BRIN Siapkan Model untuk Memperkirakan Risiko Karhutla

oleh -81 Dilihat
oleh
BRIN Siapkan Model untuk Memperkirakan Risiko Karhutla

Jakarta | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan model perambatan api untuk memperkirakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Riset ini diarahkan untuk membantu memahami bagaimana api dapat menyebar, sehingga kemungkinan terjadinya kebakaran dapat diperkirakan lebih awal. Pengembangan model tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat mitigasi, terutama melalui pemanfaatan riset dan inovasi dalam menghadapi ancaman karhutla.

Kepala BRIN Arif Satria menyebut penelitian itu sebagai bagian dari mitigasi jangka panjang. Menurutnya, penyusunan model perambatan api tidak hanya berfokus pada penanganan ketika kebakaran telah terjadi, tetapi juga mendukung langkah antisipasi terhadap potensi ancaman. Dengan perkiraan yang lebih baik, upaya pengurangan risiko dapat dipertimbangkan sebelum api meluas. Meski demikian, pengembangan model masih merupakan pekerjaan riset; informasi yang disampaikan tidak merinci metode, cakupan wilayah, atau hasil prediksi yang telah dihasilkan.

Arif menyampaikan keterangan tersebut kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Ia mengaitkan riset BRIN itu dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, tanpa menguraikan rincian arahan yang dimaksud. Karena itu, pengembangan model dapat dipahami sebagai salah satu langkah jangka panjang yang sedang disiapkan lembaga riset nasional, bukan sebagai kebijakan teknis dengan rincian yang telah diumumkan.

Keberadaan model perambatan api berpotensi menjadi landasan bagi perencanaan mitigasi yang lebih terukur apabila dikembangkan dan dimanfaatkan secara tepat. Perkiraan mengenai potensi kebakaran dapat membantu pihak terkait menimbang risiko dan menyiapkan respons yang sesuai. Namun, model prediksi bukan pengganti tindakan pencegahan maupun penanganan di lapangan. Informasi mengenai pemanfaatan, jadwal penerapan, dan hasil pengujian model belum disampaikan dalam keterangan tersebut. BRIN kini berfokus pada pengembangan riset sebagai bagian dari upaya mengantisipasi karhutla dalam jangka panjang.

Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menyusun model perkiraan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini memasuki proses validasi. Tahap ini menjadi bagian penting sebelum kemampuan model tersebut dapat dinilai lebih lanjut. Karena itu, model yang sedang dikembangkan belum dapat dianggap sebagai sistem yang telah selesai atau terbukti mampu memberikan prediksi yang akurat. BRIN masih perlu memeriksa dan mengembangkan pendekatannya agar hasil perkiraan dapat memiliki dasar yang lebih kuat dan berguna sebagai bahan pertimbangan.

BRIN berharap model itu nantinya dapat membantu memperkirakan kemungkinan terjadinya karhutla dalam rentang waktu tiga hingga enam bulan ke depan. Sasaran tersebut berkaitan dengan kebutuhan untuk melihat potensi risiko lebih awal, bukan untuk memastikan secara tepat kapan atau di lokasi mana kebakaran akan terjadi. Perkiraan jangka menengah dapat memberi ruang bagi pihak terkait untuk mencermati kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko dan mempertimbangkan langkah antisipasi. Namun, kemampuan itu masih merupakan tujuan pengembangan, bukan hasil yang sudah dipastikan pada tahap riset saat ini.

Arif menekankan arti penting kemampuan prediksi karena informasi mengenai potensi karhutla dapat mendukung kesiapsiagaan. Dengan mengetahui gambaran risiko lebih dini, pemangku kepentingan berpeluang menyiapkan perhatian dan respons secara lebih terarah. Meski demikian, manfaat tersebut bergantung pada seberapa baik model dapat menghasilkan perkiraan yang dapat dipertanggungjawabkan. Proses validasi diperlukan untuk menilai dan memperkuat kemampuan prediksi sebelum model dikembangkan lebih jauh. Tahap ini juga membantu memastikan bahwa keluaran yang dihasilkan layak digunakan sebagai informasi pendukung, dengan memahami bahwa perkiraan risiko bukan kepastian kejadian. Dengan demikian, validasi menjadi penghubung penting rancangan riset dan kemungkinan pemanfaatannya dalam upaya mengantisipasi karhutla pada masa mendatang.

BRIN berencana mengajak sejumlah perguruan tinggi untuk memperkuat riset dan mendukung pengembangan model yang berkaitan dengan prediksi kebakaran hutan. Rencana kolaborasi ini dipandang sebagai upaya untuk memperluas dukungan terhadap penelitian, terutama dalam merumuskan pendekatan yang dapat membantu memperkirakan potensi terjadinya kebakaran. Dengan melibatkan lingkungan akademik, pengembangan model diharapkan memperoleh ruang riset yang lebih kuat dan dapat ditelaah melalui kegiatan ilmiah.

Meski demikian, kolaborasi tersebut masih disebut sebagai langkah yang akan dicoba. Informasi yang tersedia belum menjelaskan nama perguruan tinggi yang akan diajak, bentuk kerja sama yang mungkin dijalankan, ataupun jadwal pelaksanaannya. Karena itu, rencana ini belum dapat dipahami sebagai kemitraan yang telah berlangsung atau program yang sudah memiliki tahapan dan target pelaksanaan tertentu. Penjelasan mengenai pihak yang terlibat dan mekanisme kolaborasi masih perlu menunggu keterangan lebih lanjut dari BRIN.

Arah utama dari upaya tersebut adalah memperkuat riset yang dapat membantu memprediksi potensi kebakaran hutan. Model prediksi memerlukan kajian yang cermat agar dapat digunakan untuk memahami kemungkinan risiko, bukan sekadar menggambarkan kejadian yang telah berlangsung. Keterlibatan perguruan tinggi dalam rencana ini dapat menjadi bagian dari proses pengembangan pengetahuan dan metode, apabila kolaborasi benar-benar dilaksanakan. Namun, belum ada informasi yang menunjukkan metode yang akan digunakan, data yang akan dianalisis, atau keluaran riset yang ditargetkan.

Dengan demikian, ajakan kepada perguruan tinggi masih merupakan rencana kolaborasi yang hendak dicoba BRIN, bukan bukti bahwa model telah selesai dikembangkan atau telah menghasilkan perkiraan tertentu. Penekanan pada tahap ini berada pada penguatan penelitian dan peluang kerja bersama untuk mendukung pengembangan model prediksi. Kejelasan mengenai mitra, bentuk kegiatan, dan waktu pelaksanaan akan diperlukan untuk memahami bagaimana rencana tersebut diterjemahkan ke dalam riset. Sampai ada informasi tambahan, tujuan yang dapat ditegaskan adalah membantu memperkirakan potensi kebakaran hutan melalui pengembangan riset, tanpa mengasumsikan capaian yang belum dilaporkan.

Salah satu tugas BRIN yang telah berjalan adalah mendeteksi titik api setiap hari dengan memanfaatkan satelit dan citra satelit. Pemantauan ini menghasilkan informasi mengenai indikasi kebakaran yang teramati, sehingga dapat menjadi bahan awal bagi lembaga terkait untuk mengetahui lokasi yang perlu mendapat perhatian. Deteksi harian tersebut merupakan kegiatan operasional yang sudah dilakukan, bukan model untuk memperkirakan risiko kebakaran pada masa mendatang.

Arif menjelaskan bahwa BRIN memiliki otoritas terkait satelit dan citra satelit serta memanfaatkannya untuk berbagai tujuan. Salah satu pemanfaatannya ialah mendeteksi titik api. Dengan kemampuan tersebut, BRIN mengolah informasi dari pengamatan satelit menjadi data yang dapat disampaikan kepada pihak lain. Penggunaan citra satelit juga mendukung pemantauan wilayah yang luas, sementara hasil deteksi memberi gambaran mengenai titik-titik yang teridentifikasi dalam pengamatan harian.

Informasi hasil deteksi kemudian dibagikan kepada sejumlah lembaga yang berkepentingan, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan. Data tersebut dapat ditindaklanjuti sesuai tugas dan kewenangan masing-masing lembaga, misalnya untuk mendukung pemantauan maupun langkah penanganan di lapangan. Peran BRIN dalam proses ini adalah menyediakan informasi berbasis pengamatan satelit; keputusan dan tindak lanjut berada pada instansi terkait.

Kegiatan deteksi ini perlu dibedakan dari riset BRIN untuk menyusun model prediksi risiko karhutla. Deteksi harian menunjukkan titik api yang teramati melalui citra satelit, sedangkan model prediksi dirancang untuk memperkirakan potensi risiko berdasarkan data dan pendekatan tertentu. Model tersebut masih dalam tahap validasi, sehingga belum tepat disamakan dengan sistem deteksi yang telah berjalan. Validasi diperlukan untuk menguji apakah hasil perkiraan cukup andal sebelum model digunakan lebih luas. Dengan pemisahan yang jelas, publik dapat memahami bahwa BRIN sudah melakukan pemantauan titik api setiap hari, sementara upaya memperkirakan risiko ke depan masih menjadi bagian dari riset dan pengujian.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla