KH Syukron Ma’mun Wafat, Tinggalkan Jejak Dakwah dan Pendidikan

oleh -23 Dilihat
oleh
KH Syukron Ma’mun Wafat, Tinggalkan Jejak Dakwah dan Pendidikan

Jakarta | Kabar wafat KH Syukron Ma’mun disampaikan pada Minggu, 18 Oktober 2026, oleh politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M. Romahurmuziy. Informasi tersebut, menurut Romahurmuziy, ia terima dari putra almarhum. Dalam keterangannya, ia menyebut Syukron meninggal dunia pada usia 84 tahun. Rangkaian informasi itu memuat waktu, lokasi, dan perjalanan yang ditempuh almarhum sebelum kabar wafatnya diketahui publik.

Syukron disebut meninggal dalam perjalanan dari kediamannya menuju Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Peristiwa tersebut berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB. Rincian ini menjadi keterangan utama yang disampaikan Romahurmuziy mengenai kabar duka tersebut. Ia mengaitkan informasi yang diterimanya langsung dari putra almarhum dengan usia Syukron serta perjalanan menuju rumah sakit pada pagi itu. Tidak ada sebab kematian yang disampaikan dalam informasi tersebut, sehingga kabar ini hanya memuat keterangan mengenai waktu dan tempat kejadian, serta sumber informasi yang disebutkan.

Dengan demikian, kabar yang beredar pada Minggu pagi itu menyebut KH Syukron Ma’mun wafat pada usia 84 tahun, sekitar pukul 09.00 WIB, ketika berada dalam perjalanan menuju RS Pondok Indah di Jakarta dari kediamannya. M. Romahurmuziy menjadi pihak yang menyampaikan kabar tersebut kepada publik, dengan menjelaskan bahwa ia memperoleh informasi dari putra Syukron. Keterangan itu memberikan gambaran mengenai bagaimana kabar wafat diterima dan disampaikan, tanpa memuat penjelasan lebih lanjut tentang kondisi yang mendahului perjalanan maupun penyebab meninggalnya almarhum. Rincian waktu dan lokasi yang tersedia tetap merujuk pada keterangan Romahurmuziy, sebagaimana informasi yang ia terima dari keluarga. Tidak ada rincian lain yang perlu ditambahkan di luar keterangan tersebut.

Dalam keterangan Romahurmuziy, KH Syukron Ma’mun tercatat terlibat dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai Wakil Ketua Majelis Syariah DPP PPP. Peran tersebut dijalankan dalam dua periode, yakni 2011–2014 dan 2014–2019. Penyebutan masa jabatan ini menggambarkan keterlibatan beliau di lingkungan partai melalui majelis yang menangani pertimbangan syariah. Keterangan tersebut juga menempatkan kiprah organisasi Syukron Ma’mun sebagai salah satu bagian dari perjalanan pengabdiannya, di samping aktivitas dakwah dan pendidikan. Informasi mengenai keterlibatan itu disampaikan Romahurmuziy, sehingga batas keterangannya merujuk pada jabatan dan rentang periode tersebut.

Di bidang pendidikan keagamaan, Syukron Ma’mun dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman. Peran pengasuh menempatkannya dekat dengan kehidupan pesantren serta pembinaan para santri. Kiprah di lingkungan pesantren menjadi bagian penting dari pengabdian yang berjalan berdampingan dengan aktivitasnya sebagai muballigh. Melalui pesantren, pendidikan dan pembinaan agama berlangsung dalam lingkungan yang teratur, sementara dakwahnya menjangkau masyarakat di luar lembaga. Kedua peran itu menunjukkan keluasan ruang pengabdian yang disebut dalam keterangan mengenai dirinya, tanpa mengurangi fokus pada tugasnya sebagai pengasuh dan penyampai dakwah.

Sebagai muballigh, Syukron Ma’mun berdakwah lintas daerah di Indonesia dan juga lintas negara. Jangkauan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan dakwahnya tidak terbatas pada satu wilayah. Ia menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat di berbagai daerah, serta hadir dalam lingkup yang melampaui batas negara. Keterangan tentang perjalanan dakwah ini memberi gambaran mengenai luasnya jangkauan penyampaian ajaran Islam yang menjadi bagian dari kiprahnya. Bersama keterlibatannya di PPP dan perannya di Daarul Rahman, aktivitas sebagai muballigh melengkapi catatan pengabdian Syukron Ma’mun. Uraian tersebut berpijak pada keterangan yang disampaikan Romahurmuziy, yakni jabatan Wakil Ketua Majelis Syariah DPP PPP pada dua periode, tugas sebagai pengasuh pesantren, dan dakwah lintas wilayah serta negara.

