Jakarta | Katie Zacharia, sekretaris pers Gedung Putih yang baru ditunjuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengakui bahwa dirinya pernah gagal dalam ujian profesi advokat. Pengakuan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (15/10/2026), di tengah sorotan publik terhadap kualifikasinya untuk menjalankan peran baru di pemerintahan. Dalam wawancara itu, pembawa acara Sean Hannity mengajukan pertanyaan secara langsung mengenai riwayat Zacharia mengikuti ujian tersebut dan hasil yang diperolehnya. Zacharia menjawab singkat, “Ya.” Sumber yang memuat pengakuan itu menyebutkan bahwa Zacharia berusia 41 tahun.
Pertukaran singkat tersebut menjadi sorotan karena menyentuh latar belakang profesional seorang pejabat yang kini bertugas sebagai juru bicara pers Gedung Putih. Pertanyaan Hannity secara khusus menanyakan apakah Zacharia pernah mengikuti ujian advokat dan tidak lulus, sehingga jawabannya mengonfirmasi pengalaman tersebut. Namun, pengakuan itu sendiri tidak memberikan rincian lebih jauh mengenai kapan ujian berlangsung, berapa kali ia mengikutinya, atau alasan ia tidak berhasil. Zacharia juga tidak, dalam jawaban yang dikutip, menjelaskan apakah ia kemudian mencoba kembali atau memperoleh kualifikasi lain yang berkaitan dengan profesi hukum.
Dengan demikian, informasi yang dapat dipastikan dari wawancara tersebut terbatas pada pengakuan bahwa Zacharia pernah gagal dalam ujian profesi advokat, serta konteks pertanyaan yang diajukan Hannity. Hal itu perlu dibedakan dari kesimpulan yang lebih luas tentang kemampuan maupun kualifikasi Zacharia untuk menjalankan tugas sebagai sekretaris pers. Riwayat ujian merupakan satu aspek dari latar belakangnya, sedangkan penilaian menyeluruh memerlukan informasi tambahan tentang pendidikan, pengalaman kerja, dan persyaratan jabatan yang berlaku. Untuk saat ini, pernyataan “Ya” menjadi inti dari pengakuan yang disampaikan langsung dalam wawancara Fox News tersebut. Usianya, 41 tahun, juga disebut dalam sumber terkait laporan mengenai pengakuan itu.
Katie Zacharia menyelesaikan pendidikan di fakultas hukum Universitas Pepperdine pada 2011. Latar pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai kualifikasinya, tetapi kelulusan dari sekolah hukum tidak dengan sendirinya memberikan izin kepada seseorang untuk berpraktik sebagai pengacara. Di Amerika Serikat, calon pengacara umumnya juga harus memenuhi persyaratan profesi yang berlaku, termasuk lulus ujian advokat di yurisdiksi tempat mereka ingin menjalankan praktik. Karena itu, gelar hukum dan lisensi merupakan dua hal berbeda: gelar menunjukkan penyelesaian pendidikan, sedangkan lisensi berkaitan dengan kewenangan profesional untuk memberikan layanan hukum kepada publik. Perbedaan ini membantu menjelaskan mengapa riwayat pendidikan Zacharia tidak otomatis menjawab pertanyaan tentang statusnya sebagai pengacara berlisensi.
Dalam wawancara terpisah dengan Real America’s Voice, Zacharia mengatakan bahwa ia pernah mendaftar untuk mengikuti ujian advokat. Namun, pada masa itu ia menghadapi rencana untuk pindah ke China bersama suaminya. Ia menggambarkan dirinya sebagai “terganggu dan kewalahan” oleh rencana perpindahan tersebut. Menurut penuturannya, situasi itu membuat hasil ujian tidak menjadi prioritas utama. Ia juga mengatakan bahwa hasil tersebut terasa tidak terlalu penting baginya karena ia memperkirakan tidak akan membutuhkan lisensi advokat di China. Penjelasan itu menggambarkan alasan pribadi yang ia berikan atas sikapnya terhadap ujian, bukan bukti bahwa gelar hukum saja telah memberinya kewenangan untuk berpraktik.
