Kabut Asap Kebakaran Mengganggu Kualitas Udara di Sumatra dan Kalimantan

oleh -73 Dilihat
oleh
Kabut Asap Kebakaran Mengganggu Kualitas Udara di Sumatra dan Kalimantan

Palembang | Kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung menyebabkan kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Asap yang bertahan di udara membuat kondisi atmosfer di daerah terdampak memburuk, terutama berdasarkan pembacaan indeks kualitas udara yang dipantau secara berkala. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pencemaran udara belum mereda dan masih menjadi perhatian di kawasan yang tertutup kabut.

Data Air Quality Index (AQI) US yang dibagikan IQAir pada Rabu, 14 Oktober 2026, memperlihatkan kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya. Rentang tersebut menandakan kondisi udara yang mengkhawatirkan dan menunjukkan tingkat pencemaran yang tinggi. Perbedaan nilai AQI antardaerah menggambarkan bahwa intensitas kabut asap tidak sepenuhnya sama, tetapi sejumlah lokasi telah mencatat kualitas udara pada tingkat yang serius.

Kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya dalam AQI US menjadi indikator bahwa udara di wilayah tersebut mengalami penurunan kualitas yang signifikan. Pemantauan IQAir memberikan gambaran mengenai kondisi udara saat kabut asap masih menyelimuti kawasan Sumatra dan Kalimantan. Data itu juga memperlihatkan bahwa persoalan kualitas udara berlangsung bersamaan dengan kebakaran yang belum sepenuhnya padam.

Kabut asap diduga menjadi penyebab utama memburuknya kualitas udara di daerah-daerah yang mencatat kategori AQI tinggi. Asap dari kebakaran yang masih berlangsung dapat bertahan di atmosfer dan membuat udara tampak keruh, sehingga perubahan kualitas udara terpantau melalui indeks yang dibagikan IQAir. Selama kebakaran belum padam, kondisi udara di wilayah terdampak berpotensi tetap berubah dan perlu terus dipantau melalui pembaruan AQI.

Informasi tersebut menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terlihat dari keberadaan kabut asap, tetapi juga tercermin dalam penurunan kualitas udara. Pembaruan AQI US pada 14 Oktober 2026 menjadi dasar untuk melihat tingkat keparahan kondisi udara di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan ketika peristiwa kebakaran masih berlangsung.

Kondisi kualitas udara di Sumatra menunjukkan tingkat pencemaran yang mengkhawatirkan. Palembang, Sumatra Selatan, menjadi salah satu wilayah dengan kualitas udara terburuk berdasarkan data yang tersedia. Indeks kualitas udara atau AQI di kota ini mencapai 877, sehingga masuk kategori berbahaya. Pada saat yang sama, konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 514,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³), jauh di atas tingkat yang dianggap aman bagi kesehatan.

PM2.5 adalah partikel polutan berukuran sangat kecil, dengan diameter 2,5 mikrometer atau kurang. Karena ukurannya, partikel tersebut dapat menembus saluran pernapasan dan masuk jauh ke dalam paru-paru. Sebagian partikelnya juga berpotensi mencapai aliran darah. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat memicu iritasi pada mata dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta gangguan pernapasan lainnya. Bagi masyarakat yang telah memiliki asma, penyakit paru-paru, penyakit jantung, atau kondisi kesehatan tertentu, asap dan partikulat ini dapat memperburuk gejala yang sudah diderita.

Sejumlah wilayah lain di Sumatra juga mencatat indeks yang perlu diwaspadai. Lampung berada pada angka 158 dan termasuk kategori tidak sehat. Jambi mencatat angka 198, yang juga masuk kategori tidak sehat. Di Pekanbaru, Riau, indeks mencapai 401 dan berada dalam kategori berbahaya, menunjukkan risiko kesehatan yang lebih serius bagi seluruh kelompok masyarakat.