Di tengah kiprahnya dalam dakwah, KH Syukron Ma’mun dikenal memiliki forum pengajian rutin tahunan yang diselenggarakan di Singapura, Malaysia, dan Brunei. Kegiatan tersebut memperlihatkan jangkauan dakwahnya yang melampaui lingkungan lokal dan menjangkau masyarakat Muslim di sejumlah negara Asia Tenggara. Pengajian rutin itu menjadi ruang pertemuan bagi jamaah untuk memperoleh pengajaran agama sekaligus mengikuti kegiatan keilmuan yang dipimpin oleh almarhum. Kehadiran forum di tiga negara tersebut juga menjadi bagian dari jejak dakwah yang terus dikenang setelah wafatnya. Melalui kegiatan yang berlangsung secara berkala, Syukron Ma’mun berhubungan dengan jamaah dan kalangan keagamaan di kawasan tersebut, serta menjaga kesinambungan pengajian dari tahun ke tahun.

Selain menjalankan kegiatan pengajian, Syukron Ma’mun menjabat sebagai Ketua Forum Ulama dan Habaib (FUHAB). Posisi itu menempatkannya dalam upaya membangun hubungan antartokoh agama, termasuk ulama dan habaib, yang memiliki peran dalam kehidupan umat. Romahurmuziy menyampaikan bahwa Syukron Ma’mun menggiatkan persatuan para muballigh dan habib. Keterangan tersebut menggambarkan salah satu sisi kiprahnya di luar penyampaian materi dakwah di hadapan jamaah, yakni mengupayakan keterhubungan di para pendakwah dan tokoh agama. Dalam konteks FUHAB, persatuan itu menjadi bagian dari kerja organisasi yang mempertemukan kalangan ulama dan habaib. Peran tersebut turut menjelaskan bagaimana aktivitas dakwahnya berkaitan dengan upaya merawat kebersamaan di para penyampai pesan keagamaan.

Julukan “singa podium” melekat pada sosok Syukron Ma’mun dalam kaitannya dengan cara ia berdakwah dan tampil menyampaikan pengajaran. Julukan itu hadir bersama gambaran mengenai dakwahnya yang disebut merangkul semua kalangan. Dengan demikian, kekuatan penyampaian di podium tidak dipisahkan dari jangkauan pesan yang ditujukan kepada masyarakat luas. Gambaran tersebut sejalan dengan kegiatan pengajian lintas negara dan perannya dalam forum yang melibatkan ulama serta habaib. Rekam jejak ini memperlihatkan dakwah sebagai kegiatan yang berlangsung di hadapan jamaah sekaligus melalui hubungan dengan para muballigh dan tokoh agama. Dari forum pengajian tahunan hingga kepemimpinan di FUHAB, kiprah almarhum mencakup penyampaian ajaran serta upaya menggiatkan persatuan. Berbagai kegiatan itu menjadi bagian dari warisan dakwah dan pendidikan yang ditinggalkannya.

Pondok Pesantren Daarul Rahman menjadi salah satu warisan penting KH Syukron Ma’mun dalam bidang pendidikan Islam. Lembaga yang disebut telah berdiri sejak 1975 itu berkembang sebagai tempat belajar dan pembinaan bagi para santri, sekaligus ruang untuk menanamkan ilmu agama, disiplin, serta nilai-nilai kehidupan. Melalui pesantren tersebut, Syukron turut membangun jalur pendidikan yang menjangkau banyak generasi dan memperkuat peran pesantren dalam masyarakat. Kiprahnya menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga diwujudkan dalam lembaga pendidikan yang terus mendampingi para pelajar.

Daarul Rahman disebut telah menghasilkan ratusan ribu alumni yang kemudian berkiprah di berbagai bidang. Para lulusan itu tersebar dalam beragam profesi dan pengabdian, sehingga pengaruh pendidikan pesantren dapat terlihat melampaui lingkungan sekolah. Jejak tersebut menjadi bagian dari kontribusi Syukron yang akan dikenang, di samping perannya sebagai pendakwah dan tokoh agama. Pesantren juga memberikan bekal keilmuan dan karakter bagi santri untuk mengambil peran di tengah masyarakat. Dengan demikian, Daarul Rahman bukan semata lembaga pendidikan, melainkan salah satu saluran yang meneruskan gagasan dan nilai yang diperjuangkan pendirinya. Besarnya jumlah alumni dan keberagaman kiprah mereka menggambarkan luasnya jangkauan pendidikan yang dibangun selama puluhan tahun.

Terkait pemakaman, Romahurmuziy menyampaikan rencana agar jenazah KH Syukron Ma’mun dimakamkan pada hari yang sama, Ahad, 18 Oktober 2026, setelah salat Zuhur. Lokasi yang direncanakan adalah pesantren beliau di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Informasi tersebut merupakan rencana yang disampaikan Romahurmuziy, sehingga pelaksanaannya tidak dapat dinyatakan sebagai kepastian sebelum ada keterangan lebih lanjut. Pesantren yang selama ini menjadi pusat pendidikan dan dakwah Syukron dipilih sebagai lokasi pemakaman menurut rencana itu.

Baca juga: Bentuk Karakter Pelajar Sejak Dini, Babinsa Lakukan Manunggal Pendidikan | Menginginkan Pikiran yang Lebih Tenang Seiring Bertambahnya Usia? Tinggalkan 8 Kebiasaan Sehari-hari