Zacharia juga mengakui bahwa ia tidak pernah mencoba mengikuti ujian advokat kembali setelah percobaan tersebut. Dengan demikian, berdasarkan keterangannya sendiri, ia pernah mendaftar, tetapi tidak mengulang ujian setelah merasa bahwa perpindahan ke China akan membuat lisensi itu kurang relevan bagi rencana hidupnya. Pernyataan ini menjadi konteks ketika kualifikasi profesionalnya dibahas, terutama karena publik dapat menyamakan pendidikan hukum dengan izin praktik. Keduanya tidak identik. Menyebut seseorang lulusan fakultas hukum tidak serta-merta berarti orang tersebut telah lulus ujian atau memiliki lisensi yang diperlukan untuk menjadi pengacara aktif. Informasi mengenai riwayat ujian Zacharia perlu dipahami sesuai batas yang disampaikan dalam wawancara: ia pernah mendaftar, merasa kewalahan oleh rencana pindah, menilai hasilnya tidak terlalu penting, dan tidak pernah mencoba lagi. Penjelasan tersebut tidak dengan sendirinya menetapkan status lisensinya saat ini atau menjawab seluruh persyaratan profesi yang berlaku.Kualifikasi Katie Zacharia menjadi sorotan setelah ia beberapa kali menyebut dirinya sebagai pengacara. Ia juga pernah mencantumkan jabatan penasihat hukum umum di sebuah organisasi nirlaba konservatif yang berbasis di California. Penyebutan gelar dan jabatan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai status profesionalnya, terutama karena ia kemudian mengakui tidak lulus ujian advokat. Dalam konteks ini, perbedaan memiliki pendidikan hukum, bekerja dalam bidang yang berkaitan dengan hukum, dan berwenang menjalankan praktik hukum menjadi penting. Sorotan publik tidak hanya tertuju pada hasil ujian, tetapi juga pada cara Zacharia menggambarkan latar belakang serta kapasitasnya.
Zacharia menjelaskan bahwa sejumlah orang yang berkecimpung di bidang hukum meyakinkannya bahwa ia dapat menyebut diri sebagai pengacara. Menurut keterangannya, pertimbangan mereka didasarkan pada gelar hukum yang dimilikinya serta pengalaman dalam bidang hukum bisnis ketika bekerja di sebuah firma hukum di Beijing. Ia menyampaikan bahwa pengalaman tersebut memberinya pemahaman dan keterampilan untuk membahas persoalan hukum, meskipun hal itu tidak sama dengan memperoleh izin untuk memberikan nasihat hukum sebagai advokat. Zacharia membedakan kedua peran tersebut dengan mengatakan bahwa ia dapat memberikan “analisis hukum, bukan nasihat hukum”. Pernyataan itu menjadi bagian dari pembelaannya atas penggunaan istilah pengacara, sekaligus menunjukkan batas yang menurutnya berlaku pada pekerjaan yang dapat ia lakukan.
Ia juga menerangkan keadaan pribadi yang memengaruhi perjalanan kariernya. Zacharia mengatakan bahwa ia memiliki empat anak dalam kurun enam tahun, sehingga membangun kehidupan keluarga dan menentukan arah profesional berlangsung beriringan. Ia menyatakan sejak awal tidak berniat menjalani praktik hukum. Dengan demikian, menurut penjelasannya, gelar dan pengalaman kerjanya tidak mencerminkan rencana untuk berpraktik sebagai advokat, melainkan latar belakang yang dapat digunakan dalam kegiatan lain. Keterangan tersebut membantu menjelaskan sudut pandangnya, tetapi tidak dengan sendirinya menghapus pertanyaan tentang bagaimana publik dapat memahami sebutan pengacara atau jabatan penasihat hukum umum yang pernah dicantumkan. Perdebatan akhirnya berkisar pada perbedaan pendidikan hukum, pengalaman kerja, pilihan istilah profesional, dan kewenangan resmi untuk memberikan layanan hukum kepada klien.
Kontroversi mengenai kualifikasi Katie Zacharia mendorong Campaign for Accountability, organisasi yang berfokus pada akuntabilitas dan etika politik, meminta Asosiasi Pengacara California menyelidiki persoalan tersebut pada Rabu. Permintaan itu menambah tekanan terhadap Zacharia setelah ia mengakui gagal dalam ujian advokat, sementara sorotan publik juga tertuju pada penggunaan sebutan profesional yang berkaitan dengan status lisensinya. Organisasi tersebut menyatakan bahwa di California, menyebut diri sebagai pengacara tanpa memiliki lisensi bukan sekadar klaim yang berlebihan. Menurut Campaign for Accountability, tindakan semacam itu dapat menjadi tindak pidana.
Desakan penyelidikan tersebut menempatkan persoalan itu dalam konteks aturan profesi hukum di negara bagian California. Asosiasi Pengacara California diminta menelaah apakah penggunaan sebutan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan apakah terdapat dasar untuk mengambil tindakan. Permintaan organisasi itu tidak dengan sendirinya menetapkan bahwa Zacharia telah melakukan pelanggaran; penyelidikan, bila dilakukan, akan menjadi proses untuk menilai fakta dan aturan yang relevan. Perhatian terhadap kualifikasinya muncul ketika Zacharia mulai menjalankan peran publik baru di Gedung Putih, sehingga pertanyaan tentang latar belakang profesionalnya turut menjadi bagian dari pemberitaan.
Zacharia menggantikan Karoline Leavitt, yang mengundurkan diri pada Agustus untuk merawat anak-anaknya yang masih kecil.
