Jakarta | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penggunaan gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) berukuran 3 kilogram untuk masyarakat mulai diterapkan pada 2027. Kebijakan ini disiapkan sebagai salah satu alternatif pengganti LPG 3 kilogram yang selama ini banyak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan usaha mikro. Namun, target tersebut belum berarti bahwa CNG 3 kilogram telah beredar atau digunakan secara luas oleh masyarakat.
Rencana itu menjadi bagian dari upaya pemerintah mencari pilihan energi yang lebih beragam sekaligus memperkuat pemanfaatan gas bumi domestik. Pemerintah perlu menyiapkan berbagai aspek sebelum penerapan dilakukan, termasuk ketersediaan pasokan, pembangunan dan penyesuaian infrastruktur, sistem distribusi, serta standar keselamatan. Tahapan tersebut penting karena karakteristik CNG berbeda dari LPG, baik dalam proses penyimpanan, pengisian, pengangkutan, maupun penggunaannya.
Dengan ukuran tabung yang dirancang untuk kebutuhan masyarakat, CNG 3 kilogram diharapkan dapat menjadi pilihan energi yang mudah diakses dan sesuai dengan kebutuhan rumah tangga. Meski demikian, keberhasilan program akan bergantung pada kesiapan rantai pasok dan kemampuan pemerintah memastikan produk tersedia secara merata. Aspek harga dan mekanisme penyaluran juga akan menjadi pertimbangan utama, terutama bagi kelompok masyarakat yang selama ini mengandalkan LPG bersubsidi.
Pemerintah masih perlu merumuskan ketentuan teknis serta skema pelaksanaan sebelum menetapkan penerapan secara lebih luas. Pembahasan mengenai regulasi, pengawasan, edukasi pengguna, dan perlindungan keselamatan akan menentukan kesiapan program menuju 2027. Karena itu, penggunaan CNG tersebut saat ini masih berada pada tahap persiapan dan penetapan target, bukan kebijakan yang telah berjalan di lapangan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa pengembangan CNG 3 kilogram sebagai alternatif LPG masih berada dalam tahap pengkajian. Produk tersebut telah menjalani uji coba selama sekitar satu bulan di Lemigas untuk melihat kesiapan teknis dan operasionalnya. Uji coba ini menjadi bagian penting sebelum pemerintah menentukan apakah skema penggunaan CNG dapat diterapkan secara lebih luas pada 2027.
Meski masa pengujian awal telah selesai, proyek tersebut belum langsung memasuki tahap implementasi. Pemerintah masih perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rangkaian penggunaan CNG, termasuk aspek yang berkaitan dengan tabung. Penilaian mencakup keamanan, ketahanan, kemudahan pengisian, penyimpanan, distribusi, serta kesesuaian tabung dengan kebutuhan rumah tangga dan pengguna lainnya.
Evaluasi juga akan menelaah proses bisnis yang menyertai pemanfaatan CNG. Pemerintah perlu memastikan bagaimana rantai pasok dibangun, bagaimana produk disalurkan kepada masyarakat, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pengisian, pengangkutan, dan pengawasan. Selain itu, mekanisme layanan, biaya, standar keselamatan, dan pola pengelolaan di lapangan perlu dirumuskan agar program tidak menimbulkan persoalan baru ketika diterapkan.
Laode menegaskan bahwa hasil uji coba di Lemigas belum dapat menjadi dasar untuk segera menjalankan program secara nasional. Masih diperlukan pengumpulan data, pembahasan lintas pihak, dan penyempurnaan rancangan berdasarkan temuan selama pengujian. Tahapan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu beberapa bulan. Dengan demikian, pemerintah akan menggunakan periode evaluasi untuk memastikan CNG 3 kilogram memenuhi persyaratan teknis, bisnis, dan keselamatan sebelum keputusan implementasi ditetapkan.
Langkah bertahap ini diperlukan agar peralihan atau penambahan pilihan energi tersebut dapat berjalan terukur. Pemerintah juga perlu mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan kemampuan masyarakat dalam menggunakan produk baru itu. Karena prosesnya belum selesai, perkembangan proyek masih akan ditentukan oleh hasil evaluasi dan keputusan teknis yang diambil setelah seluruh aspek penggunaan CNG diperiksa secara menyeluruh.
