BNPB Semai 1 Ton NaCl untuk Dukung Penanganan Karhutla di Jawa Timur

oleh -71 Dilihat
oleh
BNPB Semai 1 Ton NaCl untuk Dukung Penanganan Karhutla di Jawa Timur

Malang | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Timur pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Dalam operasi tersebut, pesawat Cessna Caravan yang dioperasikan BNPB melakukan satu sorti penerbangan dan menyemai 1.000 kilogram natrium klorida (NaCl).

Informasi mengenai pelaksanaan OMC itu merujuk pada laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur. Laporan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan. Pesawat yang digunakan beroperasi dari Base Ops Lanudal Juanda, yang menjadi titik keberangkatan untuk mendukung kegiatan penyemaian di wilayah sasaran.

Penyemaian NaCl berlangsung pada pukul 14.45 hingga 16.45 WIB. Area operasi mencakup wilayah Probolinggo, Pasuruan, dan daerah sekitarnya. Dalam satu sorti itu, pesawat membawa bahan semai untuk dilepaskan sesuai rencana penerbangan. Pelaksanaan di sejumlah wilayah tersebut merupakan bagian dari upaya dukungan BNPB terhadap penanganan karhutla di Jawa Timur.

OMC merupakan salah satu bentuk intervensi yang dapat digunakan untuk mendukung upaya penanganan bencana, termasuk ketika kondisi atmosfer memungkinkan pelaksanaannya. Penyemaian bahan seperti natrium klorida dilakukan dari udara di area yang telah ditetapkan. Kegiatan ini tidak menggantikan langkah penanganan langsung di darat, tetapi menjadi dukungan tambahan bagi instansi terkait dalam menghadapi potensi dan dampak kebakaran hutan serta lahan.

Pelaksanaan operasi pada hari tersebut mencatat satu penerbangan dengan total bahan semai sebanyak satu ton. Informasi waktu, lokasi, titik operasi, dan jumlah NaCl disampaikan berdasarkan laporan BPBD Provinsi Jawa Timur yang diteruskan BNPB. Data tersebut memberikan gambaran mengenai cakupan kegiatan, sekaligus menunjukkan koordinasi lembaga penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah dalam mendukung penanganan karhutla di Probolinggo, Pasuruan, dan sekitarnya.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Timur dilaksanakan sebagai tindak lanjut arahan Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi saat melakukan kunjungan kerja ke provinsi tersebut pada Jumat, 23 Oktober 2026. Arahan ini menjadi dasar bagi upaya untuk mengoptimalkan kondisi atmosfer yang berpotensi mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam pelaksanaannya, penyemaian satu ton natrium klorida (NaCl) menjadi bagian dari kegiatan OMC, dengan waktu dan lokasi pelaksanaan mempertimbangkan hasil pemantauan cuaca serta kebutuhan penanganan di lapangan.

Berdasarkan pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, potensi hujan ringan terdapat di sebagian besar wilayah bagian selatan dan barat. Informasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan upaya modifikasi cuaca, termasuk area yang dinilai berpeluang menerima dukungan dari proses penyemaian. Potensi hujan bukan kepastian bahwa hujan akan terjadi di setiap wilayah, sehingga perkembangan kondisi atmosfer dan cuaca tetap perlu dipantau. Data pemantauan juga membantu petugas menyusun langkah secara terukur dan menyesuaikan pelaksanaan OMC dengan dinamika cuaca setempat.

Hujan diharapkan dapat membantu pemadaman di kawasan terdampak karhutla, misalnya dengan menambah kelembapan pada vegetasi dan permukaan lahan. Dukungan tersebut dapat melengkapi upaya penanganan yang dilakukan petugas, tetapi tidak menggantikan pemadaman langsung maupun langkah pengendalian lain. Karena itu, OMC diposisikan sebagai salah satu ikhtiar pendukung, dengan hasil yang bergantung pada kondisi atmosfer dan sebaran hujan. Pemerintah daerah dan unsur terkait tetap perlu mengikuti perkembangan titik api, kondisi lapangan, serta informasi cuaca resmi. Penyampaian potensi hujan secara hati-hati penting agar masyarakat memahami bahwa langkah ini bertujuan membantu respons, bukan memastikan kebakaran telah tertangani.

Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan di Jawa Timur tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan penyemaian, tetapi juga oleh perkembangan kondisi atmosfer. Tim perlu menilai potensi pertumbuhan awan hujan agar kegiatan dapat diarahkan pada waktu dan kondisi yang memungkinkan. Awan yang berpotensi mendukung hujan menjadi pertimbangan penting, sebab penyemaian perlu disesuaikan dengan keadaan cuaca yang terpantau, bukan dilakukan tanpa memperhatikan peluang terbentuknya hujan.

