Peta Keterwakilan Perempuan di Berbagai Industri Dunia

oleh -13 Dilihat
oleh
Peta Keterwakilan Perempuan di Berbagai Industri Dunia

Jakarta | Global Gender Gap Report 2026 dari World Economic Forum menyajikan perbandingan keterwakilan perempuan di sejumlah sektor ekonomi. Dalam pemetaan ini, laporan memeringkat 18 industri berdasarkan proporsi pekerja perempuan. Dengan demikian, angka yang ditampilkan menunjukkan bagian perempuan dalam komposisi tenaga kerja masing-masing industri, bukan jumlah perempuan secara keseluruhan ataupun ukuran lain, seperti tingkat senioritas dan besarnya pendapatan. Pembacaan yang tepat perlu berangkat dari cakupan dan cara pengukuran tersebut.

Perhitungan menggunakan rata-rata industri yang tidak tertimbang. Artinya, setiap industri diperlakukan sebagai satu kategori dalam pemeringkatan, bukan diberi bobot berdasarkan ukuran tenaga kerja atau jumlah pekerja di dalamnya. Karena itu, urutan tersebut membantu membandingkan proporsi perempuan antarsektor dalam kerangka laporan, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan berapa banyak perempuan yang bekerja di setiap industri. Posisi suatu sektor juga tidak menjelaskan penyebab komposisi itu atau kondisi pengalaman kerja para pekerjanya.

Data yang digunakan bersumber dari LinkedIn dan mencakup 61 negara, dengan cakupan data hingga Juni 2026. Informasi ini menjadi dasar bagi gambaran lintas industri yang disajikan dalam laporan, tetapi batas negara dan periode pengumpulan tetap penting saat menafsirkan hasil. Pemeringkatan tersebut merupakan potret berdasarkan data yang tersedia untuk cakupan itu; hasilnya bukan ukuran universal yang dapat diterapkan tanpa mempertimbangkan perbedaan pasar kerja, definisi pekerjaan, serta konteks masing-masing negara.

Secara khusus, angka dalam pemeringkatan tidak menggambarkan keadaan Indonesia secara terpisah. Indonesia termasuk dalam cakupan lintas negara yang digunakan laporan, tetapi nilai rata-rata industri yang disajikan tidak boleh dibaca sebagai persentase pekerja perempuan di Indonesia. Untuk memahami situasi nasional, diperlukan data khusus Indonesia dan penjelasan yang sesuai dengan konteks lokal. Pembedaan ini membantu pembaca menggunakan temuan laporan secara cermat: sebagai perbandingan komposisi pekerja perempuan antarsektor dalam kumpulan data global, bukan sebagai diagnosis atas satu negara atau sebagai gambaran seluruh aspek kesetaraan gender di tempat kerja.

Di sektor yang dibandingkan dalam peta keterwakilan perempuan di berbagai industri dunia, kesehatan dan layanan perawatan menempati urutan tertinggi. Proporsinya mencapai 60%, sehingga perempuan membentuk bagian terbesar dari tenaga kerja pada sektor tersebut. Angka ini menunjukkan komposisi pekerja, bukan jumlah absolut orang yang bekerja. Karena itu, sektor dengan persentase perempuan tertinggi tidak serta-merta menjadi sektor dengan jumlah pekerja perempuan paling banyak secara keseluruhan. Pembacaan yang cermat perlu membedakan proporsi dari skala tenaga kerja, sebab besarnya industri, cakupan pekerjaan, dan jumlah pekerja total dapat berbeda. Dalam konteks perbandingan ini, perhatian utama adalah porsi perempuan di tiap sektor, bukan besaran absolut.

Setelah kesehatan dan perawatan, pendidikan berada di urutan berikutnya dengan proporsi 54%. Layanan konsumen menyusul tipis, mencatat 52%, sementara pemerintahan dan sektor publik mencapai 51%. Keempat bidang tersebut, termasuk sektor teratas, menunjukkan bahwa perempuan merupakan sekitar separuh atau lebih dari pekerja yang tercakup dalam masing-masing kategori. Namun, urutan itu tidak berarti selisih antarsektor selalu besar. Pendidikan berbeda enam poin persentase dari kesehatan dan perawatan, sedangkan layanan konsumen dan pemerintahan hanya terpaut beberapa poin dari satu sama lain. Data ini memberi gambaran tentang variasi representasi di bidang layanan penting, sekaligus menegaskan bahwa peta keterwakilan perempuan tidak seragam di seluruh ekonomi.

Pada ujung lain dari urutan tersebut, infrastruktur mencatat proporsi perempuan terendah, yaitu 24%. Dibandingkan dengan kesehatan dan layanan perawatan yang mencapai 60%, terdapat selisih sebesar 36 poin persentase. Perbedaan ini cukup jelas dalam ukuran proporsi, dan memperlihatkan jarak representasi perempuan kedua sektor. Meski begitu, angka tersebut tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa jumlah pekerja perempuan di infrastruktur lebih sedikit secara absolut daripada jumlah mereka di kesehatan dan perawatan. Ukuran industri dan jumlah keseluruhan pekerja dapat memengaruhi hitungan orang, sementara persentase hanya menggambarkan bagian perempuan dalam total pekerja sektor masing-masing. Pembedaan ini penting agar perbandingan tidak mengaburkan makna indikator yang digunakan.

Kuatnya keterwakilan perempuan di bidang kesehatan, perawatan, dan pendidikan tidak terbentuk secara kebetulan. Komposisi tenaga kerja di sektor-sektor tersebut dipengaruhi oleh jalur pendidikan yang ditempuh, kebutuhan layanan masyarakat, serta pola kerja yang telah berkembang selama beberapa generasi. Pendidikan tinggi membuka akses ke berbagai profesi, tetapi pilihan bidang studi dan kesempatan kerja juga dibentuk oleh norma sosial dan ekspektasi mengenai pekerjaan yang dianggap sesuai bagi perempuan maupun laki-laki.

Di banyak negara, jumlah perempuan yang melanjutkan pendidikan tinggi kini melampaui jumlah laki-laki, meskipun perbedaannya beragam menurut wilayah dan disiplin ilmu. Kecenderungan ini tampak kuat pada sejumlah program pendidikan, kesehatan, dan ilmu sosial, yang menjadi jalur masuk menuju pekerjaan mengajar, merawat, dan memberikan layanan kesehatan. Bertambahnya lulusan perempuan memperluas ketersediaan tenaga profesional serta meningkatkan keterwakilan mereka di berbagai tingkat pekerjaan. Namun, dominasi dalam pendidikan atau jumlah pekerja belum selalu berarti akses yang setara terhadap spesialisasi tertentu, jabatan senior, pendapatan, maupun pengambilan keputusan.

Dalam kedokteran, Association of American Medical Colleges mencatat kemajuan signifikan perempuan dalam pendidikan medis dan profesi dokter. Perempuan semakin banyak memasuki sekolah kedokteran dan memperkuat kehadiran mereka dalam tenaga medis. Meski demikian, kesenjangan masih terlihat pada jenjang karier dan kepemimpinan, termasuk keterwakilan dalam posisi pimpinan, bidang spesialisasi tertentu, serta peluang untuk maju. Karena itu, peningkatan jumlah perempuan di ruang kelas dan profesi merupakan bagian penting dari perubahan, tetapi tidak dengan sendirinya menghapus hambatan struktural.

Sejarah pekerjaan turut menjelaskan pola tersebut. Mengajar dan merawat kerap dipandang sebagai perpanjangan dari tanggung jawab domestik yang secara tradisional dilekatkan kepada perempuan. Asosiasi ini memengaruhi proses rekrutmen, penilaian terhadap keterampilan, dan harapan tentang karier—misalnya anggapan bahwa pekerjaan perawatan lebih cocok bagi perempuan atau bahwa mereka akan mengutamakan keluarga daripada promosi. Warisan sosial tersebut membantu membentuk demografi sektor-sektor teratas saat ini. Memahami kaitan pendidikan, sejarah kerja, dan struktur organisasi penting untuk membedakan kemajuan keterwakilan dari kesetaraan yang lebih menyeluruh.Infrastruktur, pertambangan, manufaktur, dan transportasi masih menjadi sektor yang didominasi laki-laki di banyak negara. Keterwakilan perempuan yang rendah tampak pada pekerjaan lapangan maupun posisi teknis, mulai dari operator alat berat dan teknisi hingga insinyur. Kondisi ini tidak semata-mata mencerminkan pilihan individu. Akses terhadap jalur masuk pekerjaan, pengalaman awal, dan lingkungan kerja turut membentuk siapa yang dapat memulai serta bertahan dalam karier tersebut. Ketika komposisi tenaga kerja telah lama timpang, kebiasaan perekrutan dan pola promosi juga dapat mempertahankan keadaan itu.

Salah satu hambatan muncul dari jalur magang tradisional dan pelatihan kerja yang kerap menjadi pintu masuk ke profesi teknis. Jika jaringan rekrutmen, informasi, atau kesempatan belajar lebih mudah dijangkau laki-laki, perempuan mungkin tidak memperoleh pengalaman yang sama untuk memenuhi persyaratan pekerjaan. Stereotip bahwa pekerjaan berat atau teknis lebih cocok bagi laki-laki dapat memengaruhi keputusan pemberi kerja, lembaga pendidikan, maupun calon pekerja. Setelah diterima, budaya tempat kerja yang eksklusif, kurangnya dukungan, dan minimnya teladan perempuan dapat membuat pekerja sulit berkembang. Dengan demikian, kesempatan formal untuk melamar belum tentu berarti akses yang setara dalam praktik.

Studi McKinsey tentang sektor pertambangan menemukan bahwa perempuan melaporkan terbatasnya peluang untuk naik jabatan serta budaya kerja yang eksklusif.

Baca juga: Aquarius mungkin sedang mengalami kelelahan mental akibat terlalu banyak memikirkan berbagai hal secara bersamaan | Pikiran terus memikirkan pekerjaan, hubungan, masa depan, uang, keluarga, atau berbagai kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi