Dari Karhutla Indonesia ke Amazon: Asap dan Kebakaran Meluas di Tengah El Niño

oleh -53 Dilihat
oleh
Dari Karhutla Indonesia ke Amazon: Asap dan Kebakaran Meluas di Tengah El Niño

Jakarta | Kebakaran hutan yang meluas di kawasan Amazon, Brasil, terjadi saat wilayah tersebut menghadapi kekeringan ekstrem yang diperburuk oleh El Niño. Kondisi kering membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan dapat membantu api menyebar, sementara akses ke sejumlah lokasi terpencil menyulitkan pemantauan serta penanganan. Kebakaran di kawasan tropis ini menjadi perhatian karena dampaknya tidak berhenti pada area yang terbakar, tetapi juga menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari titik api.

Asap tebal dari kebakaran menyelimuti sejumlah wilayah dan menurunkan kualitas udara. Partikel halus dalam asap dapat mengganggu pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru-paru atau jantung. Ketika asap bergerak mengikuti arah angin, dampaknya dapat terasa di kawasan yang tidak mengalami kebakaran langsung. Karena itu, pemantauan kondisi udara dan penyampaian informasi kesehatan menjadi bagian penting dari respons terhadap bencana.

Citra satelit NASA bertanggal 12 Oktober 2026 memperlihatkan kepulan asap di Amazon bagian tengah dan timur, pada kedua sisi Sungai Amazon. Pengamatan satelit membantu menunjukkan sebaran asap dalam cakupan luas dan memberikan gambaran mengenai lokasi yang perlu diawasi. Namun, citra tersebut merupakan potret pada waktu tertentu; kondisi kebakaran dapat berubah seiring cuaca, angin, dan tindakan pemadaman di lapangan.

Situasi ini mengingatkan pada kebakaran hutan dan lahan yang pernah melanda Indonesia, ketika kemarau dan kondisi atmosfer turut memperburuk penyebaran api serta kabut asap. Meski memiliki kemiripan dalam dampak dan tantangan penanganan, lokasi peristiwa perlu dibedakan dengan jelas: kebakaran yang dibahas di Amazon terjadi di Brasil, sedangkan Indonesia menjadi pembanding dalam rangkaian kebakaran tropis yang disebut sumber. Perbandingan tersebut dapat membantu menjelaskan pola risiko bersama, tanpa menyamakan penyebab atau kondisi setempat. Setiap wilayah memiliki karakter lanskap, tata guna lahan, cuaca, dan kapasitas penanganan yang berbeda. Peristiwa di Brasil maupun Indonesia menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan, pengurangan sumber penyulut api, serta perlindungan kesehatan warga ketika asap meluas. Pemantauan kebakaran dan kualitas udara secara berkelanjutan dibutuhkan agar masyarakat memperoleh peringatan yang tepat waktu.

Di Manaus, salah satu kota terbesar di kawasan Amazon, asap kebakaran berdampak langsung pada kualitas udara dan kegiatan sehari-hari. Konsentrasi PM2.5 tercatat melampaui 135 mikrogram per meter kubik, tingkat yang menunjukkan paparan partikel halus sangat tinggi. Partikel berukuran kecil dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, sehingga kondisi tersebut menjadi perhatian bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit jantung.

Buruknya udara turut mendorong pembatalan sejumlah kegiatan. Beberapa sekolah menghentikan aktivitas, sementara acara publik dan pertandingan olahraga juga dibatalkan atau ditunda. Langkah tersebut mencerminkan upaya mengurangi waktu warga berada di luar ruangan ketika asap pekat menyelimuti kota. Namun, dampak kebakaran tidak berhenti pada jadwal sekolah dan agenda komunitas. Warga dapat menghadapi gangguan mobilitas, aktivitas ekonomi yang terhambat, serta kebutuhan untuk membatasi paparan asap selama kondisi udara belum membaik.

Peristiwa di Amazon ini berlangsung bersamaan dengan kabar kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kebakaran dilaporkan telah terjadi sejak Agustus 2026, lalu pada Oktober ratusan rumah dilaporkan hancur dan asap menyelimuti sejumlah pulau. Rincian tersebut menunjukkan bahwa dampak api dapat meluas dari kerusakan kawasan terbakar hingga gangguan terhadap permukiman dan kualitas udara. Meski lokasi dan kondisi masing-masing berbeda, kedua kejadian memperlihatkan bagaimana kebakaran dapat mengancam kesehatan, pendidikan, serta kehidupan masyarakat.