Di samping faktor meteorologis, keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan dan pelaksanaan setiap sorti. Kondisi udara, jarak pandang, serta berbagai gangguan yang dapat memengaruhi operasi pesawat perlu diperhatikan sebelum misi dijalankan. Salah satu tantangan yang disebutkan adalah sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Semeru. Keberadaan abu di udara dapat menjadi aspek yang harus dicermati dalam menilai keamanan penerbangan, sehingga keputusan operasional perlu mempertimbangkan informasi kondisi terkini dan koordinasi pihak terkait.

Pertimbangan tersebut menunjukkan bahwa penentuan jadwal OMC bergantung pada keseimbangan peluang mendukung pertumbuhan hujan dan standar keamanan. Rencana kegiatan dapat disesuaikan apabila kondisi cuaca atau faktor keselamatan tidak mendukung. Pendekatan ini diperlukan agar upaya modifikasi cuaca tetap terarah, sementara risiko terhadap awak, pesawat, dan pelaksanaan operasi dapat dikelola dengan cermat.

Dalam rencana yang disampaikan, OMC pada Minggu, 25 Oktober 2026, akan dilaksanakan dalam dua sorti. Penerbangan tersebut direncanakan menuju wilayah prioritas penyemaian awan, dengan penentuan pelaksanaan tetap memperhatikan potensi awan hujan dan aspek keselamatan. Rencana dua sorti menjadi bagian dari upaya untuk mendukung penanganan karhutla melalui intervensi cuaca yang terukur. Informasi ini tidak merinci lokasi prioritas, sehingga pelaksanaan tetap merujuk pada penetapan operasional dan kondisi yang berlaku. Pemantauan cuaca serta sebaran abu vulkanik menjadi unsur penting dalam menilai kelayakan penerbangan pada hari tersebut, termasuk kemungkinan penyesuaian bila situasi berubah. Dengan demikian, rencana misi memberi ruang bagi pengambilan keputusan berdasarkan perkembangan aktual di lapangan, sekaligus menjaga agar penyemaian dilakukan pada kondisi yang aman dan mendukung tujuan operasi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa dukungan udara untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan di Jawa Timur akan disiapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan operasi serta keadaan di lapangan. Penempatan setiap armada tidak dilakukan secara terpisah dari rencana penanganan di wilayah lain, sebab sejumlah alutsista juga diperlukan untuk mendukung upaya pengendalian karhutla di Kalimantan. Karena itu, pengerahan dan penyesuaian dukungan harus mengikuti perkembangan kondisi, prioritas operasi, serta kesiapan sarana yang tersedia.

Arahan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Jawa Timur pada Jumat. BNPB menginformasikan bahwa satu helikopter untuk misi water bombing akan dikirim dari Kalimantan Selatan menuju Malang. Helikopter tersebut direncanakan mendukung pemadaman melalui penjatuhan air pada titik-titik yang membutuhkan penanganan dari udara. Selain itu, satu pesawat untuk operasi modifikasi cuaca (OMC) dari Kalimantan Barat dikerahkan ke Jawa Timur. Dukungan OMC diharapkan dapat membantu upaya penanganan sesuai kondisi cuaca dan kebutuhan operasi, dengan pelaksanaannya tetap memperhatikan hasil pemantauan serta koordinasi antarpihak.

Penggunaan armada udara diarahkan untuk membantu penanganan di sejumlah kawasan pegunungan yang menjadi perhatian. Wilayah tersebut meliputi Gunung Arjuno, Bromo, Semeru, Butak, dan Ijen. Karakter kawasan pegunungan dan perubahan kondisi di lapangan menjadi pertimbangan dalam penyusunan operasi. Oleh sebab itu, dukungan water bombing maupun OMC perlu diselaraskan dengan informasi mengenai lokasi kejadian, akses, cuaca, dan perkembangan penanganan. Ketersediaan alutsista juga harus diatur agar kebutuhan di Jawa Timur dapat ditangani tanpa mengabaikan operasi karhutla di Kalimantan.

BNPB turut mengingatkan masyarakat untuk berperan dalam mencegah kebakaran, terutama ketika beraktivitas di kawasan pegunungan. Warga diminta tidak membakar sampah dan tidak menyalakan api selama berada di area tersebut.

Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Panglima TNI Tinjau JS Kunisaki, Dukung Penanganan Karhutla di Kalimantan | Penanganan Karhutla Sektor Selatan Kalbar Diperkuat, TNI Alihkan Perkuatan Pasukan