaan meningkatkan produktivitas tanpa harus menunggu seluruh pengetahuan dan teknologi dikembangkan di dalam negeri. Setelah kapasitas produksi dan keterampilan tenaga kerja bertambah, perusahaan dapat menyesuaikan teknologi tersebut dengan kebutuhan lokal dan beranjak menuju kegiatan inovatif. Jalur ini berpotensi mempercepat pengejaran ketertinggalan dibandingkan jika kemajuan hanya bergantung pada perbaikan kecil secara bertahap.
Pengalaman Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan China memperlihatkan bagaimana teknologi asing dapat menjadi landasan penguatan industri. Negara-negara tersebut memanfaatkan pengetahuan, mesin, dan metode produksi dari luar untuk meningkatkan mutu produk serta kemampuan bersaing. Perusahaan berskala besar berperan penting karena mampu mengoperasikan teknologi secara luas, memperbesar volume produksi, dan menyebarkan praktik kerja yang lebih efisien. Ketika produk diarahkan ke pasar ekspor, perusahaan juga terdorong memenuhi standar internasional dan memperbaiki kualitas secara berkelanjutan. Dengan demikian, perusahaan besar yang mengadopsi teknologi asing dan mengekspor hasil produksinya dapat menjadi strategi penting untuk mengejar ketertinggalan.
Investasi asing langsung turut mempercepat proses tersebut melalui masuknya modal, teknologi, keahlian manajerial, dan akses ke jaringan pasar global. Agar manfaatnya meluas, hubungan investor asing dan perusahaan domestik perlu mendukung pembelajaran, peningkatan keterampilan, serta pengembangan pemasok lokal. Indonesia dapat menerapkan pendekatan serupa dengan memperkuat manufaktur dan memperluas kesempatan kerja di sektor produktif. Peralihan sebagian tenaga kerja dari pertanian ke industri dapat meningkatkan kapasitas produksi, asalkan disertai pelatihan, infrastruktur, dan penciptaan pekerjaan yang layak. Basis produksi yang lebih luas akan membantu perusahaan memenuhi permintaan dalam negeri sekaligus memasok pasar internasional. Tahap adopsi ini bukan tujuan akhir, melainkan pijakan untuk membangun kemampuan teknologi dan inovasi nasional.
Strategi mengejar ketertinggalan teknologi dapat mendorong pertumbuhan ketika suatu negara masih memiliki jarak yang cukup besar dari garis depan global. Perusahaan dan sektor ekonomi dapat mengadopsi teknologi yang telah tersedia, lalu memperoleh manfaat dari penggunaan pengetahuan yang sebelumnya dikembangkan di tempat lain. Namun, keunggulan ini tidak bersifat tanpa batas. Seiring kemajuan ekonomi dan semakin dekatnya kemampuan domestik dengan tingkat teknologi terdepan, ruang untuk memperoleh pertumbuhan hanya melalui peniruan menjadi semakin sempit.
Menurut Peter Howitt, perubahan jarak tersebut menandai pergeseran penting dalam sumber pertumbuhan. Ketika peluang untuk mengejar teknologi yang sudah ada berkurang, mempertahankan pertumbuhan tinggi semakin bergantung pada kemampuan menciptakan inovasi teknologi terdepan. Dengan kata lain, adopsi tetap dapat berperan, tetapi tidak lagi cukup menjadi satu-satunya penopang kemajuan. Negara perlu mengembangkan kondisi yang memungkinkan gagasan baru muncul dan menghasilkan teknologi yang mendorong batas kemampuan yang telah dicapai.
Peralihan ini memberi alasan untuk memperhatikan perusahaan rintisan dan perusahaan kecil yang lincah. Skala yang lebih kecil dan kelincahan dapat memberi ruang untuk mengembangkan gagasan baru, sementara perusahaan semacam ini berpotensi menghasilkan inovasi terobosan. Potensi tersebut tidak menghapus ketidakpastian: proses inovasi dapat melibatkan risiko dan kemungkinan kegagalan. Karena itu, akses terhadap modal ventura menjadi penting. Pembiayaan ini dapat membantu perusahaan menanggung risiko yang menyertai upaya menciptakan teknologi baru, termasuk ketika hasil yang diharapkan belum tentu tercapai. Tanpa dukungan modal yang bersedia menghadapi ketidakpastian, gagasan yang berpotensi mendorong kemajuan teknologi mungkin sulit dikembangkan. Bagi Indonesia, implikasinya adalah bahwa strategi pertumbuhan perlu bergerak melampaui pemanfaatan teknologi yang sudah tersedia. Ketika keuntungan dari ketertinggalan menipis, kapasitas untuk mendorong inovasi di garis depan menjadi semakin relevan. Perubahan fokus ini bukan berarti adopsi teknologi kehilangan fungsi, melainkan bahwa penciptaan inovasi perlu mengambil peran yang lebih besar dalam menopang pertumbuhan jangka panjang.Dalam pandangan Peter Howitt, persaingan usaha bukan sekadar mekanisme untuk menentukan harga, melainkan pendorong produktivitas. Ketika perusahaan menghadapi pesaing yang mampu menawarkan produk lebih baik atau biaya lebih rendah, mereka perlu memperbarui proses, mengembangkan produk, dan menggunakan teknologi secara lebih efisien. Ancaman kehilangan pelanggan membuat inovasi menjadi kebutuhan nyata, bukan pilihan tambahan. Dalam pasar kompetitif, perusahaan mapan tidak memperoleh jaminan untuk terus bertahan hanya karena telah lama beroperasi. Perusahaan baru yang lebih produktif dapat masuk, menarik konsumen, lalu menggantikan pemain lama. Makna pernyataan Howitt tersebut ialah pergantian ini merupakan bagian dari proses kreatif yang menyalurkan sumber daya menuju kegiatan lebih produktif.
Perdagangan internasional memperkuat dorongan tersebut dengan memperluas pasar yang dapat dijangkau perusahaan. Akses kepada konsumen di luar negeri meningkatkan potensi imbal hasil dari inovasi, sementara kehadiran produk dan pesaing asing mendorong perusahaan domestik meningkatkan mutu serta efisiensi. Sebaliknya, tarif tinggi dan hambatan perdagangan yang berlebihan dapat mengurangi tekanan kompetitif. Perlindungan semacam itu mungkin memberi ruang sementara bagi industri dalam negeri, tetapi jika berlangsung terlalu lama, perusahaan dapat kehilangan insentif untuk berbenah. Karena itu, keterbukaan perdagangan perlu dipadukan dengan kebijakan yang membantu pekerja dan perusahaan menyesuaikan diri, bukan menjadi alasan untuk mempertahankan perlindungan tanpa batas. Daya saing tumbuh ketika pelaku usaha menghadapi tantangan sekaligus memiliki kemampuan untuk meresponsnya.
Pemerintah tetap berperan penting dalam membangun fondasi inovasi melalui dukungan penelitian dan pengembangan, peningkatan kualitas pendidikan serta keterampilan sumber daya manusia, dan aturan yang mendorong persaingan sehat.
Baca juga: TNI Fair 2026, Stand Pusterad Dipadati Ribuan Pengunjung Hadirkan Edukasi dan Beragam Inovasi | Di tengah perubahan sosial, ekonomi, teknologi dan politik yang berlangsung cepat, generasi muda dituntut tidak hanya menjadi penonton