Sementara itu, Padang, Sumatra Barat, tercatat pada angka 227 dalam kategori tidak sehat. Medan, Sumatra Utara, berada pada angka 205 dan termasuk kategori tidak sehat. Variasi angka tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak merata, tetapi tetap berpotensi mengganggu aktivitas harian dan kesehatan penduduk di berbagai kota. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis, perlu membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Kondisi kabut asap serupa juga terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Api kebakaran hutan masih membara dan menimbulkan kabut asap pekat yang berdampak pada kualitas udara di berbagai daerah. Asap terlihat menyelimuti kawasan permukiman serta mengurangi kejernihan udara di beberapa kota dan kabupaten.

Di Kalimantan Barat, sejumlah wilayah tercatat berada dalam kategori berbahaya. Daerah tersebut meliputi Kubu Raya, Sintang, hingga Pangkalanbun, dengan angka indeks mencapai 1144. Angka tersebut menunjukkan kondisi kualitas udara yang sangat buruk dan berisiko bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Pontianak juga berada dalam kondisi sangat tidak sehat, dengan indeks kualitas udara sebesar 223. Situasi ini menempatkan udara di kota tersebut pada tingkat yang perlu menjadi perhatian, terutama karena kabut asap masih tampak pekat di sejumlah kawasan. Perbedaan tingkat indeks di berbagai wilayah menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak berlangsung seragam, meskipun sama-sama berada di Pulau Kalimantan.

Di Kalimantan Selatan, kualitas udara di Banjarmasin tercatat berada dalam kategori berbahaya. Sementara itu, Balikpapan di Kalimantan Timur masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa beberapa pusat kota dan wilayah sekitarnya turut mengalami penurunan kualitas udara ketika kabut asap menyelimuti kawasan.

Data IQAir menunjukkan bahwa kebakaran masih terjadi di sejumlah provinsi di Kalimantan, yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Tingkat kebakaran yang tercatat berada pada tahap rendah, sedang, hingga tinggi. Perbedaan tingkat tersebut menunjukkan bahwa aktivitas kebakaran masih tersebar di beberapa wilayah dengan intensitas yang beragam. Kabut asap pekat pun tetap menjadi persoalan kualitas udara di Kalimantan, dengan sejumlah daerah mencatat kondisi berbahaya hingga sangat tidak sehat.

Risiko kesehatan akibat kabut asap tidak sama bagi setiap orang. Tingkat risikonya dipengaruhi oleh kategori indeks kualitas udara (AQI), konsentrasi polutan yang terhirup, serta lamanya seseorang terpapar. Semakin buruk kategori AQI dan semakin tinggi kadar partikel pencemar, semakin besar kebutuhan untuk membatasi paparan, terutama ketika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu panjang. Pemantauan informasi kualitas udara menjadi dasar penting untuk menentukan kegiatan harian di luar ruangan.

Kelompok sensitif perlu memberikan perhatian lebih besar ketika pencemaran meningkat. Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit jantung disarankan lebih berhati-hati saat berada di luar rumah. Aktivitas fisik berat di ruang terbuka dapat meningkatkan jumlah udara yang dihirup, sehingga pengurangannya ketika udara berada dalam kategori tidak sehat dapat membantu menekan paparan polutan. Penyesuaian jadwal, lokasi, dan intensitas kegiatan juga dapat dipertimbangkan sesuai perkembangan AQI.

Masyarakat dapat memantau kualitas udara secara berkala melalui sumber informasi yang tersedia, kemudian menyesuaikan aktivitas apabila nilai pencemaran naik. Saat udara luar tercemar, jendela dan pintu sebaiknya ditutup untuk membatasi masuknya asap ke dalam rumah. Penyaring udara juga dapat digunakan di ruang dalam sebagai langkah tambahan untuk membantu mengurangi polutan. Perhatian terhadap perubahan kategori AQI, kadar pencemar, dan durasi paparan tetap diperlukan agar perlindungan dapat disesuaikan dengan kondisi yang sedang berlangsung, khususnya bagi kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan akibat polusi udara.

Baca juga: Tiga Ton NaCl Disemai dari Udara, Lanud Sjamsudin Noor Dukung OMC Tekan Karhutla Kalimantan Selatan | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah | Panglima TNI Tinjau JS Kunisaki, Dukung Penanganan Karhutla di Kalimantan