Perbandingan ini perlu dibaca secara cermat: laporan tentang Manaus dan Indonesia tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kebakaran di kedua tempat memiliki penyebab atau skala yang sama. Namun, kondisi El Niño dan kekeringan dapat memperbesar risiko kebakaran di sejumlah kawasan, sementara perubahan cuaca dan angin turut memengaruhi sebaran asap. Pemantauan kualitas udara, peringatan yang mudah dipahami, dan perlindungan bagi kelompok rentan menjadi penting ketika asap mencapai permukiman. Informasi tentang konsentrasi PM2.5 juga membantu warga dan lembaga menentukan apakah kegiatan luar ruang sebaiknya dibatasi. Di tengah kejadian yang berkembang, penyampaian data yang terukur diperlukan agar masyarakat memahami bahaya dan langkah pencegahan yang relevan.

Hutan Amazon rentan terhadap kebakaran ketika kekeringan berkepanjangan mengurangi kelembapan tanah dan mengeringkan serasah serta vegetasi di bawah tajuk. Kondisi tersebut membuat bahan bakar alami lebih mudah menyala dan memungkinkan api merambat lebih cepat. Dampak El Niño dapat memperburuk kekurangan hujan di sejumlah wilayah, sementara perubahan penggunaan lahan ikut mengubah lanskap hutan. Data Institut Meteorologi Nasional Brasil menunjukkan curah hujan di Manaus pada Agustus tercatat 95 persen di bawah normal, lalu pada September sekitar 60 persen lebih rendah daripada biasanya. Defisit tersebut menekan kelembapan lingkungan dan memperpanjang periode ketika tumbuhan serta tanah tetap kering.

Sebagian besar kebakaran di Amazon dipicu aktivitas manusia, bukan sambaran petir, yang menyumbang kurang dari satu persen kejadian. Api kerap dinyalakan untuk membuka lahan pertanian atau mengelola padang penggembalaan. Praktik pembakaran ini dapat berlangsung terkendali dalam kondisi basah, tetapi risikonya meningkat saat vegetasi mengering dan cuaca panas. Jika api meluas melampaui area yang direncanakan, angin dan bahan bakar kering dapat membawanya ke vegetasi hutan di sekitarnya. Di tengah kekeringan, kebakaran yang semula kecil berpotensi menjadi sulit dikendalikan dan menyebar jauh dari lokasi pembakaran awal. Karena itu, kondisi iklim dan pembukaan lahan saling berpengaruh dalam memperbesar risiko kebakaran.

Shane Coffield, peneliti University of Maryland yang bekerja bersama NASA Goddard, memperkirakan terdapat sekitar 50–70 kebakaran tak terkendali di sekitar Santarém. Analisisnya menunjukkan jumlah kebakaran di wilayah itu sekitar 40 persen lebih banyak daripada yang terdeteksi oleh sistem FIRMS. Angka tersebut memperlihatkan bahwa pemantauan satelit dapat melewatkan sebagian kejadian, sehingga data terdeteksi tidak selalu menggambarkan keseluruhan situasi di lapangan. Asap tebal dan awan dapat menghalangi sensor untuk melihat titik panas, sedangkan kanopi pohon juga menutupi api yang berada di bawah tajuk. Hambatan ini menyulitkan penghitungan kebakaran secara akurat dan memperlambat pemahaman tentang seberapa luas api telah menyebar. Pengamatan lapangan dan pemantauan satelit, karena itu, perlu dibaca bersama ketika menilai skala kebakaran.

Douglas Morton, ilmuwan dari Goddard Space Flight Center NASA, mengingatkan bahwa kebakaran di wilayah tropis tidak selalu menjadi peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam pandangannya, kondisi yang mendukung kebakaran dapat muncul berurutan di berbagai belahan dunia, sehingga rangkaian kejadian di satu kawasan diikuti oleh kebakaran di kawasan lain. Ia menggambarkan kebakaran di Indonesia yang kemudian disusul kebakaran di Amazon sebagai “domino kedua”. Sebutan itu menekankan urutan waktunya, bukan hubungan langsung bahwa kebakaran Indonesia menyebabkan kebakaran Amazon.

Di Amazon, perhatian tertuju pada sejumlah wilayah, termasuk negara bagian Pará dan Amazonas. Morton mengaitkan pola kebakaran yang terjadi di kawasan tropis pada tahun ini dengan rangkaian serupa yang terlihat pada 2015–2016, lalu muncul kembali pada 2023. Pengulangan pola tersebut menjadi alasan untuk mencermati perkembangan kondisi kebakaran lintas negara dan wilayah, tanpa menganggap bahwa setiap tahun akan berlangsung dengan cara yang sama. Perubahan kondisi lingkungan dan cuaca dapat memengaruhi risiko, sementara kebakaran yang terjadi di satu bagian kawasan dapat menjadi bagian dari gambaran yang lebih luas.

Morton juga memperingatkan bahwa risiko kebakaran dapat meluas ke wilayah lain di utara Amazon.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Perkuat Kesiapsiagaan Dalam Menangani Karhutla, Personel Lanud Sjamsudin Noor Asah Kemampuan Operasikan Kendaraan Pemadam Kebakaran