Delapan Erupsi Anak Krakatau, Abu Tertinggi Teramati 500 Meter

oleh -13 Dilihat
oleh
Delapan Erupsi Anak Krakatau, Abu Tertinggi Teramati 500 Meter

Kabupaten Lampung Selatan | Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, mengalami delapan kali erupsi pada Minggu (18/10/2026). Dalam rangkaian letusan tersebut, kolom abu yang teramati memiliki ketinggian bervariasi, mulai sekitar 100 meter hingga mencapai 500 meter di atas puncak. Abu yang keluar tampak berwarna kelabu hingga hitam, dengan beberapa kolom terlihat tebal.

Kolom abu tertinggi, yakni sekitar 500 meter di atas puncak, teramati dalam erupsi yang terjadi pada pukul 11.44 WIB dan 12.01 WIB. Kedua kejadian tersebut menjadi waktu dengan ketinggian kolom abu paling besar dalam rangkaian pengamatan pada hari itu. Sementara itu, pada erupsi lainnya, tinggi kolom yang teramati berada pada kisaran lebih rendah, sekitar 100 meter hingga mendekati ketinggian maksimum tersebut.

Perbedaan tinggi dan ketebalan kolom terlihat sepanjang rangkaian aktivitas. Warna kelabu sampai hitam menunjukkan tampilan abu yang teramati saat letusan, sedangkan sebutan tebal menggambarkan kondisi kolom pada sejumlah kejadian. Angka ketinggian dinyatakan terhadap puncak gunung, bukan terhadap permukaan laut, sehingga memberikan gambaran seberapa jauh abu naik dari titik tertinggi Anak Krakatau.

Catatan delapan erupsi itu merangkum aktivitas yang berlangsung pada satu hari pengamatan, dengan dua kejadian pada menjelang siang mencatat kolom tertinggi. Informasi tentang jumlah letusan, waktu, warna, dan kisaran ketinggian tersebut menjelaskan variasi yang terlihat dalam satu rangkaian. Dengan demikian, laporan aktivitas Minggu itu memuat bukan hanya frekuensi erupsi, tetapi juga perubahan karakter visual kolom abu dari satu kejadian ke kejadian berikutnya.

Catatan pengamatan menunjukkan bahwa sejumlah erupsi Anak Krakatau menghasilkan kolom abu dengan ketinggian dan arah sebaran yang berbeda. Pada pukul 11.44 WIB, letusan mengeluarkan kolom abu berwarna hitam tebal. Material vulkanik teramati bergerak ke arah utara, dengan ketinggian sekitar 500 meter di atas puncak atau mencapai 657 meter di atas permukaan laut. Rincian ini menggambarkan salah satu kolom tertinggi yang teramati dalam rangkaian aktivitas tersebut.

Erupsi berikutnya tercatat pada pukul 12.01 WIB. Secara visual, letusan ini memiliki karakteristik serupa, yakni mengeluarkan abu hitam tebal. Rekaman seismograf menunjukkan amplitudo maksimum sebesar 51 milimeter, dengan durasi getaran selama 41 detik. Data tersebut melengkapi pengamatan visual dan memberi gambaran mengenai respons instrumen saat aktivitas berlangsung. Waktu kejadian yang berdekatan juga memperlihatkan bahwa letusan terjadi berulang dalam rentang singkat.

Pada pukul 12.57 WIB dan 12.59 WIB, dua erupsi kembali teramati. Abu yang keluar berwarna kelabu hingga hitam, dengan tinggi sekitar 100 meter di atas puncak. Sebarannya mengarah ke timur laut. Dibandingkan kolom pada pukul 11.44 WIB, tinggi abu yang terlihat pada kedua kejadian siang tersebut lebih rendah. Meski demikian, pengamatan arah dan warna tetap menjadi bagian penting dalam pencatatan aktivitas gunung.

Menjelang sore, erupsi pada pukul 17.22 WIB menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 200 meter di atas puncak, atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Kolom tersebut teramati bergerak ke arah barat laut. Informasi mengenai ketinggian dapat dinyatakan terhadap puncak maupun permukaan laut, sehingga kedua angka memberikan acuan berbeda untuk memahami jangkauan kolom yang teramati.

Aktivitas berlanjut pada malam hari. Erupsi pukul 22.22 WIB terekam dengan amplitudo maksimum 45 milimeter dan durasi 100 detik. Tiga menit kemudian, pada pukul 22.25 WIB, terjadi erupsi yang tidak teramati secara visual. Ketiadaan pengamatan visual tidak berarti kejadian tersebut tidak tercatat; laporan tetap mencantumkannya sebagai bagian dari rangkaian aktivitas.

Keseluruhan catatan waktu itu memperlihatkan erupsi sejak siang hingga malam, dengan variasi tinggi kolom, warna abu, arah sebaran, serta hasil rekaman seismograf. Pada saat laporan dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung. Karena itu, rincian tersebut merupakan catatan kondisi selama periode pengamatan, bukan pernyataan bahwa aktivitas telah berakhir.

Laporan pengamatan Gunung Anak Krakatau pada Senin (19/10/2026), pukul 00.00–06.00 WIB, menyatakan status aktivitas gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini tercantum dalam pemantauan rutin yang merangkum kondisi visual dan kegempaan selama enam jam pengamatan. Informasi tersebut menjadi gambaran aktivitas gunung pada periode yang dilaporkan, bukan perubahan tingkat status. Dengan demikian, status yang berlaku pada waktu itu tetap Siaga.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menyampaikan bahwa gunung tertutup kabut. Kondisi tersebut membuat asap kawah tidak terlihat selama pengamatan berlangsung. Kamera pemantau atau CCTV juga tertutup abu vulkanik, sehingga pandangan melalui perangkat tersebut tidak dapat digunakan untuk melihat kondisi gunung secara jelas. Keterbatasan pengamatan visual ini dicatat bersama laporan kegempaan agar informasi mengenai aktivitas gunung tetap disampaikan berdasarkan data yang tersedia pada periode tersebut.

Catatan seismik menunjukkan satu gempa frekuensi rendah dan 21 gempa hybrid atau fase banyak. Selain itu, terekam tiga gempa vulkanik dangkal serta satu gempa vulkanik dalam. Jenis-jenis gempa tersebut merupakan bagian dari parameter yang dipantau untuk menilai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Jumlah kejadian yang tercatat merujuk pada rentang pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, sehingga tidak menggambarkan keseluruhan aktivitas di luar periode pemantauan yang disebutkan.

Pengamatan juga mencatat tremor menerus dengan amplitudo berkisar 1 hingga 10 milimeter, sementara amplitudo yang dominan tercatat sebesar 3 milimeter. Data tremor ini melengkapi catatan gempa lainnya dalam laporan pada Senin pagi tersebut. Karena kondisi gunung tertutup kabut dan CCTV tertutup abu, informasi visual mengenai asap kawah tidak tersedia. Sementara itu, status aktivitas tetap Level III atau Siaga berdasarkan laporan yang disampaikan. Rincian pengamatan itu memberi pembaca konteks mengenai kondisi visual dan kegempaan yang tercatat pada enam jam tersebut, tanpa menyatakan adanya perubahan status ataupun perkembangan setelah waktu laporan berakhir.

Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan diminta mematuhi pembatasan aktivitas di sekitar Gunung Anak Krakatau. Tidak seorang pun diperbolehkan memasuki atau melakukan kegiatan dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Ketentuan ini berlaku bagi semua pihak, termasuk warga yang beraktivitas di kawasan tersebut serta wisatawan yang ingin mendekati gunung untuk melihat kondisi secara langsung. Pembatasan ditetapkan sebagai langkah keselamatan saat aktivitas erupsi masih berlangsung. Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan arahan tersebut, meskipun kondisi di lokasi tampak tenang atau tidak terlihat adanya lontaran material. Perubahan aktivitas dapat terjadi, sehingga kawasan dalam radius yang ditentukan harus tetap dihindari.

Selain itu, masyarakat dilarang memasuki wilayah dalam radius satu kilometer dari pulau baru yang terbentuk di sektor barat laut dan tenggara gunung. Pembatasan ini mencakup kegiatan di darat maupun upaya mendekat melalui perairan di sekitar pulau. Suwarno mengimbau masyarakat agar tetap terhadap sejumlah potensi bahaya, lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan aliran lava. Bahaya tersebut dapat mengancam keselamatan orang yang berada terlalu dekat dengan pusat aktivitas gunung. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi dan arahan resmi, serta tidak mencoba memasuki kawasan terlarang untuk mengamati erupsi. Warga juga perlu memahami bahwa ancaman tidak hanya berasal dari material yang terlihat ketika erupsi terjadi.

Suwarno turut mengingatkan adanya kemungkinan erupsi sekunder apabila lava yang panas berkontak dengan air laut atau air hujan.

Baca juga: TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda