Kerusuhan Demo Biaya Hidup di Prancis: 1.200 Orang Ditangkap, 150 Polisi Terluka

oleh -23 Dilihat
oleh
Kerusuhan Demo Biaya Hidup di Prancis: 1.200 Orang Ditangkap, 150 Polisi Terluka

Kota Paris | Demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup di Paris dan sejumlah kota lain di Prancis berubah menjadi bentrokan, penjarahan, dan pembakaran. Aksi yang semula dimaksudkan untuk menyuarakan tekanan ekonomi rumah tangga itu berlangsung di tengah ketegangan sosial yang meningkat. Di beberapa lokasi, kerumunan berhadapan dengan aparat keamanan, sementara kerusakan dan gangguan ketertiban dilaporkan menyertai jalannya unjuk rasa.

Jumlah peserta menjadi salah satu hal yang diperdebatkan. Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut sekitar 550.000 orang mengikuti aksi di seluruh negeri. Sementara itu, serikat pekerja CGT memperkirakan jumlahnya mencapai 800.000 orang. Perbedaan angka tersebut mencerminkan besarnya mobilisasi, sekaligus perbedaan cara masing-masing pihak menghitung kehadiran massa. Demonstrasi berlangsung di Paris serta kota-kota lain, sehingga kerusuhan tidak terbatas pada satu titik saja.

Situasi memanas ketika sejumlah pengunjuk rasa melempar benda dan menembakkan kembang api ke arah petugas. Polisi kemudian menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menghadapi massa serta mengendalikan kerumunan. Bentrokan di jalanan itu terjadi di tengah aksi yang melibatkan kelompok-kelompok dengan tuntutan beragam, tetapi kenaikan biaya hidup menjadi pemicu utama demonstrasi tersebut. Kerusakan, penjarahan, dan pembakaran menunjukkan bagaimana aksi protes dapat berkembang menjadi kekacauan ketika ketegangan massa dan aparat meningkat.

Kerusuhan ini menyusul berminggu-minggu protes mahasiswa, yang turut memperlihatkan luasnya ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah. Peristiwa tersebut juga terjadi enam bulan menjelang pemilihan umum untuk menggantikan Presiden Emmanuel Macron. Dengan demikian, demonstrasi berlangsung dalam periode politik yang sensitif, ketika isu biaya hidup dan respons pemerintah berpotensi menjadi perhatian besar pemilih. Besarnya jumlah peserta dan kekerasan yang terjadi menempatkan aksi itu sebagai ujian bagi upaya menjaga ketertiban, sekaligus menambah tekanan terhadap pemerintah menjelang pemungutan suara nasional.

Bentrokan dalam demonstrasi menimbulkan korban dan kerusakan yang meluas di sejumlah kota Prancis. Sebanyak 1.200 orang ditangkap, sementara 150 petugas kepolisian dilaporkan terluka. Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengecam intensitas kekerasan tersebut ketika mengunjungi petugas yang dikerahkan di pusat Paris. Ia juga menyampaikan bahwa jumlah korban bisa saja lebih besar, mengingat skala kerusuhan dan situasi yang dihadapi aparat.

Dampak kerusuhan terlihat pula pada kondisi ruang publik. Wakil Wali Kota Paris Emmanuel Grégoire mengatakan bahwa ruas-ruas jalan di kota itu mengalami kerusakan parah. Selain kerusakan infrastruktur, aksi kekerasan menimbulkan cedera serius. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya setelah terkena ledakan granat pengendali massa di Saint-Étienne, kota di Prancis selatan. Peristiwa tersebut menambah perhatian terhadap risiko yang muncul ketika bentrokan terjadi di tengah penggunaan perlengkapan pengendali massa.

Sejumlah toko juga menjadi sasaran penjarahan di Paris, Marseille, Nice, Nantes, Bordeaux, Limoges, Lille, Toulouse, dan Strasbourg. Beragam jenis usaha dilaporkan terdampak, sehingga kerusakan tidak terbatas pada satu sektor perdagangan. Di Paris, laporan menyebut sekelompok sekitar enam pemuda mengenakan masker dan sarung tangan sebelum beraksi. Mereka memutus kamera keamanan, kemudian memecahkan kaca toko. Pola tersebut menunjukkan adanya tindakan yang terarah untuk merusak tempat usaha sekaligus mengurangi kemungkinan kelompok itu terekam kamera.

Penjarahan dan perusakan toko menambah beban yang harus ditanggung pemilik usaha setelah kerusuhan, termasuk kehilangan barang dan kerusakan bangunan. Pada saat yang sama, warga dan petugas menghadapi dampak langsung dari bentrokan di jalan. Gabungan penangkapan, korban luka, cedera berat, serta kerusakan properti menggambarkan skala gangguan yang terjadi. Pernyataan pejabat pemerintah dan kota menyoroti besarnya konsekuensi keamanan maupun ekonomi, sementara insiden di berbagai wilayah memperlihatkan bahwa dampak kerusuhan tidak hanya terpusat di ibu kota.

Dampak kerusuhan tidak hanya terlihat pada toko-toko yang menjadi sasaran penjarahan. Sejumlah kantor pemerintahan kota dan fasilitas umum di berbagai wilayah Prancis turut mengalami vandalisme serta kerusakan. Di Limoges, sebuah kantor pemerintahan kota mengalami kebakaran setelah massa bertopeng menerobos masuk. Kebakaran itu disebut sengaja dilakukan oleh para pelaku. Bangunan tersebut berusia lebih dari 140 tahun dan dilaporkan mengalami kerusakan berat. Insiden ini menambah gambaran luasnya dampak bentrokan, yang menjalar dari ruang publik dan kawasan perdagangan hingga gedung-gedung yang melayani kepentingan pemerintahan setempat.

Kerusakan serupa dilaporkan di kota lain. Kantor pemerintahan kota di Marseille dan Lille dibobol serta dirusak, sementara kompleks kepolisian di Bordeaux juga mengalami kerusakan. Di Lyon, sebuah kantor layanan pariwisata dibakar. Rangkaian insiden tersebut menunjukkan bahwa sasaran dalam kerusuhan tersebar di beberapa jenis fasilitas, bukan hanya tempat usaha. Gedung pemerintahan, kompleks kepolisian, dan layanan bagi pengunjung ikut terdampak ketika aksi massa berubah menjadi perusakan. Meski bentuk kerusakannya berbeda-beda, seluruh kejadian itu menambah tekanan terhadap layanan publik dan lingkungan kota yang sudah terganggu oleh bentrokan.

Di jalanan, kondisi setelah bentrokan, pembakaran, dan penjarahan digambarkan porak-poranda. Kerusakan pada bangunan dan fasilitas umum berpadu dengan kekacauan di kawasan sekitar, meninggalkan suasana yang jauh dari aktivitas kota sehari-hari. Peristiwa di Limoges, Marseille, Lille, Bordeaux, dan Lyon memperlihatkan bahwa dampak kerusuhan meluas melampaui etalase toko maupun pusat perbelanjaan. Fasilitas yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat juga terkena imbasnya. Gambaran jalan dan gedung yang rusak itu menjadi penanda besarnya gangguan yang terjadi, tanpa mengubah fakta bahwa rincian jumlah kerusakan atau korban tambahan tidak tersedia dalam laporan yang menjadi dasar uraian ini.

Presiden Emmanuel Macron menanggapi kerusuhan dengan menegaskan bahwa tindakan kriminal tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi. Ia menyatakan pelaku vandalisme, penyerangan terhadap kantor administrasi maupun tempat usaha, serta penjarahan akan dituntut dan dihukum. Pesan tersebut membedakan hak warga untuk menyampaikan pendapat dari tindakan yang merusak fasilitas atau membahayakan orang lain. Pemerintah, melalui penegasan itu, menunjukkan bahwa penegakan hukum menjadi bagian penting dari respons terhadap situasi di jalanan. Macron juga berupaya menegaskan bahwa demonstrasi tidak membenarkan kekerasan atau perusakan, sementara proses hukum akan diarahkan kepada mereka yang terbukti terlibat. Pernyataan presiden itu muncul ketika kerusuhan memicu kekhawatiran mengenai keamanan publik dan dampaknya terhadap kegiatan masyarakat serta usaha setempat.

Respons terhadap kerusuhan turut meluas ke luar Prancis. Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyalahkan imigrasi dalam pernyataannya di platform X. Pernyataan tersebut merupakan pandangan politik Vance, bukan bukti bahwa imigrasi menyebabkan kerusuhan atau bahwa kelompok imigran bertanggung jawab atas tindak kekerasan. Di Prancis, para politisi oposisi yang bersaing untuk menggantikan Macron memanfaatkan situasi menjelang pemilihan presiden pada April dan Mei. Isu keamanan, ketertiban umum, dan cara pemerintah menangani demonstrasi menjadi bahan persaingan politik. Dalam suasana itu, para tokoh oposisi menyampaikan penilaian dan janji masing-masing kepada pemilih, sekaligus berupaya mengaitkan kerusuhan dengan perdebatan yang lebih luas tentang arah politik negara.

Marine Le Pen mengecam para perusuh dan menuduh partai Jean-Luc Mélenchon melegitimasi kekerasan. Ia berjanji akan melindungi rakyat dari kekerasan yang disebutnya berasal dari kelompok sayap kiri ekstrem. Tuduhan tersebut mencerminkan pertarungan politik, bukan kesimpulan hukum mengenai tanggung jawab atas setiap tindakan dalam kerusuhan. Mélenchon, yang sebelumnya mendukung demonstrasi dan protes mahasiswa, meminta para pengunjuk rasa menghindari penjarahan. Ia mengatakan penjarahan bertentangan dengan metode gerakannya. Sikap itu menunjukkan upayanya memisahkan demonstrasi yang didukungnya dari tindakan merusak atau mengambil barang secara paksa.

Baca juga: 9 Hal Kecil Dilakukan Orang-Orang yang Benar-Benar Hangat untuk Membuat Hidup Lebih Baik bagi Semua