Chika Jessica Kembali Menempuh S2 Bersama Dwi Andhika Setelah Sempat Bimbang

oleh -372 Dilihat
oleh
Chika Jessica Kembali Menempuh S2 Bersama Dwi Andhika Setelah Sempat Bimbang

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Chika Jessica kembali mengambil langkah penting dalam perjalanan pendidikannya dengan menempuh program magister di Universitas Sangga Buana Bandung. Keputusan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya ia sempat merasa bimbang untuk kembali menjalani rutinitas perkuliahan di tengah kesibukannya sebagai figur publik dan pekerja di industri hiburan.

Dalam pendidikan S2 tersebut, Chika tidak berkuliah seorang diri. Ia menjalani proses belajar bersama Dwi Andhika, sosok yang sudah dikenalnya sejak masa pendidikan sarjana. Keduanya sebelumnya juga tercatat sebagai teman kuliah ketika menempuh pendidikan S1. Kebersamaan itu kembali berlanjut pada jenjang magister, sehingga Chika memiliki rekan yang dapat saling mendukung dalam mengikuti kegiatan akademik.

Sistem perkuliahan yang dijalani Chika dan Dwi Andhika menggunakan metode hybrid. Skema tersebut memadukan pembelajaran secara daring melalui Zoom dengan kehadiran langsung di kampus. Dengan pola ini, keduanya dapat mengikuti materi dan diskusi perkuliahan dari jarak jauh pada waktu tertentu, sekaligus tetap menghadiri kelas secara langsung ketika jadwal mengharuskan mahasiswa datang ke kampus.

Metode hybrid dinilai memberi fleksibilitas bagi Chika untuk menyeimbangkan kewajiban akademik dengan aktivitas lain yang tetap berjalan. Meski demikian, kuliah magister tetap menuntut konsistensi, baik dalam mengikuti pertemuan, memahami materi, maupun menyelesaikan tugas. Keputusan untuk kembali belajar menunjukkan bahwa kesibukan profesional tidak menghalangi keinginannya memperluas pengetahuan.

Chika menyampaikan kabar mengenai perkuliahan tersebut saat ditemui di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Selasa, 6 Oktober 2026. Pernyataannya memberikan gambaran bahwa ia kini mulai menjalani kembali kehidupan sebagai mahasiswa. Kehadiran Dwi Andhika sebagai teman kuliah juga membuat perjalanan mereka di jenjang pendidikan tinggi memiliki kesinambungan dari masa S1 hingga program magister.

Keputusan Chika Jessica untuk kembali menempuh pendidikan tinggi tidak langsung diambil dengan mudah. Setelah menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar S.E., ia sempat merasa bahwa pencapaian tersebut sudah cukup. Pada saat yang sama, bayangan untuk kembali menjalani rutinitas perkuliahan membuatnya merasa lelah. Ia harus kembali memikirkan jadwal belajar, tugas, ujian, serta berbagai tanggung jawab akademik yang sebelumnya telah dilewati. Pertimbangan itu membuat Chika bimbang ketika rencana melanjutkan studi mulai dibicarakan.

Keraguan tersebut bukan berarti Chika tidak memiliki keinginan untuk berkembang. Ia hanya perlu memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Menempuh pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi membutuhkan komitmen, waktu, dan energi yang tidak sedikit. Karena itu, Chika sempat bertanya kepada dirinya sendiri apakah kuliah lagi merupakan langkah yang tepat atau justru akan menambah beban. Pengalaman dan gelar yang sudah dimiliki pun membuatnya merasa tidak harus segera mengambil pendidikan lanjutan.

Dalam situasi tersebut, Dwi Andhika memberikan dorongan yang membantu Chika melihat rencana itu dari sudut pandang berbeda. Dwi menyemangatinya agar memanfaatkan kesempatan selama mereka masih mempunyai motivasi dan kemampuan untuk belajar. Menurut dorongan tersebut, kesempatan pendidikan tidak selalu datang pada waktu yang sama, sehingga patut dipertimbangkan dengan baik ketika peluangnya terbuka. Dukungan itu perlahan membuat Chika lebih yakin. Ia kemudian menyadari bahwa rasa lelah dan bimbang tidak seharusnya langsung menutup peluang untuk memperoleh pengalaman baru. Setelah menilai berbagai pertimbangan, Chika akhirnya memutuskan melanjutkan kuliah bersama Dwi. Baginya, kesempatan tersebut terlalu berharga untuk dilewatkan, terutama karena keputusan itu diambil ketika keinginan belajar dan kemampuan untuk menjalaninya masih ada.

Di balik sosoknya yang dikenal ceria dan kerap menghibur orang lain, Chika Jessica mengakui bahwa dirinya juga memiliki sisi sedih. Ia tidak selalu berada dalam suasana hati yang bahagia setiap waktu. Seperti manusia pada umumnya, Chika dapat merasakan berbagai emosi, termasuk rasa lelah, sedih, dan tidak bersemangat. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa keceriaan yang sering terlihat bukan berarti ia tidak pernah menghadapi perasaan yang kurang menyenangkan.

Chika juga menyampaikan bahwa dirinya tidak hanya ingin menjadi orang yang memberikan hiburan bagi orang lain. Pada waktu tertentu, ia pun ingin mendapatkan dukungan dan dihibur. Keinginan itu dianggap sebagai hal yang wajar karena setiap orang membutuhkan perhatian ketika sedang menghadapi suasana hati yang kurang baik. Meski sering tampil menghibur, Chika tetap memiliki kebutuhan emosional yang sama seperti orang lain.

Menurut Chika, kesedihan biasanya muncul ketika ibunya sedang terlihat lesu atau mengalami sakit. Kondisi tersebut memengaruhi perasaannya dan membuat dirinya tidak selalu dapat menjalani hari dengan keceriaan. Perhatian terhadap keadaan sang ibu menjadi salah satu hal yang membuat Chika merasakan kesedihan. Ia mengakui perasaan itu tanpa berusaha menutupi bahwa dirinya dapat terdampak oleh situasi yang sedang terjadi di sekitarnya.

Chika memandang perasaan sedih sebagai sesuatu yang wajar. Setiap manusia memiliki sisi emosional dan tidak mungkin terus-menerus merasa senang. Karena itu, suasana hati yang berubah-ubah merupakan bagian dari pengalaman manusia. Di tengah kesehariannya yang sering diwarnai canda dan keceriaan, Chika tetap menerima bahwa ada saat ketika dirinya membutuhkan dukungan. Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa menjadi pribadi yang menghibur bukan berarti harus selalu bahagia, sebab setiap orang tetap memiliki perasaan yang dapat berubah sesuai keadaan.

Chika Jessica mengaku tidak memiliki kiat khusus untuk selalu tampil aktif, ceria, dan penuh energi dalam menjalani berbagai kegiatan. Menurutnya, suasana hati serta kondisi tubuh dapat berubah-ubah, terutama ketika aktivitas yang dilakukan cukup padat. Karena itu, ia tidak memaksakan diri untuk terus terlihat bersemangat apabila tubuh mulai memberikan tanda-tanda kelelahan.

Salah satu kebiasaan sederhana yang biasa dilakukan Chika ketika mulai merasa lelah adalah memesan es teh manis. Minuman tersebut menjadi pilihan praktis yang membantunya merasa lebih segar di tengah kesibukan. Bagi Chika, menikmati es teh manis bukanlah sebuah formula khusus untuk menjaga suasana hati, melainkan kebiasaan kecil yang secara pribadi dapat membuatnya merasa lebih nyaman dan bersemangat untuk melanjutkan aktivitas.

Namun, ketika rasa lelah sudah terasa sangat berat, Chika memilih untuk tidak memaksakan diri. Ia akan pulang dan beristirahat di rumah untuk memulihkan tenaga. Waktu istirahat itu dimanfaatkannya sebagai kesempatan untuk melakukan recharge, baik secara fisik maupun mental. Dengan mengambil jeda, ia dapat memberi ruang bagi tubuh dan pikirannya untuk kembali berada dalam kondisi yang lebih baik.

Setelah merasa pulih, Chika biasanya kembali menjalani rutinitasnya. Ia dapat kembali beraktivitas, bertemu orang lain, serta menghibur mereka melalui kepribadiannya yang dikenal ceria. Pola tersebut menunjukkan bahwa menjaga energi tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang rumit. Mengenali batas kemampuan diri dan berani beristirahat juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan keseimbangan.

Chika menempatkan kebiasaan tersebut sebagai cara personal untuk merawat diri, bukan sebagai resep yang harus diikuti semua orang. Es teh manis dan waktu istirahat membantunya melewati rasa lelah, tetapi setiap orang tentu memiliki cara berbeda untuk memulihkan tenaga. Baginya, yang terpenting adalah memahami kondisi tubuh, tidak memaksakan diri, kemudian kembali beraktivitas ketika energi sudah terkumpul.