Jakarta | Kepala Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa dampak kecerdasan buatan terhadap pasar tenaga kerja dapat menyerupai “tsunami yang bergerak lambat”. Gambaran tersebut menekankan bahwa perubahan mungkin tidak datang sekaligus atau terlihat dalam satu momen, tetapi berpotensi berkembang secara bertahap dan memengaruhi cara pekerjaan dilakukan. Dalam pandangan Georgieva, pekerja muda yang baru memasuki dunia kerja termasuk kelompok yang paling rentan menghadapi perubahan ini.
Kerentanan itu berkaitan dengan cara banyak orang memulai karier. Pada tahap awal, pekerja kerap mengerjakan tugas rutin dan berulang, kemudian memperoleh pengalaman serta keterampilan yang membantu mereka beralih ke tanggung jawab dan posisi yang lebih tinggi. Sejumlah tugas awal semacam itu berpotensi diubah oleh penggunaan AI. Jika pekerjaan yang biasanya menjadi pintu masuk karier ikut berubah, kesempatan untuk memperoleh pengalaman pertama dan membangun pijakan profesional juga dapat mengalami perubahan.
Namun, peringatan tersebut sebaiknya dipahami sebagai penilaian Georgieva mengenai arah risiko, bukan kepastian bahwa seluruh pekerja muda akan kehilangan pekerjaan atau menghadapi perjalanan karier yang sama. Dampaknya dapat berbeda menurut jenis pekerjaan, keterampilan, dan cara organisasi mengadopsi teknologi. AI mungkin mengambil alih sebagian tugas, mengubah proses kerja, atau membantu pekerja menyelesaikan tanggung jawab tertentu; konsekuensinya tidak seragam bagi semua orang. Karena itu, istilah “tsunami yang bergerak lambat” menggambarkan potensi perubahan luas yang berlangsung sepanjang waktu, bukan ramalan tentang satu hasil yang pasti.
Perhatian terhadap jalur awal karier penting karena pengalaman pada pekerjaan pertama kerap menjadi landasan bagi langkah berikutnya. Perusahaan, lembaga pendidikan, dan pembuat kebijakan perlu mencermati apakah perubahan teknologi turut mengurangi kesempatan belajar melalui tugas-tugas pemula, sekaligus menyiapkan cara agar pekerja baru tetap dapat mengembangkan kemampuan. Bagi anak muda, memahami perkembangan AI dan memperkuat keterampilan yang relevan dapat membantu menghadapi pasar kerja yang berubah. Meski begitu, penyesuaian bukan semata tanggung jawab individu: dukungan pelatihan dan rancangan pekerjaan juga berperan. Peringatan IMF, sebagaimana disampaikan Georgieva, mengajak berbagai pihak memperhatikan perubahan sejak dini, sambil menghindari kesimpulan bahwa teknologi pasti menutup peluang bagi generasi baru.Perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa kemajuan kecerdasan buatan dapat memengaruhi sekitar 40 persen pekerjaan di seluruh dunia. Angka tersebut menggambarkan luasnya perubahan yang mungkin terjadi, bukan ramalan bahwa empat dari setiap sepuluh pekerjaan pasti akan lenyap. Sebagian pekerjaan dapat berkembang karena teknologi membantu pekerja menyelesaikan tugas atau menciptakan kebutuhan baru. Sebagian lainnya mungkin menyusut, sementara beberapa jenis pekerjaan berpotensi menghilang ketika tugas utamanya dapat dilakukan secara otomatis. Dengan demikian, perubahan dapat terlihat pada jumlah pekerjaan, isi tugas, maupun keterampilan yang dibutuhkan. Besarnya dampak juga tidak seragam di semua sektor, negara, dan kelompok pekerja.
IMF memperkirakan pengaruh AI akan lebih signifikan di negara-negara maju. Perekonomian tersebut memiliki lebih banyak pekerjaan yang melibatkan tugas administratif, analitis, atau rutin yang dapat dibantu maupun diotomatisasi oleh sistem digital. Pekerja dengan keterampilan menengah dinilai menghadapi paparan yang cukup besar, sebab pekerjaan mereka kerap mencakup tugas yang relatif mudah dialihkan kepada teknologi. Namun, paparan terhadap AI tidak selalu berarti seseorang akan kehilangan pekerjaan. Dalam sejumlah pekerjaan, teknologi dapat mengambil alih sebagian tugas, sementara pekerja tetap diperlukan untuk pengawasan, penilaian, komunikasi, dan tanggung jawab yang memerlukan pertimbangan manusia. Dampak akhirnya bergantung pada cara perusahaan menerapkan teknologi serta kemampuan pekerja dan institusi menyesuaikan diri.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menekankan bahwa AI tidak hanya mengurangi permintaan terhadap tenaga kerja. Teknologi tersebut juga dapat menggeser kebutuhan tenaga kerja yang sudah ada, termasuk dengan mengubah kombinasi keterampilan dalam suatu pekerjaan dan meningkatkan permintaan terhadap keahlian tertentu. Perusahaan mungkin membutuhkan lebih sedikit waktu untuk tugas berulang, tetapi lebih banyak kemampuan untuk menggunakan, memeriksa, atau mengelola keluaran AI. Perubahan seperti ini dapat memengaruhi jalur karier anak muda, karena pekerjaan tingkat awal pun dapat berubah dari segi tanggung jawab dan kompetensi yang diharapkan. Karena itu, perkiraan sekitar 40 persen sebaiknya dipahami sebagai ukuran potensi perubahan, bukan angka pasti pekerjaan yang akan terhapus. Hasilnya akan ditentukan oleh pilihan adopsi, pelatihan, dan kebijakan di berbagai negara.
Peringatan Kristalina Georgieva menempatkan pendidikan sebagai salah satu unsur penting dalam menghadapi perubahan yang dibawa kecerdasan buatan. Menurut Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional tersebut, pemerintah perlu menyesuaikan sistem pendidikan agar pekerja dapat terus mengembangkan keterampilan sepanjang perjalanan karier. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai tahap awal sebelum seseorang memasuki dunia kerja, tetapi juga sebagai proses yang dapat berlangsung ketika kebutuhan pekerjaan berubah.
Perhatian terhadap pembelajaran berkelanjutan berkaitan dengan perubahan permintaan tenaga kerja akibat AI. Ketika teknologi ini digunakan dalam semakin banyak tugas, keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja dapat bergeser. Sebagian pekerja mungkin perlu memperbarui kemampuan yang telah dimiliki, sementara pekerja lain dapat menghadapi kebutuhan untuk mempelajari keterampilan berbeda. Karena itu, kemampuan untuk terus belajar menjadi relevan bagi pekerja yang ingin menyesuaikan diri dengan perubahan peran dan tuntutan pekerjaan.
Usulan Georgieva menekankan penyesuaian sistem pendidikan, bukan sekadar penyediaan pendidikan pada satu masa dalam hidup. Gagasan tersebut menghubungkan kesiapan pekerja dengan kemampuan sistem untuk mendukung pengembangan keterampilan secara berkelanjutan. Dalam konteks perubahan teknologi, pendidikan dan pelatihan sepanjang karier menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana pekerja dapat mengikuti perubahan kebutuhan pasar kerja. Namun, kebutuhan itu dapat muncul ketika perubahan berlangsung, bukan hanya saat seseorang pertama kali memilih jalur pendidikan atau pekerjaan.
Georgieva juga menyoroti konsekuensi yang dapat menjangkau keuangan pemerintah. Gangguan pada pasar kerja berisiko menekan penerimaan pajak, sehingga dapat memperburuk kondisi keuangan pemerintah. Dengan demikian, perubahan yang berkaitan dengan AI tidak hanya menjadi persoalan penyesuaian keterampilan pekerja, tetapi juga dapat berhubungan dengan kemampuan pemerintah mempertahankan penerimaannya. Keterkaitan pendidikan, perubahan permintaan tenaga kerja, dan penerimaan pajak menunjukkan mengapa kesiapan menghadapi pergeseran pasar kerja menjadi perhatian dalam peringatan tersebut.
Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam menyoroti menyusutnya peluang kerja bagi lulusan baru di tengah perubahan yang dipicu kecerdasan buatan. Data pasar kerja memperlihatkan bahwa 74,4 persen lulusan universitas Singapura memperoleh pekerjaan penuh waktu pada 2025, turun dari 79,4 persen pada 2024. Angka tersebut menjadi perhatian karena pekerjaan pertama kerap menandai peralihan penting dari pendidikan menuju kehidupan profesional. Bagi banyak lulusan, memasuki dunia kerja bukan sekadar memperoleh penghasilan, melainkan juga kesempatan menerapkan pengetahuan, memahami kebiasaan di tempat kerja, dan mulai membangun arah karier. Penurunan proporsi itu tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab kesulitan setiap individu, tetapi memperlihatkan tantangan yang semakin nyata bagi angkatan muda yang memasuki pasar kerja. Tharman mengangkat persoalan tersebut sebagai bagian dari pembahasan lebih luas mengenai bagaimana perubahan ekonomi dan teknologi dapat memengaruhi prospek generasi berikutnya.
Kekhawatirannya bukan hanya soal lulusan yang harus menunggu lebih lama untuk memperoleh pekerjaan. Menurut Tharman, jika pekerjaan pertama tertunda, anak muda dapat kehilangan waktu penting untuk membangun keterampilan melalui pengalaman langsung. Pada awal karier, tugas-tugas dasar dapat membantu pekerja memahami proses, berkomunikasi dengan rekan, menerima umpan balik, serta mengembangkan penilaian profesional. Jika peluang semacam itu berkurang, proses belajar dan kemajuan menuju peran yang lebih bertanggung jawab juga berpotensi melambat.
Baca juga: Hadiri Peringatan 10 Tahun Hubungan Jiangxi–Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Dari Perdagangan ke Investasi dan Basis Produksi | Kodim Bojonegoro Gelar Upacara Peringatan Haornas XLIII Tahun 2026 | Hidup Berubah Makmur, Ini 6 Shio yang Disebut Mendapat Berkah Kekayaan