Sebelum pelaksanaan program CNG 3 kilogram sebagai alternatif LPG dimulai, pemerintah akan terlebih dahulu menyampaikan keputusan dan pengumuman resmi mengenai implementasinya. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, akan menjadi pihak yang mengumumkan pelaksanaan program tersebut kepada publik. Langkah ini diperlukan agar arah kebijakan, tahapan persiapan, serta mekanisme penerapannya dapat dipahami secara jelas oleh masyarakat dan para pemangku kepentingan.
Keterangan tersebut disampaikan Laode saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, pada Rabu, 14 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa pengumuman dari Bahlil akan dilakukan sebelum program mulai dijalankan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah masih menempatkan pengumuman resmi sebagai salah satu tahapan penting sebelum masuk ke fase implementasi.
Sejumlah aspek teknis dan kebijakan perlu dipersiapkan sebelum CNG kemasan 3 kilogram digunakan sebagai pilihan alternatif bagi LPG. Persiapan tersebut dapat mencakup kesiapan infrastruktur, distribusi, standar keselamatan, ketersediaan pasokan, serta pengaturan bagi masyarakat dan pelaku usaha. Karena itu, pelaksanaan program tidak hanya bergantung pada penetapan kebijakan, tetapi juga pada kesiapan seluruh unsur pendukungnya.
Laode menyampaikan bahwa pemerintah berharap program tersebut dapat berjalan pada 2027. Penyebutan tahun itu merupakan target waktu yang diharapkan, bukan kepastian mutlak bahwa seluruh tahapan akan selesai tanpa penyesuaian. Pemerintah masih perlu memastikan berbagai persiapan berjalan sesuai rencana sebelum keputusan final diumumkan. Dengan demikian, publik menunggu penjelasan Bahlil mengenai bentuk implementasi, jadwal pelaksanaan, serta ketentuan yang akan diberlakukan dalam penggunaan CNG 3 kilogram sebagai alternatif LPG.
Pemerintah menyiapkan sarana pendukung untuk rencana implementasi CNG berukuran 3 kilogram sebagai alternatif LPG pada 2027. Salah satu persiapan yang disebutkan adalah pengadaan 100 ribu tabung CNG untuk kebutuhan tahap implementasi tersebut. Penyediaan tabung ini menjadi bagian dari langkah awal pemerintah dalam memastikan ketersediaan sarana sebelum program mulai dijalankan.
Berdasarkan informasi yang tersedia, tabung CNG yang disiapkan itu berasal dari China. Sumber menyebutkan bahwa jumlah minimal 100 ribu unit tercantum dalam kontrak pengadaan. Dengan demikian, angka 100 ribu tabung merupakan batas minimal yang disebut dalam dokumen atau informasi pengadaan, bukan keterangan mengenai jumlah akhir yang pasti tersedia untuk seluruh pelaksanaan program.
Pengadaan dari China menunjukkan bahwa pemerintah telah menyiapkan kebutuhan sarana fisik untuk mendukung rencana penggunaan CNG 3 kilogram. Namun, informasi yang tersedia belum menjelaskan lebih lanjut mengenai rincian spesifikasi tabung, pihak yang akan menerima, maupun bentuk pemanfaatannya di masyarakat. Keterangan yang dapat dipastikan pada tahap ini berkaitan dengan jumlah minimal pengadaan dan asal tabung tersebut.
Persiapan 100 ribu tabung menjadi salah satu indikator bahwa rencana implementasi CNG 3 kilogram sedang diarahkan menuju tahap pelaksanaan pada 2027. Meski demikian, detail lain mengenai penyaluran, harga, penerima, serta jadwal distribusi belum disampaikan dalam bahan sumber. Karena itu, pengadaan tabung dari China dapat dipahami sebagai langkah penyediaan sarana, sementara informasi operasional program masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pemerintah.
Baca juga: Siapkan Zero ODOL 2027, Polri Perintahkan Jajarannya Petakan Persoalan di Lapangan | TNI Bersama Pemerintah Perkuat Penanggulangan Karhutla | Lahan Dikuasai Sejak 1958 Diklaim Diamankan Pemkot, Warga Gubeng Siapkan Posko Perlawanan
